Celoteh

Lintasan-lintasan Pikiran yang Membuat Kita Tak Lagi Jernih Menilai

Monday, July 05, 2021


Bismillahirrahmanirrahim. 

Jangan bosan karena tetiba saya menjadi cerewet sekali. Hampir setiap pagi apdet curhat, haha. 

Ini hanya salah satu cara saya mengurai kepanikan dan perasaan tidak tenang. 

Jika ingin tahu, kepanikan saya sebelumnya, menghasilkan sebuah buku, haha. 😂

"Kami Semua Sayang Ibu" buku cerita anak perdana karangan saya, lahir dari sebuah rasa khawatir luar biasa yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan kondisi anak-anak. 🙈

Kali ini, wujudnya jadi latah nyeloteh di blog. 😆

Percaya atau tidak, seringkali baik dan buruk, bergantung pada lintasan pikiran. PRASANGKA, demikian bahasa Al-Qur'an menyebutnya. 

Dulu sekali, saat saya masih dilanda kebucinan level lebai 😄, saya bisa tahu di mana dan kapan saya akan tak sengaja berpapasan atau bertemu dengan orang yang saya taksir itu. 

Pernah saat saya sedang di bus kota, tiba-tiba saja saya panas dingin, merasa ia akan naik bus yang sama. Ya Tuhan, Jakarta luas sekali, bus-bus juga ratusan jumlahnya. Sungguh aneh, kenapa dia bisa ikut menumpangi bus saya di waktu itu.  

Dan benar! Tidak masuk di akal! Tidak lama bus berhenti karena lambaian seorang laki-laki, dan itu dia!. Saya? Mati gaya! Deg-degan sekali, serasa ingin menghindar tapi tak bisa! Pakai acara tegur sapa segala! 🤪.

Lintasan pikiran kita kadang aneh, tapi keanehan itu pula yang membuat kita kadang menjadi tak jernih menilai sesuatu. 

Jatuh cinta, misalnya. 😜

Lintasan pikiran berlebihan entah mengapa seakan membawa kita bertemu hal-hal yang kita pikirkan.  

Seperti saat saya jatuh cinta, tak hanya satu dua kali, saya bahkan bisa memprediksi kapan dan di mana bertemu, HAMPIR SETIAP HARI. 

Benar-benar, overdosis sekali saya memikirkan ia. 😂

Perasaan saya saat ini juga demikian. Rasa khawatir dan takut yang "agaknya berlebih" ini membuat saya bertemu dengan hal-hal lain yang saya pikirkan. 

Seperti, tiba-tiba saja Ibu saya menelepon, sebulan lalu, saat Alfath baru saja keluar dari RS. Ibu saya bercerita bahwa cucu kawannya yang berusia sepantaran Alfath, mengalami kelumpuhan, kembali lagi seperti bayi, tidak bisa bicara, tidak bisa berjalan. Benar-benar tumbuh kembangnya kembali ke titik nol akibat kejang yang terlambat ditangani. 😢

Sungguh saya yang saat itu baru saja mengalami sendiri saat putra saya berada di pangkuan dengan demam tinggi tiba-tiba kejang dan tak sadarkan diri cukup lama, mulai membayangkan yang tidak-tidak. Saya membayangkan jika saya menjadi ibunya, 😥. Hingga saat ini, bayi tersebut masih terapi syaraf. Sedih sekali mendengar berita ini, namun qadarullah, semua terjadi atas takdir Allah. 

Setelah mendengar kabar tersebut, tentu saja, rasa khawatir saya bertambah. Saya berjanji pada diri saya sendiri, untuk semakin ketat menjaga kesehatan Alfath. Selalu saya ingat pesan dokter terakhir kali, "Bu, anak Ibu ini kapan panasnya tinggi, cepet ke RS ya Bu, jangan tunggu sampai kejang lagi."

Saat sakit yang ini, kejadian mendadak di pagi buta mendapati Alfath yang tiba-tiba menangis karena demam tinggi tanpa ada apa-apa sebelumnya membawa saya pada kisah anak dengan kasus serupa yang meninggal mendadak tanpa sempat di bawa ke RS.

Sendu sekali rasanya. Lintasan pikiran akibat rasa takut, cemas, dan khawatir yang berlebihan mengacaukan saya. Pikiran saya menjadi tak jernih lagi dalam menilai. 

Saat saya berceloteh ria di postingan "Kesiapan Menghadapi Hal yang Tak Pasti" sensitif sekali perasaan saya hingga saya merasa feel alone. ðŸ˜

'Merasa' seperti ini ya jauh dari keluarga, apa-apa sendiri. Tak boleh berharap penyemangat dan perhatian orang-orang terdekat. 😜 Tak boleh berharap rasa empati dan kasih sayang (apa sih ini) 😂. 

Padahal ya selama ini, atas nama pandemi, sejak hamil bolak balik dirawat RS dilakoni berdua, melahirkan berdua, kembali ke tempat tugas juga berdua, enggak kenapa-kenapa juga rasanya enjoy saja alhamdulillah. 😘

Sensitivitas dan pikiran runyam telah membuat saya alpa bahwa dua bulan terakhir ini saya dilimpahi "keluarga perantauan" yang baik hati. Saya ingat sekali bagaimana kenalan beberapa perawat di RS tempat anak-anak rawat inap banyak memberikan bantuan. 

Saya juga ingat, suatu waktu saat saya seharian belum sempat makan karena bayi saya rewel sekali, menangis terus dan lengket selalu ingin menyusu. Kebetulan waktu itu suami sedang pulang ke rumah untuk mengurus berbagai keperluan. Sebenarnya rasanya lemas juga karena energi saya tersedot untuk menyusui dan menjaga anak, namun minim asupan. Kemudian Allah hantarkan dua kenalan yang sengaja datang menjenguk. Subhanallah! Sungguh ibu-ibu ini bak malaikat penolong karena akhirnya saya bisa makan dan sejenak punya teman berbincang 🥳. Saya sampai berseloroh "terima kasih ya Bu, always listening always understanding, haha."

Ibu yang lain juga Allah hadirkan dalam wujud berbeda, baik hati sekali beliau karena mau dimintai tolong belanja keperluan apa-apa yang sedang kami butuhkan. 

Yang lain lagi, yang lain lagi, yang lain lagi. Wah banyak sekali. 😘Saya juga sampai tidak bisa mengingat bahwa Allah melimpahi saya tetangga yang siap antar jaga ☺️. Membantu banyak sekali keperluan di rumah. 

Tadinya saya pikir, keluarga paling terdekat di perantauan adalah teman-teman kantor, mereka yang delapan jam sehari membersamai. 

Tadinya saya pikir, orang-orang yang akan datang menolong, memberikan pundak, memberikan semangat, memberikan perhatian,  menyampaikan doa-doa adalah hanya kawan-kawan yang selama ini satu rumah dalam pekerjaan, dalam rapat-rapat rutinan, dalam kerja-kerja yang seringkali tak mengenal jadwal. 

Namun subhanallah, Allah jauh lebih sayang. Selain "keluarga kantor", dilimpahkannya keluarga kecil kami di perantauan ini "keluarga perantauan" lain yang sedemikian perhatiannya. 🥺 Menemani bahkan tanpa dimintai. 🥺 Padahal bertemu dan saling bersapa pun jarang-jarang. Membersamai, mungkin dapat diukur dengan hitungan jari. Tentu tak setiap hari. Apalagi di masa pandemi ini. 🙂

Mereka yang sangat antusias menanyakan kabar, siap dimintai tolong kapan pun dibutuhkan (meski tentu tak saya lakukan). 

Sampai-sampai saya berpikir, ya Allah jika suatu ketika terjadi apa-apa, insyaallah saya tidak akan sendiri, ada banyak keluarga di perantauan. 

Masyaallah, sampai ingin menangis rasanya menuliskan ini. 🥺

Benar kata Allah, bahwa Allah sesuai prasangka hambanya. PRASANGKA ini yang senantiasa harus kita jaga dalam keadaan positif. Untuk seorang muslim, tidak ada kekhawatiran terhadap apa pun yang dialami di dunia. Sebab di mata mukmin, semua ini fana, ilusi semata. 

Kita diberi dua senjata. Sabar saat diuji, syukur saat nikmat terlimpahi. 

Takut boleh, khawatir boleh, sedih boleh, namun tidak boleh berlebihan, sesuaikan porsi. 

Keadaan pandemi ini memang sangat berpotensi menambah kacau pikiran. Untuk itu, Jauh sebelum gelombang kedua ini terjadi, saya sudah menutup hampir semua kanal yang menaikkan level kekhawatiran saya.

Saya harus menjaga diri "sesuai porsi" karena saya masih punya dua bayi yang harus disusui. 

Pikiran saya harus sehat, raga saya tak boleh sedikit pun tumbang karena saya punya dua nyawa, dua jiwa yang tumbuh kembangnya masih sangat bergantung pada saya. 

Aduhai! Tanpa memikirkan covid saja, pikiran saya sudah penuh. Selain amanah pekerjaan dan amanah besar sebagai ibu, saya sudah tak sanggup memikul beban pikiran yang lain. 

Sudah, sabar-syukur-ikhlaskan- lepaskan, demikian rumus yang selalu saya andalkan terhadap apa-apa yang sekiranya tak layak dipikirkan dalam-dalam. 

Ingatlah bahwa apa-apa yang dikhawatirkan itulah yang akan terjadi. 

Ingat kisah ini:

Suatu hari Rasulullah sallallahu'alaihi wasallam menjenguk orang yang sedang sakit demam. Beliau menghiburnya dan membesarkan hati orang tersebut. Beliau berkata: "Semoga penyakitmu ini menjadi penawar dosamu."

Orang itu menjawab : "Tapi ini demam yang mendidih, yang menimpa orang tua yang sudah peot, yang bisa menyeretnya ke lubang kubur."

Mendengar keluhan orang itu, Rasulullah sallallahu'alaihi wasallam berkata: "Kalau demikian anggapanmu, maka itulah yang akan terjadi" (HR.Ibnu Majah).

Saban hari, selalu saja ada kabar silih berganti, dari sahabat-sahabat terdekat. Saya menghubungi sebagiannya yang dikenali secara pribadi, satu persatu. 

Banyak yang sedang berjuang akhir-akhir ini. Kondisi negeri sedang tidak baik-baik saja. Untuk semua yang saat ini sedang berjuang sembuh, ingatlah kami selalu mendoakan. 

Semoga selalu berlimpah kebaikan. Semoga selalu berlimpah kesehatan dan keberkahan. 

Terus saling jaga, saling menyemangati, saling mengingatkan. ❤️

Ingat untuk terus menjaga pikiran. Pikirkan yang baik-baik. Tetaplah positif. 

"Barangsiapa yang ridha, maka keridhaan itu untuknya. Barangsiapa mengeluh, maka keluhan itu akan menjadi miliknya" (HR. At-Tirmidzi).



You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



2 komentar

  1. Barakallah Mbak Nurin...selalu suka sama tulisan2 Mbak:)

    Kalau saya seringnya suka terlintas dipikiran, pengen makan apa gitu...alhamdulillah tiba2 suami datang bawain yang lagi dipengen, padahal gak ada bilang:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami sami Ninik, semoga bermanfaat ya.

      Alhamdulillah ya, hatinya nyambung dengan suami :)

      Delete