Haji 2018

-303- Ada Apa di Pintu 74 Masjidil Haram?

Monday, November 05, 2018


Bismillahirrahmanirrahim.

Sabtu, 11 Agustus 2018, pesawat Garuda Indonesia yang kami tumpangi mendarat di Jeddah Pukul 08.00 Waktu Arab Saudi. Petugas Haji Indonesia sudah memberikan instruksi untuk menggunakan pakaian ihram sejak dari pemberangkatan di Indonesia. Di terminal kedatangan, kami bersiap mengambil air wudhu, bersuci kemudian mengambil miqat.

Pukul 11 malam, rombongan kami melakukan umrah qudum. Ini adalah umrah yang harus dilakukan jemaah Indonesia yang memilih melaksanakan haji dengan cara tamattu'. Haji Tamattu' ialah haji yang dilakukan dengan melaksanakan umrah terlebih dahulu, baru kemudian menyelesaikan kegiatan haji.

Inilah pertama kalinya, alhamdulillah, menginjakkan kaki ke Masjidil Haram, masjid yang dirindukan. Esoknya, hari-hari yang dilalui ialah mempersiapkan diri pada pelaksanaan puncak haji, mempersiapkan tenaga, makan dan istirahat cukup, dan tidak terlalu memforsir diri untuk selalu datang ke masjid salat lima waktu.

Memang jarak antara hotel dan masjid terbilang tidak dekat, sekira tiga kilometer jika ditempuh berjalan kaki. Dengan cuaca panas Mekah yang bisa melebihi 40 derajat celcius saat siang hari, muskil rasanya bisa kuat berjalan kaki. Alhamdulillah, kami, jemaah Indonesia, diberi fasilitas Bus Salawat oleh PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Indonesia. Bus ini akan selalu berputar dari area pemondokan menuju Masjidil Haram. Bus ini menjadi salah satu sarana ternyaman selain hotel dan masjid, karena selama berada di dalamnya, rasanya sejuk sekali terpapar ac, alhamdulillah sepanas apapun udara luar, tiada akan terasa. 😍

Bus Salawat yang beroperasi 24 jam, nomor dan warna bus menandakan rute sektor pemondokan yang dilewati
Meski sudah beberapa kali di beritahu PPIH untuk banyak berdiam diri dan beristirahat di hotel demi mempersiapkan diri untuk hari Arafah, rasa rindu yang sedemikian mendalam membuat saya tetap mengupayakan selalu datang ke masjid dan berusaha mendapat lima kali salat berjamaah. Biasanya saya akan berangkat dua jam sebelum Zuhur, dan pulang kembali ke hotel ba'da Isya, kemudian pukul dua dini hari, kembali bersiap ke masjid untuk menunaikan salat Subuh.

Sejak keluar dari hotel, sampai menuju Masjidil Haram, saya bisa bertemu banyak orang, terutama dari Indonesia. Allahu Akbar! Arab Saudi ini rasanya seperti Indonesia, bagai berada di negeri sendiri. Rasa-rasanya di setiap jengkal kaki ini melangkah, selalu saja ada jemaah Indonesia. :) Begitupun saat berada dalam shaf salat, saya selalu menoleh ke kanan dan ke kiri, setidaknya, dalam satu barisan shaf, selalu saya temukan orang Indonesia. Tak ayal, keadaan ini membuat saya merasa aman dan nyaman, serasa berada di kampung halaman sendiri. :)

Jalan menuju Masjidil Haram dari terminal bus salawat. Banyak jemaah Indonesianya. :)
Masa sebelum Arafah ini, saya jarang berangkat bersama suami ke masjid. Biasanya saya akan berangkat bersama rombongan teman perempuan, atau pergi sendiri -saya merasa aman pergi sendiri karena nanti saat menanti bus salawat bertemu dengan ibu-ibu, lalu membaur bersama mereka-. Begitu juga dengan suami, beliau seringkali menemani teman kamar atau jemaah laki-laki yang sudah sepuh.

Lagipula, kami berdua waktu itu (((beda selera))) tempat salat. :D. Saya suka salat di pintu masuk utama di King Abdul Azis, sementara suami senang salat di pintu masuk sebelah kanan dari pintu utama yakni King Fahd. Jadi kalaupun kami pergi bersama, berpisah juga nantinya, lalu riweuh saling janjian bertemu di tengah padatnya manusia. Saat itu, masjid penuh sesak, hampir bisa dipastikan semakin mendekati puncak haji, seluruh jemaah calon haji telah berkumpul di Masjidil Haram menanti hari Arafah.

Pintu King Abdul Azis di sebelah kanan, bangunan putih. Bangunan coklat keemasan adalah King Fahd
Saya suka salat di lantai satu atau lantai dua King Abdul Azis karena dekat dengan kakbah. Saya bisa puas menatap kakbah dengan lekat. Sementara suami suka dengan tempat salatnya di pintu King Fahd, karena tempatnya lebih nyaman dan tidak terlalu penuh sesak oleh jemaah.

Saat itu, saya tidak terlalu tertarik ikut bersama suami, karena sudah terlanjur pewe dengan tempat saya sampai suami bercerita, "sekarang aku sudah tahu tempat yang paling enak buat salat di Masjidil Haram."

"Oh ya? di mana? di pintu apa?," tanya saya antusias.

"PINTU 74"

ADA APA DI PINTU 74?

-----
Lantas, bagaimana kisah Mbak Novi kali ini? :) Pintu sebelah mana yang akan diceritakan Mbak Novi? Jeng jeng jeng. :)

Silakan baca cerita Mbak Novi di sini ya, mohon maaf atas keterlambatan penayangan episode kelima ini, dikarenakan alasan teknis. 🙏 Laptop yang tidak bersahabat dan harus dibawa ke servisan. Doakan semoga selanjutnya senantiasa lancar jaya di darat, laut maupun udara. :p. 
-----

Satu Kisah di Masjidil Haram: Saat Menanti Ismail Gate


"Aku bisa ngaji dan murajaah hafalan setiap hari lo di sana, ada Syekhnya juga yang ngajarin setiap hari," kata suami melanjutkan.

APPPPPAAAAAAH? :D, kenapaah baru sekarang tahunya? :). 

Tiba-tiba saya jadi menggelegak, apalagi saat mendengar cerita Pak Aziz (bapak paruh baya yang selalu pergi bersama suami), "kenyang terus kita di sana, banyak sekali makanan."
"Oh ya?."

Lantai dua pintu King Abdul Azis. Salah satu tempat favorit salat saya. :)
Jadi, sejak saat itulah, saya jadi rajin ikut suami dan selalu masuk dari pintu 74. Sebagai informasi, pintu 74 adalah bagian dari penomoran pintu King Fahd. Area King Fahd mencakup pintu 74 sampai dengan pintu 93.

Memangnya ADA APA DI PINTU 74 MASJIDIL HARAM?

ADA BANYAK. :)

Halaqah Quran

Selain suasana di dalam masjid yang lebih nyaman dan dingin, di ruangan -melalui pintu masuk 74 King Fahd- terdapat banyak Halaqah Quran dengan berbagai program. Mulai dari memperbaiki bacaan, belajar membaca Al-Quran sampai dengan hafalan.

Bagaikan buah dari doa yang diijabah, mengikuti Halaqah Quran di Masjidil Haram telah sangat lama saya idamkan. Waktu Umrah lalu, saya belum tahu di mana tempatnya. Jadi kali ini, saya tidak akan menyia-nyiakannya.

Salah satu poster di tiang yang menandakan bahwa halaqah selalu ada di sekitar tiang tersebut.
Bagaimana cara mengikutinya? cari tiang yang terdapat poster halaqah, dan baca saksama program apa yang ditawarkan di tiang tersebut. Kemudian tinggal ikuti saja. Duduk mendekat dengan sesama jemaah lain yang mengikuti, ucapkan salam ke guru pengajarnya (musyrif/musyrifah), sampaikan maksud kita, lalu tunggu giliran kita mengaji di hadapan guru.

Bagaimana jika kita terkendala bahasa? alhamdulillah, biasanya guru pengajar menguasai bahasa arab dan inggris. Saat kita tidak menguasai keduanya, insyaallah guru akan paham apa yang kita inginkan dengan sedikit bantuan isyarat, atau duduk saja dekat-dekat dengan halaqah dan tunggu giliran kita. :)

Suasana halaqah Quran di tempat laki-laki. Syeikh yang mengajar yang menggunakan surban.
Halaqah Quran dimulai dari ba'da ashar sampai isya, ada banyak waktu untuk mengikutinya.

Taklim

Selain halaqah quran, juga ada taklim atau pengajian rutin yang diadakan di dalam masjid. Untuk jemaah laki-laki menggunakan pengeras suara dengan bahasa arab. Bahasan kajian bermacam-macam, ada hadits dan lainnya.

Sementara untuk jemaah perempuan tidak menggunakan pengeras suara. Biasanya penceramah akan mencari segerombolan jemaah sesuai asal negara. Jika kebetulan kita sedang salat bersama jemaah Indonesia, maka dibentuklah halaqah, dan taklimpun diisi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Begitupun, jika ada sekelompok jemaah Turki, maka penceramahpun menggunakan bahasa Turki. Jika bercampur negara, taklim menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Arab.

Suasana taklim di jemaah laki-laki

Berlimpahnya Penganan

Tidak di setiap tempat Masjidil Haram, ada berlimpah makanan seperti di pintu 74 ini. :)

Masyaallah, setiap hari banyak sekali orang bersedekah makanan dan minuman di sini. Jadi, jika kita memutuskan berdiam diri di masjid dalam waktu yang lama melalui pintu 74, dijamin tidak akan kelaparan. :)

Di area mal, di depan King Fahd, ada juga toko makanan yang sepanjang hari bersedekah makanan berupa roti sandwich dan nasi samin, di situ poster menerangkan, "gratis makanan untuk orang miskin". Antriannya panjang sekali, biasanya yang mengantri orang-orang dari Afrika. Waktu itu, suami iseng, ikutan antri karena penasaran. :D. Jadilah nyempil satu orang Indonesia di sana. Eh dapat juga. Lumayan roti sandwichnya enaaak, apalagi dimakan pas hangat-hangatnya. 😆 Tapi itu cukup sekali, hanya sebagai pengalaman, malu rasanya mengantri sebagai orang miskin. 🙈 Esok-esok, kalau saya pengin makan rotinya, kami masuk dalam antrian dengan membayar. :)

Secangkir kopi arab dan kurma.
Bada Asar, askar dan petugas masjid di pintu 74, akan membagikan makanan gratis berupa roti, kurma, biskuit, gak tanggung-tanggung, bagiinnya gak cuma satu, kadang bisa lima bungkus satu orang, kurma serenteng, dan itu beneran bikin kita kenyang bahkan berlebih lalu akhirnya dibawa pulang.

Selain itu, ada pula teh dan kopi. Tehnya enak, rasanya manis. Kopinya? bagi pencinta kopi mungkin cocok, di lidah saya -kopi arab- rasanya aneh, karena beneran kopi yang tanpa gula. :D Rasanya seperti sedang minum rempah. :).

Kopi ini sepertinya termasuk minuman favorit orang arab, mereka sangat menikmati saat minum kopi ini. :)

Selain sedekah makanan, ada juga jemaah yang bersedekah tisu, plastik untuk sandal dan banyak lagi. Sepertinya, setiap orang berlomba-lomba untuk bersedekah. Sedekah yang paling banyak -hingga berdus-dus makanan- sepertinya berasal dari penduduk asli Mekah, atau mungkin dari masjid sendiri, wallahualam.

Penduduk Arab, sangat royal perihal bagi-bagi makanan. Seringkali, mereka membawa mobil berisi makanan berat seperti sekotak nasi dan lauk pauk, berhenti di area sekitaran hotel Indonesia, lalu membagikannya gratis, "halaaal... halaaaal," itu artinya mereka mengisyaratkan kita untuk mengambil makanan di dalam mobil. Kadang, ada juga mobil yang berhenti di hotel jemaah Afrika atau India, melakukan hal yang sama. Menu makanannya di sesuaikan dengan asal negara.

Kadang, bagi-bagi minuman dingin atau kurma. Sedekahnya suka gak hitung-hitungan. :D. Kita datang, bisa dikasih satu dus kurma. Banyak banget, :) sampai udah dibagi-bagiin ke teman jemaah lain, masih banyak saja sisanya. :). Sepertinya, sedekah seperti ini sudah menjadi budaya masyarakat Arab Saudi. Kita berkunjung ke museum saja -kalau di Indonesia kan masuk bayar-, di sini kita masuk gratis, pulang diberi hadiah banyak, ya sekotak makanan, buku-buku, pernah juga satu kantong peralatan mandi. 😆.

Pada hari Senin dan Kamis, di pintu 74 ini, makanan (((yang beredar))) akan lebih banyak lagi. Kita jadi punya pengalaman tersendiri turut merasakan sensasi berbuka puasa di Masjidil Haram. :)

Pusat Informasi

Tepat saat memasuki pintu 74, akan ada pusat informasi. Di tempat tersebut, kita bisa mendapatkan buku gratis yang berisi panduan ibadah sesuai bahasa negara, brosur, peta masjidi haram, dan tempat bertanya informasi perihal ibadah. Di tempat ini juga ada video seputar pengetahuan ibadah yang bisa kita tonton.

Di sebelah tempat informasi, juga ada tempat bertanya untuk meminta fatwa. Biasanya, di tempat ini, antriannya juga cukup banyak.

Pusat Informasi.
Dengan segala keistimewannya tersebut, pintu 74 menjadi kenangan tersendiri untuk kami. Di sini tempat kami menimba ilmu dan tempat berdiam diri untuk bermunajat. Saat sedang padat jamaah, usahakan datang minimal dua jam sebelum salat, sebab setengah s.d satu jam sebelum salat, pintu biasanya sudah ditutup dan kita tidak diperkenankan masuk. Biasanya jika seperti ini kita akan diminta mencari tempat salat di lantai paling atas.

Keadaan ini sangat jauh berbeda seusai pelaksanaan haji dan rombongan kloter pertama telah pulang ke Indonesia. Masjidil Haram mendadak lowong, datang tiga puluh menit sebelum waktu salat saja, shaf salat di dalam masjid masih banyak kosong.

Pintu 74 Masjidil Haram yang penuh kenangan.
Nah, demikian, cerita di balik pintu 74 Masjidil Haram.

Silakan, jika ingin membaca kisah lainnya terkait pengalaman haji, saya sudah menyatukannya dalam satu halaman cerita di sini:

Haji 2018

 

Semoga bermanfaat. :)

Salam sepenuh cinta ~~ 💗














You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar