Parenting

Menjalani hiperemesis dengan bahagia

Sunday, July 11, 2021


Bismillahirrahmanirrahim. 

Mengingat masa kehamilan yang saya lalui dengan penuh perjuangan, serasa tidak percaya bahwa Allah memberikan saya kekuatan hingga tiba masa bertemu dengan bayi-bayi. 

Saya termasuk salah seorang perempuan yang menurut literatur ilmiah, populasinya hanya sekitar dua persen dari seluruh ibu hamil di dunia, mengalami masa-masa tidak mudah selama kehamilan dikarenakan Hiperemesis Gravidarum

Saya merasa perlu menuliskan ini, karena saya melihat hiperemesis menjadi sesuatu yang belum banyak dipahami terutama lingkungan yang seharusnya menjadi support system untuk ibu hamil yang mengalaminya. 

Kalimat seperti, 

"Coba mindsetnya diubah, banyak-banyak berpikir positif, itu pengaruh pikiran juga."

"Kurang bersyukur kali dengan kehamilannya. Hamil ya memang gitulah."

"Jangan dimanjain. Jangan banyak mengeluh. Habis muntah ya makan lagi, muntah ya makan lagi."

"Makanya banyak gerak, banyakin olahraga dong, orang hamil itu bukan orang sakit."

"Aku dulu juga gitu, mual muntah juga, tapi tetep bisa tuh ngapa-ngapain."

"Alhamdulillah, aku dulu enggak ada mual, pasti kamu tuh ya sebelum hamil banyak makan junk food ya!."

Subhanallah! Mahabenar Netizen dengan segala pengetahuannya!. 😅

Semua komentar di atas, tidak semua atas dasar pengalaman saya. Itu adalah hasil sharing saya dan beberapa kawan yang mengalami hiperemesis. 

Sebelum berbicara lebih lanjut mengenai apa itu hiperemesis dan bagaimana rasanya mengalami hiperemesis, mari kita membuka firman Allah mengenai kehamilan seorang perempuan dari QS Al-Ahqaf:15. 

"Dan Kami telah mewasiatkan, yakni telah perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan kebaikan yang sempurna. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula ... (Q.S Al-Ahqaf: 15)

Demikian pula dengan firman Allah yang lain pada QS Luqman ayat 14: 

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun."

Di dalam firmanNya, Allah pun telah memberi kabar mengenai bagaimana keadaan perempuan saat hamil hingga tunai masa menyusui. Dari ayat-ayat indah Allah ini, menerangkan bahwa tantangan (keadaan lemah, susah, hingga kepayahan) saat kehamilan ialah fitrah adanya. Inilah bentuk jihad seorang ibu sehingga Allah pun memberikan keistimewaan kepada seorang ibu dengan tiga kali penyebutan melalui lisan Rasulullah dibandingkan ayah. 

Sungguh pun, jika kehamilan yang dilalui penuh dengan kepayahan (hiperemesis salah satunya) dikarenakan kesalahan atau pun dosa di masa lalu, sungguh tak elok lisan kita mengatakan hal-hal yang tidak-tidak, sebab dengan kepayahan itu Allah saja dalam firmanNya mengganjarnya dengan kewajiban bakti dari anak-anak yang dikandung oleh seorang perempuan. 

Ada hal-hal yang tak mampu di nalar mentah oleh manusia. Seperti Covid misalnya. Banyak dari penyintas yang mulanya merasa sudah sangat ketat menjaga prokes, tidak ke mana-mana, menjaga makan minum, olahraga cukup dan segala pertahanan diri. Namun jika Allah sudah takdirkan akan kena, ya kena saja. 

Saya sampaikan seperti ini, karena saya juga menerima komentar kalau ibu hamil yang terkena hiperemesis adalah tanda bahwa tubuh belum siap menerima kehamilan, tanda bahwa punya sebelum hamil banyak kebiasaan tidak baik terkait makan minum dan pola hidup. 

Iya benar, teori tersebut benar adanya, bisa ditelusuri dalil keilmiahannya. 

