Laman

Rabu, 18 Mei 2016

-190- Every Cloud Has a Silver Lining


Kemarin adalah hari yang luar biasa untuk saya, dan mungkin beberapa kawan yang senasib sepenanggungan, ehehe. :p. Yang sampai sore hari, masih ada yang menghubungi saya dan bertanya, 

“Nurin, kamu masih galau gak?”, 

Dan saya jawab, “iya, masih, sedikit”. :) 
Kemudian saya lanjutkan, “tapi setelah tahu, kalau aku tidak sendiri, bukan hanya aku yang mengalami, -karena tiba-tiba kebijakan baru muncul-, aku merasa lebih baik”. 

Tadinya, saya mulai berfikir, “apa ada yang salah dengan saya?”, “apa karena IPK yang pas-pasan? Proposal tesis yang terlalu asal-asalan? Sampai pada.. apa ya salah dan dosa saya?”, haha. 

Tapi, begitu membaca salah satu komentar di grup wa, “kayaknya yang pada diklatpim tahun ini gak ada yang diterima ya?”

“Gitu emang ya? Aku sudah sempat nangis di pojokan tadi :( :(

“Hikhikss sama Nurin, sudah nangis juga dalam hati. :( Tapi InshaAllah ini yang terbaik #soktegar”. 

Nah, setelah itu, bermunculan lah, hashtag-hashtag #tegar ini sepanjang hari kemarin. :D. 


Kamis, 14 April 2016

-189- Karena Tidak Semua Ibu Bisa Memiliki Anak





Bismillahirrohmanirrohim, 
Salah satu nikmat yang bisa saya syukuri adalah kesempatan bisa menjemput anak. Saya selalu mengusahakan hadir lima sampai sepuluh menit lebih awal untuk datang ke sekolah. Saya berusaha menghadirkan diri saya sepenuhnya, untuk benar-benar menjemputnya. Tidak seperti orang tua kebanyakan yang biasanya hanya menunggui anaknya di atas kendaraan.  Duduk-duduk di kantin sekolah sambil mengobrol, atau berteduh di bawah pohon, sejak ia masuk TK, saya pastikan saya akan turun, dan datang ke kelasnya, menemui gurunya setelah kelas usai, mengobrol, berbincang sebentar atau bertanya tentang apa saja perkembangan yang sudah didapatkan. Sesekali, saya juga jadi punya kesempatan menyaksikan proses pembelajaran sebelum benar-benar usai.

Seperti hari ini, saat saya menjemputnya, saya juga baru tahu, kalau di hari ini ada penyuluhan untuk semua anak kelas 1 dari kepolisian. Saya datang tepat saat penyuluhan akan segera berakhir, saya masih sempat melihat anak-anak bernyanyi Garuda Pancasila, lalu  terdengar closing statement dari Pak Polisi kepada anak-anak,
“Jadi, anak-anak, jangan coba-coba atau dekat-dekat dengan narkoba ya, karena narkoba itu berbahaya!”,
“Iya Pak...!” anak-anak menjawab dengan serentak. Dalam hati saya membatin, “wah, keren juga sekarang dari kelas satu sudah diberi pemahaman tentang narkoba.

Sabtu, 05 Maret 2016

-188- Membangun Komunikasi Efektif Bersama Pasangan


 
Credit


 
Bismillahirrohmarrohim. 
Tiga hari lalu, saya bertemu dan berkesempatan berkenalan dengan sepasang suami isteri. Suaminya seorang doktor lulusan Jepang, seorang peneliti di LIPI. Isterinya seorang dokter yang kini sedang menyelesaikan tesis. Saya lebih banyak berbincang dengan sang isteri, karena sesama perempuan tentu jauh lebih nyambung dan nyaman. :). Selain berbagi pengalaman tentang gonta-ganti asisten hingga dua puluh asisten rumah tangga, ada cerita menarik dari Bu Dokter saat ia berkisah tentang temannya, seorang dokter spesialis anak. 


“Teman saya itu, dia praktik di 5 rumah sakit di Jakarta. Kerja dari senin sampai sabtu, berangkat pagi-pagi sekali, sampai rumah jam 1 malam. Suaminya kerja di perusahaan telekomunikasi, senin sampai sabtu juga, sampai rumah jam 1 malam. Anak mereka lima, masing-masing ada pembantunya sendiri. Coba bayangkan, itu kapan ketemu anaknya?”


Oke, saya mulai membayangkan. 


“Kalau hari libur, akhir pekan, mereka lebih memilih jalan berdua, dia dengan suaminya. Yah, karena mereka berdua juga kan jarang ketemu, jarang ngobrol, sama-sama sibuk. Jadi kalau anak-anak minta jalan, anak-anaknya disuruh jalan tuh sama pembantu-pembantunya”


“Iya Bu, tapi mungkin, kalau hari libur, mereka (suami-isteri) itu butuh ‘me time’.”


“Nah iya, betul itu. Habis itu waktu untuk di rumah saja, belum ‘me time’, belum memenuhi suami, belum lagi anak-anak. Bayangkan betapa banyaknya waktu kebersamaan yang dikorbankan demi mengejar uang dan popularitas. Iya, oke, mereka punya rumah yang besar, harta yang cukup, tapi bagaimana dengan anak-anak? Urusan peer saja mungkin ibunya gak pernah tahu itu, apa saja yang dilakukan anaknya di sekolah”. 


“Spesialis anak ya Bu?”


“Iya”. 

Rabu, 10 Februari 2016

-187- Mensyukuri Nikmat Hidup Bertetangga




Bismillahirrohmanirrohim.

Pada bulan November 2014, saat ada kesempatan berbicara santai dengan Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur, saya bertanya kepada beliau,
“Pak, saya sudah dua tahun nih Pak di KTT (Kab Tana Tidung), kapan saya dipindah atau dirolling?”, hihi, kepedean ya saya waktu itu, :). 

“Saya gak pernah dengar keluhan kamu, kayaknya kamu bahagia-bahagia aja di sana”, jawab beliau sambil tertawa. 

Jadi kalau mau dapat giliran rolling, harus ada laporan keluhan dulu, #cateeeet, :p.

Saya bingung kalau ditanya tentang keluhan, karena bagi saya mengeluh itu sudah terlalu mainstream. Selain #sakit hati itu mainstream, #mengeluh juga mainstream, :).

“Berat ya memang penempatan di tempat jauh begini”, ucap teman seperjalanan saya saat kami di dalam speed boat dari Tarakan menuju Tana Tidung. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Waktu itu sore hari, musim gelombang. Perut rasanya seperti teraduk-teraduk, tidak enak sekali.   
“Mestinya yang begini ini ada pesawat nih”, lanjutnya lagi.

Lantas saya jawab, “penempatan di mana saja sama. Sama-sama berat, kalau kita tidak pandai bersyukur”.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...