Wisata

-287- Penggembala Sudan, Susu Unta dan Perjanjian Hudaibiyah

Thursday, May 03, 2018


Bismillahirrahmanirrahim. 

***
Catatan: ini adalah kisah pengalaman saya selama melakukan perjalanan umrah pada tanggal 1-9 Maret 2018. Banyaknya hal yang rasanya ingin sekali saya tulis, sampai-sampai saya bingung sendiri hendak memulainya dari mana. Belakangan, saya kemudian sadar bahwa perjalanan ini ialah perjalanan yang sangat berkesan, sampai-sampai saya tak mampu membaginya, kecuali hanya menyimpannya dalam diam. Bisa jadi, saya mungkin akan menuliskannya dalam medium yang lain selain di blog ini, insyaallah, mohon doanya. πŸ˜ŠπŸ™
***

Cerita sebelumnya: Persiapan Sebelum Umrah

Aroma kotoran unta menyeruak begitu kami keluar dari bus. Sepanjang perjalanan menuju Hudaibiyah, saya sempat tertidur, karena sedikit kelelahan. πŸ˜‰Saya tidak sempat memperhatikan sekeliling kecuali hamparan padang pasir sesaat sebelum memasuki area peternakan unta. Itupun karena terbangun oleh suara mutawif yang mulai menjelaskan sedikit sejarah tentang Hudaibiyah. 

City tour kali ini tidak termasuk ke dalam paket perjalanan kami. Mutawif atau yang lebih dikenal sebagai tour guide beberapa hari lalu menawarkan kepada jamaah untuk memilih tur tambahan dengan biaya 30 riyal per satu tempat tujuan (boleh dibayar dengan uang rupiah, sebesar 100.000) yakni mendaki gua hira pukul 03.00 pagi atau mendatangi peternakan unta pukul 08.00 pagi. Saya pengin sekali dan sangat bersemangat mengikuti keduanya, pada awalnya. πŸ˜†Tetapi kata-kata mutawif saat saya bertanya tentang bagaimana pendakiannya, 

"Wah lumayan Mbak, bisa 30-45 menitan naik ke atas, saya aja rasanya gak sanggup naik." πŸ˜ƒ

Oh ya omong-omong, di hari sebelumnya kami sudah diajak berwisata ke tempat yang lainnya termasuk melihat Jabal Nur, tempat Gua Hira berada.  

"Sebaiknya kalau memang gak niat mendaki, gak usah naik, nanti kecapekan ... bla ... bla ... bla ..." mutawif kami terus saja mengoceh tentang tingginya Jabal Nur dan bukannya mempromosikan pendakian dengan manis. (Ya salaam Ustaaaad). πŸ˜„ Akhirnya sukses membuat tak satupun ibu-ibu di rombongan yang berminat ikut kecuali saya dan adik. Ha-ha. 😹

"Yakin sanggup ikut dua-duanya?," kata adik saya yang cukup mengurangi keyakinan. *Sebenarnya saya tidak yakin juga. Ahahaha. "Tapi ini Gua Hira Mbak ... Gua Hira ..." kata adik saya lagi. Argh! kami gundah sekali. Sudah jauh-jauh kemari, tentu kami ingin menapaktilasi semua tempat bersejarah. Tetapi demi melihat Mbah yang sangat ingin melihat unta, saya jadi khawatir setelah dari Gua Hira, saya tidak sanggup mengikuti tur berikutnya. Untuk itu, akhirnya kami memilih ikut ke peternakan unta. 

Dan ternyata, sesaat sebelum berangkat di pagi harinya saya masih sempat bertanya ke mutawif, "Ustad, semalam jadi ke gua hira?."

