Haji 2018

-312- Prosesi Haji di Masa Armina: Arafah, Mina, Muzdalifah

Saturday, December 08, 2018


Bismillahirrahmanirrahim. 

Sejak hari Rabu, 15 Agustus 2018, pengarahan tentang persiapan Armina mulai dilakukan oleh PPIH. Inilah prosesi haji yang sesungguhnya. Sebelumnya, yang dilakukan oleh jemaah calon haji adalah memperbanyak ibadah di Masjidil Haram, ataupun Masjid Nabawi bagi gelombang pertama dari Indonesia. 

Sekitar satu minggu sebelum Arafah, bisa dipastikan hampir seluruh jemaah calon haji dari seluruh dunia telah tiba di Mekah. Masa itu, suasana Masjidil Haram mengalami puncak-puncak kepadatan. Penuh, sesak dan sangat ramai. 

Di hari pengarahan, PPIH menginstruksikan untuk memperbanyak istirahat dan makan-makanan bergizi, dan mengimbau untuk tidak memaksakan diri mengambil lima kali salat lima waktu di Masjidil Haram jika fisik sedang tidak sehat. Bus salawat juga sudah mulai berhenti beroperasi pada Jumat esoknya, karena seluruh fasilitas bus akan dikonsentrasikan pada pengangkutan jemaah di Armina.  

Bisa dibayangkan berapa juta jemaah yang berkumpul dalam satu waktu dan tempat secara bersamaan. Di tambah lagi, ada beberapa rukun haji yang wajib dilakukan dan tidak dapat diwakilkan. Persiapan jasadi dan ruhani tentu sangat penting untuk dipersiapkan pada masa ini.



Wukuf di Arafah 

 

Suasana di tenda Arafah
Wukuf di Arafah jatuh pada hari Senin, 20 Agustus 2018, hari Ahad jemaah mulai diberangkatkan menuju ke sana. Sejak dari hotel, jemaah sudah harus mengenakan pakaian ihram dan berniat menunaikan ibadah haji. Jemaah juga diminta membawa semua peralatan pribadi, obat-obatan dan pakaian secukupnya. 

Rombongan kami tiba di Arafah pada siang hari, matahari sangat terik, dan kami hanya disiapkan tenda setengah terbuka. Panas sangat menyengat kala itu. Sesampainya di Arafah, yang kami lakukan adalah memperbanyak zikir, dan mempersiapkan diri untuk hari Arafah keesokan harinya.  

Menjelang Maghrib, hujan badai menimpa Arafah. Angin bertiup sangat kencang, langit gelap, listrik dimatikan, suasana menjadi sejuk untuk sementara waktu, alhamdulillah.

Suasana Maktab pagi hari
Wukuf di Arafah adalah inti dari pelaksanaan haji. Rasulullah pernah bersabda, "Al-Hajjul Arafah... haji itu Arafah". Artinya siapa saja yang tidak melaksanakannya, maka haji dianggap tidak sah. Waktu Arafah dimulai dari ba'da Zuhur sampai dengan Maghrib, dimulai dengan salat berjemaah dan mendengarkan khotbah Arafah.

Karena waktunya yang sangat terbatas, wukuf sendiri tidak dapat serta merta diartikan dengan berdiam diri. Tetapi inilah waktu ijabah yang Allah berikan kepada manusia agar dapat merenungi kehidupannya, meminta ampunan Allah, dan memanjatkan pinta. Waktu berharga yang mungkin tidak akan terulangi lagi. Masa yang telah dinanti-nantikan oleh jutaan umat.

Saat di Arafah inilah, masa yang terasa syahdu untuk saya -bahkan saat menuliskan ini- hati saya pedih dan menitikkan air mata. "Ya Allah, terima kasih telah melimpahkan nikmat berupa Arafah". 😭. 

~~
Bagaimana dengan Teh Novi? Mari kita simak kisah pengalaman Arminanya, di sini, 

Cerita Teh Novi



Di tempat ini, tak lupa pula saya membuka catatan titipan-titipan doa dari beberapa sahabat dan keluarga. Saya selalu membawa catatan tersebut karena itu adalah amanah. Dan pada tempat dan waktu mustajab, di mana saja, saya akan membacakannya, dengan harapan menjadi jalan bagi pengabulan setiap doa hamba yang dititipkan melalui lisan saya. Semoga semua doa harapan, impian dan pinta kita terkabul ya. Amin... amin...amin ya mujibas sailin.

Sejak di Arafah, kesabaran kita diuji berlipat ganda. Suasana tenda tentu tak senyaman kamar hotel, kamar mandi terbatas, seadanya, dan antrian sangat panjang mengular. Syukur jika masih sempat mandi, pakaian ihram pun belum bisa dengan leluasa berganti. Hal-hal yang menyulut kesabaran banyak sekali, di sinilah upaya dan kesungguhan kita dipertaruhkan.

Ada baiknya, mengurangi mengobrol dan memperbanyak zikir, terutama jika melihat hal-hal yang kurang berkenan di hati, perbanyak sabar dan istighfar.

Mabit di Muzdalifah 


Suasana Mabit di Muzdalifah

Ba'da Maghrib, jemaah sudah diminta berkemas dan bersiap-siap. Ba'da Isya, semua barang harus sudah dirapikan, karena jemaah akan bergerak menuju Muzdalifah. Semua serba antri, menunggu jadwal giliran penjemputan bus juga membutuhkan kesabaran tinggi. Dari ba'da Isya sekitar pukul 20.00, rombongan kami baru memperoleh giliran bus pukul 23.30.

Satu hari itu, benar-benar tidak ada rehat nyenyak, kalaupun ingin mencuri waktu istirahat, harus pintar mencuri kesempatan. Sampai di Musdalifah sudah hampir lewat tengah malam. Di sini, jemaah calon haji diwajibkan untuk mabit yakni bermalam. Kami bersegera mengambil air wudhu dan melaksanakan salat tahajud dan memperbanyak doa.

Tidak ada tenda atau apapun di sini, yang ada hanyalah tempat lapangan terbuka, kami semua sudah mempersiapkan tikar lipat yang di bawa sendiri dari Mekah. 

Keesokan harinya, yakni hari Selasa, 21 Agustus 2018, ba'da Subuh, kami semua diminta bersiap, untuk melanjutkan perjalanan menuju Mina. Seperti sebelumnya, kami harus bersabar mengantri penjemputan bus.

Suasana Maktab di mina

Melempar Jumrah di Mina

Pukul 07.00 pagi, kami semua tiba di Mina. Kami akan tinggal di Mina selama tiga hari hingga hari Jumat. Badan rasanya lelah sekali. Kami dipersilakan istirahat sejenak hingga zuhur. Ba'da Zuhur harus segera bersiap untuk melakukan Jumrah Aqabah.

Pakaian ihram baru bisa dilepaskan setelah Jumrah Aqabah. Pukul 14.00 siang itu di luar sedang panas-panasnya, dan kami harus berjalan kaki kurang lebih empat kilometer pulang pergi untuk pelaksanaan jumrah. Suasana yang padat, ramai, belum berganti pakaian, dan tidak bisa leluasa untuk membersihkan diri, bercampur aduk menjadi satu. SABAR, itu kuncinya.

Dalam setiap ritual ibadah, selalu ada esensi ibadah yang seyogyanya kita petik. Bukan sekadar gerakannya, tetapi maknanya. Dan ilmu ini yang harus banyak kita persiapkan sejak dari Indonesia.

Terowongan di Mina
Tragedi Mina yang pernah juga membawa korban dari Indonesia nampaknya membuat PPIH lebih berhati-hati. Ada jam-jam tertentu yang terlarang bagi Jemaah Indonesia untuk melempar Jumrah, semua pintu keluar dari tenda akan ditutup dan dijaga oleh petugas untuk memastikan tidak ada jemaah yang keluar. Sebaliknya, ada waktu khusus buat Jemaah Indonesia dalam melempar Jumrah. Semua peraturan harus ditaati, dan diharapkan semua jemaah tidak seenak hati, demi keamanan dan kelancaran beribadah.

Itu sebabnya, saat melempar Jumrah, yang paling banyak saya temui ya Jemaah Indonesia juga, karena pengaturan waktu ini. Selain Indonesia, ada, tapi tidak banyak. Alhamdulillah, suasana saat melempar sangat rapi, lengang, tidak berdesakan, aman dan nyaman.

Menuju tempat lempar Jamarat
Melempar Jumrah dilakukan pada tiga hari setelahnya yakni Rabu, Kamis dan Jumat. Jika hari pertama Aqabah saja, hari-hari selanjutnya tiga Jumrah yakni Ula, Wusta, dan Aqabah.

Hari Jumat pagi, pukul 02.00 adalah pelaksanaan pelemparan jumrah terakhir, ba'da Subuh, kami semua bersiap kembali ke hotel di Mekah.


Sesampainya di Mekah, istirahat dan bersih-bersih. Malam hari, pukul 23.00, rombongan kloter kembali bersiap untuk melakukan tawaf ifadah yang dilanjutkan dengan sai dan tahalul di Masjidil Haram, yang menandai prosesi haji telah selesai dilaksanakan. 

Tempat pelemparan kerikil

Sementara saya, memilih untuk memulihkan tenaga terlebih dahulu, dan baru melaksanakan tawaf ifadah dan penyelesaian rukun haji keesokan harinya.

Setelah semua selesai, rangkaian ibadah haji akan ditutup dengan tawaf wada saat akan meninggalkan Mekah. Maka dengan demikian, usai sudah prosesi pelaksanaan ibadah haji, dan semua jemaah berharap mendapatkan hajjan mabruran. Amin ya Rabbal alamin.😊

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



2 komentar