ODOP Blogger Muslimah Indonesia OKT 2017

-252- Di Sepanjang Perjalanan Menuju Kawah Bromo

Wednesday, October 04, 2017

Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju Kawah Bromo

Bimillahirrahmanirrahim.

"Latihan. Nanti kalau ke Korea, udah siap dengan udara begini," celetuk salah satu dari kami.

Latihan apanya? :). Ini dingin sekali. :p

Udara dingin dari tempat saya menyaksikan sunrise semakin bertambah-tambah.

Baca cerita saya sebelumnya di: Bromo, Sandiwara Pagi dan Panorama Sunrise yang Memikat Hati. 

Rasanya saya sudah tak kuasa lagi menahannya. Saya dan rombongan memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanan.



Ini menjadi keputusan yang tepat, karena kami akan melanjutkan perjalanan menuju Kawah Bromo. 

Tidak berlama-lama di tempat penanjakan memberi nilai tambah pada perjalanan kami. Kabut masih demikian tebal. Saya masih mendapatkan bonus pemandangan yang disuguhkan di sepanjang perjalanan.

Bonus yang kedua, udara juga terasa jauh lebih hangat dibanding sebelumnya.

Maafkan, saya pencinta pantai yang baru pertama kali naik gunung. :D

"Mbak, divideoin gih, nyetatus sono. Biar sekali-kali gak pantai mulu jalan-jalannya." Goda salah satu dari kami ke saya. :p

Baca juga: Cantiknya Pantai Toronipa, Kendari Sulawesi Tenggara



Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Kawasan gunung Bromo ini masuk dalam bagian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau biasa disingkat TNBTS merupakan salah satu Taman Nasional di Jawa Timur dengan luas sekitar 50.276,3 ha. Letaknya berada di empat kabupaten. Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo.

Ini menjawab rasa heran saya saat memasuki Wonoktiri,

"Ini kita di mana? kok gapuranya tulisannya Pasuruan?" elah, dari berangkat dini hari tadi saya belum ngeh kalau perjalanan kami menuju Bromo ini melewati Pasuruan. Karena selama ini yang saya tahu ya, Bromo itu letaknya di Malang :p. Duh Gusti,  generasi bukan kids jaman now yang begini nih, gak cepet update informasi :p.

Akses menuju Bromo dapat dilalui dari ke empat Kabupaten yang saya sebutkan tadi, tetapi untuk kendaraan roda empat jalur yang paling bagus jalannya adalah melalui pintu Probolinggo dan Pasuruan.

Udara mulai menghangat
Matahari mulai tampak, supir yang membawa kami memberikan informasi bahwa kita akan melalui jalur yang berkelok-kelok dan menurun karena kita akan menuju kawah.

Tidak ada suara. Masing-masing dari kami larut dalam hening menikmati perjalanan.

iring-iringan jeep.
Sayang saya tidak ingat sama sekali untuk mencatat suhu dan melihat jam. Saya sungguh tidak punya waktu untuk itu. Rasa dingin membuat saya 'sejenak' kehilangan konsentrasi.

Rasa dingin juga mampu menghalau rasa lapar.

Tidak seorangpun dari kami yang berminat untuk sarapan 'berat' sepagi ini, dan sedingin ini tentu saja.

Sebagian dari kami mengganjal perut dengan roti seadanya dan air putih, bekal yang kami bawa sendiri dari rumah.

Pemandangan sepanjang perjalanan
Saya sendiri sibuk mengambil video dan foto.

Sejak di sini, saya mulai merasa membutuhkan kamera baru. Smartphone kesayangan saya sudah tidak sebaik sebelumnya dalam hal performa. Ponsel saya mulai menua. :(

Baca Juga: Antara Smartphone Mas Rangga AADC Dan Kamera Baru

Ada beberapa kekurangan di sana-sini (menurut selera saya) yang saya rasa belum memuaskan hasilnya. Tetapi semoga hasil foto yang bisa saya bagikan di sini dapat memberikan sedikit gambaran bagaimana suasananya ya. :)

Pemandangan sepanjang perjalanan
Oh ya, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, ini menjadi pengalaman pertama saya naik gunung yang beneran gunung berapi ya. :)

Baca juga: Wisata Air Terjun Gunung Rian Tana Tidung Kalimantan Utara

Saya tidak begitu tertarik pergi ke gunung sebelumnya karena bagi saya, naik-naik ke gunung itu melelahkan. Saya bukan mantan anak pencinta alam yang hobi treking. :p

Saya lebih suka ke pantai karena untuk menuju pantai saya tidak perlu mendaki, tidak perlu membawa beban berat di pundak dan hal ribet lain di dalam bayangan saya.

Karenanya dari awal, tujuan saya ke Bromo hanya untuk menuntaskan whistlist saya,  pergi ke gunung setidaknya sekali seumur hidup. 

Pemandangan sepanjang perjalanan
Tetapi setelah melalui sederetan pengalaman seru ke Bromo ini, saya jadi tahu sensasi gunung dan mengapa orang-orang rela berpayah-payah membawa ransel berat, rela melakukan pendakian berhari-hari, rela melakukan apapun untuk sampai ke puncak gunung.

Saya kini tahu, ternyata wisata gunung itu menyenangkan sekali. Sensasinya beda. Dan nampaknya, saya akan ketagihan untuk pergi ke gunung lagi, esok-esok hari. :)

Mulai memasuki area parkir Kawah Bromo
Kabut tebal mulai terlihat lagi, menyelimuti areal pemarkiran. Kami datang di waktu yang tepat. Siang sedikit saja, tentu kami tidak akan mendapatkan pemandangan seromantis ini. :)

Udara mulai bertambah dingin lagi di sini. 

Para penawar jasa kuda di areal pemarkiran
Para penawar jasa kuda dengan pakaian khas mereka, mengalungkan sarung dan berdiri gagah di atas kuda mulai menawarkan jasanya.

Saya memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju kawah. Supir yang membawa kami (saya lupa nama beliau, *sungguh terlalu, :p), hanya memberi tahu bahwa perjalanan kami masih cukup jauh untuk menuju kawah. Setelah berjalan kurang lebih 1 km (atau lebih ya?). Kami masih harus menaiki 250 anak tangga.

Gunung Batok, masih dilingkupi kabut tebal
Karena tidak tertarik dengan tawaran naik kuda, saya tidak sempat bertanya harganya, saya hanya mendapatkan pesan dari Supir kami bahwa harga jasa kuda PP Rp.130.000.

Gunung Batok di waktu yang agak siang, tanpa kabut.
Dari sinilah perjalanan di mulai kembali. Sepanjang perjalanan, hamparan pasir terbentang, debu-debunya beterbangan bercampur dengan kotoran kuda yang nampaknya buang hajat sembarangan.

Suasana masih seperti di tempat penanjakan sebelumnya, ramai dan padat.


Saya melihat banyak sekali rombongan turis mancanegara. Mereka nampak gagah membawa ransel khas traveler dan bahkan beberapa membawa serta anak mereka, menggendongnya di pundak, tanpa terlihat lelah. Seorang turis cukup berumur yang bersama saya di dalam perjalanan bahkan berjalan gesit sekali mendahului dan sama sekali tidak terlihat terengah-engah.

Rata-rata yang naik kuda adalah turis domestik. Sepanjang perjalanan saya tidak melihat turis asing naik kuda!. Apa karena mereka sedang menghemat biaya? :)

Lautan pasir dan tampak dari kejauhan: Pura Luhur Poten
Tidak lama dari perjalanan, kami melewati bangunan Pura Hindu, Pura Luhur Poten. Ini Pura utama tempat masyarakat suku Tengger Hindu melakukan ritual keagamaan.

Tidak semua suku Tengger beragama Hindu. Supir yang membawa kami adalah warga Tengger beragama islam.

Dari pencarian yang saya dapatkan di Wikipedia, ada tiga teori yang menjelaskan asal nama Tengger.

  1. Tengger berarti berdiri tegak berarti berdiri tegak atau berdiam tanpa gerak, yang melambangkan watak orang Tengger yang berbudi pekerti luhur, yang harus tercermin dalam segala aspek kehidupan.
  2. Tengger bermakna pegunungan, yang sesuai dengan daerah kediaman suku Tengger.
  3. Tengger berasal dari gabungan nama leluhur suku Tengger, yakni Rara Anteng dan Jaka Seger.

Tentang Suku Tengger

Robert W. Hefner dalam bukunya yang berjudul Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam memaparkan bahwa Suku Tengger adalah keturunan dari para pengungsi Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit pada pada abad ke-16 menemukan titik terendahnya akibat serangan dari kerajaan Islam pimpinan Raden Patah. Karena hal itu banyak dari masyarakat Majapahit yang menyelamatkan diri. Sebagian ada yang mengungsi ke Pulau Bali dan sebagian lainnya menempati pegunungan di Jawa Timur ini. Mereka mengisolasi diri dari pengaruh orang luar. Mereka lah yang kemudian dinamakan Suku Tengger. (www.yukepo.com)


wisatawan yang naik menggunakan jasa kuda.
Menurut legenda Suku Tengger setempat, leluhur mereka adalah Roro Anteng yang merupakan seorang pembesar Kerajaan Majapahit dan juga Joko Seger yang merupakan putra dari seorang brahmana. Kemudian menikahlah Roro Anteng dan dan Joko Seger yang ikut turut mengungsi ke pegunungan Bromo. Keturunan Roro Anteng dan Joko Seger inilah yang menjadi Suku Tengger. Suku Tengger masih memercayai kepercayaan asli leluhurnya dari Majapahit. Para masyarakat Majapahit memiliki kepercayaan Siwa-Budha yang berkembang menjadi agama Hindu yang sekarang dianut sebagian besar Suku Tengger. (www.yukepo.com).



Setelah melaui lautan pasir, medan mulai menanjak. Pilihan untuk tidak naik kuda lagi-lagi menjadi tepat, saya dapat berhenti sejenak saat lelah, lalu memandang sampai puas pemandangan yang ada di sekeliling.

Medan mulai menanjak
Udara semakin hangat di sini. Beberapa wisatawan bahkan membuka jaketnya, sebagian lagi berganti pakaian menggunakan kaos oblong. Saya tetap menggunakan jaket tebal, ini masih tergolong dingin buat saya. :)

terus menanjak sampai puncak
Debu dari hentakan kuda terbang ke mana-mana, tetap gunakan masker di tempat ini.

Beberapa penawar kuda masih dengan gigih menawarkan jasanya. Semakin di  atas, harga semakin turun.


Saya mendapatkan tawaran Rp 100.000 turun ke Rp 70.000, turun lagi menjadi Rp 50.000, terakhir turun sekali menjadi Rp 10.000. :)

Cukup melelahkan sebenarnya, lelah tapi asyik dan seru. Untuk saya yang tidak terbiasa mendaki, pendakian seperti ini benar-benar cukup menguras energi.

Wisata Bromo ini masih recomended, aman untuk anak. Hanya, saran saya, sebaiknya ditimbang ulang kemampuan fisik anak, jika kelelalahan, anak-anak bisa menggunakan jasa kuda saja.

Tempat pemberhentian kuda, kemudian dilanjutkan menaiki 250 anak tangga.
Akhirnya sampai juga saya di atas.

Suasana saat menaiki anak tangga ini ramai sekali, padat. Apalagi saat sampai di kawah.



Wisatawan berjejal-jejal. Kami harus bersabar, menunggu hingga mendapatkan posisi yang pas untuk menyaksikan kawah.

Kawah Bromo
Bau belerang mulai menusuk hidung. Saya sudah mulai kehabisan tenaga. :).

Lagipula, di tempat ini padat sekali, saya tidak bisa dengan leluasa berjalan menuju lokasi melihat kawah dari posisi yang lain.

Bunga edelweis
Jadi, setelah dengan penuh perjuangan, berjalan di lautan pasir dan mendaki, waktu yang kami gunakan menyaksikan kawah sebentar sekali, tidak lama. Tapi cukup meninggalkan kesan. :)

Kapan lagi kira-kira saya bisa mendaki dan sampai ke kawahnya? :)

Saya memutuskan untuk turun, dan kali ini kami kembali ke bawah dengan menggunakan kuda.

Harga ditawarkan kepada saya Rp 75.000, saya tawar dengan harga Rp. 50.000.

Oh ya, di sepanjang perjalanan, banyak sekali penjaja bunga edelweis. Kabarnya, bunga ini sekarang mulai dibudidayakan di beberapa desa dan dikembangkan untuk suvenir wisatawan. Jadi ke depan, kita tidak perlu merasa bersalah dan was-was membeli bunga gunung yang sebenarnya tidak boleh sembarang dipetik ini.

Satu ikat bunga yang kami beli seperti dalam foto di atas harganya Rp 25.000. Bunganya bisa tahan lima tahun kata penjualnya, asal tidak disiram dengan air. Kalian bisa memilih ragam model dan warna. Kalau mau warna natural, beli dengan warna aslinya, bukan yang warna-warni. Bunga warna-warni ini sudah melalui proses pewarnaan.

----

Usai sudah perjalanan di lokasi Kawah Bromo.

Kami pun segera melanjutkan ke perjalanan berikutnya. :)


----
Masih bersambung, inshaAllah akan dilanjutkan nanti. :)


Tulisan ini diikutsertakan dalam program ODOP (One Day One Post) Blogger Muslimah Indonesia selama Bulan Oktober 2017.

#ODOPOKT3

Lanjutkan membaca kisah perjalanan wisata ini ke:
Tertusuk di Padang Ilalang, Tenggelam di Lautan Pasir, Bromo

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



8 komentar

  1. Huwaaa aku ngga ke penanjakan nih pas ke bromoo

    ReplyDelete
  2. Fotonya keren-keren dan bagus-bagus kok mbak, meski cuma fotonya lewat smarphone ya saya kirain pake kamera canggih. Seru yaaak perjalanannya.

    ReplyDelete
  3. Waaah mbaaa...ke broo tgl merah 21 kemaren?

    Saya juga...tp di bromoya subuh tgl 22...

    ReplyDelete