Celoteh

Bangkit Dari Kesedihan Mendalam dan Gejala Depresi

Saturday, March 09, 2019


Bismillahirrahmanirrahim.

Kehilangan itu sakit. Sedih. Apalagi jika kalian kehilangan harapan, impian, keinginan. Sedihnya bisa berkepanjangan. Tidak mudah disembuhkan.

Terakhir kali saya merasakannya saat masih belia. Ceritanya klise. Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Haha. 😜.

Bukan! bukan karena cinta yang tak berbalas. Tapi cinta yang tak bisa bersanding ke pelaminan. Eh sama aja ya, haha lagi deh. 😂

Rasanya sakit sekali. Kesedihan saya terlalu dalam. Sampai merasuk ke badan. Saya sakit. Hingga detik ini, saya boleh menyatakan kalau itu adalah sakit fisik saya yang terparah selama hidup. Badan saya demam tinggi sekali, saya menggigil padahal temperatur badan menunjukkan derajat panas di atas ambang normal. Saya muntah, mual, berhari-hari, sampai satu butir nasi saja rasanya seperti duri. Tidak ada makanan nikmat yang bisa saya makan.

Sebelumnya saya menganggap sakitnya tokoh di novel seperti Qais si Majenun itu bualan belaka. Lebai. Tapi ternyata, iya euy, rasanya sakit juga. 😁

Dan faktanya, ketika kita sudah terlalu menambatkan perasaan pada satu sosok, pada kenangan yang mendalam, rasanya tidak mudah untuk sembuh. Apalagi perkara melupakan. Aduh itu diturunkan pakai rumus matematika juga sulit gimana cara yang tepat untuk melupakan. 😅

Karena itu, kalau ada yang curhat ke saya hari ini sedang patah hati, lalu besok tiba-tiba bilang, "Mbak, aku dah baikan, udah gak papa." Saya senyumin saja. Dusta! 😜. Bisa sih seperti itu, hari ini kraying-kraying, besok ketiwi lagi kayak gak ada apa-apa. Tapi, perasaan sedih kecewanya, masih bisa timbul lagi, kapan-kapan. Apalagi jika ada pemicunya. Eh, gak sengaja ketemu lagi. Eh ngelihat status dia di medsos. Dan eh-eh yang lain, yang semuanya itu masih menjadi peer untuk dihadapi.

Atau kemungkinan lain, "perasaannya tidak terlalu dalam". Karena sebagian dari kita ada yang tipikal sulit jatuh cinta dan sulit melupakan. Sebagian lagi, mudah jatuh cinta dan mudah melupakan. Ada yang tipikal deep thingking, ada juga yang selow-syantai.

Dan semua perasaan yang saya ceritakan ini alamiah, normal. Kalian boleh sedih, kecewa, menangis, marah sebagaimana kalian juga boleh tertawa dan merasa bahagia. Ini perasaan alamiah setiap manusia. Sedih itu baik, kalian boleh merasakannya. 😊

Yang tidak baik itu, BERLEBIHAN. Karena nantinya bisa jadi penyakit. Ya penyakit ke badan, ya penyakit ke mental. Seperti sakitnya saya yang sampai sebutir nasi saja gak bisa ditelan, itu sudah masuk berlebihan. Harus segera diupayakan, proses penyembuhan. 🙈

BERLEBIHAN. Itu juga yang saya rasakan tiga bulan terakhir ini, saat saya menceritakan kalau saya sedang TIDAK BAIK-BAIK SAJA. Saya memang sedang TIDAK BAIK-BAIK saja.

Saya sampai mencari tahu, apa perasaan saya masih normal, atau ini sudah berlebihan. Kemudian saya menemukan dari hasil membaca, bahwa saya sudah masuk ke tahap GEJALA DEPRESI.

Ya.

(((GEJALA DEPRESI))) 😆.

Saya merasa menjadi perempuan yang tidak berharga. Saya kehilangan rasa percaya diri. Saya merasa tidak berarti. Saya kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya sangat saya nikmati. Saya benci sekali dengan akun-akun medsos yang saya miliki.

Tiba-tiba saya merasa pusing dengan hp saya. Kepala saya langsung pusing hebat ketika membuka pesan WA. Terlalu banyak chat di sana. Terlalu banyak grup yang saya ikuti. Terlalu banyak story di dalamnya. Pikiran saya terasa begitu riuh membaca ini itu, yang akhirnya membuat saya sok-sokan ikut mendalami kehidupan orang lain, ikut kepo sana sini, ikut buka ini buka itu, ikut ngeghibah si ini dan si itu. Saya pusing!.

Dan dalam waktu dua hari, saya menghapus hampir 2000 nomor telepon di hp saya. Banyak sekali ya ternyata, dan saya baru sadar. 😁. Kontak di hp lebih banyak dari follower IG. 🙈

Saya menghapus nomor-nomor yang sekiranya saya tahu, bahwa saya masih bisa menghubungi mereka di tempat yang lain. Atau kebetulan saya ada di grup, sehingga tinggal mencarinya saja, suatu saat nanti. 🙏

Saya juga keluar dari banyak grup yang saya tidak punya kepentingan di dalamnya. 🙏

Saya menonaktifkan akun FB, karena di dalamnya riuh sekali. Saya sedang tidak ingin tahu tentang apapun. Saya sedang tidak ingin ikut di dalam bahasan keramaian dan kericuhan media sosial karena itu membuat saya terganggu, perasaan saya menjadi semakin muram, memicu kesedihan itu untuk timbul.

Saya sedang dalam kondisi sedih. Pedih. Perih. Saya mengalami kehilangan. LAGI. Dan kesedihan saya menjadi terlalu dalam karenanya. Saya merasa menjadi perempuan yang tidak sempurna (memangnya manusia mana di dunia ini yang sempurna? 😆). Saya mulai menyalahkan diri saya sendiri atas kejadian kehilangan yang saya alami.

Saya menyalahkan diri saya yang tak pandai menjaga diri. Saya menyalahkan diri sendiri mengapa tak pandai bersyukur. Saya menyalahkan diri saya sendiri mengapa tak khusyu dan tenang dalam doa. Saya melihat semua kekurangan dari dalam diri, dan merasa sangat berdosa.

Saya bahkan bisa dengan sadar, mulai mencari pembenaran dengan menyalahkan orang-orang terdekat. Terutama suami.

Entah berapa kali saya sampaikan kepadanya, "Kan aku udah bilang, harusnya gak kayak gini. Kamu tuh gak ngerti gimana rasanya. Aku yang sakit. Aku yang ngerasain." 🙈.

Perasaan saya sangat sensitif. Ibarat peribahasa, "Awas! jangan dekat-dekat, senggol bacok lo!" 😂 ngeriiiiy. 😅. Saya bisa sangat mood swing. Tiba-tiba menangis padahal awalnya sedang tidak apa-apa. 🙈

Dari luar kelihatannya saya memang baik-baik saja. Di bulan-bulan antara Desember sampai dengan Februari, saya juga sedang dalam masa aktif-aktifnya. 😁 Saya banyak menulis, banyak jalan-jalan, banyak makan-makan. Sebagian besar sebagai pelarian, untuk sejenak melupakan. 😅 Sebagian sebagai terapi penyembuhan luka.  Sebagiannya lagi ya emang dasarnya saya anaknya suka nulis, suka jalan dan suka makan. Ketepatan pas lagi liburan pulak. Klop dah!. 😂

Dan biasalah ya, karena saya ni anaknya cenderung ekpresif sempurna, suka berbuat dulu baru dipikirin. 😅 Habis ngelakuin penghapusan kontak, ngenonaktifin ini itu, dan bahkan blog ini sempat saya kunci, gak lama sik, SEHARI DOANG. Haha. 😂. Tenang, kalau ada apa-apa, insyaallah blog ini pertahanan terakhir yang akan ditutup. 🙈

Siapa tahu nanti, saya pengin ngilang ke mana gitu, dan gak ada di media sosial manapun, insyaallah kalau blognya masih ada, berarti saya masih punya sisa perasaan baik-baik saja. 🙈

Saya baru mikir, setelah kemarin saya salah ngobrol. 😂 Ngechatnya sama siapa, saya balasnya apa, setelah dicek, astaga salah orang. 😂 Itupun setelah dia ngebales, "Mbaaaaak, kamuuuuh gak simpan nomor akuh ya?😭" 😂. Hadeuh ketahuan ane. 😁 Monmap netijen, sekarang saya gak nyimpan nomor siapa-siapa. 😁🙏

Bukan karena saya mutus silaturahmi, atau punya perasaan gimana gitu ya, engga kok. 😊 Biasalah itu, kalau lagi sedih apalagi mendekati depresi, orang lain mah pecah-pecahin piring, banting kursi, ngacak-ngacak kamar. Saiyah mah kerenan dikit dong, ngapusin kontak, ahahaha 😂 untuk hidup yang lebih damai dan tenang. Karena sebagai mahasiswi misqueen, piring hadiah sabun cuci sayang buat dipecahin. 😁😂

Baca Juga: Gimana Rasanya Kuliah Beasiswa Bappenas di MET FEB UNPAD?

Yampun sampek mana tadi ubrulan kita? 😆. Ah ya! gejala depresi.

Apa bedanya dengan sedih?

Beda. Sedih itu jenis emosi. Kalian kehilangan kucing kesayangan, nangis, sedih, itu normal. Tapi kalau sudah berlebihan sampai memengaruhi keadaan emosi, pemikiran, persepsi dan perilaku secara terus menerus. Sampai kalian punya perasaan tidak berharga, tidak ada artinya lagi hidup di dunia ini, sedih terhadap semua hal, merasa lebih buruk, sampai ke perilaku yang menjerumus ke (maaf) ingin mengakhiri hidup ini. Itu DEPRESI.

Dan DEPRESI ini abnormal. Gangguan mental.

Mental itu, sama seperti fisik. Bisa sakit. Kalau kita jatuh dari motor, lutut kita berdarah, terus ada bagian yang keseleo, membuat kita pincang, itu sakit. Kalau kita gak bisa jalan, jadi sulit beraktivitas, normal apa abnormal? ABNORMAL.

Perlu didiemin apa disembuhin? disembuhin. Gak boleh banget didiemin. Kudu ikhtiar, pertama dan utama, tentu berdoa, ke Allah dulu. Trus ikhtiar, dikasih obat. Pergi ke klinik kesehatan. Datangin dokter, dan lain sebagainya.

Nyembuhinnya perlu waktu atau gak? PERLU WAKTU. Gak bisa kan ujug-ujug, hari ini jatuh, besok langsung sembuh. Alhamdulillahnya, Allah sudah menciptakan badan kita ini bisa beradaptasi membantu melakukan penyembuhan. Berdarah-bengkak terus saja, ada prosesnya. Perlu waktu untuk pemulihan. Badan kita perlu istirahat. 

Mental bisa sakit? bisa. Perasaan bisa terluka? bisa. Perlu didiemin apa disembuhin? DISEMBUHIN. Biar lukanya cepet kering. Gak bernanah. Gak membusuk. Gak membuat penyakitnya bertambah parah.

Apa saja tandanya? kapan kita bisa tahu kalau mental kita sedang sakit?


-

Kita lanjutkan baca di postingan berikutnya ya: 😉

Beberapa Gejala Depresi dan Cara Penyembuhan dari Dalam Diri


You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



2 komentar

  1. Semoga cepet sehat kembali jasmani rohani.

    Btw nulisnya dengan deraian air mata tapi emot di tulisan banyakan senyum sama ketawa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiiin, trims Milo. :)

      Hihi, biar auranya gak suram, :D

      Delete