Inspirasi

-245- Menjadi Generasi Penerus Ulama', dengan aktif Membaca dan Menulis

Saturday, September 09, 2017



Bismillahirrahmanirrahim.

Tadi pagi tepat sebelum saya menulis, saya baru tahu bahwa sebelum heboh atas pamitnya Tere Liye dari dunia perbukuan. Andrea Hirata di bulan Agustus lalu telah menyatakan pensiun dari menulis buku. 😰.

Tidak bisa digambarkan bagaimana perasaan saya. Saya merasa kehilangan. Karya-karya keduanya telah turut membersamai dan tentu sangat memberi arti atas pesan-pesan baik yang disampaikan.

Sebenarnya, tidak hanya untuk keduanya. Saya memang akan risau begini bilamana sudah menyangkut buku. Waktu taman baca kami sudah tidak beroperasi lagi, karena saya dipindahtugaskan ke tempat lain. Saya menangis sembari memasukkan buku-buku di dalam kardus. Hampir semua buku saya tinggalkan untuk diberikan ke perpustakaan sekolah. Berikut bersama semua peralatan dan isinya. Hanya sedikit yang saya bawa serta.

Sesenggukan sembari menyusun buku, saya selipkan doa, "ganti dengan yang lebih baik ya rabb." 😭

Tidak ringan memang memberikan harta yang paling dicintai kepada yang lainnya. Ini boleh diumpamakan jika kalian seorang perempuan pencinta Abekani. Lalu memutuskan menghadiahkan semua koleksi Abekani kepada yang lainnya. Aduhai, saya yakin pasti akan ada deramaaah serupa ini. 🙈

Untuk saya. Inilah harta berharga yang paling saya cintai: buku.

Bagaimana Saya Mengenal Buku

Sejak kapan saya mengenal buku?

Sejak saya kecil. Sebelum masuk usia sekolah. Ibu sudah terlebih dahulu mengajarkan saya menulis dan membaca. Waktu itu, tidak ada tempat hiburan. Kami tinggal di dusun terpencil. Sehari-hari saya hanya menguntit Bapak ke sekolah. Bapak saya seorang guru. Satu-satunya tempat hiburan yang saya datangi (atas saran Bapak) adalah perpustakaan sekolah. Banyak buku-buku cerita yang bagus di sana. Seringkali, buku-buku itu saya bawa pulang, lalu dibaca kembali di rumah. Begitu seterusnya. Kalau sedang rajin, saya ikut masuk ke ruang kelas, ikut mencoret-coret dinding dengan kapur saat Bapak mengajar. Lama-lama Bapak menjahitkan baju sekolah untuk saya. 😂. Saya jadi semacam anak bawang. Ikut sekolah tapi tidak dianggap sebagai 'murid asli' sekolah. 😁.

Sejauh yang dapat saya ingat. Di situlah saya mulai mengenal buku.

Buku dan Menulis

Menginjak kelas tiga, saya mulai disekolahkan di Jawa.

Baca juga: Masa Kecil Membahagiakan di Pesantren

Kelas empat saya dimasukkan ke pesantren. Saya ingat benar. Sebelum berpisah, Bapak memberikan saya sebuah buku agenda, saya bertanya,
"Ini buku untuk apa Pak?."

"Untuk nulis Nak."

"Nulis apa?."

"Apa saja. Tulis apapun yang kamu rasakan di situ Nak. Tulis apa saja di situ."

Sejauh yang saya ingat, di sinilah, saya mulai mencintai menulis. Sebab, sejak saat itu. Saya menulis hampir tiap hari, meluapkan apa saja yang saya rasakan di lembaran buku pemberian Bapak. Saya sangat terbantu dengan aktivitas surat menyurat yang kerap saya lakukan sebagai cara berkomunikasi dengan bapak dan ibu. Waktu itu, telepon masih sangat langka.

Saya mencintai keduanya. Buku dan menulis. Tetapi saya bukanlah pembaca yang baik. Kemampuan membaca saya masih jauh di bawah rata-rata. Sungguhpun, saya juga belumlah menjadi penulis yang baik. 😟 Tulisan saya tidaklah seberapa banyaknya. Dan bahkan, saya belum kuat menerima tantangan menulis 'One Day One Post' di bulan lalu. Saya kalah. Telak. 😭.

Saya hanya penikmat. Saya masihlah penggemar. Masih jauh sekali rasanya jika dibandingkan generasi terdahulu. Ulama-ulama terdahulu yang demikian giat dan dekat dengan ilmu. Islam pada masa kejayaannya, dalam sejarahnya, dilingkupi oleh generasi terbaik yang gemar sekali membaca dan menulis.



Ulama', Buku dan Tulisan

Mari kita tengok catatan sejarah mengenai kejayaan islam. Sejak turunnya islam, perintah pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad adalah,
"Iqra!." "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang agung." Ayat ini menegaskan perintah membaca. Pesan tersembunyi dari ayat ini ialah, jika ada perintah untuk membaca, maka tentu harus ada sesuatu yang dibaca atau bacaan. Dan bacaan, akan terlahir dari proses tulis menulis. Maka membaca dan menulis sejatinya ialah aktivitas yang saling terkait dan saling melekat, erat.

Pada masa Rasulullah, membaca dan menulis di konsentrasikan untuk penulisan Quran, hadits dan surat menyurat. Kebiasaan ini kemudian menunjukkan perkembangan yang signifikan di abad kedua hijriyah dengan dimulainya kodifikasi hadits Rasulullah. Di masa ini, muncullah Imam Malik dengan karyanya Muwatta', Imam Syafii dengan Al-Umm, Imam Ahmad bin Hambal dengan Musnad, Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan kitab sahihnya.

Puncaknya, adalah pada masa kekhilafahan Abbasiyah, di masa ini lahirlah ulama-ulama dengan karya-karya tulis yang menakjubkan dan fenomenal. Tulisan mereka berjilid-jilid, ratusan hingga ribuan judul. Ulama-ulama semasa ini tidak hanya pandai dan piawai dalam mengajar di masjid dan madrasah, tetapi juga lihai dan cekatan dalam tulis menulis.

Imam Ath-Thabari, seorang ahli sejarah dan ahli tafsir terkemuka, membiasakan diri selama 40 tahun untuk menulis 40 lembar setiap harinya. Empat puluh lembar setiap hari. Di zaman sesulit dahulu, empat puluh lembar setiap hari tentu tidaklah mudah tantangan yang harus dilalui. Kita saat ini? 😭.

Imam Ibnu Taimiyah menyelesaikan setiap buku dalam satu minggu. Beliau pernah menulis satu buku dalam sekali duduk. MasyaAllah luar biasa!. Menulis satu buku dalam satu bminggu. Postingan di blog ini saja baru menunjukkan postingan ke 245, sejak tahun 2011. Sedikit sekali. Tidak ada apa-apanya. 😭

Imam Abul Wafa' yang mendapat julukan manusia tercerdas di jagat raya oleh Ibnu Taimiyah menulis kitab Al-Funun dalam 800 jilid.

Imam Ibnul Jauzi menulis 2000 jilid dan tercatat bacaan yang pernah ia baca sebanyak 20.000 jilid.  

Imam An-Nawawi diceritakan sebagai ulama yang jarang sekali tidur malam dikarenakan kebiasaan beliau dalam menulis. Karyanya yang bisa kita nikmati hingga saat ini diantaranya ialah kitab Riyadus Salihin. 

Imam Ibnu Katsir meninggalkan tafsir Ibnu Katsir. 

Imam Al-Qurthubi dan masih banyak ulama lainnya. 

Ulama' dan Kebiasaan Mereka Dalam Membaca

Seseorang yang kosong (tidak memiliki apa-apa), tentu tidak akan mampu memberi. Seseorang yang berbagi melalui tulisannya, tentu harus memiliki sesuatu untuk dibagi. Sesuatu tersebut salah satunya didapatkan dari membaca. 

Para ulama' terdahulu senantiasa menjadikan aktivitas membacanya dengan porsi yang lebih banyak dibanding menulisnya. Dapatlah kita simpulkan bahwa, ketika semakin banyak bacaan yang dibaca, maka ia berpotensi mampu menulis lebih banyak. 

Wawasan. Bacaan akan menghasilkan wawasan, pengetahuan, ilmu. 

Dalam riwayat disebutkan bahwa seorang Sahib Ibnu Abbad menolak menjadi perdana menteri Samarkhand dengan alasan kerepotan memboyong buku-bukunya ke Samarkhand, dibutuhkan 400 ekor unta untuk memboyong seluruh buku miliknya. Bayangkan berapa banyak buku yang beliau miliki saat itu. 

"Selama menuntut ilmu, aku telah membaca buku sebanyak 20.000 jilid buku. Dengan buku, aku dapat mengetahui sejarah para ulama salaf, cita-cita mereka yang tinggi, hafalan mereka luar biasa, ketekunan ibadah mereka dan ilmu-ilmu mereka yang menakjubkan." Ujar Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah. Jika di misalkan saja, satu jilid berisi tiga ratus lembar, berapa banyak yang beliau baca? Nampak jauh sekali kualitas dan kuantitas bacaan yang telah kita khatamkan. 😭

Abu Bakar Al-Anbari mengatakan bahwa ia membaca seratus ribu lembar halaman buku setiap minggunya. Yang ini tentu membuat kita menangis lagi. Seratus ribu lembar dalam satu minggu. 😭

Imam An Nawawi, penulis Riyadus Salihin diceritakan sebagai sosok yang tak mau membuang waktu. Bahkan dalam perjalanan, ia tetap membaca buku dan menghafal. 

Meneladani Jejak Sukses Ulama'

Kisah-kisah di atas tentu hanya sekelumit kisah dari banyak sekali teladan baik dari generasi terdahulu.

Di Indonesia, kita juga mengenal ulama, sastrawan, budayawan, penulis sekaligus politikus seperti Buya Hamka. Beliau meninggalkan novel, cerpen dan tafsir sebanyak lima jilid. Masih ada nama-nama lain seperti halnya KH Mustafa Bisri, dan ulama-ulama serta cendekiawan muslim lainnya yang begitu gigih dan bersemangat dalam menggalakkan aktivitas membaca dan menulis.

Mereka menjadi panutan, tauladan bagaimana menjadikan aktivitas membaca dan menulis sebagai kebiasaan yang terus harus melekat dalam keseharian. 

Dewasa ini, dengan semakin majunya teknologi. Definisi membaca dan menulispun tentu harus pula berkembang dan maju. 

Survei UNESCO pada tahun 2016 mengungkapkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca. Ini dapat dijadikan sebagai pijakan tetapi bukanlah angka akhir. 

Membaca di era digital ini tentu tidak lagi berkutat pada bacaan buku (secara fisik), setiap harinya tanpa kita sadari, kebiasaan kita dalam bersocial media turut serta menyumbang dalam aktivitas membaca dan menulis kita. 

Untuk meneladani dan mengikut jejak generasi para ulama', ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam hal meningkatkan kecintaan kepada kedua aktivitas ini berikut diantaranya: 

1. Meniatkan segala aktivitas yang berhubungan dengan membaca, menulis, termasuk social media dalam rangka ketaatan kepada Allah. 

2. Menjadwalkan secara rutin menulis setidaknya satu kalimat setiap hari. Ini bisa dilakukan saat update status atau lainnya. 

3. Memilah dan memilih bacaan. Hindari membaca edaran hoax, saracen dan grup yang tidak penting dan hanya menjurus kepada kesia-siaan. 

4. Menamatkan untuk membaca satu buku dalam satu minggu. 

5. Aktivitas membaca dan menambah wawasan saat ini dapat digantikan dengan menonton tayangan yang bermanfaat. 

6. Menumbuhkan kecintaan kepada membaca dan menulis dengan membayangkan bagaimana semangat para ulama terdahulu. 


Membuat blog dapat juga menjadi salah satu sarana dalam hal menulis dan membaca. Menjadi blogger dan bergabung dalam sebuah komunitas akan menjadikan aktivitas sebagai blogger tidak hanya pasiv dan sekedar menulis saja. Tetapi juga menjadikannya sebagai aktivitas aktif dengan menjalankan beberapa program bersama misalnya. Blogwalking atau saling berkunjung, berdiskusi, belajar kepenulisan dan banyak lagi.


Menulis postingan ini sebenarnya lebih banyak untuk mengingatkan diri sendiri agar terus bersemangat dan Istiqomah dalam membaca dan menulis. Masih jauh rasanya kualitas dan kuantitas bacaan dan tulisan yang dihasilkan. Masih banyak waktu yang terbuang untuk hal-hal yang mengandung kesia-siaan. 🙏

Semoga tulisan ini dapat pula memberikan semangat untuk kita terus mencintai membaca dan menulis sebagaimana tradisi ini telah di jalankan sejak dahulu. Dan kita semua dapat menjejak, menjadi generasi penerus ulama'. Amin.



Tulisan ini diikutsertakan dalam PosTem (Postingan Tematik) Bulan September Blogger Muslimah Indonesia dengan tema "Budaya Membaca dan Menulis"

#PostinganTematik
#BloggerMuslimahIndonesia



Referensi sumber tulisan:
1. http://penachandra.blogspot.co.id/2014/02/meneladani-para-ulama-dalam-membaca-dan.html
2. https://mohekohadikuncoro.wordpress.com/2015/01/06/menulis-tradisi-ulama-islam-yang-terlupakan/amp/
3. https://rumaysho.com/3343-banyaknya-karya-ulama-dalam-tulisan.html
4. http://mrepublika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/15/02/20/nk28we-menengok-karya-ulama-terdahulu.html

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



41 komentar

  1. Tulisan yang indah tentang semangat membaca dan menulis...:)
    Nggak kebayang dengan para Ulama kita yang menulis dan membaca sedemikian hebatnya...Keteladanan yang patut ikuti!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya Mbak, patut sekali menjadi teladan buat kita. 😊

      Delete
  2. Jadi ingat dulu juga sering diajak ayah dan ibu untuk mengajar di sekolah, seringnya diajak ke kelas dan mulai mencorat-coret di papan tulis dengan gambar ataupun tulisan yang baru kubisa dan akhirnya dikenalkan dengan majalah Bobo yang dibawa salah seorang muridnya, dan akhirnya duduk manis di pojokan kelas sambil menikmati majalah kesayangan tanpa mengganggu kelas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ih samaaan Mbaaak. Saya juga dulu sejak kecil ikut Bapak ke sekolahan kerjaannya juga corat coret. 😊

      Delete
  3. Tulisan yang mencerahkan. Terimakasih sudah berbagi :)

    ReplyDelete
  4. SubhanAllah.. keren tulisannya, mbak :) Semoga kita yg (sedikit) suka nulis n baca ini menularkan kebiasaan ini ke anak2 ya. Supaya generasi kita kelak lebih cerdas dan lebih saling berbagi daripada kita ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak. Ini peer buat kita semua ya. Meneruskan kebiasaan baik untuk anak cucu generasi ke depan kelak.

      Delete
  5. Keren, Mbak. Semoga kita bisa meneladani semangat para ulama, Amin.

    ReplyDelete
  6. Anak seorang guru keliatan ya nulisnya bagus hehehe... Dan dari dulu anak guru itu sering terkenal kutu buku. Atau cuma di daerah saya? Hehe, di sekoalh saya anak guru selalu jaid juara soalnya :-D

    ReplyDelete
  7. Duhhhh aku langsung pengen balik badan rasanya. Bulan kemarin aku cuma tamat 3 buku. Bulan ini baru 1 buku, itu pun karena buku tutorial. Menulis? Ga ada 40 lembar sehari. Waktu ikut ODOP cuma bisa bikin tulisan 500-700 kata.
    Beca tulisan ini aku berasa dicambuk untuk lebih baik lagi. Menarik sekali tulisannya, Mbak. Terima kasih sudah diingatkan untuk menambah kemampuan membaca dan menulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama Mbak. 😭😭. Ini sebenernya sedang mencambuk diri sendiri. 😭😭

      Delete
  8. Kita haarus belajar banyak dari para ulama kita di masa lalu.

    ReplyDelete
  9. Mbak Istik terlalu merendah ih. Tulisan keren begini kok bilange tulisan belum bagus hehe.
    Terimakasih untuk sharing yang bermanfaat ini :)

    ReplyDelete
  10. Masya Allah, bagus tulisannya Mbak.
    Terima kasih sudah mengingatkan kembali tentang para pewaris nabi. Mereka mendapat gelar itu karena kecintaannya pada belajar dan ya, mewariskan tulisan dalam kitab-kitab mereka.
    Salam kenal, Mbak Istik ^^

    ReplyDelete
  11. luar biasa aktivitas menulis dan membaca di masa kejayaan Islam ya mbak.. jadi malu..

    ReplyDelete
  12. Masya Allah pencapaian membaca dan menulis para ulama luar biasa ya. Aku malu...1 buku sebulan aja kok ya ga kelar-kelar. Perlu dibuat jadwal nih.

    ReplyDelete
  13. Baru tau aku, kalo anfrea hirata juga gantung pulpen, wah mestinya pemerintah serius memerhatikan ini.

    ReplyDelete
  14. Wah, Andrea Hirata juga? serius baru tahu mba. Salut untuk Bapak nya Mbak Nurin, yang menjadi wasilah Mbak suka menulis :D

    ReplyDelete
  15. Jadi tertunduk malu, duh, saya sudah menulis sebanyak apa? Saya sudah membaca sebanyak apa?
    Kebiasaan para ulama, membaca dan menulis, yang membuat nama-nama mereka semerbak bahkan hingga kini, jauh setelah mereka telah tiada.
    Semoga, kemampuan menulis yang Allah berikan kepada kita dapat kita pertanggungjawabkan dengan banyak-banyak berbagi kebaikan lewat tulisan. Aamiin.

    ReplyDelete
  16. Terimakasih buat sharingnya Mbak, semoga kita dapat meneladani para ulama.

    ReplyDelete
  17. Membaca dan menulis seiring sejalan.

    ReplyDelete
  18. Bapaknya hebat banget, memberi buku diary buat belajar jadi penulis. Pastinya kebiasaan menulis bisa terus dilakukan berkat pupuk yang disebarkan sedari kecil

    ReplyDelete
  19. Luar biasa yaa Mbak, para ulama sampai bisa menulis buku dalam sekali duduk. Saya sendiri jarang bisa selesai dalam sekali hadap laptop. Itu juga kualitasnya masih jauuuuh... *sembunyiin muka 😷

    Semoga semangat ulama mencari ilmu dan menuliskannya lagi itu menular pada kita. Terima kasih udah berbagi, Mbak... ;)

    ReplyDelete
  20. Saya teringat dengan buku Perjalanan Ulama Menuntut Ilmu, benar-benar membuat saya merasa 'tertampar' karena masih belum rutin membiasakan mengisi waktu luang dengan membaca.

    ReplyDelete
  21. Alhamdulillah dapat sesuatu lagi dengan membaca ini. Terima kasih informasinya. Sambil hiks-hiks melulu, membayangkan para ulama, salafushshalih duluuu yg bacaanya wuiih. Bikin malu. ODOPku gak mulus jugaaa, :'(

    ReplyDelete
  22. MasyaALlah ya belajar dari pada ulama, menjadikan kita sadar bahwa kita belum ada apa-apanya dan harus terus mencari ilmu. Thanks remindernya Mba... :)

    btw saya juga sedih banyak yang walk out dari nulis menulis :(

    ReplyDelete
  23. Kalo membaca kisah ulama bagaimana membaca dan menulisnya, kita bukan apa-apa

    ReplyDelete
  24. Meneladani suka baca dan tulis seperti para ulama ini sebenarnya harta karun ya.

    Kota jadi ikut dapet ilmu berharga.

    Siplah!
    Yuk baca tulis!💪

    ReplyDelete
  25. Bagus sekali mba, mengambil teladan dari para Ulama.
    Terima kasih sharenya.

    ReplyDelete
  26. Saya dulu suka dibawa acara bedah buku.

    Saya sadar bapak saya bukan ulama maka saya menulis

    ReplyDelete
  27. MasyaAllah mbak kok merinding ya baca bagaimana para ulama sebegitu mencintai menulis dan membaca..

    ReplyDelete
  28. Orang yg suka baca umumnya suka nulis dan bisa nulis ya

    ReplyDelete