Inspirasi

Mengenali Gejala Penderita Borderline Personality Disorder

Tuesday, July 21, 2020



Bismillahirrahmanirrahim. 

Waktu tahu kemarin saya mengkhitan duo Al di usia bayi, beberapa teman diantaranya dokter spesialis dan bidan bertanya, "emang dapat rekomendasi dokter anak ya buat mengkhitan? kan masih baby?," "ada dasar referensinya gak?." 😃 Mulanya saya jadi semacam agak takut juga, laaaah emang harus pakai rekomen DSA ya? pakai diminta dasar referensi segala, alamak jang! 🙈. Terus saya jawab saja, kalau pada dasarnya kami melakukannya berbekal keyakinan, mengambil pendapat waktu terbaik dari para ulama. 

Terus dasar referensi ilmiahnya? daripada ribet, saya buka saja Halodoc. 😄. Salah satu aplikasi Andalan(G) 😁 yang seringkali saya gunakan untuk mencari informasi terkait istilah kesehatan, kandungan obat ataupun informasi kesehatan lainnya. Alhamdulillah dari Halodoc yang terpercaya dan dipercaya, terjelaskanlah bahwa dari sisi medis pun, waktu terbaik untuk mengkhitan memang saat masih usia bayi. Ah, aku padamu Halodoc, terima kasih sudah banyak membantu, fufu. 😆 

Dengan Halodoc, sehat jadi lebih mudah (etdah, iklan.😜). 

Bicara tentang kesehatan, sejak pernah mengalami masa-masa kelam dan hampir depresi 🙈, kesadaran saya mengenai kesehatan mental menjadi meningkat. Mulai peduli pada sekitar dan orang-orang terdekat, yang setidaknya bisa dibantu. Seenggak-enggaknya, saya sudah mulai bisa menerima bahwa sakit pada manusia itu tak hanya sakit fisik saja, tapi ada pula sakit yang tak kasat mata, SAKIT JIWA.


Saya pun teringat, pada salah satu kenalan dekat yang mengalami masa kecil traumatis. Perpisahan orang tua, kekerasan oleh ayah kandung, dan kurang kasih sayang. Mulailah rasa ingin tahu saya terhadap kemungkinan penyakit mental yang dihadapi, dan dari pencarian melalui Halodoc, tahulah saya sebuah istilah baru, Borderline Personality Disorder atau biasa disingkat menjadi BPD.

BPD, apa itu?

Borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang adalah sebuah kondisi yang muncul akibat terganggunya kesehatan mental seseorang. Kondisi ini berdampak pada cara berpikir dan perasaan terhadap diri sendiri maupun orang lain, serta adanya pola tingkah laku abnormal.
BPD dapat menimbulkan gangguan fungsi seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan hubungan interpersonal dengan sekitarnya. Gangguan ini umumnya muncul pada periode menjelang usia dewasa, tetapi dapat juga membaik seiring bertambahnya usia.
Periode yang persis sedang dijalani oleh kenalan saya tadi, menjelang usia dewasa. Pernah dalam sebuah kesempatan berbincang, saya bertanya bagaimana perasaannya setelah dewasa, memandang masa kecilnya. Di luar dugaan, jawabannya, "aku bersyukur Mbak, Bapak dulu gituin aku, sekarang aku jadi kuat Mbak." Saya tidak tahu, apakah dibanting saat masih batita, dicelupkan di drum air saat balita, di teriaki, dimaki, dipukul, dan diperlakukan semena-mena di masa tinggal bersama ayah kandungnya akan semudah itu disyukuri. Saya juga tidak tahu, apakah memori kekerasan akan seringan itu terlupakan tanpa bekas, tanpa rasa sakit hingga dewasanya. Namun, secara sepintas, ia memang tumbuh menjadi putri yang nyaris sempurna. Cantik, cerdas, berwawasan. Mengingatkan saya pada sosok, Marshanda!.  
And yes, salah satu komplikasi dari BPD, adalah bipolar. 
Kalau begitu, apa saja ciri yang bisa kita kenali dari penderita BPD?

BPD, apa saja gejalanya?

Masih dari laman Halodoc, gejala dari BPD diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Merasa takut diabaikan, sehingga membuat pengidapnya menghindari perpisahan, kritik, atau penolakan.
  2. Takut diabaikan, sehingga membuat pengidap cenderung menghindari kritik, perpisahan, atau penolakan.
  3. Perubahan citra dan identitas diri yang berlangsung dengan cepat, sehingga memengaruhi nilai-nilai dan tujuan yang diketahuinya. Pengidap BPD dapat memandang dirinya sebagai sosok yang buruk, menyerupai sosok antagonis di dalam sebuah film.
  4. Mengalami periode stres yang memicu paranoia, serta kehilangan hubungan dengan kenyataan yang dapat berlangsung hingga beberapa jam.
  5. Mengalami perubahan suasana hati yang berlangsung hingga berhari-hari.
  6. Memiliki perilaku impulsif yang berisiko dan terkadang berbahaya, seperti judi, hubungan seksual yang tidak aman, mengemudi dengan ceroboh, atau boros. Seseorang dengan BPD dapat berhenti dari pekerjaannya tanpa alasan yang jelas atau mengakhiri hubungan asmara yang pada dasarnya baik.
  7. Mudah kehilangan kesabaran dan menjadi sangat marah hingga dapat memicu pertengkaran atau perkelahian.
  8. Pada suatu momen dapat menghormati atau menyayangi seseorang, tetapi kemudian berubah dan menganggap orang tersebut sebagai sosok yang buruk.
  9. Merasakan kekosongan secara psikologis yang berlangsung terus-menerus.
  10. Bisa berperilaku menyakiti diri sendiri, bahkan hingga bunuh diri.
Gejala nomor tujuh, ini yang sangat saya rasakan ada pada diri ayah kenalan saya tadi. Mudah kehilangan kontrol kesabaran. Itu mengapa, kesalahan sedikit saja dari anaknya, bisa berujung kekerasan. Ciri ini juga yang saya harapkan tidak menurun padanya. Bagaimanapun, saya hanya bisa melihat dari sisi luar, tetap saja tidak akan pernah paham apa dan bagaimana semua pengalaman dilaluinya. 

Nah, dari kesepuluh ini, adakah salah satu atau salah lima ada di diri kita, sahabat, kerabat, dan lingkungan terdekat? mungkin itu saatnya kita belajar lebih dalam mengenai kesehatan mental dan mengulurkan bantuan. 😊

Salam sehat!. 

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



1 komentar