Statistisi

-306- Seminar Nasional Sustainable Development Goals Energi dan Pangan

Sunday, November 18, 2018



Bismillahirrahmanirrahim.

Tema Pangan dan Energi itu tema yang sangat SEKSI di mata saya. Karena itu, sejak mendapatkan poster seminar di ITB, sejak sebulan sebelumnya, kami sudah mendaftarkan diri.

Poster besar bertuliskan 

Seminar Nasional Sustainable Development Goals "Energi dan Pangan"
Integrated Strategy to Establish National of Food and Energy to Achieve SDGs 2030

Semakin menarik hati manakala melihat keynote speech Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, M. A, salah seorang dosen kami sekaligus Direktur SDGs Center UNPAD. Meskipun ternyata saat hari H, Jumat, 16 November 2018 bertempat di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, beliau sepertinya berhalangan hadir dan digantikan oleh Bapak Rachmat Mardiana, Direktur Energi, Telekomunikasi dan Informatika Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sama sekali tidak mengurangi keingintahuan saya tentang sejauh mana isu "Energi dan Pangan" dalam Pembangunan Berkelanjutan/SDGs 2030. Paparan beliau lebih banyak tentang sejauh mana pelaksanaan SDGs di Indonesia.


Untuk diketahui, Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 merupakan kelanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs) yang telah dilaksanakan selama periode 2000-2015. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa sekitar 70 persen dari total indikator untuk mengukur target MDGs telah berhasil dicapai oleh Indonesia.

Potret awal SGDs di Indonesia dan semua data pencapaian terdapat di dalam Publikasi Badan Pusat Statistik. Teman-teman dapat mengunduhnya di www.bps.go.id dengan kata kunci "Publikasi SDGs".

Suasana seminar di Aula Barat, ITB
Pada pelaksanaannya, implementasi SDGs di Indonesia mengadopsi beberapa prinsip yang telah disepakati semua negara untuk diterapkan. Prinsip pertama, univerasality. Prinsip ini mendorong agar SDGs diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Prinsip kedua, integration, yang mengandung makna bahwa SDGs dilaksanakan secara terintegrasi dan saling terkait pada semua dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan. Prinsip ini telah dipegang teguh dalam penyusunan rencana aksi khususnya terkait dengan penyusunan program dan kegiatan serta penganggarannya. Dan prinsip terakhir, "No One Left Behind" yang ingin menjamin bahwa pelaksanaan SDGs harus memberi manfaat bagi semua, terutama yang rentan dan pelaksanaannya melibatkan semua pemangku kepentingan.

Jika teman-teman belum pernah mendengar SDGs dan apa itu SDGs, silakan luangkan waktu sejenak untuk menonton video di bawah ini ya untuk mendapatkan sedikit pencerahan. 😊😊


Penjelasan yang lebih menarik serta lebih millenials dan lebih singkat dapat ditonton dari video di bawah ini, silakan disimak terlebih dahulu. 😊


KETAHANAN PANGAN 

Ketahanan pangan sendiri dalam SGDs masuk ke dalam tujuan kedua yakni menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik serta meningkatkan pertanian berkelanjutan. 

Tujuan dua ini mengupayakan penyelesaian berkelanjutan untuk mengakhiri segala jenis kelaparan pada tahun 2030 dan mengupayakan ketahanan pangan. Tujuannya untuk menjamin setiap orang di manapun ia berada, memiliki ketahanan pangan yang baik untuk menuju kehidupan sehatnya. Pencapaian tujuan ini membutuhkan akses yang lebih baik terhadap pangan dan ajakan budidaya pertanian secara luas berkelanjutan. Hal tersebut mencakup pengembangan produktivitas dan pemasukan petani kecil dengan mendorong kesamaan luas lahan, teknologi dan penjualan, sistem produksi pangan yang berkelanjutan dan budidaya yang terus menerus. Hal ini membutuhkan peningkatan investasi melalui kerjasama internasional untuk mendukung kapasitas produksi pertanian negara berkembang.

Dr Benny Rachman, APU, Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan-Kementrian Pertanian, dalam paparannya, menyampaikan 9 tantangan pembangunan pertanian diantaranya infrastruktur, input termasuk diantaranya pupuk dan benih, SDM, kualitas panen, koordinasi, pembiayaan, dampak perubahan iklim, konversi lahan, serta kelembagaan.



Situasi konsumsi pangan pada tahun 2014-2017 menunjukkan bahwa keanekaragaman konsumsi pangan masih rendah sementara konsumsi padi-padian, minyak dan lemak serta gula berlebih. Sementara potensi sumber daya pangan di Indonesia sangat besar. Indonesia merupakan negara terbesar ketiga di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity).  Indonesia memiliki 100 jenis sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran dan 450 jenis buah-buahan. 

Singkatnya, boleh dikatakan, Indonesia ini kaya beragam hayati, tapi manusianya makannya ya itu-itu saja.  Contohnya saja saya sendiri, boleh dikatakan jenis penganan yang saya konsumsi setiap hari ya itu-itu saja, karbohidratnya nasi (padahal lo jenis karbohidrat ada seratusan), sayurnya kalau tidak bayam-wortel-kangkung-jagung-terong-kecambah-lalapan ya nanti balik lagi itu lagi itu lagi. 😆 Buah kalau gak mangga, semangka, pepaya, pisang. Sudah begitu saja konsumsi pangannya, muter terus sampai ganti presiden 2019. 😁😂

Ini juga dibahas saat sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya, "kenafah kitah horang Indonesiah kudu banget makannya nasi, kenafah femerintah gak bikin program menggalakkan makan itu mestinya gak harus nasi, misalnya" -aslinya gak gini ya bahasa yang nanya, ini mah bisaannya saya saja-. 😂

Yang saya ingat, Profesor Firdaus dari IPB menjawab, bahwasanya mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Contohnya saja seminar ini, yang diomongin tentangan keanekaragaman pangan, tapi kan tetep aja makan siangnya makan nasi. Nah lo, deep. 🙈. Gak usah jauh-jauh minta masyarakat menambah varian jenis pangan, lah praktisi saja yang seharian ngomongin pangan, teteup we makannya nasi, susah ceu nah, itu udah kayak default, gak makan namanya kalau gak nasi, saiyah banget ini mah. Udah gitu, makan nasi biasanya ditemenin mie lagi, udah karbo ditambah karbo lagi, ahaaahaaa, Indonesia syekali. 😂

Tidak hanya menyampaikan tantangan, Pak Benny juga menyampaikan kinerja 4 tahun pertanian. Diantaranya pertanian berhasil menurunkan inflasi, ekspor pertanian meningkat, daya beli petani menguat, dan pertanian mampu mengentaskan kemiskinan perdesaan. 



Kinerja pertanian secara internasional dilihat dari Indeks GFSI (Global Food Security Index) dan FSI (Food Sustainability Index). Peringkat GFSI indonesia memperlihatkan kemajuan dari mulanya peringkat 71 dari 113 negara dengan skor 50,6 pada Juni 2016 menjadi peringkat 69 dengan skor 51,3 pada September 2017. Sementara FSI, Indonesia berada pada posisi 16 pada aspek Sustainable Agriculture pada Desember 2016 di atas China, Ethiopia, Nigeria, Arab Saudi, Afrika Selatan, Mesir, Uni Emirat Arab, India, bahkan Amerika Serikat. Proud!. 👍👍👍

Pada akhir penyampaian, Pak Benny menyampaikan mengenai satu data tentang data beras yakni hasil KSA dari BPS.

Boleh baca tulisan saya tentang KSA: KSA, untuk Data Pangan Lebih Baik!


Ketahanan Pangan dari Perspektif Ekonomi

Materi ini disampaikan oleh Prof. Muhammad Firdaus, PhD, Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Peneliti PHKT-IPB, Seafast Center, Tim Ahli WTO-Pertanian, Peraih KI dan WIPO Award 2016 untuk pencipta aplikasi. Saya baru pertama kali ini mengenal nama beliau, tapi tampaknya beliau adalah guru besar yang cukup ternama *punten Pak, saya kurang jauh gaulnya* 😆. Seusai acara, banyak mahasiswa dan peserta seminar yang mengajak berfoto bersama beliau *salah satu indikasi orang ngetop versi saiyah* 😆.

Saya sendiri, terkesima dengan cara beliau memaparkan materi, aseli enak banget dan langsung ngilangin ngantuk 🙈 *jam terbang memang demikian menentukan yes* 😊🙏.

Surprisenya, di awal, beliau cerita, bahwa baru saja pulang dari Belitung, memenuhi undangan BPS di acara SUTAS (Survei Antar Sensus) Pertanian, *oh, barusan ada acara ya di BPS? beneran kurang gaul hamba*. 😆

Pada pendahuluan, beliau memaparkan tentang Tantangan Pembangunan Pertanian, yakni:
  1. Pola pangan jauh dari ideal: stunting, GGL, dll. Saat menulis artikel ini, saya langsung membuka data BPS. Menilik data dari Badan Pusat Statistik, hampir lima puluh persen atau setengah dari seluruh provinsi di Indonesia memiliki prevalensi stunting pada balita lebih besar dari persentase nasional. Meskipun demikian, prevalensi nasional  pada tahun 2015 sebesar 29 persen, turun dari prevalensi tahun 2013 yang sebesar 32,9 persen. Penurunan ini dianggap cukup baik mengingat target nasional pada tahun 2019 sebesar 28 persen. 
  2. Keterbatasan energi: renewable energy/biofuel.
  3. Peningkatan pendapatan
  4. Penciptaan lapangan kerja
  5. Kesadaran lingkungan: green products
Untuk Indonesia sendiri, menurut Prof Firdaus memiliki daya saing ekspor pertanian yang masih rendah, sehingga strategi industrialisasi yang tepat adalah labor-intensive export industrialization strategy atau agroindustri. Strategi pertumbuhan ini berkelanjutan dan inklusif, sejalan dengan SDGs.

Sementara isu ketahanan pangan sendiri yang masih menjadi PR di Indonesia adalah meningkatkan produksi dalam negeri, pangan tersedia secara aman, harga pangan terjangkau serta konsumsi pangan secara beragam.

Isu terakhir yang saya bold, hampir sama dengan narasumber sebelumnya ya, masih ingat kan ya di awal tadi? 😊.

Menariknya, selain fakta bahwa Indonesia kaya aneka pangan, outlook produksi dan konsumsi dari FAO-OECD menyatakan bahwa kenaikan produksi beras dunia secara signifikan akan disumbang oleh dua negara dengan sumbagsih terbesar yakni India (20 Mt) dan Indonesia (8 Mt). Sementara bila diestimasi total konsumsi beras nasional pada tahun 2025 sekitar 30 juta ton per tahun.

Dan, di akhir penutup penyampaian, Profesor Firdaus mengajak untuk menjadi agropreneur dengan memberikan beberapa contoh agropreneur sukses di Indonesia. So inspiring. 😊 Buat saya yang masih suka galau mau jadi apa di masa akan datang *yang pasti gak mau hanya ASN saja 😆* yah ikut seminar ini itu selain menambah ilmu, juga memperkaya khazanah, dunia ini tidak hanya tentang statistik saja *rapiin jilbab* 😜.

SDGs dan Pembangunan Energi

Pada sesi ini disampaikan oleh Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Energi ini masuk pada tujuan 7 pada SDGs yakni menjamin akses energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan dan modern untuk semua.

Hal yang ingin dicapai dalam bidang energi
Produksi vs Konsumsi minyak nasional memperlihatkan ada gap antara produksi dan konsumsi nasional, di mana konsumsi lebih tinggi dibandingkan produksi sehingga mengharuskan Indonesia untuk impor, hal ini tentu menjadi beban bagi devisa negara sehingga perlu eksplorasi masif untuk penemuan cadangan baru. Sementara itu, sejak 2013, suplai gas untuk domestik lebih besar dari ekspor.


Sementara itu, pemanfaatan batubara domestik terus meningkat, produksi batubara diutamakan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan sumber energi primer dalam negeri. Untuk listrik, konsumsi listrik nasional meningkat, menuju tren konsumsi negara maju. Konsumsi listrik meningkat dari 878 kwh/kepala di tahun 2014 menjadi 1.048 kwh/kepala di tahun 2018. Peningkatan ini seiring peningkatan akses/elektrifikasi dan pertumbuhan ekonomi, serta pengembangan kendaraan listrik da kompor listrik. Begitupun dengan rasio elektrifikasi yang melebihi target, sampai dengan kuartal III 2018 mencapai angka 98,05 persen.



Seperti juga pangan, dalam hal energi, Indonesia juga memiliki banyak pencapaian, diantaranya ialah 70 kontrak energi baru terbarukan telah ditandatangani pada tahun 2017, pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) komersial pertama di Indonesia telah di bangun di Sulawesi Selatan yang mampu memberikan listrik untuk 150.000 rumah berdaya 450 VA (pembangunan ini mampu menyerap 4.480 tenaga kerja dan termasuk energi ramah lingkungan), lampu tenaga surya gratis untuk rakyat di 2.519 desa yang belum menikmati listrik, kebijakan mengurangi impor dan menghemat devisa dan masih banyak lagi.

Target strategi bidang energi

Sayang sekali, saya tidak mengikuti seminar hingga selesai, karena ada jadwal kuliah di siang harinya. 

Acara yang digagas oleh HIMMPAS (Himpunan Mahasiswa Muslim Pasca Sarjana Indonesia) ini berlangsung dua hari, dibarengi dengan Silatnas (Silaturahmi Nasional) keesokan harinya, yakni pada Sabtu, 18 November 2018.

Forsi HIMMPAS Indonesia




Dan, alhamdulillah saya berkesempatan ikutan juga *berasa jadi mahasiswa aktivis perjuangan 😆*, mewakili UNPAD, bisa bertemu dengan teman-teman UGM, UI, UNJ, UPI, UIN Malang, Surabaya, dan banyak lagi. Terhitung ada 15 Universitas perwakilan dari berbagai Universitas besar di Indonesia. Sungguh, suatu pengalaman yang sangat berharga bisa merasakan atmosfir diskusi dan suasana hangat keilmiahan dalam bingkai "Aksi Nyata Pemuda Indonesia untuk Perubahan yang Lebih Baik" *fyi, akhirnya pertamakalinya, almamater jadi kepake euy*.

Peserta yang hadir lebih banyak dari yang bisa dimuat difoto. Pak Dekan Pascasarja ITB membuka Silatnas.

Nah, buat teman-teman yang pengin gabung di forum ini, bisa banget lo, selain menambah silaturahmi, juga menambah banyak wawasan keilmuan dan kebangsaan. 😊🙏

Alhamdulillah, jadi ini oleh-oleh dari seminar dan acara Jumat-Sabtu kemarin, saya tulis dalam rangka agar saya membaca ulang materi yang sudah saya dapatkan dengan cara mengikatnya, sekalian disimpan di blog agar dapat dengan mudah dibagikan.

Kesempatan sekalian jenjalan keliling itebeh, kampus tetangga yang keren begini arsitekturnya. :)

Semoga bermanfaat ya.


Salam. 😊💗

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar