Parenting

Pengalaman Khitan Smart Klamp Bayi Kembar Usia 1,5 Bulan di Klinik Mutiara Cikutra Bandung

Thursday, June 25, 2020




Bismillahirrahmanirrahim.

Senin, 15 Juni 2020 menjadi hari pertama buat saya keluar rumah pasca lahiran, membawa bayi-bayi usia satu setengah bulan untuk berkhitan.

Ini juga menjadi kali perdana saya bisa mengisi blog lagi setelah hiatus selama masa kehamilan, yeeeaaay alhamdulillah. πŸ’–πŸ˜.

Ide mengkhitan Althaf dan Alfath berasal dari suami. Berdasarkan pengalaman beliau yang berkhitan di usia sekolah, menimbang banyak kelebihan kekurangan, situasi dan kondisi, akhirnya kami sepakat bulat mengkhitan mereka di usia bayi. Fyi, jika mengikuti sunah, khitan sudah bisa dilakukan sejak usia 7 hari.

Memilih Klinik Mutiara Cikutra (KMC) salah satunya karena keterjangkauan harga (maklum yang akan dikhitan sekaligus dua πŸ˜„). Suami sempat mencari informasi beberapa klinik, dengan metode yang sama, di KMC bisa lebih hemat. Kami mengambil paket khitan kakak-adik dengan harga 2,1 juta. Untuk metode, Smart Klamp menjadi pilihan kami.

Biaya Khitan di KMC
Banyak mungkin orang tua yang merasa khawatir, tidak tega "masih bayi kok dikhitan, apa gak kasihan," itu juga yang ada di pikiran saya pada awalnya. Anak bayik masih piyik mana tahu ngungkapin rasa sakit, ntar gimana kalau kesakitan jejeritan, ntar kalau rewel parah kayak apa ngatasi mereka berdua. Ribet gak ya bawa dua bayi di jalan selama ke klinik, kalau pas tandem di jalan kayak apa saya belum siap. Kalau mabuk di mobil gimana. (Halagh riweuh bet pikiran mamak-mamak πŸ˜†πŸ˜).

Namun karena paksaan edukasi tiada henti dari suami ditambah nawaitu melaksanakan perintah Allah, akhirnya saya bisa mantep legowo bismillah bawa anak-anak sunat.

Kelebihan sunat metode smart klamp

Persiapan yang saya lakukan jauh sebelum hari H adalah sounding ke anak-anak. Sejak mereka berada di dalam rahim, saya percaya bahwa bayi-bayi diciptakan sempurna dalam kecerdasan. Mereka bisa dengan mudah dipahamkan dan dikondisikan. Saya sampaikan ke mereka mengenai sunat dan persiapannya. Yang paling banyak saya ulangi ialah tentang persiapan (secara zahir) sebab ini adalah perjalanan pertama mereka keluar rumah.

Persiapan diantaranya ialah:

  1. Jadwal tidur dan bangun. Kebetulan kami mendapat jadwal tindakan pukul 7 pagi, perkiraan berangkat dari rumah pukul 6. Saya sampaikan ke bayi-bayi malam hari mereka harus tidur dan bangun sebelum Subuh untuk menyusu (Gusti, biasanya mereka tidak mudah tidur malam dan baru pulas jelang azan Subuh berkumandang) πŸ˜…. Setelah Subuh persiapan mandi dan berangkat.
  2. Sepanjang perjalanan (di kendaraan dan selama di klinik). "Habis mandi, nanti bobo lagi ya Nak, yang lama dan panjang." Saya sampaikan ke mereka untuk selalu "riang" diajak jalan-jalan, kuat naik kendaraan jenis apapun (karena emaknya masa kecil dulu pemabuk parah tiap naik kendaraan, jadi saya siapkan anak-anak jangan ikutan πŸ˜…). Untuk membantu bayi-bayi lelap pulas di mobil dan selama proses di klinik, selain memastikan mereka sudah kenyang ASI, saya belajar ekspres cara menggendong yang baik dan benar πŸ˜„ (alhamdulillah sangat membantu, begitu masuk kain gendongan lansung pada nyaman dan pulas). Alhamdulillah, no rewel-rewel club. 
  3. Jadwal menyusu. Hal yang paling seru saat mengasuh bayi kembar adalah saat jadwal menyusu datang berbarengan. Menyusui tandem sudah biasa saya lakukan di rumah, tapi kalau di luar? belum pernah. Butuh keahlian dan latihan jika melakukan proses menyusui tandem dalam kondisi apapun dan kapanpun. Kebetulan saya belum berpengalaman melakukannya saat bepergian. Jadi saya sampaikan ke bayi-bayi, selama keluar rumah menyusuinya gantian ya, harus antri dan sabar. Kalau bisa menyusunya dalam batas 'cukup' saja. Kebiasaan di rumah, satu anak bisa minimal satu jam dalam sekali waktu menyusu. πŸ˜„ 
Alhamdulillah, semua persiapan terlaksana lancar jaya sesuai rencana. 

Tepat pukul 7 pagi kami sampai di KMC. Ruang tindakan berada di lantai tiga. Kami mendapat urutan nomor 6 dari 9 anak yang akan dikhitan (banyak juga yang mau berkhitan hari itu, saya pikir hanya kami saja πŸ˜„). Menunggu antrian tidak begitu lama karena ada dua ruang tindakan yang digunakan. Sekira setengah jam, kami kemudian dipanggil untuk sesi pemotretan. Oh ya, ada penawaran foto dari KMC dengan biaya tambahan sebesar Rp 160.000.

Di ruang tindakan, dilakukan pemeriksaan awal terlebih dahulu oleh dr. Suby dokter yang menangani sunat (belakangan saya baru tahu kalau beliau salah satu personel romantic duo ), di situ ternyata ketahuan kalau alat kelamin duo Al termasuk fimosis. Fimosis ialah kelainan pada penis berupa kulup atau kulit kepala penis yang melekat erat pada penis. Ini hal normal yang biasa terjadi pada bayi dan anak-anak yang belum disunat, khususnya anak usia di bawah 3 tahun karena kulup akan terlepas sendiri seiring bertambahnya usia anak, jadi kita tidak perlu khawatir. Namun jika sunat dilakukan lebih awal, tentu saja akan jauh lebih baik.

Fimosis termasuk kategori penyulit dalam proses khitan, sehingga dikenai biaya tambahan. Satu anak sebesar Rp. 150.000. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter kemudian menyuntikkan obat bius. Bagaimana kabar bayi bayi? (sunatnya gak barengan ya, tapi satu satu), alhamdulillah mereka sangat anteng karena pada ngantuk. Teriaknya hanya pas di suntik bius, habis itu selama tindakan mereka tidur. πŸ˜„ Setelah disuntik, sambil menunggu baal selama kurang lebih setengah jam, kita diberi waktu untuk menyusui (ini resep yang ngebikin mereka pada anteng ngantuk berat πŸ˜€).

Suntikan bius hanya berlaku kurang lebih satu jam. Setelah efeknya hilang, barulah duo Al nangis kenceng. Selama khitan, rewel nangisnya hanya dua kali, saat efek bius hilang dan saat klamp dilepas sepekan kemudian. Selebihnya, yang saya rasakan bayi-bayi anteng-anteng saja alhamdulillah. Malahan setelah sunat, rewel nangis kejer yang biasa terjadi di malam hari berkurang drastis, tidur makin nyenyak (alhamdulillah ya allah Ummaya bisa ikut tidur pules πŸ˜…), kerasa kayak mereka tetiba jadi anak bujang yang udah dewasa, haha. 😁

Oh ya, untuk sunat klamp ini, tidak ada perawatan sama sekali setelahnya. Boleh langsung terkena air dan beraktivitas seperti biasa. Satu hari sebelum kontrol untuk lepas klamp barulah diminta berendam air hangat sehari dua kali dan diberi minyak zaitun atau baby oil dua jam sekali. Saya tidak menghitung jam, hanya melakukannya setiap penggantian popok. Setelah klamp dilepas, dianjurkan untuk melakukan pemijatan menggunakan kasa yang dibasahi dengan air NaCl (cairan infus) 3 sampai 4 kali sehari selama dua pekan untuk membantu kulit bekas sayatan lekas kering. Alhamdulillah, hari ini (10 hari pasca sunat) kulit kering yang bentuknya jadi seperti cincin sudah terlepas.

Jadi, berdasarkan pengalaman saya, ada kelebihan mengkhitan di usia bayi. Sebaliknya, ada pula kelebihan mengkhitan saat usia anak (sudah bisa mengingat).

Kelebihan mengkhitan saat bayi πŸ‘ΆπŸ‘Ά: 


  • Bisa mengambil waktu sunahnya, yakni usia 7-14 hari. Ada juga pendapat yang menyatakan paling baik dilakukan saat berusia di bawah 40 hari. 
  • Mudah buat orang tua, karena tidak perlu membujuk berkhitan, mengajak, dan menenangkan saat tindakan. Kerasa banget saat di ruang tindakan, bayi-bayi pada anteng tidur. Sementara di ruang sebelah, anak lain yang sudah lebih besar teriak jejeritan, bahkan ada yang minta pulang dan perlu ditenangkan cukup lama. 
  • Mudah untuk anak. Hal ini dikarenakan mereka belum bisa mengerti, belum punya memori daya ingat, tidak bisa berontak, apalagi menolak.
  • Baik untuk kesehatan dan kebersihan. Semakin dini usia berkhitan, maka semakin besar pula peluang terhindar dari berbagai penyakit kelamin. Berkhitan juga membuat area kelamin menjadi lebih mudah dibersihkan.
  • Masa penyembuhan lebih cepat.

Kelebihan mengkhitan di usia anak sudah bisa mengingat:

  • Orang tua dapat memberi pengajaran mengenai khitan pada anak. Tentu ini akan menambah khazanah keilmuan yang akan menambah keimanan anak.
  • Memberi pengalaman memori yang membekas pada anak. Apalagi jika anak dapat merasakan berkhitan sebagai pengalaman positif. 
  • Melatih kesiapan mental dan jiwa anak. Pada usia anak-anak, kesiapan berkhitan tentu harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (orang tua dan anak). Akan menjadi lebih baik jika keinginan berkhitan muncul sendiri dari pihak anak, tentunya dengan persiapan dan pemahaman terus menerus dari orang tua. 
  • Anak dapat merasakan perbedaan dari sebelum dan sesudah berkhitan.

Jadi, mau berkhitan saat masih bayi ataupun usia di atasnya, semua punya kelebihan. Siapkan mental kita sebagai orang tua, untuk nantinya dapat mempersiapkan mental anak-anak. πŸ’—







You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



2 komentar

  1. Bunda yg hebat. Super sekali pokoknya. Dg pngalaman punya baby baru dan lngsung kembar itu g mudah. Tp smua bs diatasi dg mudah. Inspiratif bngt soal sounding k baby tadi. Mngajak anak2 mmbiasakan diri dg arahan yg positif dr ortu mlalui sounding. Smg sehat terus ya kakak dan abang kembar.

    ReplyDelete
  2. Baarakallaahu fiik, Nuriiin..akhirnya rilis juga si kembar di blog.. Alhamdulillaah,semangat mengASIhi..kebayang banget rasanya tandem..aku aja yg jaraknya dekat banget udah brasa kembar..apalg yg kembar beneran..heheh..
    Ngomong-ngomong tentang khitan, kmrn2 waktu ziyad msh bayi, aku jg pengen khitan langsung..tapiii sayangnya ga dapat dukungan..huhuhuhu..masih pengaruh adat budaya dll..huks..
    Eniwei, sehat-sehat terus yaaa duo Al..ditunggu di kendari..

    ReplyDelete