Inspirasi

(Promil) Menjemput Rezeki Hadirnya Buah Hati

Saturday, September 19, 2020


Bismillahirrahmanirrahim. 

Sewaktu saya mengabarkan kabar kelahiran duo Al, banyak sekali yang bertanya, "Mbak, apa resepnya?" (((resep))) 😀. "Mbak kemarin promil apa saja? kok bisa sukses", "Mbak ngapain aja kok bisa hamil kembar?" (((ngapain aja))) 😅. Rata-rata hanya saya jawab, "alhamdulillah, kuasa Allah". 🙈 Jujur, saya bingung banget jawabnya. Mana saya tahu ya Allah gimana resep bisa hamil kembar. Udah macam nanya resep bikin puding aja. 😆 

Baca: Dua Malaikat Kecil, Mukjizat dari Allah.  

Banyak dari kita beranggapan, promil yang berwujud seperti halnya datang ke pengobatan tradisional, dokter, minum ini itu, melakukan inseminasi atau bayi tabung adalah satu-satunya bentuk promil yang pasti akan membuahkan hasil. Sehingga, pertanyaan "kemarin promil apa?" menjadi hal yang tidak terelakkan. Namun buat saya promil itu ialah aktivitas ibadah yang holistik (mencakup keseluruhan) upaya dari berbagai sisi kehidupan seorang hamba. Jadi saya tidak akan menjawab "coba ikut promil ke tempat ini, banyak lo yang cocok, bisa langsung hamil" karena itu hanya secuil kecil dari upaya. Ingat pula, bahwa ikhtiar kita pun bukan satu-satunya penentu. Tetapi itulah ranah kita, sebagai manusia. Adapun diberi atau belum diberi rezeki buah hati adalah HAK ALLAH semata. 

Mohon maaf ya, kemarin yang tanya-tanya, belum saya jawab langsung. 🙏 Insyaallah akan saya ceritakan di sini. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi musabab jariyah kebaikan bagi kami sebagai bekal di akhirat. 😊

~

Bagi pasangan suami isteri, ada sebagian yang Allah anugerahi kemudahan memiliki anak. Istilah familiarnya, 'sekali senggol brojol' 😆🙈. Namun, sebagian yang lain, Allah dengan Ar-Rahimnya menganugerahkan kesempatan meraih pahala dengan kesabaran, keikhlasan serta kesyukuran untuk mau berjuang di jalan Pejuang Garis Dua. 

Beruntungnya, sebagai umat Nabi Muhammad, Allah sudah menjanjikan bahwa ujian kita di hari ini, selalu ada contohnya dari para nabi sebelumnya, dan sudah dipastikan tidak akan melebihi beratnya ujian para anbiya. Kisah-kisah mereka yang bisa kita ikuti dan tauladani. 

Kita belajar dari nabiyullah Zakaria yang tiada pernah berhenti berupaya, khususnya dalam pinta. Isteri Nabi Zakaria, telah divonis (oleh para ahli di masa itu) ialah seseorang yang mandul, tidak bisa memiliki keturunan. Doa Nabi Zakaria, "robbi habli min ladunka zurriyyatan tayyibah, innaka samiuddua (ya Rabb, anugerahkan kepadaku keturunan yang baik, sesungguhnya engkau maha mendengar)" adalah wujud penghambaan yang menyeluruh, ada pasrah, tawakkal, ikhtiar di dalamnya. 

Doa Nabi Ibrahim tidak kalah syahdunya. Di dalam Al-Quran banyak sekali kisah dan doa-doa permohonan dari nabiyullah yang diberi ujian mengenai keturunan. Tiada satupun dari yang Allah contohkan, yang diam tanpa upaya, sungguhpun sampai usia mereka tak lagi muda.  Sehingga, boleh dikatakan, bahwa Program Kehamilan (Promil) adalah salah satu bentuk jalan ikhtiar yang disyariatkan.  

Syariatnya ialah: berupaya, bergerak, tidak duduk diam. Untuk urusan rezeki berupa harta, kalau kita pengin hidupnya sesultan Raffi Ahmad-Nagita Slavina, cocok gak kalau cuma jadi kaum rebahan? *itu mah cuma MIMPI 😅* kudu dijemput dong rezekinya. Kudu kerja keras banting tulang lebih dari orang-orang dong usahanya.