"Wah gak jadi, pada kelelahan semua. Gak ada yang datang ke lobi jam tiga pagi." Alhamdulillaaaaah  ya Allah, saya jadi senang mendengarnya, *eh. πŸ™ˆ

Kandang unta yang dibiarkan terbuka dan hanya dibatasi oleh semacam kawat saja. Pakai sunglasses jika kemari dan masker karena matahari cukup terik dan bau kotoran unta cukup menyengat.
Seorang penggembala segera saja mendatangi kerumunan kami dan menawarkan beberapa botol susu dan air kencing unta. Dalam hati saya sempat membatin, "oh ternyata ini, yang jadi trending topic beberapa waktu lalu?." Laah , di sini malah biasa aja, dan memang diperjualbelikan, kenapa kemarin ramai sekali sampai hujat-hujatan? *memang warganet Indonesiaah luar biasaah. πŸ˜‚

Saya tertarik membeli susu unta, namun seketika menjadi ragu ketika Mutawif tiba-tiba menghampiri, 
"yakin bisa minumnya?"

"lha emang kenapa Ustad?."

"Rasanya agak eneq gitu lho, kalau gak biasa minum susu ntar takutnya malah gak doyan. Agak amis-amis juga."

"Ah masak sih?." Dan Sang Ustad tahulah, malah cerita panjang lebar gimana rasa susu unta yang menurut beliau not recomended. πŸ™ˆ

Hadeuh dasar saya akan anaknya gak gampang percaya kecuali sudah ada hasil uji statistik resminya πŸ˜œ, tapi bimbang juga ntar kalau beli trus gak diminum gimana?.

Aha!, saya colek kawan jemaah sebelah untuk membeli, lantas saya numpang icip-icip dulu sedikit, muahaha. *Gak mau rugi bandar ye kan? 😬. 

"Ah gak kok Ustad, ini rasanya enak." Lalu saya ngeloyor beli satu botol susu unta. Rasanya? kayak susu sapi kok, gak seamis bayangan saya setelah mendengar ucapan Mutawif. 

Eh, gak lama Ustad ngomong lagi, 
"Kalau saya sih, enakan air kencing untanya, dibanding susunya, gak mau cobain juga?."

Woooooooooot? πŸ˜‚ hula halo halu halu, saya boleh rikues ganti Mutawif dari bus sebelah gak? ahahaha, πŸ™ˆ Ustad gitu ah, promosinya dari kemarin gak ada yang ngenakin. πŸ˜…. Ah ya, harga sebotol susu saya lupa tepatnya, *mon maaaap sama mantan aja saya cepet lupaak apalagi sebotol harga susu, 😜. Antara 5 sampai 10 riyal kalau tidak salah. 


Hamparan padang pasir Hudaibiyah
Salah satu penggembala menarik perhatian saya. Ini untuk pertama kalinya saya mendapati seseorang yang fasih berbahasa inggris. Di Madinah-Mekah saya bertemu dengan perempuan Pakistan, India, Irak, Iran, Turki dan beberapa yang lain lagi. Tak satupun yang menguasai bahasa inggris, jika bukan saya saja yang juga tak paham bahasa arab, jadi kami berkenalan dan berbincang dengan bahasa isyarat. Penggembala ini berasal dari Sudan. Saya dan beberapa kawan rombongan, mengajaknya berbincang sekadar berbasa-basi, lalu saking heboh dan senangnya, kami berfoto bersama, sebagai kenang-kenangan. 

Keramaian di sisi yang lainnya.
Tidak begitu lama, kami berada di tengah-tengah peternakan unta ini. Beberapa kawan memanfaatkan momen untuk mengabadikan foto di tengah-tengah unta. Termasuk kesempatan langka memang, bisa melihat langsung, menyentuh dan berdekat-dekat dengan unta. Beberapa penggembala juga menawarkan jika ingin merasai sensasi menaiki unta. Tapi tidak satupun dari kami yang berminat untuk mencoba. 

Unta yang sedang diberi minum. 
Perjalanan akan dilanjutkan menuju tempat mengambil miqat di Masjid Hudaibiyah. Ini pengambilan miqat ketiga sekaligus terakhir sebelum esok lusanya kami semua telah dijadwalkan akan kembali ke tanah air. Hari-hari menjelang kepulangan, pikiran saya semakin bercabang dan tidak karuan.

"Ya Rabb, terima kasih telah menyampaikan langkah kaki ini ke tempat-tempat yang dahulunya hanya saya bayangkan dalam mimpi-mimpi malam."


Tidak seperti di tempat pengambilan miqat sebelumnya, seperti Bir Ali dan Ji'rana, bangunan masjid Hudaibiyah tidak terlalu besar. Di sini pun tidak sepadat dan seramai tempat pengambilan miqat sebelumnya. SEDERHANA, demikian yang bisa saya ingat tentang Hudaibiyah.

Beberapa penjaja cinderamata tampak di sisi samping dan belakang area masjid. Sepertinya di manapun kaki melangkah, selama di Mekah, banyak sekali toko, penjual dan barang dagangan. :).

"Masjid Hudaibiyah ini terletak di daerah Al-Hudaibiyah, jaraknya kurang lebih 25 km dari Masjidil Haram," demikian ungkap Mutawif kami. Di tempat ini, pernah terjadi bai'at Al-Ridhwan yang dilakukan Rasulullah di bawah pohon di dekat sumur Hudaibiyah.

"Sebagian Hudaibiyah juga termasuk perbatasan tanah haram Mekah. Ayo silahkan Bapak Ibu, saya beri waktu setengah jam untuk menunaikan salat dan mengambil niatan umrah." pungkas sang Mutawif. Kamipun segera bergegas.


Waktu yang tidak lama di Hudaibiyah ini -berkurang dengan waktu antri mengambil air wudu dan beberapa keperluan- membuat saya bahkan lupa memotret bangunan masjidnya. Saya juga tidak sempat melihat suvenir -yang sebelumnya sudah saya niatkan ingin dilihat, disentuh diterawang :)- hasil kerajinan tangan penduduk sekitar Hudaibiyah.

Saat selesai salat, saya hanya sempat mengabadikan bangunan reruntuhan masjid lama yang kini menjadi puing-puing. Saya tidak paham mengapa beberapa pengunjung -bukan dari Indonesia- banyak yang melafalkan doa di tempat ini dan bahkan ada juga yang salat. πŸ™

Puing bangunan masjid yang lama
Salah satu peristiwa bersejarah yang patut menjadi perenungan adalah Perjanjian Hudaibiyah. Ini terjadi saat Rasulullah bersama umat islam Madinah hendak menunaikan umrah ke Mekah pada tahun keenam Hijriah.

Niatan mulia Rasulullah bersama kaum muslimin -berdasarkan riwayat- berjumlah 1.400 orang, mendapat upaya penjegalan oleh kaum Quraisy. Rasulullah mengirimkan Utsman bin Affan sebagai perwakilan -diplomasi- menghadap kaum Quraisy, namun ternyata Utsman justru ditangkap.

Peristiwa ini menjadi awal mula kekuatan dan tekad kaum muslimin untuk berperang menghadapi kaum Quraisy Mekah. Akan tetapi demi menyaksikan tekad kuat kaum muslimin ini, membuat kaum Quraisy menjadi gentar, pada akhirnya kaum Quraisy pun memilih untuk berdamai, dalam sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah.


Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah ini sarat dengan banyak makna. Pada satu sisi, kita belajar mengenai teknik dan siasat. Di sisi lainnya, ini menjadi awal mula peristiwa penting yang lebih besar yakni Fathu Mekah atau yang dikenal dengan Penaklukan Kota Mekah yang berjarak dua tahun dari peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. 

Ingin sekali mengupas tuntas sejarah Hudaibiyah ini, semoga saya bisa menceritakan lebih detilnya pada medium lain atau pada kesempatan berikutnya di blog ini, insyaallah, amin, mohon doanya. πŸ™

Tidak lama lagi, azan zuhur segera berkumandang, di sepanjang perjalanan pulang dari Hudaibiyah, kami sempat melewati beberapa tempat bersejarah lain, yang hanya saya abadikan melalui jendela dari dalam bus yang kami tumpangi.

Ini hari-hari terakhir yang bisa saya ingat, dan ini perjalanan yang memberikan kesan mendalam untuk saya.

Saya tidak ingin mengucapkan selamat tinggal, karena saya ingin Allah senantiasa mudahkan mendatangi baitullah esok-esok lagi.

"Sampai jumpa! semoga kita bisa bertemu pada kesempatan berikutnya," bisik saya, lirih, pada setiap bangunan dan jalanan sepanjang Madinah-Mekah. 😊









You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar