Celoteh

Terima Kasih, Sudah Merindu!

Tuesday, March 26, 2019



Bismillahirrahmanirrahim.

Kemarin pagi (((pagi banget))) karena masuk di hp saya pukul 03.27 WIB,😃 sebuah pesan saya terima,

"Mbak Nurin kenapa jarang nyetatus di WA? Kangen tulisan-tulisan ringannya Mbak..."

Saya jadi ingin tertawa, ngaaanuuuu,😂 aduh gimana ngomongnya, kalau yang menghubungi saya tahu, hal ter-nyeleneh yang baru-baru ini saya lakukan, nyahahahahaaa 🙈.

Boleh baca: Bangkit dari Kesedihan Mendalam dan Gejala Depresi

Kemudian saya menjawabnya dengan mengatakan bahwa saya sedang tidak punya energi, hatta itu sekadar nyetatus. 😅 Iyhaa, kejadian yang baru saja saya alami, di bulan Desember hingga Februari tahun 2019 ini benar-benar menguras habis energi saya.

Efek puncak lelahnya baru terasa di bulan Maret ini. 🙈 Saya kehilangan hampir semua energi positif. Saya tidak lagi berminat terhadap apa-apa yang dulu tampak sangat saya nikmati. Berteman, menulis, berbagi.

Bahkan saat saya ditanya seseorang yang lain lagi, tentang, apa rencana saya ke depan, untuk mengembangkan Komunitas Perempuan BPS Menulis. Saya hanya bisa menjawab,

"Enggak tahu, saya hampa. 😁 Saya ingin menghibahkannya untuk BPS," jawab saya. 😅 Karena memang sejak semula saya membangunnya, itu rencana saya."

"Yakin, bisa dilepas Rin?."

Lalu saya jawab lagi, "Makanya dulu kenapa sik sok bikin-bikin." 😆

"Lillahi taala dan bermanfaat bagi banyak orang." Saya diingatkannya kembali.

Saya benar-benar seperti kehabisan semua energi, apalagi untuk memikirkan hal-hal semacam itu.

Percayalah, saat kalian melihat ada orang-orang yang demikian semangat berbagi dan bergerak. Apapun itu. Mereka ialah orang-orang yang memiliki kelimpahan energi. Mereka kuat sekali. Mereka akan rela berbagi mimpi, berbagi ide, berbagi harapan. Juga untuk mereka, yang senang berbagi hal ringan seperti senyuman, makanan. Atau ...
.
.
.
atau mereka yang senang bersedekah harta. Mereka ialah orang-orang yang berkelebihan. Mereka punya sesuatu, karenanya mereka bisa berbagi. Mereka ini, orang-orang yang bisa "selesai" dengan dirinya sendiri, sehingga hidupnya akan lebih sibuk untuk memikirkan sesama.

Sebaliknya, orang-orang yang sedang hampa seperti saya, 🙈 mereka yang melihat dunia ini pada sisi sebaliknya, kosong, tidak bermakna, ialah orang-orang yang boleh dikatakan, sedang malnutrisi "energi", mereka sedang membutuhkan transfer banyak energi positif dari sekitarnya.

Dan, kata-kata "Kangen tulisan-tulisan ringannya Mbak ..." memberikan sebuah energi positif untuk saya. Saya jadi meleleh dan ingin menangis. 😭

Saya jadi punya perasaan, "Ya Allah ternyata saya masih berharga di mata orang lain" 😭. Saya masih punya makna. Saya dikangenin. 😭 Perasaan yang hampir tidak saya miliki beberapa waktu ini.

Boleh baca: Beberapa Gejala Depresi dan Cara Penyembuhan dari Dalam Diri

Sore harinya, saya mendapat pesan kembali. Kali ini dari orang yang berbeda, yang bertanya,

"Mbak, gimana caranya ikhlas?"

Saya ingin tertawa kembali. Allah bisa aja nih. 😄 Mendatangkan orang lain kepada saya, untuk curhat dan mempertanyakan sesuatu yang pas banget sedang saya jalani prosesnya. 😆.

Allah kalau nyentil suka gak tanggung-tanggung. 🙈

Betapa sayangnya Allah terhadap hamba yang penuh salah, khilaf dan kekurangan ini. 🙈

Belakangan ini saya memang sedang menjalani prosesnya. IKHLAS. Saya tahu ini tidak mudah. Karena saya harus melewati kecewanya, sakitnya, sedihnya. Tapi saya ingin Allah tahu bahwa saya terus berupaya. Mendahulukan Allah dan mengejar ridanya harus di atas segala.

Saya juga sedang belajar meresapi pesan baik dari Ustad yang menyampaikan bahwa, "Apapun kesedihan, rasa kehilangan, ujian, cobaan yang menimpa manusia, hendaknya manusia itu tetap berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah yang paling tahu terhadap kondisi hambanya, Allah tahu mana yang terbaik. Bisa jadi ini tidak kita sukai, tapi ini baik untuk kita. Jika kita tahu, jika kita memiliki prasangka baik terhadap segala kuasa dan takdir Allah, maka kita akan menjalaninya dengan penuh kesyukuran."

Dan beberapa pesan baik dari seorang perempuan yang memberikan pundak dan pelukan hangatnya untuk saya.

"Ingat bagaimana sahabiyah di zaman Rasulullah dulu."

Betapa baiknya Allah terhadap hamba yang dhaif dan lemah ini. 🙈

Dihantarkannya saya orang-orang yang baik hatinya, fasih lisannya, untuk menyampaikan nasihat imani, diberikannya saya ruang, tempat dan sebaik-baik takdir. Insyaallah semua yang digariskan Allah adalah yang terbaik untuk hambanya.

Saya pasti tidak akan banyak belajar lagi dan lagi, jika tidak diberi ujian.

Seperti masa UTS dan UAS saat kuliah, saya gak mungkin belajar lebih giat kalau gak ada ujian. 😆

Betapa banyak kesyukuran yang bisa saya panjatkan kepada Allah atas semua ini.


Kepada kamu, hai! terima kasih, sudah menyampaikan rindu. 😊

Terima kasih, sudah merindu!. 😊

Saya jadi punya energi untuk kembali menulis.

Terima kasih ya. 😘🙏 .


~~



Nanti jika merindu lagi, insyaallah saya masih akan banyak berceloteh di sini. 😉





You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar