Cinta

Untuk Sepasang Calon Buah Hati yang pernah Hampir Menetap di Rahim Ibu

Saturday, December 05, 2020


Bismillahirrahmanirrahim.
Saya merasa kuat waktu itu. Di situ, di bilik tunggu. Allah pun masih sempat membercandai saya dengan kehadiran seorang perempuan yang bertanya dengan lugu, "lagi ngapain Mbak?" dan saya jawab tanpa wagu "sedang menunggu."

Saya merasa semua baik-baik saja waktu itu. Allah pun masih mengajak saya melihat sisi dunia lain, dengan membiarkan seorang perempuan hadir tanpa diundang, mengalirkan cerita haru, seakan ia lah makhluk paling sengsara di dunia saat itu. 

Perempuan yang akhirnya menumpahkan tangis, memang tidak di pundak saya karena kami baru bertemu hari itu, tapi pada hati yang juga sedang sama meragunya.

"Ya Tuhan, tolong bercandanya jangan kelewatan" :). Bukankah seharusnya di hari itu, saya yang linglung dan menumpahkan air mata? 

Saya sedang kehilangan. Dan saya sedang menunggu dokter untuk tindakan.

KURETASE, demikian istilah medis menyebutkan. 

Malam sebelum saya berada di ruang tunggu, saya sempat panik hingga menghubungi suster. Saya panik karena efek obat pil peluruh kandungan. 

Dokter memang sempat bilang, "ini obat keras ya Bu. Gak bisa sembarangan dibeli. Ini obat yang biasa diminum orang yang mau gugurin janinnya. Ini Ibu minum malam, supaya pagi saat tindakan sudah tinggal bersih-bersih."

Gak nyangka, satu pil kecil yang saya minum, efeknya luar biasa setelah satu jam dikonsumsi. Jauh lebih sakit dibanding sakitnya haid bulanan saya. 😭 Seketika itu, saya langsung pendarahan. Mulanya sedikit, lama-lama menjadi banyak. Rasanya rahim seperti dikuras dengan paksa. Paniklah saya. 


"Gak papa Ibu, itu efek obat," kata Suster menenangkan saya di ujung telepon. 

Esok paginya, saya hanya terlihat tegar dan baik-baik saja di luar. Tetapi saat tindakan, tiba-tiba saya merasa sedih harus berhadapan kembali dengan jarum suntik, obat bius, selang oksigen, dan obat-obatan. Padahal sebelum ini, saya "merasa" sudah terbiasa dengan puluhan jarum suntik, puluhan pil, juga ruang operasi. 

Saya sudah hafal bagaimana obat bius bekerja. Saat dokter anestesi datang dan mulai menyuntikkannya, saya memejamkan mata karena kali ini rasanya lebih perih. Saya berucap dalam doa, "Allah, izinkan tindakan ini untuk terakhir kali. Cukupkan tubuh ini merasakan sakitnya berupaya."

Kemudian setelah saya sadar, mulailah saya merasakan kehilangan yang jauh lebih berbahaya, PERASAAN BERHARGA. 

Rasanya semua yang saya miliki tidak ada nilainya. Saya mulai menyalahkan diri saya. Saya merasa menyesal telah menyibukkan diri dengan beragam mimpi dan cita-cita. Merasa bahwa semua yang ada; kenyamanan, dikenal orang, pekerjaan, pendidikan, tidak lagi penting. Sungguh, saya tidak butuh dikenal, tidak butuh memiliki apapun, jika saya harus kehilangan kesempatan yang didamba setiap perempuan; menjadi ibu. 

Bahkan saya bisa menangis setiap kali melihat kucing bunting. "Mengapa Tuhan mudahkan seekor kucing hamil berkali-kali, sementara saya hanya sebatas 'hampir menjadi ibu dari dua bayi' setelah melewati berbagai uji?" 😭. 

Ya Tuhan, ini pasti saya sudah desperate sekali, untuk apa pulak saya iri pada kucing bunting 😆😂. 

Saya menangis hampir setiap saat, tidak mengenal tempat. Ada satu malam panjang, di mana saya tidak tidur, hanya puas menangis sampai pagi. 

Begini rasanya kehilangan; sakit, pedih, sedih. 

Saya tahu, pasti akan ada yang bertanya di mana letak iman. Tapi saya manusia, yang secara alamiah boleh meluapkan marah, kecewa, dan perih. 

Itulah masa, di mana saya merasakan perasaan hampir depresi. 


Perasaan yang hingga saat ini, masih menyisakan sedikit rasa rendah diri, tidak percaya diri, tidak semangat lagi untuk berbagi mimpi-mimpi. 😥

_

Kemarin, saat saya melihat foto bayi-bayi di usia tujuh bulan mereka, hati saya mendadak sendu. 

Saya ingat doa saya ketika meminta waktu itu, "ya Rabb, saya tukar semua mimpi dan semua yang semestinya saya miliki dengan hadirnya bayi-bayi." 😭

Saya benar-benar meminta, pasrah dan berserah setelah pernah kehilangan kesempatan yang rasa sakitnya, sakit sekali. 

Waktu itu saya sudah seperti tidak memiliki mimpi lagi. Mimpi terbesar saya sebelum Allah mencabut nyawa, ialah diberikan kesempatan untuk merasai hamil kembar lagi.


Saat melihat foto-foto Althaf dan Alfath yang bertumbuh sehat, semakin cerdas dari hari ke hari, semakin menyenangkan, membuat saya tak kuasa menahan tangis. Ya Allah, mahapengabul doa, 😭. Ini seperti mukjizat. 

Rasanya masih tidak percaya jika Allah akan menyampaikan usia saya hingga tiba masa menyaksikan hadirnya dua bayi manusia. 

Rasanya masih seperti mimpi, ada dua makhluk yang pernah tumbuh di dalam rahim, lalu keluar menjadi bayi-bayi lucu nan mengggemaskan. 

Teringat kembali semua kenangan, perjuangan, naik-turunnya perasaan. Saya juga teringat pinta saya pada Rabb, bahwa inilah doa impian yang benar-benar saya inginkan sebelum Allah tetapkan batas usia di dunia. Maka semua hal setelah Allah ijabah, adalah persiapan menuju pertemuan. Pertemuan di surga. 

Tetapi tampaknya, pernah kehilangan, efeknya dahsyat sekali, melekat kuat di dalam ingatan. 😭

Jika mendapati kabar duka, dari sesama perempuan yang sedang diuji dengan kehilangan calon buah hatinya, saya bisa turut teringat lagi. 

Baru saja, hal ini terjadi, sampai saya berucap reflek pada suami, "Harusnya kita punya dua pasang bayi kembar ya, kalau yang kemarin berkembang" 😭  yang setelahnya, membuat rasa bersalah sebagai seorang hamba muncul. Mengapa sepertinya saya belum ikhlas, belum sepenuhnya melepaskan? 😭. 

Justru yang terjadi, ingatan saya atas hal-hal di masa lalu terbuka kembali. Padahal, saya tahu, semestinya saya tidak boleh larut. Hidup hamba itu ya menghamba. Mengikut apa kehendak Rabb-Nya. Percaya dan yakin pada setiap ketetapan, ada kebaikan di dalamnya. 😭

Namun seringkali, alam bawah sadar berkata sebaliknya. 😭

Ya Rabb, hari ini, saya ingin belajar melepaskan semua perasaan sedih, putus asa, dan lelah dalam memintal pinta.

Hari ini, saya menuliskan tulisan ini dengan berurai air mata, mengenang kembali masa kehilangan yang tidak mudah dilalui. 

Hari ini, saya ingin melakukan hal yang belum pernah saya lakukan. Mengucapkan selamat tinggal, pada sepasang calon janin yang pernah hampir menetap di rahim saya. 

"Terima kasih, sepasang calon buah hati kami, terima kasih telah memberikan pelajaran yang sangat berharga ini." 

Hari ini saya belajar membasuh ingatan,  agar semakin mampu melihat betapa mahabaiknya Allah dalam mendidik saya sebagai seorang hamba.

Terima kasih ya Rabb, atas kasih sayang dan limpahan nikmatMu. Setelahnya, Engkau tepati janjiMu, bahwa apa-apa yang Engkau ambil dari seorang hamba, pasti akan Engkau ganti dengan yang lebih baik lagi. 😭
~


Untuk setiap perempuan yang pernah merasakan hal yang sama, saya tahu ini tidak mudah dilalui. 😭

Peluk cium dari saya. 😭

Tidak apa-apa, menangis saja, tidak perlu melawan arus dengan menahannya, lepaskan pelan-pelan. 

Seberapa banyak waktu yang ingin kita relakan untuk melampiaskan rasa kehilangan, gunakan saja. Setiap kita butuh waktu untuk melepaskan yang tidak sama. Tidak apa-apa jika memang butuh waktu yang lebih lama. 

Apa-apa yang hadirnya dari Allah, akan kembali ke Allah, termasuk jiwa raga kita. 

Bismillah, semoga segala upaya, sabar dan syukur kita, menjadi kunci peraih ridloNya. 

*

Untuk sepasang calon buah hati yang pernah hampir menetap di rahim ibu, insyaallah sekarang perasaan ibu lebih lapang. ~















You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



1 komentar

  1. Masyaallah ada kisah pilu dan inpiratif dibalik kebahagiaan saat ini. smg masa lalu mbuat kita semakin pandai bersyukur, bangkit dan mengambil hikmah di balik semua peristiwa. bahagia selalu buat mb Lia dan keluarga 😘

    ReplyDelete