Buah hati termasuk bagian dari rezeki bukan? *REZEKI BANGET  😭😭* pantes gak kalau rezeki yang nilainya lebih dari HARTA ini gak kita upayain?. 

Sama aja kayak kesehatan, rezeki juga kan? Buat sehat ada upaya gak? ADA BANGET. Rajin olahraga, kudu pilih-pilih makanan, dan banyak lainnya.

Meskipun, seringkali jalan ikhtiar yang akan dijalani nantinya penuh dengan riak air mata, menemui jalan buntu di mata kita. Atau terasa tidak mudah. Bahkan, pasutri pejuang garis dua bisa saja berada dalam titik "ya sudahlah", mungkin lelah-trauma menghampiri. Namun ingatlah, bagaimana Nabi Ibrahim dan Zakaria yang siang malam tidak pernah putus meminta, menggantungkan harapan dan sandaran kepada Allah semata, yang kemudian Allah ganjar dengan sebaik-baik pewaris. 

(Kadang mungkin kalimat "anakmu sudah berapa?" juga menjadi sentilan tersendiri. Melihat kanan-kiri sanak famili kian tahun anak kian bertambah bilangan, sementara kita masih pula berduaan. Ingatlah perjuangan Nabiyullah, diberiNya satu, tapi BERMAKNA, BERKUALITAS. Jadi, untuk urusan keturunan, yang penting bukan seberapa banyak, namun bagaimana tingkat kesalehan dan kebermanfaatannya untuk generasi penerus kita kelak. Proses perjuangan mendapatkan keturunan yang tidak sebentar, doa-doa yang tidak disegerakan, insyaallah nantinya ketika Allah kabulkan akan sangat kita nikmati, dengan bahagia, dengan gembira. Insyaallah, tidak akan ada kalimat "repot banget ya ngurus anak, capek, bla-bla-bla" :) insyaallah hari-hari itu semuanya terasa indah dan nikmat)

Ikhtiar dan Niatan

Barangkali anak keturunan saleh yang Allah kabarkan kepada Nabiyullah Ibrahim dan Zakaria tidak akan pernah ada, jika panjatan ikhtiar dalam doa-doa tidak pernah dilantunkan. Ikhtiar dan NiatanNiat untuk apa kita menginginkan kehadiran buah hati, juga merupakan sunnah yang dicontohkan kedua nabiyullah. 

"Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai" Maryam ayat 4-6. Di dalam doa Nabi Zakaria terkandung niat memiliki anak sebagai penerus kenabian dan keilmuan dari keluarga Ya'kub.

Demikianpun dalam doa Nabi Ibrahim. Beliau meminta kehadiran buah hati dengan niatan ingin mengekalkan kalimat tauhid dengan perantara keturunannya.

Pertanyaannya: Sudahkah kita resapi dalam-dalam setiap tuntunan doa memohon keturunan yang sudah Allah berikan? sudahkah dirapalkan? sudahkah dipraktikkan? sudahkah menghunjam dalam setiap tarikan napas permohonan? sudahkah kita memiliki niat baik untuk apa menginginkan keturunan? 

DOA, SENJATA KITA

Salah satu doa yang saya dawwamkan saat memohon hadirnya anak kembar (iya, saya memang punya nawaitu dan sangat menginginkan diberkahi anak kembar), ialah doa nabiyullah Musa, saat lari dari kejadian pembunuhan yang tidak disengaja. 

"Rabbi inni lima anzalta ilayya min khoirin faqir (ya Tuhanku, sesungguhnya aku memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku)." Al-Qashas: 24

Saya merasa, ketika itu saya sudah habis-habisan dalam ikhtiar (pada semua lini)😭 sehingga tidak memiliki apa-apa lagi, saya sudah merasa berada di titik sefakir-fakirnya hamba. Gampangnya, sudah mentok, sudah merasa cukup. Tiada satupun penolong yang dapat mengabulkan permohonan kecuali Allah. Itu pula yang Nabiyullah Musa rasakan saat melafalkan doa ini, sedang berada di tingkatan tawakkal dan pasrah tertinggi, dan disitulah Allah kabulkan dengan sebaik-baik pemberian. 

Sungguh, saya tidak tahu apakah doa ini masuk dalam salah satu yang diriloi dan diijabah Allah 😭, tapi inilah doa yang paling saya resapi, paling terniat dan dalam. Saya menginginkan keberkahan  berupa keturunan salih sebagaimana Allah jawab doa Nabi Musa dengan hadiah berupa isteri,  pekerjaan, dan tempat bernaung dalam satu tembakan doa tersebut.  

Jadi, hal pertama yang bisa saya sampaikan di jalan para pejuang penjemput rezeki buah hati ialah milikilah doa. Dawwamkan (ucapkan sesering mungkin) doa permohonan yang paling disukai, diresapi, paling mewakili isi hati. Ambil doa yang sudah Allah sediakan di dalam Al-Quran, karena setiap doa dari kitabullah memiliki ketinggian makna dan sudah dapat dipastikan ada percepatan pengabulan di dalamnya dengan seiizin Allah. 

MENTAL SEHAT, AWAL YANG BAIK

Masa mendekati kehamilan, dan hari-hari saat saya menjalaninya, saya akui sebagai hari-hari terbaik yang pernah saya miliki bagi kesehatan mental saya di sepanjang usia pernikahan. 

Memang sudah kuasaNya Allah, yang menakdirkan saya dan suami mencicipi kota, sebaik Kota Bandung. Selain tempatnya yang sejuk, kawasan wisata yang melimpah, kuliner yang beraneka, diberikan pula kami kesempatan merasai pikiran yang jauh lebih jernih dengan menanggalkan sementara kesibukan kantor, digantikan dengan status sebagai pelajar. 

Hari demi hari kami lalui dengan bahagia-senang-bahagia-senang, begitu saja berulang. Apalagi saat berkesempatan bisa jalan-jalan lebih sering, icip-icip kuliner, level bahagia-senangnya bisa naik berlipat-lipat 🙈. Tentu ini menjadi modal awal pasutri yang sedang promil. Hormon kebahagiaan yang melimpah, pikiran yang rileks, hati yang tenang dan senang, menjadi modal awal yang baik. 

Mental sehat, jalan sukses untuk pejuang garis dua. :)

Pikiran kita banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Jika kita tidak mampu menjaga kesehatan pikiran (mental), ada baiknya mulai dipikirkan mencari lingkungan yang sehat. 

Break. Ambil kesempatan untuk rehat sejenak dari kesibukan. Honeymoon sesaat. Bulan madu kembali berdua. 

Menata Hati

Termasuk di dalamnya ialah memaafkan, melapangkan, mengikhlaskan semua yang pernah terjadi di dalam hidup kita. Kepada orang-orang yang mungkin pernah menggores luka. Terhadap peristiwa yang mungkin tidak ingin kita kenang kembali. 

Barangkali di lisan, mudah sekali kita berucap, "ya, saya maafkan," namun tanpa disadari mungkin di pikiran bawah sadar kita tertanam sebaliknya. Ini PR besarnya. Saya tahu, melapangkan sekaligus melupakan itu tidak mudah. Tapi ini harus kita lakukan. Siapalah kita, makhluk Allah yang lemah ini, jangan sampai melampaui kuasa Allah yang Maha pengampun. Allah yang Esa saja senantiasa membuka pintu maaf dan melimpahkan kasih sayang, siapalah kita, hamba kecil yang tidak punya daya. 

Saya ingat sekali di fase ini, untuk memperbaiki tatanan alam bawah sadar, saya mengucapkan dengan lisan (dengan suara yang dapat saya dengar), berulang kali setiap saat, ucapan yang kira-kira seperti ini: 

"ya Allah saya ridlo atas semua ketetapanmu. Saya yakin dan percaya bahwa semua takdirmu adalah baik. Saya yakin dan percaya bahwa peristwa ini...peristiwa itu... (sebut yang belum bisa kita lapangkan) adalah sebaik-sebaik kuasaMu, adalah sebaik-baik pemberianMu yang pasti membaikkanku...." Ya begitulah ya kira-kira. Inti dari fase ini ialah membersihkan hati agar kembali fitri 😊. 

Maafkan, lapangkan, ikhlaskan. 

Jika mau, gunakan momen tertentu untuk kembali menormalkan hati, bisa saat momen muhasabah pergantian tahun, seperti yang juga pernah saya lakukan. Terus terang, ini sangat membantu. 


Kurangi Bicara, Perbanyak Istighfar

Saat nabiyullah Zakaria akan diberi keturunan, Allah memberi tanda dengan ketidakmampuan (puasa) bicara. (Q.S Maryam:10) Masa puasa bicara ini kemudian diisi dengan memperbanyak bacaan tasbih. Kemudian saya menyimpulkan sendiri (mohon maaf jikalau ini di luar konteks tafsir ya), sungguh ini yang dapat saya petik dari kisah nabi Zakaria, oh kalau begitu, jika menginginkan keturunan, ingin cepat dikabulkan maka KURANGI BICARA. 

Lisan salah satu sumber tergelincirnya kita pada dosa. Menjaga lisan dengan diam dan menggantinya dengan memperbanyak istighfar ialah sebaik-baik perbuatan hamba yang sedang merayu Allah dalam pinta. 

Istighfar sendiri salah satu kalimat yang Allah janjikan jika kita ucapkan, maka bisa jadi Allah akan hadirkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Mungkin promil kita sudah beraneka rupa, ke sana ke mari, minum obat, herbal, dokter, terapi, dan lain-lain belum berhasil. Eh ternyata suksesnya pas lagi gak ngapa-ngapain. Banyak kan kisah yang seperti itu. Gaspolkan istighfar, perbanyak diamnya. 

Nah karena saya juga banyak ceriwisnya di media sosial 😆, saya juga sempat puasa medsos, menghapus akun FB, menghapus aplikasi twitter dari HP (lumayan ngurangin nengok twitter karena betapa rempongnya mau buka aja kudu dari browser 😅), menghapus banyak nomor di HP demi menjaga story WA biar gak rame. Ternyata alhamdulillah, hidup saya jauh lebih tenang. Enak juga lo kerasanya buat kesehatan mental. 😆 Kadang tuh kita suka ketrigger sama bahasan yang sebenarnya gak ada hubungannya sama hidup kita, trus kadang kita juga gampang baperan pas baca statusnya orang, berasa lagi nyinggung kita atau malah status kita yang nyelekit ke orang. 😁 Jadi gak main medsos dan puasa nyetatus udah paling aman selama promil. 😘


Sedekah Ekstrim

Sedekah dengan sebaik-baiknya sedekah. Yang banyak, yang kontinue, YANG EKSTRIM kalau kata saya mah. 🙈

Sebaik-baik sedekah ialah menyedekahkan sesuatu yang paling kita cintai. 

Kenapa harus EKSTRIM? Ya karena yang kita minta bukan sesuatu yang kaleng-kaleng 😆. Kita sedang memohon hadirnya buah hati, rentetannya panjang, urusannya ke penerus generasi, ujungnya bisa berkumpul kembali di surga, ya masak sedekahnya biasa-biasa saja? *gak level atu dah* 🙈. 

Sedekah di sebutkan di dalam Al-Quran dengan beragam kemanfaatan. Salah satunya, balasan yang berlipat ganda. Kita sedekah satu biji zarrah jadinya bisa 700 kali lipat. Ya kalau mau hitungan matematis, mestinya jika kita menginginkan sesuatu yang tak ternilai harganya, naikkan sedekahnya. 

Sedekah buat saya, pada hajat apapun juga, terasa melejitkan pengabulan. Jadi kayak cespleng, langsung ijabahnya cepet.

Kok kita jadi kayak jual beli ke Allah? Ya memang, itu yang diajarkan Allah di dalam Al-Quran. Sebaik-baik transaksi ya transaksi ke Allah. Boleh banget kok kita niat sedekah dengan nawaitu pengin hajat sesuatu. 

Banyak pasangan yang keluar ratusan juta demi promil, kita belum mampu, uang seada-adanya cuma lima juta. Biasanya yang gini ini termasuk harta yang paling dicintai karena kalau dikeluarin ya udah bakal gak punya lagi. 

Sedekahin saja uang lima jutanya, sambil bilang ke Allah, "ya Allah saya belum mampu ikut program ke dokter, adanya cuma segini, saya promil kepada Engkau saja ya Rabb, ganti sedekah ini dengan hadirnya buah hati... bla ... bla..." ya kira-kira gitu dah. 

Itu contoh sedekah ekstrim definisi saya. 🙈 Kita boleh berbeda pandangan, tapi secara umum, sedekah mempercepat pengabulan doa. 

~

Insyaallah bersambung di bagian dua ya. 😊🙏
 

(Promil) Menjemput Rezeki Hadirnya Buah Hati (2)

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar