Endometriosis

Pengalaman Laparoskopi Endometriosis di RS Restu Ibu Balikpapan Ditangani dr Tengku Syariful Anwar, Spog

Tuesday, April 09, 2019


Bismillahirrahmanirrahim. 

Masyaallah, judul postingan ini satu paragraf sendiri. 🙈

Maret sudah berlalu ya, tahu-tahu April. 😆

Kemarin saya sudah niat buat #EndometriosisAwarenessMonth yang jatuh setiap bulan Maret, di tahun ini, saya ingin ikut berkontribusi dengan membuat tulisan pengalaman Laparoskopi Diagnostik di tahun 2015 yang pernah saya jalani (wawww kereeen ini engga ada keren-kerennya btw). 😅

Bagaimana rasanya menjalani operasi Laparoskopi?

Gak ada rasanya, gak ada sakitnya, tahu-tahu dibangunin udah berada di ruang perawatan lagi. 😆 Ini semua karena EFEK BIUS. 🙈

Yang paling kerasa itu malahan, khawatir, takut, cemas, dan semua perasaan campur aduknya sebelum operasi, ngebayangin bagian tubuh kita dibukak, dan dimacem-macemin di ruangan bedah. 

Trus ketambahan rasa kepo yang sedemikian meledak-ledak sehingga gugling ke sana kemari, dan akhirnya malah sakseis bikin tambah ngeri. 😆

Jadi saran saya: kalau kalian hendak menerima tindakan (apapun) dari tim dokter, sebaiknya lebih santai, banyak mempersiapkan ketenangan hati dan hindari (((terlalu))) banyak baca-baca atau dengerin pengalaman yang lain dulu, karena itu bakal pengaruh ke pikiran kita. Karena kadang, faktanya itu gak seseram apa yang kita bayangin. Dan lagi, PENGALAMAN SETIAP ORANG BERBEDA. 


Kenapa Harus Laparaskopi?

Jadi sebelumnya, saya sudah merasakan keluhan nyeri haid (dismenore), semenjak menikah rasanya semakin sakit. Setiap haid, saya sampai demam, pusing, muntah dan tidak bisa beraktivitas. Hampir setiap bulan di masa haid saya selalu tidak masuk kantor. Saya selalu beryukur jika haidnya jatuh pada hari libur karena saya jadi tidak terlalu merasa bersalah karena banyak izin sakit.

Saya sudah pernah menceritakannya di sini: Endometriosis dan Bagaimana Agar Kita Bisa Berdamai Dengannya. 

Nah, di masa itu, saya juga memeriksakan diri ke dokter, sekira sejak tahun 2010 (((berkelana))) 😅 mencari dokter kandungan, menjalani berbagai terapi dan pemeriksaan. Dan semua hasilnya alhamdulillah baik-baik saja.

Karena semua pemeriksaan standar hasilnya sehat dan baik, dokter kami di Tarakan (eniwei waktu itu saya dan suami sudah bertugas di Kabupaten Tana Tidung, sekitar 3 jam naik speed boat dari Tarakan) menyarankan saya melakukan Histerosalpingografi (HSG) untuk pemeriksaan rahim dan saluran tuba falopi.

Lagi-lagi karena terlalu kepo, 😆 saya banyak membaca pengalaman orang lain yang menyatakan kalau HSG itu sakit. Saya jadi merasa khawatir. Kesimpulannya: waktu itu kami menunda HSG yang sekiranya harus dilakukan di RSUD Tarakan. Selain itu, proses antrian di tempat praktik dokter di Tarakan yang sampai tengah malam dan terlalu banyak pasien sehingga rasanya setiap bertandang terkesan buru-buru menghadirkan rasa kurang nyaman.

Kami bersepakat melakukan second opinion, dan pilihan pun jatuh untuk mencari dokter yang 'cocok di hati' di BALIKPAPAN. 

Why? karena ya, sekalian pulkam ke rumah orang tua, dan waktu itu, qadarullah kami sering perjalanan dinas ke Samarinda -yang pastinya selalu lewat Balikpapan- jadi bisa sekalian.

Suatu ketika, kami punya kesempatan ke Balikpapan, dan kami sungguh sangat random, waktu itu memutuskan ke RS Siloam Balikpapan, salah satu RS Swasta dengan pelayanan terbaik dan tercepat di Balikpapan.

Dan benar saja, semuanya serba praktis-cepat dan pelayanannya sangat prima. Kami pun bertemu dr. Tengku Syariful Anwar, SPOG waktu itu. Data-data pemeriksaan sebelumnya kami sampaikan, dan juga saya pun menceritakan mengenai rencana HSG yang semestinya dilakukan.

Lalu di sana, dokter Tengku menyarankan alternatif lain: bagaimana jika sekalian saja melakukan tindakan Laparaskopi?. Setelah berpikir-menimbang-memutuskan, akhirnya kami sepakat dengan saran yang diberikan dokter.


