Parenting

Menyapih Bayi Kembar Dengan Penuh Cinta

Sunday, December 11, 2022


Bismillahirrahmanirrahim. 

Masyaallah alhamdulillah, setiap habis lahiran saya tuh selalu merasa seperti TERLAHIR KEMBALI,

*Alhamdulillah ya rasanya jadi lebih fresh, plong, trus keterusan deh pengin hamil lagi (dibaca pake nada iklan shampo, haha😜)

Rasanya tuh kayak BANYAAAK (oke kepsylok besar) banget isi pikiran yang pengin dibagiin, ditumpahin, dan diceritain. Semacam punya ENERGI YANG BESAR buat banyak-banyak bikin KARYA (cuma realitanya kalau pas ada waktu senggang lebih milih tidur bersama bayik untuk pemulihan energi wkwkπŸ˜†πŸ™ˆ). 

Yawdalah ya, hidup itu dinikmati, leha-leha sama bayi, sebab waktunya gak terasa tahu-tahu mereka sudah bukan bayi lagi πŸ˜„. 

Setiap usai melalui masa persalinan, rasanya tu seperti semua sel tubuh saya, berikut hormon-hormonnya dalam keadaan terbaiknya. Saya menyebutnya dengan "masa cuci-cuci", rasanya, proses hamil hingga sebelum bersalin ialah proses pencucian untuk menjadi fitri kembali saat bertemu dengan bayi. Hingga sesudahnya yang ada ialah hepi pihepi dan hepi membersamai bayi, masyaallah 😍.

Proses "cuci-cuci" ini juga kerasa banget saat saya merasakan haid pertama kali setelah nifas Si Kembar yang masyaallah untuk pertama kalinya saya merasakan haid tanpa rasa nyeri, tanpa mood swing, tanpa pusing encok dan lain-lain. Haid yang supeeerrr enaak, sampai tidak lama saya pun merasai mengandung bayi kembali. Sungguh besar MahaKuasa Allah. 😭

Boleh baca:  Bebas Nyeri Haid

Nah selanjutnya, fase MENYUSUI saya rasakan menjadi semacam fase 'penjagaan' agar hormon kebahagiaan itu tetap berkobar πŸ”₯πŸ”₯.

Sungguh benar-benar ya, hamil, melahirkan, dan menyusui itu menjadi privilege untuk seorang perempuan dari Allah. 😭 Tiga peristiwa yang sangat ISTIMEWA, sehingga layak diperjuangkan, dalam doa, dalam ikhtiar, dalam tawakkal. 

Boleh baca: Promil, Menjemput Rezeki Hadirnya Buah Hati

Sebelum lebih jauh, yuk kita bahas dulu mengenai bagaimana tuntunan penyapihan di dalam Alquran. 

WAKTU YANG TEPAT

Sebagai seorang muslim, pedoman kita ialah Alquran dan Hadits. Jika dalam perihal menyusui, telah kita imani bahwa aktivitas menyusui yang diridai Allah menurut Alquran dan Hadits ialah memberikannya secara langsung dari payudara ibu, maka dalam hal menyapih, cara penyapihan juga harus mengikuti apa yang Allah tuntunkan di dalam Alquran dan Hadits. 

Boleh baca: Menyusui Bayi Kembar

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan ... (QS al-Baqarah [2]: 233).

Kalimat dua tahun penuh yang Allah tuangkan di dalam Alquran tentu bukan tanpa makna. Jika sudah benderang tertera, maka masa itulah yang PALING TERBAIK. TIDAK LEBIH, TIDAK KURANG. Ini yang wajib diimani, diyakini, diperjuangkan, dan dilakukan. 

Namun apakah makna dari "dua tahun penuh" yang dicantumkan oleh Alquran ini?

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan ... (QS Al-Ahqaf:15). 

Ibnu Abbas r.a (dalam tafsir Ibnu Katsir) memaknai masa 30 bulan di dalam QS Al-Ahqaf ayat 15 ialah sebagai berikut: 

  1. Jika seorang ibu telah mengandung selama 9 bulan, maka cukuplah baginya menyusui dalam waktu 21 bulan (dan ini sudah termasuk dalam konsep dua tahun penuh)
  2. Jika seorang ibu telah mengandung selama 8 bulan, maka cukuplah baginya menyusui dalam waktu 22 bulan (dan ini sudah termasuk dalam konsep dua tahun penuh)
  3. Jika seorang ibu telah mengandung selama 7 bulan, maka cukuplah baginya menyusui dalam waktu 23 bulan (dan ini sudah termasuk dalam konsep dua tahun penuh)
  4. Jika seorang ibu telah mengandung selama 6 bulan, maka cukuplah baginya menyusui dalam waktu 24 bulan. 

Menurut Ibnu Abbas, menyusui dua tahun penuh (dengan konsep selama 24 bulan seperti umumnya yang kita ketahui) hanya untuk ibu yang mengandung janin selama 6 bulan. 

Adapun sebagian ulama lainnya, berpandangan terkait surah Al-Ahqaf ayat 15 ini ialah khabar dari Alquran mengenai usia ibu mengandung ialah minimal selama 6 bulan. 

Jadi bagaimanakah waktu yang tepat?

Waktu yang tepat ialah dua tahun penuh, namun alquran tidak mendefinisikan dua tahun sama dengan 24 bulan. Sehingga boleh saja jika kita ingin menggunakan pendapat Ibnu Abbas, insyaallah sudah termasuk penyempurnaan masa susuan. Akan tetapi, jika kita ingin menggenapkan jumlah sampai dengan 24 bulan, tetaplah yang utama.

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya." (QS al-Baqarah [2]: 233).

Masih dalam ayat yang sama pada QS Albaqarah ayat 233, terdapat tuntunan mengenai kebolehan penyapihan kurang dari dua tahun. Namun tidak terdapat ayat (mengenai kebolehan ataupun larangan) tentang menyapih lebih dari dua tahun.

Kesimpulannya: penyapihan selama dua tahun penuh ialah yang paling sempurna. Tidak lebih tidak kurang. Masa dua tahun penuh boleh dimaknai sebagai 24 bulan usia anak, atau menggunakan tafsiran Ibnu Abbas pada QS Al-Ahqaf ayat 15. Menyusui kurang dari waktu tersebut diperbolehkan selama ada permusyawaratan dan kerelaan ibu dan bayi. Sementara itu, menyusui lebih dari dua tahun bukanlah sebuah keutamaan (sebab Alquran dan Hadits tidak membahasnya) namun juga tidak ada pelarangan. Wallahualam 

PERSIAPAN

MENYAPIH DENGAN CINTA

Ketika kita sudah meniatkan untuk menyapih buah hati, hal yang harus kita ingat ialah melakukannya dengan penuh cinta. 😘 

Bayangkan saja, bayi sudah bergantung dengan aktivitas ini sejak hari pertama ia terlahir di dunia hingga ia berusia dua tahun, tentu bukan hal mudah baginya melepaskan kebiasaan yang sangat dicintainya.

Posisikan kita sebagai bayi. Misalnya saat kita berniat sedang melakukan diet sehat, untuk meninggalkan kebiasaan makan gorengan dan gula tentu tidak bisa dalam satu atau dua malam. Tidak nyaman juga rasanya jika "kita dipaksa" orang lain dengan cara-cara yang tidak ahsan. Karena apa? lidah sebagai indera pengecap sudah terbiasa dan nyaman dengan makanan goreng-goreng dan manis-manis. Jadi bagaimana? lakukan perlahan, kurangi pelan-pelan sampai batas benar-benar bisa meninggalkan, asupi pemahaman dengan iman dan pengetahuan sehingga dapat meninggalkan suatu kebiasaan dengan keyakinan yang kuat dan penuh. 

Nah, seperti itulah gambaran pengalaman saya ketika melakukan proses penyapihan (weaning with love). 

Prinsipnya

Pertama, lakukan secara perlahan

Kedua, kurangi pelan-pelan sampai benar-benar bisa meninggalkan.

Ketiga, asupi anak dengan pemahaman iman dan pengetahuan. 

Hindari: 

  • Menyapih dengan paksaan.
  • Menyapih dengan menakut-nakuti.
  • Menyapih tanpa persiapan dan tiba-tiba. 

MENENTUKAN WAKTU

Setelah mengetahui kapan waktu yang tepat sesuai Alquran dan Sunah, sekarang saatnya orang tua (Ayah dan Ibu) menentukan kapan sang buah hati ingin disapih. Mau kurang dari dua tahun, mau pas dua tahun, atau mau lebih dari dua tahun. Tentunya, ini sifatnya sangat personal dan menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada. 

Penting untuk memusyawarahkan waktu menyapih, agar dapat dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. 

PENANAMAN TAUHID

Meskipun usia sudah mendekati dua tahun, barangkali tidak semua bayi lancar dalam berbicara. 

Namun demikian, kita harus ingat kalau otak bayi terus bekerja. Otak akan merekam, menyimpan semua memori yang tercipta. Begitupun panca inderanya (terutama indera pendengaran). 

Nah, di sini kita dapat pelan-pelan menanamkan tauhid dari berkisah (bercerita), bernyanyi, bermain, dan media lainnya. 

Nilai tauhid yang harus disampaikan ialah mengenai ketakwaan dan kepatuhan pada apa yang Allah perintahkan. Dalam hal ini ialah menyusui. 

  1. Sampaikan pada anak jika Allah memerintahkan dua tahun, ya dua tahun. Taat dan ikuti. 
  2. Ambil kisah para Nabiyullah. Saya mengambil kisah Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s. Selalu saya ulang ke anak-anak, kisah seorang anak kecil yang taat perintah Allah ketika pertama kali mendengar dari ayahnya mengenai penyembelihan. 
  3. Pilih media yang dekat dengan anak. Di sini saya menggunakan media lagu. 
Adapun lagunya, ya dikarang-karang sendiri, dibikin sendiri πŸ˜…. 

Saya pakai nada lagu "Bertamasya Keliling Kota". Liriknya diganti, jadinya gini: 

Saya sudah dewasa
Sudah mau baduta
Bayi dua tahun 
Tak lagi menyusui
Tak lagi minum asi
Minumnya air putih
Saya baduta bayi umur dua tahun
Saya baduta pintar minum sendiri

Saat sedang bermain, sedang senggang, saat ada kesempatan, selalu saya ajak anak-anak bernyanyi sambil tepuk tangan bergembira. 

Penanaman tauhid melalui kisah dan lagu saya lakukan enam bulan sebelum masa sapih tiba. 

Masyaallah ternyata lagu yang dinyanyikan melekat dalam ingatan mereka. πŸ₯Ί

Saat awal-awal disapih, setiap mau tidur mereka minta air putih. Masih suka gelisah kebangun-bangun, tapi masyaallah yang diminta itu air putih. πŸ₯Ί Akhirnya tiap mau tidur saya siapin sebotol air putih di dekat mereka. Prosesnya bisa sampai 30 menit bolak balik bangun-minum air putih. Namun setelah terbiasa, Alhamdulillah bisa tidur sendiri tanpa 'dopping' air sebotol πŸ™ˆ.

Mengurangi pelan-pelan waktu menyusui. Ini saya lakukan terhadap Si Kembar juga kurang lebih 6 bulan sebelum masa penyapihan tiba. Dimulai dari meniadakan satu sesi menyusui misalnya jatah menyusui pagi. Setelah terbiasa, mulai tanggalkan jatah menyusui siang, dst sampai bersisa sesi menyusui sebelum tidur malam (ini yang paling butuh waktu lama πŸ˜„). 

Saya membiasakan selalu tandem (berbarengan) saat menyusui mereka, jadi ya rasanya seperti menyusui satu bayi saja, tidak menguras banyak waktu. 

Apakah berhasil cara ini? Dalam praktiknya TENTU SAJA TIDAK SEMULUS TEORI. πŸ˜…

Ada saja tantangan yang membuat ini buyar. Misalnya saat mereka sakit dan maunya nempel terus menyusui. Yasudlah itu pertanda menyusunya balik lagi kayak zaman bayi, kapanpun bayi mau ya ayok susui πŸ˜€. 

Ketika masa penyapihan tiba, saya sampaikan ke anak-anak bahwa saya memberikan waktu TIGA HARI sebagai batas akhir perpisahan dengan proses menyusui. 

Jadi saat anak mulai rewel, gak betah dan mulai gelisah mendekati reog πŸ˜…, saya bolehkan menyusu malam dengan pelbagai pengertian "terakhir ya Nak, gak boleh lama-lama, udah masuk waktu perpisahan ya." Saya lakukan ini, karena jujur saja, sebagai ibu saya gak kuat mengurus dua bocil yang ngereog malam πŸ˜† dengan kondisi sedang hamil besar dan LDM. 

Alhamdulillah, setelah habis masa perpisahan, mereka seperti paham dan pengertian hingga tahu sendiri dan tidak lagi minta menyusu πŸ₯Ί. 
~

Demikianlah, perjalanan kisah sapih Si Kembar. 

Awalnya banyak yang sangsi dan meminta saya untuk menyapih dini karena kondisi sedang mengandung adiknya. Banyak yang khawatir nanti sampai adiknya lahir, belum sukses disapih dan harus tandem bertiga. 

Namun, masyaallah luar biasa kuasa Allah πŸ₯Ί, bisa menuntaskan masa menyusui dua tahun dan menyapihnya dengan proses yang Allah mudahkan. 

Berdasar pengalaman saya, proses penyapihan semua bergantung dan bermula pada KESIAPAN IBU. 

Kalau Ibu siap lahir batin, insyaallah anak ikut. 

Ibu siap landasannya adalah iman. Landasannya adalah Allah. Ibu harus yakin percaya dan mengikuti apa yang Allah perintahkan. 

Ibu harus tangguh, kuat, dan bersungguh-sungguh dalam upaya memenuhi syariat Allah karena ini menjadi modal pendidikan ke anak dan keturunannya. 

Menyusui bukan sekadar memberi nutrisi. Lebih jauh, menyusui juga berkaitan dengan perkara iman, ibadah, pendidikan dan pengasuhan. 

Enggak ada urusan 'gak tega' dengan anak, 'anak belum siap' dan lain-lain, jikalau Allah sudah tentukan batasnya, patuhi. Ini semua dimulai dari IBU. Ibunya harus yakin dulu, siap dulu, 'fight' dulu. Inilah ranah iman. 

Kelak setelah edisi menyusui tuntas, masih ada urusan ibadah yang lainnya, salat, puasa dan seterusnya. 

Jangan sampai nanti menjadi sebuah pembiasaan. Saat sudah waktunya wajib salat misalnya, masih belum tega 'tegas' mendidik anak untuk mengerjakannya. 

Kalau Allah bilang mulai berlatih salat di usia 7, ya usia 7. Kalau Allah bilang wajib salat saat mencapai baligh ya lakukan. 

Begitupun, kalau Allah sampaikan batas menyusui hingga dua tahun, ya berikhtiar untuk menyempurnakan sesuai waktunya. Samina wa atha'na. Cukup dengar dan taat. ❤️

Insyaallah jika niatannya lillah, nanti Allah yang akan bimbing beri jalan dan mudahkan. 

Inilah (insyaallah) sebenar-benar proses penyapihan dengan cinta. Dilakukan dengan landasan iman. Dilakukan lillah, karena Allah. Dilakukan dengan keyakinan untuk taat. Dilakukan dengan cara yang Ahsan, penuh kelembutan. Bukan dengan paksaan, oles ini oles itu. Bukan pula dengan asal tegas, menorehkan derita kepada anak hingga ia harus berpisah dengan sesuatu yang ia cintai dengan raungan tangis yang memekakkan telinga. 

Persiapkan, niatkan, dan tanamkan nilai ibadah penyapihan kepada anak. Lakukan perlahan dan lepas sesuai pemufakatan kedua belah pihak. 

❤️❤️❤️

Selamat menyapih dengan penuh cinta! πŸ€—πŸ˜˜


You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar