Celoteh

-286- Bagaimana Akhir Jika Ini Menjadi Ramadan Yang Terakhir

Wednesday, May 02, 2018


Bismillahirrahmanirrahim. 

Semalam saya pulang jam sebelas malam dari kantor. Fifi yang turut serta sedari siang, entah mengapa menjadi sangat rewel sesampainya di rumah. Campuran antara mengantuk dan -mungkin saja- lelah. Ya Rabb, ini sudah hampir pagi, dan saya masih harus berupaya menenangkan tangisan dan ocehannya yang tidak jelas apa maunya. 

Beberapa hari terakhir, saya merasa ada saja ujian yang menimpa. :). Mulai dari laptop yang entah mengapa tiba-tiba saja aplikasinya bermasalah, berlanjut dengan laptop yang tidak bisa digunakan sama sekali dan akhirnya butuh di install ulang. Printer yang biasa saya gunakan yang tiba-tiba mati. Sampai dengan dua hari ini, waktu saya tersita untuk mengerjakan sesuatu hal yang sama tetapi mengalami pengulangan karena mengalami kesalahan. Ya Rabbi, sungguh waktu saya banyak tersita pada hal yang seharusnya bisa segera diselesaikan, tapi bukannya maju, saya malah mundur jauh ke belakang. 

Siang ini, saya dikejutkan dengan dering telepon, dari siapa lagi? dari Fifi. :)

"Bunda, kok gak jemput-jemput? Fifi sudah kelamaan tunggunya."

Saya melihat jam dinding, astaghfirullah, saya lupa, sudah sejam yang lalu Fifi menelepon minta dijemput dari sekolah. 

"Bunda itu pasti lagi fokus ke pekerjaan Bunda kan? Bunda itu kerja terus yang dipikirkan, Bunda gak mikirin gimana perasaan Fifi ya? Fifi sudah tunggu dari tadi."

Ya Rabb, ampuni hamba. Benar-benar. Entah mengapa, selalu saja ada yang tidak benar. :). Sampai-sampai, saya hanya mampu tertawa. Menertawakan hidup.

Boleh baca: Menertawakan Hidup. 

Kemudian saya jadi mengingat perkataan yang sampai kepada saya, 
"masak Mbak gak peka sih?."

Saya tercenung, lama sekali, sampai beberapa hari, saya pikirkan kalimat tersebut secara mendalam. Saya merenungi tiap kejadian demi kejadian. Dan kemudian sampai pada kesimpulan bahwa, saya tidak jujur terhadap satu hal, saya menutupi sesuatu, yakni terhadap sekitar. 

Saya tidak jujur saat mengatakan bahwa saya tidak tahu apa-apa. Duhai, saya yang terbiasa bermain-main dengan rasa, bahkan hanya dengan membaca seutas tulisan saja, sangat peka memaknainya, apakah itu terlahir dari ketulusan ataukah hanya sebuah kenyinyiran. Saya tahu, saya merasakan, saya dapat membedakan mana persahabatan yang ditawarkan atas dasar keikhlasan, mana hubungan yang diberikan atas dasar ketulusan dan mana kebaikan yang ditampakkan atas dasar kepura-puraan. 

Saya hanya, 
.
.
berpura-pura untuk tidak ingin tahu. 
.
.
Sebab hati saya tidak bisa lagi terbuka untuk menerima persahabatan tanpa ketulusan dan keikhlasan, apatah lagi jika itu dibangun dari rasa ketidaksukaan, hingga hal yang -saya selalu berlindung darinya- yakni kedengkian. 

Dan, di sinilah, barangkali letak permasalahan yang harus saya selesaikan. 

Ini bukan tentang siapa-siapa, ini tentang diri saya sendiri. Saya terlalu peka hingga berusaha abai terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya mencabik kawah rasa. Saya bahkan bisa merasai maksud dari tingkah laku, ucap, tutur kata, gerak-gerik, mimik muka dan mempelajari semuanya.

Hati saya sudah cukup penuh hingga tak ingin lagi merasai luka. Saya pernah pada kondisi hati yang poranda, pecah sehingga hanya menyisakan perca.

Saya tak lagi acuh terhadap hal-hal yang sekiranya tidak lagi penting untuk saya rasai terlalu dalam.  Jatah usia saya semakin berkurang, dan bahkan saya tidak tahu lagi, sampai kapan batas waktu saya tersisa.

Ini Sya'ban, dan bagaimana akhir jika ini menjadi Ramadan yang terakhir untuk saya? 

Saya tahu, sebagai seorang insan, saya punya banyak kekurangan, saya punya banyak kelemahan yang layak untuk dikritisi, saya punya banyak sisi yang tak patut untuk ditiru.

Tetapi saya melupakan satu hal rupanya, bahwa manusia diciptakan berbeda, untuk saling bertafahum. Saya tidak bisa terus membuat benteng pada hati dengan tidak lagi menawarkan sebuah persahabatan, yang hangat, yang mendamaikan, yang sejuk, tanpa harus memandang apakah hati lain yang saya tawarkan punya maksud yang sama, ataukah ia datang dengan hati yang telah penuh dengan noktah hitam, pekat dan pesan kebencian yang lain lagi.

Sampai di sini, rasanya saya masih belum bisa.

Hingga saya merasa, saya harus kembali menepi, sejenak, meratapi, mendefinisikan kembali makna dan untuk apa saya melakukan ini semua.

Kembali ke TITIK NOL. (Saya bahkan sudah hampir satu bulan tidak lagi begitu aktif bermain FB, dan saat ini saya sudah meng-uninstal semua akun medsos yang saya punyai. Hidup saya terasa terlalu riuh memang, saya sudah cukup terlalu disibukkan dengan mengurusi urusan orang lain sehingga banyak melalaikan hati. Berselancar di dunia maya dan media sosial mengurangi waktu saya mengaji, dan sungguh, ini semua sudah keterlaluan. Jika ditanya, sampai kapan saya tidak mengaktifkannya? setidaknya saya ingin Ramadan ini bisa benar-benar fokus untuk ibadah. Untuk Allah. Kepada Allah dan karena Allah. 😭).

Ini Sya'ban. Saya merasa ini waktu yang tepat untuk memperbaiki kembali. Mengembalikan semua niatan pada tempatnya yang benar. Menanggalkan segala keriwehan dunia, mengurangi segala intensitas yang menyibukkan hati. Memaafkan semua hal yang menyakitkan. Menggantinya dengan segala hal baik yang patut untuk dikenang.

Dunia ini hanya tempat senda gurau belaka. Saya ingin disibukkan dengan mengenang segala hal-hal baik saja, memperjuangkan hal-hal baik, berusaha menjadi lebih baik, memperbaiki apa-apa yang belum baik, berbuat yang baik-baik, mendengar yang baik-baik, berbicara yang baik-baik, menulis yang baik-baik dan disibukkan dengan yang baik-baik.

Boleh baca: Manusia Dua Mata Sisi

Ini Sya'ban dan Ramadan akan datang sebentar lagi, akankah saya masih diberi usia panjang? saya begitu khawatir jika ini akan menjadi yang terakhir. 😭

Mohon lapangkan, maafkan, ikhlaskan semua hal yang kurang berkenan dan menyakitkan dari saya. Kenanglah yang baik-baik, ambil yang baik-baik, dan ingat yang baik-baik.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Post Tematik Blogger Muslimah Indonesia bulan Mei dengan tema "Jika Ini Ramadan Terakhirku."










You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



29 komentar

  1. Sepakat mbak

    Kenanglah yang baik-baik, ambil yang baik-baik, dan ingat yang baik-baik

    ..brakallah ya mbak..maaf lahir bathin

    ReplyDelete
  2. Semoga semua berakhir indah ketika waktunya tiba ya Mba.

    ReplyDelete
  3. Maaf lahir batin ya Nurin....semoga kita mendapatkan banyak keberkahan di bulan suci ini.

    ReplyDelete
  4. semoga diammpukan untuk selalu melakukan yang terbaik di bulan ramadan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin ya rabbal alamin, terima kasih sudah mampir ke sini Mbak Farida.

      Delete
  5. Tulisan yang sangat menyentuh dan membuatku benar-benar mengkritisi serta evaluasi diri. Terima kasih remindernya mbak ^^

    ReplyDelete
  6. Ma sya Allah, salut, Mbaaa... saya masih berat rasanya meninggalkan keriuhan, hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih, sama saja Mbak, saya juga cuma kuat beberapa pekan saja, saya sudah kembali ke dunia riuh itu lagi, :(. Yang pasti, tugas penulis memang ya harus menulis terus. :)

      Delete
  7. Masya Allah, tulisannya jadi pengingat diri juga buat memperbaiki diri. aku pernah juga coba ga buka sosmed 3 mingguan lebih, banyak manfaatnya, tapi malah balik lagi :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, lebih banyak manfaatnya memang, tapi ternyata memang gak bisa lama-lama libur nyosmednya. :(

      Delete
  8. tulisannnya buat aku baper mbak. semoga dipermudah segala urusannya ya mbak. dan semoga Ramadhan ini penuh berkah bagi kita semua. semangat mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tema ini memang sukses membuat kita baper berjamaah Mbaaaak, :(

      Delete
  9. Salut Mbak Nurin sudah mengambil sikap utk melepas dulu media sosialnya. Kadang saya juga suka merasa kasihan. Sama mereka yg sibuk di medsos, sibuk nonton drama, tapi lupa membaca Al Quran. Sungguh kasihan, waktunya sia2...

    Semoga kita berada dalam waktu yang baik, ya. Amin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Okta Li, itu cuma sebentar, saya balik lagi ke medsos, huhu, tapi insyaallah Ramadan ini mulai belajar diet ketat, :(

      Delete
  10. Semoga hatinya kembali membaik ya Mba. Semoga dimudahkan segala urusannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Mbak, semoga, saya ingin memiliki hati yang lapang, hati yang ikhlas, hati yang sabar, :)

      Delete
  11. Tulisan yg menyentuh. Dan saya selalu suka tulisannya Mbak Nurin. Jadi saya mengenangnya yang baik-baik. Insya Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Mbak, tolong ingat yang baik-baik saja dari saya. :(

      Delete
  12. Replies
    1. Sama-sama Mbak Sri, terima kasih telah berkenan mampir. :)

      Delete
  13. aamin ya allah. selamat mengisi ramadhan kali ini ya mbaakk

    ReplyDelete
  14. Aduh saya sering berada di posisi Mbak, laptop tiba-tiba error, printer macet, anak marah-marah sampe keringet dingin dikejar kerjaan. Yang terbaik memang muhasabah diri, mungkin ada yang korslet di diri saya. Semoga kita bisa sama-sama baiki diri terus ya, Mbak😊

    ReplyDelete