Celoteh

-256- Kepada Jakarta, Saya Sedang Melangitkan Doa

Saturday, October 14, 2017


Jakarta, Melangitkan Doa.

Bismillahirrahmanirrahim.

Jakarta, 2016. 

"Mbak ini posisinya di mana?." Demikian pesan yang saya terima, baru saja, dari driver mobil online yang saya pesan.

"Dekat pasar Mas. Dekat dengan tikungan dan lampu merah."

"Mbak punya peta kan? coba dong dibuka petanya. Di sini gak kelihatan."

Nih Masnya tahu jalan gak sih?

Ini telepon yang kesekian. Dan saya hampir-hampir kesal karena harus bolak balik ke tepi jalan, mengecek satu-satu kendaraan yang lewat. Menyisiri nomor plat kendaraan, yang tidak juga kunjung saya dapatkan.

Ini kunjungan setelah hampir delapan tahun tak menginjakkan kaki, ke Jakarta. Dan, Jakarta, tidak banyak berubah. Kecuali, transportasi yang semakin berbenah.

Beberapa kali saya melakukan perjalanan dengan moda transportasi online ini, nyaman, murah, ramah.

Tetapi tidak di sore itu.

"Mbak tahu, para pelanggan itu manja sekali."

"Maksudnya?"

"Oh, bukan. Bukan Mbak. Ini maksud saya. Pelanggan kebanyakan."

Saya memperbaiki posisi, menyimak dengan seksama.

"Mbak kan tahu? driver itu dapatnya cuma berapa? kayak gini nih, ongkosnya dua belas ribu doang. Mana harus telpon pelanggan mastiin keberadaannya, keluar tuh modal pulsa. Belum lagi kalau kena macet gini nih. Rugi di bbm. Rugi waktu. Aih, pelanggan mana mau tahu, tahunya duduk manis aja...." Driver yang membawa saya merutuk panjang lebar, menyalahkan jalanan, 'nyinyir' terhadap pelanggan, dan tak lama, kembali menyentak saya dengan kasar,

"Mbak sudah tahu alamatnya belum?"

"Oh, ini ada alamatnya."

"Dicari dong di map. Dibuka mapnya. Tuh kan, pelanggan udah pasti kagak paham soal begituan. Pasti ngejagain supirnya. Lagi-lagi, supir juga yang mesti ngeluarin biaya paket data buat cari-cari alamat."

Saya kelabakan saat itu. Karena, ponsel macam punya saya tidak pernah difungsikan seperti itu di tempat saya tinggal. Lah, buat apa? jalanan juga cuma satu saja. Kanan kiri sekeliling juga adanya hutan. Sinyal juga timbul tenggelam.

Saya tidak 'fasih' dengan penggunaan beberapa aplikasi saat itu.

Aih, tapi supir yang membawa saya dan suami sore itu memang 'benar-benar'. Benar-benar sesuai dengan apa yang dimuntabkannya. Pokoknya semua harus pelanggan yang tanggung, jangan sampai ada pengeluaran paket data dan lain halnya hanya karena 'pelanggan yang manjaaah'.

Sepanjang jalan ia juga menyerapah. Mengomel. Mungkin dia lelah. Mungkin. Sore itu macetnya juga luar biasa.

Tapi sungguh. Ia sama sekali tak membantu saya waktu itu.

"Mbak tahu alamatnya gak sih?"

"Ya mana saya tahu. Saya kan bukan orang sini. Mas kan supir. Masak gak hafal jalan." Saya hampir terbawa emosi.

"Ya itu kenapa di peta nama jalannya gak ada. Nama tempatnya juga gak ada. Nyasar juga kita jadinya."

Kemarin malam dan hari-hari sebelumnya, saya juga jalan tanpa harus tahu dan hafal arah, dan supirnya sangat ramah dan mau bersabar sama-sama mencari dengan bantuan map dan bertanya ke orang-orang. 

"Sudah Mas, kami turun di sini saja."

"Eh, kita kan belum sampai? kenapa turun di sini Kak?.

"Sudah. Turun saja. Kita cari sendiri." Singkat. Padat. Jelas. Kalem dan tenang. Demikian memang Kak. :) Pengimbang saya yang sedari tadi 'meladeni ocehan' driver. :p.

"Orang yang seperti itu, rezekinya akan tidak mudah. Biarin saja."

"Eh sebentar. Aku belum ngasih nilai."

"Gak usah dikasih nilai."

Oh tidak! hal yang begini tidak bisa dibiarkan. :). Saya harus memastikan telah memberikan penilaian dengan opsi sangat tidak memuaskan kali ini. :)

Ok. Sip. Terkirim. ;)

Sesorean itu hati saya rasanya mangkel sekali. Sempat terbersit doa dalam hati, "duh mudahan gak dapet driver Mas 'itu' lagi." Ampun deh, jera saya, gak lagi-lagi.

Doa akibat rasa kesal itu, "mungkin saja melangit." Dan, mudahnya, doa-doa semacam ini "bisa jadi" akan menjadi salah satu penutup pintu rezeki. Bisa jadi. Setidaknya sudah satu peluang ia lewatkan. Dari saya, salah satu pelanggannya.

Saya kemudian berfikir kembali, sore ini.

Saat kaki saya menginjak kembali ke kota ini: Jakarta, Oktober, 2017.

Saat hati saya gundah gulana dan dilema.

Saya sedang menengadah, melangitkan doa, memohonkan sebaik-baik langkah, mengupayakan semaksimal mungkin ikhtiar, saya tidak tahu kapan waktu Allah akan ijabah.

Adakah Sang Maha sedang menguji kesabaran?

Ataukah masih terselip banyak sikap dan perbuatan saya yang membuat banyak tangan dan hati diam-diam mengucap 'doa yang tidak-tidak' dan karenanya memperpanjang penerimaan doa saya?

Jangan-jangan jemari saya masih banyak menggores luka.

Jangan-jangan lisan saya masih sering menghadirkan duka.

Jangan-jangan sikap saya masih amat menyebalkan dan menyesakkan dada.

Jangan-jangan saya berharap mengetuk pintu rezeki tetapi sikap dan keadaan saya tidak berubah menjadi sebaik-baik penjemput rezeki?

Jangan-jangan. Dan, jangan-jangan yang lainnya lagi.

Setelah, semua yang terjadi hingga hari ini.

Dan sesaat, setelah saya membaca pesan masuk.

"Terimakasih. Semoga dapat menjadi wasilah terkabulnya hajat. Kita tidak pernah tahu dari mana jalan pengabulan doa."

Tiba-tiba saja saya menjadi dramatis dan mengukur kembali semua hal. Termasuk pada; apakah saya sudah pantas. Ataukah masih harus banyak berbenah.

Kepada Jakarta: saya sedang melangitkan doa.

14 Oktober 2017.

#ODOPOKT7
#BloggerMuslimahIndonesia





You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



11 komentar

  1. Nyebelin banget ya Mbak, memang menguji kesabaran yang gitu itu.. semoga ada pahala karena kesabaran kita.. Amiin 😄

    ReplyDelete
  2. Ucapan adalah doa. Semoga kita berdoa yang baik-baik ^^

    Semoga si babang driver tidak ngomel-ngomel lagi hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin. Iya Mbak setiap ucapan kita menjadi doa. :)

      Delete
  3. Biasa saya kasih tips di depan, Mbak..Jadi driver sudah "lega" hati duluan.
    Lalu, memang kalau di Jakarta aplikasi GPS lebih baik terpasang..Karena itu penting. Jalan ruwet, alamat nggak jelas, kalao ada GPS di HP penumpang dan driver sama-sama membantu pencarian..karena koordinat tempat pasti akurat.
    Yang terakhir driver memang dapatnya sedikit

    #sekedar info:)

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah selama ini dapat driver yang ramah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. driver ramah membuat kita betah. Driver ramah banyak rezeki, 😊

      Delete
  5. Ngeselin ya.... Mungkin mas nya lagi bad mood juga imbasnya jadi ke Nurin deh. Semoga apa yang menjadi hajat Nurin dikabulkan oleh Allah. Amiin

    ReplyDelete