Celoteh

Pilihan

Monday, September 04, 2023


Bismillahirrahmanirrahim. 

Apapun pilihan menulisnya, nyatanya saya tetap kembali ke rumah Maya ini. :)

Tapi kali ini, "PILIHAN" bukan ingin bercerita tentang itu. Melainkan tentang, sebuah pilihan hidup. 

Karena sejatinya, hidup tentang pilihan bukan? 

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surah Asy-Syam, "fa alhamaha fujuroha fataqwaha" kepada jiwa, telah Allah tetapkan jalan ketaqwaan dan kesesatannya. Manusia dibentangkan atas dua pilihan. Dan manusia dipersilakan untuk memilihnya. Tetapi Allah senantiasa mendorong hambaNya untuk memilih jalan ketaqwaan. 

Pada jalan ketaqwaan tersebut, bismillah dengan sadar dan berbesar hati, saya memilih untuk tetap bertahan menjalani amanah sebagai abdi negara. 

Pilihan yang sebenarnya, jika ada opsi lain yang lebih menjanjikan saya tentu ingin mengambil opsi lainnya. 

Misalnya, opsi menjadi perempuan kaya raya seperti Khadijah, haha :). 

Pergulatan batin untuk tetap menjadi ibu pekerja, bukan hal yang mudah tentu saja. Karena ada yang harus dikorbankan, dan mau tidak mau harus mau berkorban. Tetapi inilah jalan yang telah dipilih dengan sangat sadar, dan insyaallah paling rasional serta membawa jalan ke surga. 

Karena pertama, suami yang meminta. Kedua, Allah berkahi saya tempat kerja yang nyaman dengan banyak keberkahan (insyaallah) 

  • Satu kantor dengan suami. Berangkat bareng, pulang bareng. Always hampir 24 jam, bangun tidur sampai tidur kembali, yha kerjanya bareng suami. Sebuah keuwuwan yang mahal harganya. 
  • Perjalanan dinas pun sering hampir selalu bersama suami. Bukan hanya hanimun berdua di hotel, yha seringnya jadi rekreasi sekeluarga staycation bareng anak anak. 
  • Duduk sebelahan meja dengan suami. 
  • Banyak pekerjaan yang bisa saling back up
  • Istirahat siang bisa kembali ke rumah, mengasuh anak anak. 
  • Diberi rezeki oleh Allah bisa meng'hire' art yang memudahkan urusan pekerjaan rumah. 
  • Allah rezekikan punya hunian yang nyaman, tidak luas tapi cukup besar untuk keluarga kecil kami. Tinggal di ibu kota provinsi, segala fasilitas ada, dekat dengan mertua. Masyaallah apalagi yang hendak dicari? 
Saya keluar rumah, bersama suami, sampai di rumah ya juga dengan suami. Selama menjadi abdi negara, sudah pernah merasakan sekelas bareng menikmati beasiswa kuliah, hanimun berlabel diklat, perjadin, dan banyak lagi. Menikmati hasil kerja keras sama sama, menikmati jalan jalannya berdua. Jadi nikmat manalagi yang akan kami dustakan. Masyaallah Alhamdulillah. 

Diberkahi oleh Allah lingkungan dan teman-teman kantor yang saling support. Suasana kerja yang nyaman. Jujur saja, kondisi saya saat ini benar-benar dalam kondisi "secure" dalam segala sisi. 

Sudah di posisi, tinggal mensyukuri dan menjalani apa yang ada. :)

Sungguh, jika suami meminta saya fokus di rumah saja, pasti saya langsung tanpa babibu mengiyakan karena itu impian saya sejak lama. 

Tetapi karena dengan sangat jelas suami meminta saya "menemani beliau" bekerja, dengan segala keadaan yang sudah saya sebut tadi. Bismillah samina wa athana, insyaallah akan banyak keberkahan menyertai. 

Di atas pilihan tersebut, sebagai seorang ibu, yang sedang mendampingi tiga buah hati yang masih kecil, saya memilih untuk tidak mengejar apapun dalam pekerjaan. Cukuplah menemani suami sebagai bekal keridaan Allah. Cukuplah tunaikan kewajiban dalam pekerjaan. Tak mengejar prestasi, tak mengejar ingin ini ingin itu. Menjadi biasa biasa saja, agar amanah tidak bertambah, agar lembur kerja tak perlu ada, dan punya banyak waktu untuk menbersamai anak-anak. 

Untuk pengasuhan, untuk membersamai mereka, saya meminta izin kepada Allah untuk tidak perlu mengerjakan hal yang lainnya (tidak menambah kesibukan dengan pekerjaan sampingan lain yang menguras waktu semisal menulis, jualan online, atau apapun). Saya memohon kepada Allah agar dilimpahkan Rizqi  dari jalur abdi negara. Dicukupkan dari gaji, dan tambahan penghasilan lain lantaran sebab pekerjaan dinas. 

Saya senang beraktivitas. Saya senang menulis, dan menikmati penghasilan dari jerih menulis. Saya senang jualan, walau kecil kecilan. Tetapi jika dengan itu, saya harus menjadi sangat sibuk dan kehilangan waktu untuk "hadir" bersama anak, karena harus mengurus customer, menyelesaikan tenggat deadline kepenulisan, menjawab chat atau lainnya, rasa-rasanya saya akan sangat menyesalinya di kemudian hari. 

Tahu tahu, anak anak sudah semakin besar. Sementara pengasuhan tidak bisa diulang. Saya takut, saya tidak amanah dan kehilangan momen. :(. Lagipula, pekerjaan yang wajib saja sudah menguras energi, sepertinya mamak tidak kuat kalau mau tambah-tambah lagi. 😆


Bismillah, dijalani, disyukuri, dinikmati. 😊

💕


You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar