Wisata

-241- Air Terjun Gunung Rian: Destinasi Wisata Unggulan Tana Tidung, Kalimantan Utara

Saturday, July 01, 2017


AIR TERJUN GUNUNG RIAN: 
DESTINASI WISATA UNGGULAN TANA TIDUNG, KALIMANTAN UTARA


Bismillahirrahmanirrahim.

Saya beritahu satu hal bahwa; setiap orang membawa alasan di dalam perjalanannya. Ada yang memilih perjalanan sebagai upaya untuk berdamai dengan kehidupan. Sebagai bentuk penghiburan jiwa, tafakkur alam.

Ada yang menjadikan perjalanan sebagai cara untuk mencintai alam.

Ada yang menjadikannya candu, rasanya akan sesak jika tidak melakukannya dalam kurun waktu tertentu.

Ada yang menggunakan wasilah perjalanan sebagai cara untuk bersyukur, wujud ketertundukan, bentuk peresapan dari satu kalimat menghamba:
"Inna sholati wanusuki wamahyaya wa mamati, lillahi rabbil alamin." Q.S. Al-Anam: 162.

Dan masih banyak kemungkinan alasan-alasan yang lain lagi.

Saya ingin memilih salah satu dari keseluruhan alasan itu. Tetapi dengan hanya membawa satu, rasanya ada yang kurang sebab seringkali saya membawa lebih dari dua atau tiga alasan yang menyertai. 😃

Jadi, saya memilih membawa semuanya. Hanya masing-masing berbeda kadarnya. Kadang waktu, saya melakukan perjalanan dengan kadar yang paling besar ialah untuk bersenang-senang, menikmati keindahan. Di lain kesempatan saya melakukannya sebagai wujud tafakkur alam.

Di perjalanan kali ini, saya akan mengingatnya sebagai upaya penghiburan bagi jiwa.☺

Pohon Madu. Sebagian menyebutnya sebagai pohon kehidupan. Kantung-kantung itu adalah rumah lebah. Pemandangan ini didapati dalam perjalanan menuju Gunung Rian.

Saya beritahukan satu hal lagi bahwa; menyenangkan saat dapat melakukan perjalanan. Untuk alasan utama menghibur jiwa, dulu saya biasa melakukannya dengan memilih duduk di pinggir jendela saat menaiki bus kota. Saya memilih pinggir jendela, karena pemandangan di luar sana amat menjanjikan untuk dinikmati. Dan yang kedua, ketika tangisan dari jiwa ingin tumpah, saya bisa melakukannya, diam-diam, tanpa mengganggu yang lainnya.

Selain itu, akan menyenangkan karena di dalam perjalanan, kita akan menemukan setidaknya; pengalaman baru, orang-orang baru, tempat baru. Dan hati yang lebih lapang sepulangnya. 😀

Palang selamat datang persis di jalan masuk utama tempat wisata dengan ukiran khas Kalimantan. 

Karena itu pula, sah-sah saja jika kita menganggap kehidupan ini adalah sebuah perjalanan yang panjang. Karena memang demikian adanya.

Kehidupan ini ialah perjalanan menuju yang tidak kita ketahui kapan sampainya, tetapi kita tahu di mana letak tujuannya. Kita hanya diminta mempersiapkan perbekalan, bersabar atas semua rintang, menikmati setiap episodenya dan terus bersemangat dalam prosesnya. Life is an adventure, ujar sebagian penikmat petualangan, katanya ☺

Akses jalan dari jalan utama menuju Gunung Rian. Sekitar 2 km, bisa ditempuh kendaraan. Jalanan berbatu. 

Ada juga yang melakukan perjalanan sebagai cara untuk menghindar dari kenyataan. Masalahnya memang tampak pergi, sesaat, tapi sejatinya tidak pernah benar-benar selesai dengan sempurna.

Kecuali jika kita memilih berani untuk menghadapinya. Ini juga pilihan.

Karena itu, hiburlah diri untuk menguatkan kembali raga, hati dan rasa.

Perjalanan wisata bisa menjadi salah satu alternatif pilihan. 😀

Pintu palang selamat datang kedua di kaki gunung
Gunung Rian. Di sebelah sana, terlihat berkabut di atasnya. Dari kejauhan tampaknya kerdil saja. Saya memang tidak terbiasa menjelajah hutan dan gunung. Saya terbiasa 'ngesot-ngesot cantik' ke pantai tanpa perlu tenaga ekstra untuk mencapainya, kini menjajal kemampuan fisik untuk menaklukkan gunung dengan pendakian 😄. Yakin bisa? 😅

Daaaan....

Karena rasa penasaran yang telah memuncak sejak beberapa tahun silam tentang air terjun di gunung ini. Saya pun memilih dan merencanakan untuk datang berkunjung ke tempat ini. 


Tempat parkir kendaraan dan beberapa gazebo di dalamnya
Di sini. 

Di sinilah Allah dengan kuasaNya mengizinkan saya untuk kembali mencicip sebagian surga duniaNya: Air Terjun Gunung Rian: Destinasi Wisata Unggulan Tana Tidung Kalimantan Utara. 

Tidak ada ungkapan lain, kecuali kesyukuran. Kepadanya: Sang Pencipta. 

Ada beberapa kendaraan saat kami tiba. Penanda pengunjung di hari itu bukan kami saja. ☺
(Konon) katanya,

Akses jalan menuju ke tempat ini sudah sangat baik saat ini dibandingkan dulu. Mendengar cerita yang sudah-sudah, saya dapat mafhum, karena kondisi terkini yang ada memang terbukti jauh lebih baik. 

Jalan masuk menuju gunung. Di sini saya sudah mulai merasa 'menyerah' 😂

Jalan menuju tempat masuk sudah semenisasi. Jalan dari jalan utama juga sudah bagus meski masih berbatu.

Akses menuju desa Rian, tergolong dekat sejak ada jalan tembus baru, bisa ditempuh dalam waktu 45 menit dari ibu kota, Tideng Pale.

Tangga penurunan yang menandakan petualangan akan segera dimulai. 😀
Saya pergi bertiga saja, bersama Kak (suami) dan Fifi. Mulanya agak khawatir juga kalau-kalau hanya kami saja yang ada di tempat wisata ini. 😅 Khawatir terlalu sepi dan sunyi di tengah belantara.

Tiba di tempat parkir, beberapa mobil menandakan banyaknya pengunjung, alhamdulillah rejeki istri salehah 😂.

Hanya ada dua tas punggung yang kami bawa. Isinya baju ganti, dua setengah liter air, bekal makan siang, sarung dan mukena. Bawaan wajib traveler irit. 😎.

Jalanan melewati aliran sungai kecil, bebatuan, dan pepohonan.

Mungkin masih ada yang bimbang saat bepergian seperti ini, nanti saya salat di mana? Bagaimana salatnya? 

Nah, ini sedikit tips dari saya untuk wisatawan muslim/ah di manapun tempat petualangannya 😘.

Salatlah di tempat wisatanya. Syukur jika ada ruangan atau musala. Jika tidak ada, salat saja di tempat yang sekiranya nyaman untuk salat. Di atas tanah bisa di atas bebatuan bisa. Memanfaatkan gazebo bisa. Pastikan membawa karpet kecil, kain atau semacamnya sebagai alas untuk salat. Gunakan kompas atau aplikasi di handphone sebagai penunjuk arah kiblat atau manfaatkan posisi matahari. Pastikan selalu untuk membawa dan menggunakan pakaian bersih ya. 😘

Berwudhunya? Manfaatkan mata air, sumber air yang ada di situ. Atau sesuaikan dengan kondisi saja.

Gunakan sepatu tertutup atau sandal yang tidak licin saat ke sini ya. 😀
Kebetulan di Gunung Rian ini, saya tidak menemukan musala dan toilet umum tidak berfungsi dengan baik. Jadi saya berwudhu di guyuran air terjun. Kemudian salat di areal semenisasi sebelum tangga turun. 

Pulangnya, di simpang dari Kantor Desa Rian, ada satu warung di situ. Saya singgah kemudian menemukan ternyata di warung tersebut menyediakan toilet umum dan fasilitas musala. Gratis. Jarak warung dari palang selamat datang tidak begitu jauh, sekira 300-500 meter. Ini bisa menjadi alternatif pilihan saat perjalanan. 

Melewati pohon tumbang dan masih dengan bebatuan. 

Setelah dari tangga penurunan, petualangan pun dimulai. Menuju puncak, menemukan air terjun. 

Jalan mulai penuh kejutan dan sensasi. 😀. Agak becek, melewati pepohonan tumbang, mulai menanjak, bebatuan licin dan kadang sempit. Gunakan sepatu kets atau sandal yang tidak licin ya. Plis jangan pake high heel 😂. 


Menurut denah wisata yang saya baca di areal parkiran. Gunung Rian memiliki ketinggian 760 meter dengan suguhan air terjun tujuh tingkat.

Suasana hutan yang asri, menyegarkan, menyejukkan dan sukses membuat ngos-ngosan sehat keringetan plus kaki pegal-pegal 😂

Air terjun tujuh tingkat? Bagaimanakah wujudnya? Ini yang asli membuat saya penasaran.

Dan akhirnya terjawab sudah saat kami alhamdulillah sampai di tingkatan pertama. Suara airnya benar-benar menyejukkan dan menenangkan hati. ☺

Tetapi demi melihat sekumpulan anak-anak sekolah yang sedang berwisata dan mandi di situ. Kami memutuskan untuk mendaki dan mencari ke tempat yang di atas lagi.

Ternyataaah, anak-anak ini juga ikut penasaran dan naik ke atas pulaak. 😂. Jadilah kami berbagi tempat pemandian. 😄

Air terjun Gunung Rian tidak begitu besar dan deras, berundak-undak sehingga pantas saja dinamai tujuh tingkat. Di masing-masing tingkatannya, ada tempat guyuran air terjun yang dapat digunakan untuk mandi-mandi, itu pun tidak begitu luas. Jadi, terlalu ramai orang juga bakal tidak enak, terlalu sepi dan sendiri juga tidak enak karena ini di tengah-tengah hutan dan bebatuan. 😀.

Tipsnya: datang di hari-hari biasa (bukan hari besar) dan bersama teman. Lima sampai enam orang minimal. ☺


Tingkatan pertama (semoga saya tidak salah karena tidak ada penunjuk penjelasan tiap tingkatan) dan anak-anak kelas enam dari Kab Malinau yang sedang berwisata. 

Ada juga rombongan yang membawa peralatan bakar membakar, lengkap. Di sekitar tempat pertama ini, tersedia gazebo dan ruang yang cukup buat makan-makan rombongan dalam jumlah besar. 

Pesan: jaga kelestarian alam dengan tidak membiarkan sampah berserakan, utamanya sampah plastik. 👌


Air tingkatan kedua (semoga saya benar dalam penyebutan urutan tingkatan)

Jalan semakin curam dan licin saat kami berusaha naik ke tingkatan yang lebih atas lagi. Sudut kemiringan juga semakin mengkhawatirkan. Kalau saja sedang tidak membawa anak, mungkin saya akan mengikuti rasa penasaran untuk terus naik ke atas. 

Tetapi, patut hati-hati, bebatuan di sini cenderung licin. Beberapa kali saya terpeleset, demikian pula beberapa orang dewasa di hari itu. Jadi saya terus mengawasi Fifi agar berjalan di tempat dengan jarak aman dan mengawasinya saat mandi-mandi.

Tips: jika membawa anak, awasi benar-benar dan kontrol saat berlarian atau bermain. Lebih baik mengajak anak usia di atas balita. Di bawah batita, sebaiknya jangan. 



Tekstur bebatuan di Gunung Rian jauh berbeda dengan Moramo. Jika di Moramo, bebatuannya sama sekali tidak licin. Dan bahkan kita bisa berjalan di bebatuan tempat air terjunnya mengalir. Di Gunung Rian, bebatuannya licin, sehingga harus berhati-hati. 




Saya tidak menyelesaikan perjalanan sampai tingkatan teratas karena sedang membawa anak. 

Selebihnya kami juga tidak berani 😁

Karena di areal obyek wisata ini tidak ada petunjuk, tidak ada petugas jaga. Tidak ada pemandu wisata.

Ah ya, belum ada biaya masuk di sini ya. Kita bisa masuk dan bermain sepuasnya.

Berdasarkan cerita yang saya dengar, 😀

(Konon) katanya, pemandangan dari atas tingkatan ke tujuh cantik sekali. ☺. 

***

Tanpa terasa, matahari semakin bergeser, waktu menunjukkan pukul empat sore. Kami pun memutuskan untuk segera pulang. 😀

Alhamdulillah, perjalanan yang menyenangkan. 😍

Ini objek wisata yang masih alami, belum banyak terjamah, sehingga patut untuk dikembangkan.

Fasilitas umum seperti tempat beribadah, toilet, kantin, sebaiknya dikelola dengan baik. Alangkah lebih baik, ke depannya, dibuat jalan masuk (semacam tangga-tangga menuju tiap tingkatan). Juga tambahan pilihan area wisata, seperti tempat perkemahan, sarana outbond, panjat tebing (mungkin),  flying fox dan lainnya.

Saya juga malah berpikir, mata airnya bisa dikembangkan untuk usaha minuman air mineral kemasan untuk meningkatkan produktivitas daerah dan mendayagunakan masyarakat sekitar. 😀. 

***

Demikianlah kisah perjalanan di Air Terjun Gunung Rian. 

Saya juga merangkum perjalanan pada video di bawah ini: 😀

Belum semua kondisi di dalam bisa saya visualisasikan dengan baik, dan tentu saja belum sampai tingkatan teratas. 🙏


👇👇👇👇


Semoga berkenan menonton. 🙏🙏☺

***

Semoga informasi ini bermanfaat bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke sini ya. 🙏



You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



1 komentar

  1. Aslkm....aku pernah ke sini lhooo
    ..tempat yang bagus untuk mencari inspirasi...

    ReplyDelete