Namun ketika saya evaluasi dua tahun terakhir sebelum kehamilan saya bahkan melakukan diet sehat, makan minum terjaga, olahraga teratur dan banyak pola kebaikan yang insyaallah sudah saya dan suami jalani karena memang kehamilan adalah hal yang sangat kami idam-idamkan.

Tapi kembali lagi, semua atas takdir Allah. Kebaikan dan tantangan hidup datang dari Allah. Yakin saja bahwa apa-apa yang datang dari Allah adalah baik dan membaikkan. ☺️

Jadi, sahabat-sahabatku sekalian ☺️, mari tahan lisan agar tidak membandingkan setiap proses kehamilan perempuan, tidak berkomentar negatif apalagi merasa jumawa karena kehamilannya lancar jaya sempurna tanpa keluhan. Kembali ke firman Allah, bahwa setiap proses kehamilan, apa pun itu wujud tantangannya mengundang banyak berkah dan keutamaan untuk perempuan yang menjalaninya. 

Nah, kembali lagi ke hiperemesis yak. 😘

Mual muntah atau emesis adalah keadaan lumrah yang dialami oleh ibu hamil. Mulai aktifnya hormon-hormon kehamilan dalam pembentukan janin selama masa hamil muda ditengarai menjadi salah satu penyebabnya. Keadaan ini biasa juga dikenal dengan morning sickness, dan akan berakhir seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. 

Sementara itu, hiperemesis: hiper+emesis, emesis yang berlebihan. Dari segi bahasa, bisa disamakan seperti kata "hipertensi" tensi (tekanan darah) yang berlebihan, atau "hiperaktif" aktif yang berlebihan. Keduanya baik hipertensi maupun hiperaktif memiliki faktor resiko dan akibat yang ditimbulkan jika tidak ditangani dengan sebaik mungkin. 

Jadi bisa dikatakan, hiperemesis ialah mual muntah berlebihan, bukan mual muntah biasa, perlu mendapatkan penanganan agar tidak membawa dampak pada kondisi ibu dan perkembangan janin. 

Jika merujuk dari web alodokter.com. 

(Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang muncul secara berlebihan selama hamil. Mual dan muntah (morning sickness) pada kehamilan trimester awal sebenarnya normal. Namun pada hiperemesis gravidarum, mual dan muntah dapat terjadi sepanjang hari dan berisiko menimbulkan dehidrasi.

Tidak hanya dehidrasi, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan ibu hamil mengalami gangguan elektrolit dan berat badan turun. Hiperemesis gravidarum perlu segera ditangani untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya). 

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa penyebab hiperemesis secara ilmiah. Penelitian hanya memberikan dugaan bahwa hal ini disebabkan perubahan hormon-hormon kehamilan. 

Sementara itu, ada beberapa keadaan yang membuat ibu hamil berpeluang tinggi mengalami hiperemesis yakni:

  1. Ibu dengan kehamilan kembar. Hal ini dikarenakan peningkatan hcg yang berkali lipat dibanding hamil tunggal. Ini kerasa sekali di saya, hasil lab menunjukkan hcg saya saat hamil trimester awal sangat amat tinggi. 
  2. Ibu dengan riwayat hiperemesis sebelumnya. 
  3. Ibu dengan kehamilan pertama. 
  4. Kelebihan berat badan atau ada penyakit penyerta lainnya. 


Hiperemesis Bukan Hal Main-main

Tidak semua ibu hamil merasakan mual muntah. Banyak sekali diantaranya yang super istimewa diberkahi kehamilan menyenangkan nyaris tanpa keluhan, tanpa ada mual, muntah dan lainnya. Namun demikian, kembali ke ayat Allah tadi ya, bukan berarti semua keadaan ibu hamil itu sama. 

Sama-sama merasakan mual muntah pun belum tentu kadarnya setara. Sehingga, membeda-bedakan atau meremehkan keadaan yang lainnya bukanlah hal yang bijak. 

"Memang kalau tidak merasakan sendiri hiperemesis, enggak akan paham dan enggak mudah berempati," demikian ujar saya kepada seorang sahabat yang kini sedang berjuang dengan hiperemesis. 

Berikut ini keadaan yang saya rasakan saat mengalami hiperemesis sehingga harus menjalani empat kali rawat inap, 2 kali masuk IGD, dan minum obat hampir tiap hari, hingga usia kehamilan memasuki 7 bulan: 
  • Sensitivitas indra penciuman saya rasanya seperti meningkat ratusan kali lipat. Ini yang menyebabkan saya mual muntah hebat. Saya mual terhadap semua bau, baik parfum, sabun, odol, bawang, bumbu, dan hal-hal lain. Saya bahkan tidak tahan dengan bau air minum yang dimasak maupun isi ulang. Saya tidak tahan bau nasi yang dimasak di ricecooker. Saya juga tidak tahan dengan bau rumah dan kamar mandi. Menurut saya rumah saya bau, bikin mual, padahal tidak. 🙈. Saya juga jarang mandi karena sedikit kena air saya bisa muntah parah. Saya juga beralih menggunakan siwak karena saya tidak tahan dengan bau odol. 
Akibat indra penciuman saya yang sangat sensitiv ini, sepanjang hamil, selain menginap di RS, saya juga banyak menginap di hotel. Entah mengapa, keadaan saya lebih baik jika di hotel. Menurut saya, hotel itu tidak bau. 🙈
  • Saya muntah sepanjang hari, tak berjeda. Saya muntah sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Dalam setengah hari, saya bisa muntah hingga dua puluh kali. Apa pun yang masuk (makanan atau minuman) langsung keluar dimuntahkan. Muntah tidak akan berhenti sampai perut terkuras dan keluar cairan kuning dari lambung. Rasanya sangat tidak nyaman dan sakit. Semua teori penghalau mual muntah tidak ada yang mempan. 🙈
  • Saya tidak kuat melihat gambar makanan.  Bahkan hanya melihat gambar makanan saja saya bisa muntah 😆. 
  • Keadaan saya sangat lemah. Lemah ini bukan karena dibuat-buat. Tapi karena perut rasanya sangat enggak enak, bawaannya selalu kayak ingin nguras semua yang masuk 🙈. Jadi dibawa duduk ataupun beraktivitas sangat tidak nyaman. Salat pun saya lakukan sambil duduk. Rasanya seperti mabuk perjalanan, berasa seperti sedang di mobil tapi enggak sampai-sampai di tempat tujuan. Terus seperti itu tanpa jeda, sampaaaai usia kehamilan saya tujuh bulan 🙈. 
  • Pikiran tidak karuan. Berasa menjadi manusia yang tidak bermanfaat, jujur inilah yang sempat muncul di pikiran dan jiwa saya. 😆 Karena tidak seperti bumil-bumil lain yang njajan cantik, jalan pagi, lincah ke sana kemari, kerjaan saya hari demi hari ya di pembaringan sambil merintih nahan sakit 🙈. Boro-boro mau nulis, lihat wujud laptop dan hp saja langsung pusing dan ingin muntah. Enggak kuat juga mau ngurus rumah dan segala macem. 

Hiperemesis dan perjuangan menjalaninya dengan bahagia. 

Ketika menjalaninya, berderai-derai air mata juga sayanya. Rasanya hampir tiap hari merintih, menangis, dan mengadu "ya Allah rasanya enggak kuat". 

Namun selain itu, terselip kesyukuran besar yang saya sadari bahwa selama kehamilan dengan hiperemesis itulah cara terbaik Allah untuk menjaga saya dan mengabulkan pinta saya sebelumnya untuk meminta hidup yang tenang tanpa memikirkan hal-hal yang mengganggu pikiran. 

Mahabaik Allah yang mengabulkan segala doa. Di masa hamil dengan hiperemesis ini saya benar-benar hanya memikirkan tentang hidup saya (enggak kuat sis mikirin yang lain boro-boro dah ah 😜). Di masa itulah saya 99,99 persen lepas dari media sosial (lagi-lagi ya karena enggak kuat juga buka hp sis, pusing ðŸĪŠ). Hidup rasanya sangat bersih di kala itu, karena saya tidak disibukkan dengan urusan orang lain. 

Mahabaik Allah juga yang memberikan saya masa kehamilan tidak di masa kerja. Enggak kuat saya membayangkan jika status masih bekerja gimana menyelesaikan semua amanah kantor dengan kondisi hamil yang super ini. 

Di masa kehamilan dengan hiperemesis ini hampir tidak ada mood swing, amarah yang meletup atau nada-nada ndak enak ke suami (lagi-lagi karena enggak kuat sis haha 😂). Saya enggak punya kekuatan buat ngomong apalagi lah mau marah-marah. ðŸĪŠðŸ˜‚ 

Benar-benar sebuah hidup yang bersih, masyaallah Allahu Akbar!  ☺️. 

Tantangan terbesar saat menjalaninya ialah memunculkan kesyukuran dan kebahagiaan dari hari ke hari. 

Hal-hal ini yang saya lakukan untuk menghadapi hiperemesis:
  1. Mengakui bahwa rasa tidak nyaman dan sakit itu ada. Akui, terima, rasakan, ungkapkan, nikmati.
  2. Percaya bahwa Allah sebaik-baik pencipta yang sempurna menciptakan tubuh manusia  Percaya pada mekanisme ini dan turuti apa maunya badan. Kalau bawaannya ingin tiduran ya tidurkan saja, tidak perlu merasa bersalah atau merasa lemah. Tubuh memberi sinyal ingin tidur pagi, ya tidur saja. Lakukan. Percayalah, ini cukup membantu. Tubuh kita tahu apa yang sedang dibutuhkannya, percaya dan ikuti saja sinyalnya. 
  3. Mendengarkan audioterapi mengenai kehamilan yang menyenangkan dan penuh kesyukuran. Ini saya lakukan setiap hari setiap beberapa jam sekali. Ini membantu menguatkan alam bawah sadar kita.
  4. Terapi napas. Berlatih merilekskan pikiran. 
  5. Melakukan hal-hal yang disukai. 
  6. Berjuang lepas dari obat penahan mual, karena obat sejenis ondansetron dan semacamnya tentu tidak baik dikonsumsi harian. Ini sangat menantang tapi ya lakukan, berjuang. 
  7. Menonton, memvisualisasikan saat bayi sudah lahir, ini akan meningkatkan hormon kebahagiaan. 
  8. Ingat firman Allah dan semua ganjaran yang dijanjikan untuk jihadnya seorang ibu. Jalani dengan sadar dan kesyukuran. Ingatlah bahwa perjuangan saat kehamilan ini nanti akan tunai terbayarkan dan akan berganti dengan kebahagiaan yang berlipat ganda. ☺️
  9. Memperbanyak istighfar dan tasbih. 
  10. Terus berupaya makan minum, sedikit namun sering. Makan minum yang disukai. 
Alhamdulillah, kebiasaan baik selama sebelum kehamilan sangat berpengaruh saat mengalami hiperemesis karena saya hanya doyan makanan alami dan terjamin kualitasnya. 

Sementara itu, untuk lingkungan terdekat ibu hamil yang sedang berjuang dengan hiperemesis, berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan:
  1. Berempati. 
  2. Tidak komentar macam-macam. 
  3. Membantu menyiapkan makan minum yang diinginkan bumil. 
  4. Membantu beres-beres/bebersih rumah bumil. 
  5. Menguatkan dan mendoakan. Ambil alih untuk sementara mengasuh anak-anak bumil juga bisa dilakukan. 

Menjalani kehamilan dengan hiperemesis memang tidak mudah, butuh perjuangan. Semoga siapapun yang sedang mengalami, Allah kuatkan dan jaga janinnya hingga saat dilahirkan. Sehat ibu dan bayinya. ☺️

Semoga sedikit cerita ini bisa membantu ya. ❤️☺️~  Semoga segala perjuangan dan jerih payah sepanjang mengandung, melahirkan, hingga menyusui Allah ganjar dengan anak-anak saleh yang menyejukkan pandangan. 

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar