Statistisi

-298- Pengalaman Mengikuti Tes TPA Beasiswa Pusbindiklatren Bappenas yang Wallahualam

Tuesday, October 09, 2018


Bismillahirrahmanirrahim.

Judulnya agak-agak gimana gitu ya? ha-ha. :p.

Jadi kenapa "Wallahualam"?

Err ... itu dimulai dari kejadian negara api menyerang, sejak awal pendaftaran ikut beasiswa ini, saya diliputi kegalauan yang mendalam, :D. Antara ada dan tiada mau ikut atau tidak, plus lika-liku kalau sepanjang lima tahun terakhir masa pengabdian, pengajuan beasiswa saya menemui jalan buntu pada izin pimpinan dan birokrasi instansi. -Okeh bold, stabilo- :D :D. Begitupun pada pengajuan yang ini -sebenarnya-, namun kuasa Allah berkata lain. Allah Maha Baik!.

Setelah mengirimkan berkas administrasi, saya pun masih belum tenang dan mantap.

Silakan baca persyaratan administrasi apa saja yang harus disiapkan di sini:
Seleksi Program Beasiswa Pusbindiklatren Bappenas Tahun 2018. 

Saya mulai berpikir, "apa sebaiknya saya resign saja? lelah sangat ya Allah ..." 😟 kepikiran juga kalau nanti keterima, bakal tambah ikatan dinas, bakal membalas pengabdian, tapi juga bimbang, kalau gak nyobain ini, bakal kayak apa nasib saya, sementara keinginan untuk 'berhenti' belum bisa direalisasi dalam tempo sesingkat-singkatnya. Di sisi lain, saya merasa sudah saatnya kembali menuntut ilmu -dan memang ini mimpi terdekat yang ingin diwujudkan- tapi gak mau yang jurusan berbau statistika atau yang hitung-hitungan. Jadi saya ini maunya apaaah? apaaah? 😝😅.

Boleh baca: Tiga Impian yang Sangat Ingin Diwujudkan di Tahun 2017

Ok baik, kembali ke cerita awal tadi. :D. Nah persis alhamdulillah setelah izin pimpinan saya dapatkan dan berkas dikirim di bulan September, jangka waktu kurang lebih setengah bulan menunggu pengumuman, mestinya bisa diisi dengan persiapan tes TPA -secara amanah pekerjaan di instansi saya itu tiada senggangnya, mana pernah pegang-pegang buku TPA buat persiapan-. :p. Saya malah JALAN-JALAN. 😆 Ambil cuti tahunan, untuk bersenang-senang, menenangkan diri, meminta petunjuk Tuhan atas jalan terbaik mana yang harus saya jalani ke depan. -Gile lu Ndro! dapat izin kesempatan nyobain beasiswa aja berliku, setelah dapat, pake dramaah krisis keyakinan pulak!" 😆

Boleh baca jenjalan saya di: Bromo, Sandiwara Pagi, dan Panorama Sunrise yang Memikat Hati

Tanggal 02 Oktober 2017 pengumuman keluar, Alhamdulillah, atas izin Allah, saya termasuk salah satu peserta yang dinyatakan lulus tahapan administrasi dan berhak mengikuti tes TPA di tanggal 14 Oktober 2017 yang bertempat di Auditorium Soetia Atmaja, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UI. Fyi, peserta yang lulus menuju tes TPA berjumlah 1.007 dari 2.457 pelamar calon Karyasiswa Pusbindiklatren Bappenas Tahun 2018, atau sekitar 41 persen. Maha besar Allah dengan segala takdir baiknya.

Waktu kurang lebih dua mingguan, di situlah masa persiapan TPA saya secara serius, sembari masih dalam pencarian kemantapan. 🙈 Di situ, istikharah semakin saya kuatkan. Berdebar -makin galau sebenarnya- 😆 karena bagaimanapun, manusia tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk masa depannya. Oleh karenanya, manusia perlu senantiasa melibatkan Allah dalam setiap langkah.

Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, satu hari menjelang ujian, hati semakin tidak karuan. Kemantapan saya masih separuh jalan. Jadi tulisan Kepada Jakarta, Saya Sedang Melangitkan Doa adalah bentuk penyerahan lillah-pasrah-berserah. Tawakkaltu alallah, semua pilihan Allah pasti baik, dan semua perkara bagi seorang mukmin adalah baik. Allah Maha Perencana yang Terbaik!.

Kita bertekad ingin memilih jalan A, tetapi jika Allah berketetapan mengingini kita berada di jalan Z, manusia bisa apa, Allah punya 1001 cara untuk memudahkan dan memberikan jalan.

Jadi ya ikut tes TPA Beasiswa Pusbindiklatren ini ya memang. WALLAHUALAM. 😆

Suasana ruangan ujian

Tipikal Soal Bappenas

Sesuai surat pemberitahuan, peserta di minta untuk bersiap jam 08.00 pagi waktu setempat.
Sampai di tempat ujian, kita akan diarahkan untuk mencari letak kursi sesuai nomor ujian yang ditempel di pengumuman di depan ruangan. Jam delapan tepat, kita akan diminta memasuki ruangan, dan itu belum dimulai. Ada proses seremonial dulu, sambutan, pemberitahuan tata cara mengerjakan soal dan lain-lain yang cukup lama ya, saya juga agak lupa, mungkin sekitar 45 - 60 menit.

Tips&Trik: SARAPAN, datang lebih awal, tenangkan diri, FOKUS!. 

SARAPAN ini penting mengingat kita akan dihadapkan pada 250 soal yang akan dikerjakan secara maraton selama 180 menit, ditambah pembukaan dan lain-lain yang cukup memakan waktu. Butuh energi prima, jasad yang sehat, dan pikiran yang tenang. Siapkan air minum dan makanan ringan, menghindari dehidrasi dan kelaparan saat pengerjaan soal. Bawa identitas ujian, KTP/SIM, seperangkat alat tulis lengkap.

Tips&Trik: Bismillah, YAKIN PADA KEMAMPUAN


Beasiswa Bappenas sendiri diberikan untuk lingkup yang cukup terbatas yakni ASN (Aparatur Sipil Negara) perencana. CUKUP HOMOGEN ya. Sebagaimana kita ketahui sendiri, sebagai sesama ASN, kita tahu kita punya ritme kerja yang cukup standar, kesibukan yang relatif hampir sama, rata-rata rentang waktu dari pendidikan Strata-1 yang hampir serupa. Percaya dan yakinlah, bahwa kita dan teman-teman calon Karyasiswa lainnya memiliki start level kemampuan mengerjakan soal TPA yang sama. Kalaupun ada yang -tanpa belajar- pun bisa mendapat nilai tinggi, anggap itu outlier atau pencilan ya. :D. 

Selebihnya ya rata-rata sama, paling minimum masa persiapan menuju tes TPA adalah satu bulan. Jadi bisa kita anggap, kita memiliki lawan yang seimbang. 

Tips&Trik: 1 jam/hari saat di kantor untuk berlatih soal.

Memperbanyak latihan soal. Tidak ada rumus jitu yang ampuh selain itu dalam menghadapi ujian. :). 

Sisihkan waktu khusus dengan konsentrasi penuh minimal satu jam satu hari di kantor, sisanya perbanyak latihan di rumah. Kenapa harus minimal satu jam di kantor? karena waktu kita paling banyak di kantor. Dan kondisi terbaik kita ada di kantor. Jadi usahakan, luangkan waktu, kalau bisa pagi hari, setelah absen, ganti aktivitas baca koran-ngopi atau ngobrol dengan LATIHAN SOAL SEJENAK. 

Soal TPA Bappenas dibagi menjadi 3 sub tes, Verbal-Numerik-Penalaran. Jumlah soal adalah 250 dengan waktu pengerjaan 180 menit. 

Masing-masing sub tes tidak diberikan dalam satu waktu pengerjaan, soal akan diberikan bertahap. Selesai satu sub tes, soal berikutnya baru boleh kita buka. Pada masing-masing sub tes, peserta akan diberikan waktu kurang lebih 60 menit. Tidak ada pengurangan jika salah menjawab, jadi usahakan semua soal terjawab.

Jumlah total keseluruhan soal adalah 250 soal. Sub tes pertama dan kedua berjumlah 90 soal. sementara sub tes ketiga berjumlah 70 soal. Jika memiliki persiapan yang kurang memadai -seperti saya-  😟. Maka cukupkan untuk lebih banyak berfokus pada dua tipikal soal sub-tes yang kita sukai dan kuasai.

Dengan target menjawab benar minimal 70 soal untuk sub tes verbal, 60 sub tes numerik, 60 sub tes penalaran. Dengan jumlah benar seperti ini, skor TPA yang kita dapatkan kira-kira minimal 600. Melampaui batas target kelulusan dari Bappenas yakni 565 untuk ASN Instansi Pusat, dan 525 untuk ASN Instansi Daerah. Ini target minimum aman yang ingin kita capai. 

Saya sendiri kemarin menargetkan benar semua untuk dua sub-tes yang saya sukai dan kuasai yakni sub tes Verbal dan sub tes Penalaran. *sok nggaya banget saya ya. 😂 Mau gimana lagi, waktu persiapan saya sangat mefet. 🙈

Tips&Trik: Fokus pada sub tes soal yang kita sukai dan kuasai




 

Tes Verbal-Kuantitatif-Penalaran

Tes Verbal adalah jenis tes yang cukup saya sukai, lebih condong ke otak kanan, dan tidak terlalu menguras otak. Tes ini bisa kita anggap pemanasan. ~

Jenis soal pada tes ini adalah padanan kata/sinonim, lawan kata/antonim, analogi dan pemahaman wacana/soal cerita. Pada tes ini yang dibutuhkan adalah pengetahuan dan ketelitian. Semakin sering membaca KBBI, Tesaurus, koran, karya sastra dengan ejaan lama, dan mantengin soal-soal tes Bappenas, insyaallah akan memudahkan menjawab soal ini.

Tips&Trik: Banyak membaca dan latih fokus ketelitian

Tes Kuantitatif di soal ini kita akan lebih banyak diajak untuk berpikir dan menghitung dengan cepat. Jenis soal ini terdiri dari deret angka, aritmetika, konsep aljabar, dan perbandingan kuantitatif. Pada pengerjaan soal numerik ini, dibutuhkan ketepatan dalam menjawab, dengan waktu yang ada, fokus pada soal yang mudah dikerjakan. Sisihkan yang dianggap sulit. Jangan berfokus pada satu soal tertentu. Pada tahap awal, baca dengan cepat keseluruhan soal, hal ini untuk memudahkan kita mengetahui mana soal yang sekiranya mampu dikerjakan terlebih dahulu. Dan pastikan, soal yang kita jawab itu BENAR. 

Umumnya, tes kuantitatif ini menggunakan rumusan matematika sederhana dan trik yang mudah untuk dipelajari. 

Tips&Trik: Habiskan soal yang bisa kita jawab dengan tepat terlebih dahulu

Tes Penalaran atau biasa disebut tes logika. Tes ini terdiri dari penalaran logis, penalaran diagram, penalaran analitis, penalaran serial dan penalaran identifikasi. Jikapun ada hitungan pada tes ini, itu lebih pada kecerdasan logika kita dalam menangkap maksud soal. Pada pengerjaan soal ini dibutuhkan gabungan dari ketenangan, logika berpikir, ketelitian serta ketepatan.  Selalu kerjakan soal yang lebih mudah terlebih dahulu. 

 
Persiapan pembukaan soal ujian. Foto blur, yang moto gugup. :p

Pengalaman Saat Hari Ujian


Saya keluar ruang ujian dengan shock, linglung, lemas. 😟 Itu tadi soal ujian Bappenas? kasak-kusuk juga ramai diantara peserta ujian yang sepertinya memiliki perasaan sama seperti saya. Soal-soal Bappenas sulait gaaaes 😆. Sepertinya kami sepakat, tes TPA Bappenas benar-benar di luar perkiraan. Dari beberapa buku yang saya gunakan untuk berlatih, sinonim-antonimnya saja seakan tak ada yang nyangkut, seolah jauuuuuuh sekali dari prediksi, benar-benar di atas rata-rata. Terutama buat saya, bagian soal hitungan numeriknya *pen nangis seketika. Soal hitungannya a.k.a numerik lebih sulait dibanding yang ada di buku-buku yang tersebar di pasaran *munmaap kalau terlalu jujur. :D. Yang mampu saya kerjakan dengan yakin hanya setengahnya saja, sisanya sim salabim  cukup dilingkari pakai perasaan saja. 😅

Sudah begitu, saat pengawas mengatakan "yak, waktu habis," saya reflek membuka soal dan jawaban secara cepat untuk tes verbal. Dan hasilnya? betapa dudulnya saya, soal sinonim, yang saya jawab adalah antonimnya. 😓. Berpacu dengan waktu, alhamdulillah sempat saya perbaiki. Ini juga saya belum kesempatan lihat jawaban yang lain. 

Jadi ini salah satu ujian yang saya ikuti di mana saya sendiri merasa tidak yakin dengan apa yang sudah saya lakukan. Saya tidak yakin dengan kemampuan saya sendiri dalam menjawab soal. Wallahualam. Pasrah dengan kuasa takdir Allah. Kalau berjodoh! selalu ada cara Allah untuk menghantarkannya pada kita. 

Ah ya, hampir beberapa teman sesama peserta yang saya tanyai memiliki pendapat yang sama dengan saya, soal Bappenas tidak mudah, sisanya merasa biasa saja. 

Seperti saya, ada yang merasa tes numerik adalah yang tersulit, namun sebagian lagi merasa yang paling sulit di bagian verbal, sebagian lagi pada bagian tes logika. Jadi penting bagi calon Karyasiswa, untuk mengetahui kelebihan di bagian mana tes yang paling dikuasai dan menjawab benar dengan semaksimal mungkin. 

Pilihan Program Studi

Beasiswa Bappenas menawarkan beberapa program studi. Studi Luar Negeri, Linkage dan Dalam Negeri. Masing-masing calon Karyasiswa diperbolehkan membuat pilihan maksimal tiga prioritas program studi tersebut. 

Misalnya: (ini pilihan program prioritas saya btw, :D)
  1. Prioritas pertama: Program Linkage
  2. Prioritas kedua: Program Dalam Negeri
  3. Prioritas ketiga: Program Luar Negeri
Setiap prioritas, kita diperbolehkan memilih maksimal lima Universitas tujuan. Saran saya, jika ingin mendapatkan peluang diterima lebih besar, pilih semua batasan maksimal, sehingga kita memiliki 15 Universitas pilihan. Nantinya, jika memang kita tidak memiliki kualifikasi masuk di prioritas pertama -entah karena skor toefl tidak memenuhi atau keterbatasan kuota- kita masih memiliki kemungkinan diterima di prioritas selainnya. 

Atau sebaliknya, beberapa kawan peserta ada yang prioritas pertamanya Dalam Negeri, tetapi diterima untuk Program Linkage di prioritas kedua -kemungkinan karena skor toeflnya memenuhi syarat dan jauh melampaui target minimal-. Semua penempatan calon Karyasiswa tergantung kebijakan Bappenas. 

Tetapi, jika keinginannya sangat kuat memilih satu Universitas, pokoknya harus UGM, kalau gak UGM gak mau, -misal ya-  berupaya kuat untuk memaksimalkan skor pada tahapan tes berikutnya yakni tes toefl, agar memiliki peluang yang lebih besar. 

Dalam satu tahun, biasanya Bappenas mengadakan dua gelombang pendaftaran. Jika misal kita tidak lulus pada gelombang pertama di tahap tes TPA misalnya, calon Karyasiswa biasanya akan mendapatkan undangan mengikuti tes TPA kembali pada gelombang kedua. Pergunakan kesempatan kedua sebaik mungkin. 


----------


Alhamdulillah, kurang lebih satu bulan setelah tes TPA, pengumuman keluar, dan saya termasuk 510 dari 1.007 peserta tes TPA yang lulus ke tahapan selanjutnya yakni tes Toefl, berlanjut ke tes tahapan wawancara dan berujung menjadi Karyasiswa. Jalan kami semua masih panjang, semoga kami semua bisa lulus tepat waktu dan ilmu yang kami peroleh membawa kebermanfaatan, terutama memberi dampak pada institusi, bangsa dan negara. 😊 

Semoga sharing kali ini bermanfaat ya, terutama untuk teman-teman calon Karyasiswa yang akan berjuang mendapatkan beasiswa Pusbindiklatren Bappenas Tahun 2019. Semangat berdoa dan beriktiar :). 

Salam. :)


~~~



You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



4 komentar

  1. Semoga sukses Nurin!
    Tips yang SARAPAN, datang lebih awal, itu bener banget. Ngerjain soal tes itu butuh energi. Aku tes simak nggak sarapan, jadi kelaparan.
    Btw, panduan resmi tes Bappenas yang di gambar isinya contoh soal atau cuma aturan2nya?

    ReplyDelete
  2. Aku dah di Bandung sekarang Milo alhamdulillah, dah mau UTS. Tunggu ntar kalau butuh data ku hub Milo, ahahaha. 😆. Isinya contoh soal Mil, cukup bagus menurutku, dan itupun dibelinya pas udah selesai tes. 😁😂 Buku2 soal Bappenas lain yang dipelajari kagak ada yang nyangkut soalnya gils debes bener Bappenas bikin soal!! 😂😂. Simak kayaknya juga lumayan soalnya ya.

    ReplyDelete
  3. Baca ini jadi mengenang cita2 masa lalu, tiap tahun rajin cari info beasiswa Bappenas, dan hal pertama yg pasti ga diijinkan juga sama bos kantorku hehe, jadi dulu masih dalam khayalan

    Alhamdulillah khayalannya jadi ada gambaran setelah baca pengalamanmu mb Nurin 😊

    ReplyDelete