Prosedur Laparoskopi Menggunakan BPJS

Salah satu pertimbangan dalam menyetujui tindakan ini adalah biaya. Ya, biaya Laparoskopi memang tidak murah. 😅 Biayanya sekitar 12 s.d 50 juta tergantung tindakannya.

Waktu itu dr. Tengku mengatakan untuk tidak terlalu khawatir, nanti akan dibantu untuk pengurusan BPJS, karena tindakan ini masih bisa ditanggung BPJS. BPJS masih bisa meng-cover asal sifatnya bukan dalam rangka program kehamilan.

Alhamdulillah, waktu itu semuanya terasa dipermudah meskipun pada akhirnya hanya dapat dibayar oleh BPJS sekitar 50 s.d 60 persen, jadi sangat meringankan. Tapi waktu itu saya juga sempat baca, pasien yang dapat ditanggung keseluruhannya.

Prosedur yang kami lakukan dalam pengurusan BPJS:
  1. Pindah faskes untuk mencari Puskesmas terdekat dari RS yang dituju, yakni RS Restu Ibu Balikpapan. Hal ini perlu dilakukan karena pasien BPJS wajib memiliki surat rujukan dari faskes di bawah RS salah satunya Puskesmas. Dapat dilakukan dengan mendatangi kantor BPJS terdekat atau saat ini dapat dilakukan secara mandiri melalui aplikasi online BPJS yang bernama "Mobile JKN". Dari pengalaman saya di tahun 2018 lalu, penggunaan secara aplikasi membutuhkan waktu setidaknya satu bulan untuk dapat berlaku di faskes baru. 
  2. Mendatangi faskes pilihan (yang sudah dipindah tadi ya), dengan membawa rekomendasi dokter. Sampai di Puskesmas, biasanya akan dilakukan pemeriksaan ulang (semacam ditanya-tanya, apa maksud tujuannya) oleh dokter yang ada di Puskesmas. Kemudian, kita akan mendapatkan surat rujukan untuk melakukan tindakan Laparoskopi ke RS. 
  3. Melakukan pendaftaran di RS sesuai petunjuk dokter yang akan menangani, terkait dengan jadwal hari dan jam tindakan. Karena sebelumnya memang sudah membuat janji dengan dokter, jadi sampai di RS, tinggal menyampaikan keperluan dan administrasi yang diperlukan. 
  4. Selesai. 
Pengurusan BPJS alhamdulillah juga terasa mudah saat itu. Ini juga pertama kalinya buat saya, setelah tiap bulan mbayar BPJS  melalui pemotongan gaji, ngerasain manfaatnya saat perlu pengobatan dengan biaya banyak. 🙈


Tindakan Pada Hari-H

Hari yang ditentukanpun tiba. RS Restu Ibu meminta saya untuk mengambil kamar inap selama dua hari. Operasi rencananya akan dilakukan di malam hari, dan saya sudah datang di pagi hari untuk melakukan pemeriksaan darah dan semua prosedur sebelum operasi dilakukan. Saya juga sudah diminta puasa (tidak makan minum) sekira 8 jam sebelum tindakan.

Kamar yang saya tempati adalah kamar kelas satu. Kamarnya bagus, bersih dan sangat private. Pelayanan Restu Ibu sangat baik sekali (inilah bedanya RS Swasta ya 🙈). Oh ya, mengapa saya mengambil RS Restu Ibu? atas saran dari dr. Tengku, tentu saja. Tidak semua dokter dapat melakukan tindakan Laparoskopi. Tidak semua RS juga memiliki peralatan modern ini. Dan dr. Tengku termasuk salah satu yang bisa menangani ini di RS Restu Ibu.

Sore hari, perawat datang meminta saya untuk bersiap dan berganti pakaian. Saya juga diminta membersihkan diri dari semua perhiasan, make-up dan lainnya. Sekitar satu jam sebelum tindakan, saya pun dibawa ke ruangan tunggu operasi, dan diminta berganti tempat tidur di ruangan. Saya tidak ingat kapan saya mulai disuntik infus.

Yang saya ingat, tidak berapa lama kemudian, saya dibawa ke ruangan operasi. Sudah banyak orang di dalam, ada dokter Tengku, dokter anestesi dan beberapa perawat.

Dokter anestesi yang pertama kali mengajak saya berbincang (sepertinya supaya saya merasa lebih tenang 😆), meminta saya menelentangkan tangan, lalu memberi sesuatu seperti selang di hidung. Dan ya, setelah itu saya langsung tidak sadarkan diri.

Tahu-tahu, saya sudah dibangunkan oleh perawat, "Mbak bangun Mbak ... bangun ..." rasanya masih ngantuk sekali. Tapi perawat seakan memaksa saya, "Mbak bangun dulu, jangan tidur lagi, jangan ...." Seperti itulah kira-kira. 😅


Hasil Laparoskopi

Umumnya, Laparoskopi terbagi menjadi dua: Laparoskopi Diagnostik dan Laparoskopi Operatif. Laparokopi diagnostik dilakukan jika alat tes diganostik lain seperti USG, X-ray tidak dapat menentukan secara pasti suatu keadaan/kelainan patologis. Sementara operatif tujuannya tidak hanya untuk mendiagnosa, tetapi juga melakukan tindakan operatif semisal mengangkat kista, mioma, atau lainnya.

Pada saya, tindakan yang dilakukan ialah Laparoskopi Diagnostik.

Malam itu juga, kami pun mendapat penjelasan hasil dari dokter beserta foto-foto dari kamera Laparoskopi.

Dokter menyimpulkan bahwa rahim saya sehat dan baik, tidak ada sumbatan pada tuba falopi. Namun ada endometriosis grade tiga dan adenomiosis. Kata dokter bisa jadi kedua penyebab ini yang membuat nyeri saat haid.

Apa itu Endometriosis? saya juga sudah menuliskannya di sini: Endometriosis.

Intinya: Endometriosis (terlebih yang sifatnya masih belum membesar menjadi kista endometriosis) salah satunya hanya bisa ditegakkan dengan menggunakan tindakan laparoskopi.


Pasca Operasi

Alhamdulillah tidak merasakan apa-apa, kecuali rasa keram di perut setelah obat bius mereda fungsinya, rasanya juga masih kaku untuk bergerak. Saya melihat ada bekas jahitan di perut namun tidak terlalu besar, hanya sekitar satu cm (dan sampai sekarang masih ada bekasnya).

Pasca operasi saya belum diizinkan pulang, pihak RS meminta saya untuk rawat inap terlebih dahulu satu malam. Beberapa jam setelah operasi, saya langsung merasakan lapar yang sangat. 😆

Dokter memperbolehkan saya makan dalam porsi ringan apabila tidak merasakan mual dan muntah. Saya ingat diberi obat-obatan yang harus diminum pasca operasi. Dan diminta untuk kontrol selama beberapa pekan untuk melihat perkembangan. Luka bekas jahitan tidak boleh terkena air sampai benar-benar dinyatakan kering dan sudah dilepas jahitannya.

Dan alhamdulillah, keesokan harinya sudah bisa pulang.


Tempat Praktik dr. Tengku

Selain RS Siloam dan RS Restu Ibu, dokter Tengku memiliki tempat praktik sendiri di Komplek Ruko Balikpapan Baru. Tempatnya cukup mudah ditemukan. Bukanya malam habis isya. Antriannya juga tidak terlalu banyak. Dari pengalaman saya, dokter Tengku biasanya datang di atas pukul delapan malam.


Sebuah Catatan

Bagian ini ialah catatan sebagai pengingat dalam perjalanan hidup dengan endometriosis.

Apakah saat ini saya masih merasakan sakitnya?.

Alhamdulillah, semakin lama semakin berkurang, semakin membaik.

Sebagai manusia, saya sadar bahwa banyak hikmah dari ujian yang Allah berikan. Satu hal yang pasti, saya jadi belajar banyak. BANYAK SEKALI.

Seperti saat saya hampir mengalami depresi, saya jadi belajar banyak sekali mengenai mental ilness.

Endometriosis ini juga demikian. Saya mendapatkan banyak pengetahuan karenanya, dan menginstrropeksi diri. Banyak bertaubat atas semua kesalahan. Antara akal-hati-pikiran dan jasmani, semuanya bertautan. Diantara kesemuanya, hati ialah panglima. Oleh karenanya, ikhtiar penyembuhan (apapun itu sakitnya) harus secara holistik/menyeluruh, dan tentu saja, menyehatkan kembali hati dan pikiran juga utama.

Belajar ikhlas, belajar sabar dan memaafkan. Ya, saya sadari, bahwa masih ada hal-hal yang belum mampu saya ikhlaskan, sementara semua kepunyaan kita di dunia ini, sifatnya sementara dan hanya titipan.

Memperbaiki hubungan dan meminta maaf kepada orang-orang terdekat. Memohon ampunan pada Allah atas semua dosa dan kesalahan. La haula wala quwwata illa billah. Insyaallah, keyakinan kita kepada Allah akan menguatkan segala jenis cobaan dan ujian. Pasti terkandung hikmah dan pelajaran. Yakin bahwasanya Allah sayang dan tidak akan sia-siakan.

Hikmah lainnya, di setiap pemberian ujian, Allah selalu ingin agar hambanya naik tingkatan. Menjadi lebih baik dari sebelumnya. Lebih amanah menjaga pemberian-Nya, jadi lebih menjaga kesehatan, jadi lebih menjaga hati, jadi lebih menjaga perasaan, akal dan pikiran. Jadi lebih bijaksana, dan lebih-lebih lagi dalam hal lainnya. 😊🙏

Sampai di sini dulu berbagi saya malam ini, semoga membuahkan manfaat buat pembaca semua ya.

Kalaupun nantinya, memilih jalan Laparoskopi, niat lillah, bismillah, sebagai wujud ikhtiar seorang hamba. Semoga semua dipermudah, jadi semakin sehat dan bermanfaat di sisa usia yang Allah titipkan. 💓

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar