ODOP Blogger Muslimah Indonesia OKT 2017

-259- Televisi Sebagai Sarana Hiburan dan Edukasi Untuk Keluarga

Thursday, October 19, 2017

ilustrasi: www.pixabay.com
Bismillahirrahmanirrahim.

Di tahun-tahun awal pernikahan, tidak ada televisi di rumah kami. 

Sebabnya? karena saya dan suami berbeda pandang terhadap perlu tidaknya keberadaan televisi di rumah. Menurut saya, televisi atau yang akan saya singkat menjadi tv, lebih banyak pengaruh negatifnya, terutama nanti terhadap pola pendidikan anak, tumbuh kembang dan lain halnya lagi, saya cenderung tidak setuju ada tv di rumah.

Sementara suami, yang hobi sekali menonton berita, πŸ˜ƒ punya pendapat yang berbeda. Menurut beliau, kami perlu tv di rumah sebagai sarana hiburan, lenjeh-lenjeh dan mendapatkan gambaran terkini tentang dunia. Menurut beliau ada banyak acara positif dari tv yang mengandung nilai pendidikan dan sarana edukasi.

Lalu, karena kami sama-sama anak pertama, sama-sama keras kepala dan tidak mudah mengalah πŸ˜…, ada proses diskusi panjang hingga kurang lebih dua tahun lamanya. DUA TAHUN hanya untuk memutuskan hal seperti ini 😁.

Ah, kami memang berbeda dalam banyak hal.

Baca juga: Kita Begitu Berbeda Dalam Semua Kecuali Dalam Cinta

Selama kurang lebih dua tahun itulah kami tidak punya televisi, hingga akhirnya diskusi 'alot' itu membuahkan hasil:
kami memutuskan memiliki televisi di rumah. πŸ˜ƒ

Dengan catatan dan banyak pertimbangan tentunya.

πŸ“Ί Berapa jam harus menonton dalam satu hari. 

πŸ“Ί Tontonan apa saja yang boleh ditonton. 

Peraturan ini berlaku untuk semua anggota penghuni rumah, terutama untuk anak. Meski saya setuju dengan adanya tv, saya tetap ingin memastikan menjaga pendengaran dan penglihatan semua anggota keluarga dari hal-hal yang tidak memberikan pengaruh positif dan hanya menjurus pada kesia-siaan.

Kemudian disepakati jam menonton maksimal dua jam dalam satu hari. Setiap anggota keluarga boleh menentukan jam menonton diambil kapan. Pagi, siang atau malam. Tapi biasanya, semua mengambil jatah menonton di waktu bersamaan yakni di malam hari. πŸ˜„

Untuk Fifi, ada syarat tambahan yakni setelah selesai mengaji dan mengerjakan semua tugas pekerjaan sekolah. Karena tidak semua jam menyuguhkan acara yang baik ditonton untuk anak, kadang saya membantunya menentukan jam menonton dan memilihkan tontonan.

Apa saja yang boleh ditonton? semua tontonan inspiratif yang memberi nilai tambah. Ada banyak acara di tv yang menyediakan program tayangan inspiratif. Kick Andy salah satu program favorit yang biasa kami tonton. Yang lainnya? acara jelajah, jalan-jalan, edukasi, pengetahuan, ceramah agama, belajar Quran, berita, hal-hal unik, kehidupan hewan, dan masih banyak lagi.

Film anak? salah satu yang biasa kami tonton film Upin Ipin. πŸ˜‰. Ini film yang mengajarkan banyak hal, persahabatan, hikmah, budaya, dan berpengaruh banyak untuk Fifi. Yang lainnya juga masih banyak. Saya juga menyiapkan beberapa vcd film anak yang bisa ditonton untuk Fifi.

Karena Fifi anak visual, lebih mudah baginya untuk menangkap banyak hal dari tontonan.

Baca juga: Lebih Dekat Dengan Anak Visual

ilustrasi: www.pixabay.com
Karena kelebihan anak sebagai anak visual, hal yang mungkin akan terjadi dan mesti dihindari adalah saat anak mulai kecanduan menonton. Aturan menonton yang saya buat di rumah sangat membantu untuk mengurangi hal ini. Tapi, saya sempat kecolongan ketika Fifi bersama pengasuh dan menonton film di luar kesepakatan.

Baca juga: Ibu Bekerja, Anak Dititip Pada Siapa? 

Karenanya hal utama dalam pengasuhan anak adalah memastikan kita (sebagai orang tua) punya hak kuasa penuh di rumah. Dan, memang lebih enak jika tidak ada orang lain di rumah kita (berdasarkan pengalaman). 😊.

Selain sebagai sarana edukasi tak jarang kami juga menggunakan televisi sebagai sarana hiburan. Kadang, kami memilih tontonan dengan genre komedi atau menonton acara ringan seperti wisata kuliner, masak-masak, kuis dan program hiburan lainnya. Acara semacam Pesbu*er tidak termasuk di dalamnya. πŸ™ˆ

Baca juga: Tidak Ada Mahabrata di Rumah Kita

Jadi demikianlah, sedikit berbagi tentang bagaimana menjadikan televisi sebagai sarana hiburan dan edukasi untuk keluarga. Yang mana, kalau difikir-fikir lagi, semenjak ada anak, tv di rumah persis hanya menyala di jam tayang film kesukaan anak. Makin ke sini, rasanya keberadaan tv tidak lagi menjadi hal utama. Semua informasi terkini bisa kita dapatkan dengan mudah dari social media.

Tapi, sekali lagi, segala sesuatu memang selalu memiliki dua sisi. Positif-negatif. Baik-buruk. Begitu juga dengan televisi. Tergantung bagaimana kita memilah mana tontonan yang laik dan memberikan dampak positif untuk keluarga.

Tulisan ini terinpirasi dari post trigger Kumpulan Emak Blogger Kelompok Mira Lesmana dari Mak Anis Khoir, pemilik blog www.aniskhoir.com yang menulis artikel berjudul: Anak, Televisi Dan Sarana Edukasi



You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



7 komentar

  1. Acara gosip masuk yang ditonton ga mbak? Hihihi... saya sukanya di TV acara kuliner, masak2 atau wiskul. Doyannya makan sih :D Upin Ipin juga suka... tapi di rumah tidak ada MNC.

    ReplyDelete
  2. gosssip tinggal bukan L*mbe T*rah sesekali. πŸ˜…

    ReplyDelete
  3. Setuju, selama tv untuk sarana edukasi tetap berguna kok, asal tetap diawasi dan ada aturan-aturannya :)

    ReplyDelete
  4. Anak2 emang cepat belajar dari visual. Kebetulan di rumah pakai TV berlangganan jd ada channel2 anak berbahasa inggris. Meski demikian saya tetap batasin nontonnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah iya Mbak, selain tv juga ada gadget yang rawan bikin candu, :)

      Delete