Cinta

-200- 3 Perempuan, 3 Sudut Pandang dan Letak Kebahagiaan. #Perih(al) Perempuan Ketiga

Wednesday, July 27, 2016



Bismillahirrahmanirrahim, 

Ini adalah kelanjutan kisah dari seri

::: 3 Perempuan, 3 Sudut Pandang, dan Letak Kebahagiaan ::: 


Sebelumnya : 

  #Tentang Perempuan Pertama



# Perih(al) Perempuan Ketiga #


Wajahnya malu-malu, tersipu, tapi terus menerus mengikuti pencuri pandang berparas tampan di seberang penghadapan. Laki-laki yang diantara kerumunan di sekitaran papan pengumuman, terus menerus menoleh ke belakang, mencari celah, satu kali, dua kali, beberapa kali, memandang perempuan berpakaian serba putih dengan rok cokelat yang nampak canggung dengan pipi kemerah-merahan. 

Senyumnya menawan, tepat menghunjam jantung sang perempuan. Gelombang perasaan saling berbalas. Campuran antara canggung, malu-malu dan mengangkasa. Barangkali, perempuan ini sedang jatuh cinta. Pada pandangan pertama. Di hari pertama pembagian kelas pada semester pertama. Pada laki-laki yang bermata tajam dengan senyum menawan. Di usianya menjelang tujuh belas, masa keemasan, cantik merekah, muda dan belia. 

Jatuh cinta pandang pertama ini pun mengakar, mereka bertemu pada berbagai kesibukan. Organisasi, jalan yang kemudian mempertemukan. Tidak ada apa-apa. Tidak ada kata tembak atau terima. Hanya degup jantung yang bergenderang cepat saat tak sengaja bersitatap, rindu menggebu saat tak bertemu, kabur mengambil langkah seribu ketika benar-benar melihat sang pujaan di hadapan. Panas dingin saat berbincang, dan melamun sembari tersenyum-senyum saat sendirian. Inilah masa yang dapat diingatnya, masa indah merasai jatuh cinta. Kenangan tak terlupakan bagi sang Perempuan Ketiga. 


Bahkan, saat mengisahkan ini kembali, senyumnya terus berkembang. Membayangkan satu peristiwa demi peristiwa dengan runut, hanya sayang tak dapat terulang. 
Empat tahun perkuliahan dilaluinya dengan menahan perasaan. Ia tahu, tak laik baginya mengumbar terlebih dahulu perasaan tanpa persiapan yang pasti mengenai pernikahan. Sering, ia menepuk-nepuk pipi, atau jangan-jangan hanya ia yang terlalu kegeeran. Mengganggap perhatian sebagai bentuk kasih sayang berlebihan. Jangan-jangan cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi, lagi-lagi, perasaan yang terlampau sulit dibendung itu, tak dapat dinafikkan.

Suatu hari, di dalam bus kota, pelan-pelan perasaan membuncah itu ia sampaikan, pada kawan terdekatnya, takut-takut bercampur malu. Sudah semester akhir, menjelang wisuda, apa salahnya. Belum sempat mengurai cerita, kawannya itu mendahului, 

"Kamu sudah tahu belum? Tentang Arif? Dengar-dengar Arif mau nikah? Bulan depan, setelah wisuda"

"Oh ya?", bagai petir di siang yang terang benderang, ia hanya mampu menelan ludah, tanda kekecewaan. Maka, selepas kawannya itu turun, membuncahlah derai tangis yang sejak tadi tertahan, sepanjang perjalanan ia mengisak tanpa suara, terus menatap dinding kaca, menangisi kacaunya perasaan, pada cinta bertepuk sebelah tangan, rupanya begitu menyakitkan. Sungguh!. 

Dan, di hari itu, untuk pertama kalinya, ia merasai perasaan menusuk, yang dinamai patah hati, pada usianya yang belum genap dua puluh. Patah hati pertama yang terlampau menyedihkan. Patah hati sebelum sempat menyatakan perasaan, mengajukan diri dan mengajak serius ke jenjang pernikahan, sangat menyakitkan. Sungguh!

Kisah selanjutnya ialah masa-masa beranjak untuk kembali ke kenyataan. Perempuan Ketiga ini bukanlah perempuan sembarangan. Parasnya cantik menawan, prestasinya bersinar cemerlang, ia menjadi gadis pujaan sekaligus rebutan. Di masa-masa kuliah, bukan tidak ada yang datang untuk melamarnya, bahkan sejak SMA, sudah banyak lelaki bertandang untuk meminang. Tapi masa SMA pikirannya masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan, masih jauh dan belum kesampaian. Sementara saat kuliah, itu masa-masa di mana ia sedang jatuh cinta, belum ada pikiran untuk menikah dengan laki-laki selain sang pujaan. 

Maka, setelah pernikahan Arif, ia tahu, hidupnya harus terus berkelanjutan. Beberapa kali tawaran perkenalan datang, tapi hatinya masih terpaut di masa terbelakang. Lagi-lagi selalu ada celah untuk membandingkan. Tanpa sadar, ia menginginkan sosok sesempurna Arif. Meski tak begitu tampak, tetapi hal demikian terkejawantahkan. Ada saja alasan untuk menolak pinangan. Tidak cocok dengan suku, kurang suka dengan sifat, sampai dengan tidak sreg dengan tampang. Rupanya, bangkit dari masa lalu, membersihkan hati dari bayang-bayang pandang pertama, sungguh menyakitkan!. Sungguh!. Dan ketika itu, usianya semakin bertambah. Kini, genap dua puluh enam.

Bismillah. Dikuatkannya hati untuk benar-benar melangkah. Di suatu hari, ibunya dengan ria mengisahkan seorang calon lelaki kepadanya. Baru lulus kuliah, sedang meretas usaha, tinggi, tampan, dan siap menikah dan masih ada hubungan kekeluargaan meski jauh. Katanya, antar orang tua sudah saling cocok. Dan sang lelaki, adalah lelaki penurut, yang siap dinikahkan dengan perempuan mana saja, pilihan ibunya. Bulan depan rencananya keluarga besar akan mengajukan lamaran. Dan esok, adalah waktu, sang lelaki berkunjung membuka pertemuan, tanda perkenalan. 

Betapa gembira hati Perempuan Ketiga ini, direndanya kembali, jalinan mimpi yang sempat padam, pernikahan. Apalagi saat pertemuan pertama, calon laki-laki tak disangka mampu memberi getar hati, juga gemetar kaki-kaki. Senyumnya seperti kembali, mimpinya akan mewujud, sebentar lagi. 

Dan, satu bulan yang biasanya singkat menjadi seutas waktu yang teramat lama dinanti. Tapi akhirnya tiba juga. Pagi-pagi sekali ibunya sudah sibuk menanak nasi, menyiapkan banyak lauk, minuman dan menata ruangan. Hatinya ikut berdegup menerima sepotong pakaian baru yang direnda oleh ibunya, diam-diam sebagai hadiah suka cita. Rencananya keluarga calon besan akan datang jam sepuluh pagi, jika tak ada aral melintang ataupun hambatan. 

Pukul lima sore, tak satupun mobil yang terlihat datang, apalagi keramaian. Keluarga Perempuan Ketiga mulai cemas, khawatir, takut terjadi sesuatu di jalan. Beberapa nomor dihubungi, namun juga tak ada jawaban. Ia pun mulai khawatir, ketakutan. 

Esoknya, telepon rumah berbunyi, ibunya setengah berlari buru-buru mengangkat. Kabar yang dinanti pun tiba juga. Permohonan maaf dari keluarga di kota seberang bahwa lamaran dibatalkan. Wakil keluarga calon besan menyampaikan beribu permohonan maaf dikarenakan hari kemarin tiba-tiba calon laki-laki menyampaikan keberatan pada ibunya, ketidaknyamanannya, kekurangmantapannya, dikarenakan usia yang terpaut jauh. Bukan main, beda enam tahun. Saking shocknya, sang ibu laki-laki pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Itu mengapa, semua nomor sulit dihubungi. 

Deg! jantung Perempuan Ketiga seperti tertusuk dua puluh pisau pengiris daging. Sakit! Sungguh! Ditolak dengan alasan yang sungguh diluar dugaan. Itu kali pertama ia tahu, bahwa umur suatu waktu bisa jadi sebuah permasalahan. Ini adalah pengalaman pertama, ia ditolak oleh lelaki, karena umur. Ya, karena usia. Dan, saat itu, ia genap berusia dua puluh delapan tahun. 

###

Di usia jelang tiga puluh. Usia rawan. Ayah dan ibunya sudah khawatir, kelimpungan, mulai buncah mencarikan jodoh. Semua kenalan dihubungi, semua jalan dicoba, belum juga membuahkan hasil. Ada saja cara Allah untuk belum memperlihatkan tanda-tanda berjodoh. 

Di usia tepat tiga puluh, Perempuan Ketiga ini diam-diam mengisi formulir penghilang kejenuhan. Pendaftaran beasiswa kuliah strata dua. Tak disangka, penantiannya berbuah. Ia pun mulai melupakan sejenak kesedihan, tentang kegagalan-kegagalan yang dialami soal pernikahan. Ia ingin menjadi pribadi yang berguna, tidak diam di tempat. Mengalir, memberikan makna. Dan, belajar menjadi obat mujarab yang tepat. 

Tentang perkataan orang, jangan tanya, ia sudah mulai kebal menghadapi pertanyaan yang ramai pada bulan-bulan Syawal semacam, "kapan nikah?", "mana undangan?", "mana nih calonnya?". 

Ia juga sudah mulai biasa menahan hati yang teriris-iris karena ditinggal menikah. Oleh teman seangkatan, adik-adik tingkat, teman-teman dekat, juga oleh kedua adiknya yang kini telah beranak. Ia juga sudah mampu bertahan menahan sedih lantaran -entah kecewa atau marah- membaca status-status kasmaran, atau sepasang suami isteri yang sedang asyik berpacaran, gandeng-gandeng tangan atau sedang suap-suapan. Kesendirian itu perih! pedih! sungguh!. 

Selepas kelulusan S-2, seorang kenalan temannya, mengajak taarufan. Ia sudah pasrah, tapi langkahnya mantap, bismillah. Pertemuan pertama, alhamdulillah. Kedua, pihak lelaki meminta waktu, satu minggu katanya. Tapi sampai lebih dua minggu, belum ada kabar berita, hingga genap satu bulan lebih dua hari. Dan, betapa telaknya, saat ia tahu, sang lelaki mengundurkan diri lantaran sebab pendidikannya. Ditambah keminderannya dengan kemandiriannya. Itu, untuk pertama kali, dalam hidupnya, ia mengetahui bahwa selain umur, pendidikan dan berpenghasilan bisa menjadi petaka juga. Di hari itu, di usianya jelang tiga puluh lima. Sakit! Sungguh!

Hari-hari selanjutnya, ia sibuk menyibukkan diri. Belajar ikhlas, belajar sabar. Hingga suatu hari, tak sengaja bertemu kembali dengan sesosok lelaki baru. Berperawakan tegap, tampan, dan pandai perihal agama (kelihatannya). Sebenarnya bukan benar-benar baru. Mereka adalah teman lama, seangkatan saat SMA. Dahulu, pernah terjadi semacam perasaan suka yang diam-diam. Maka, pertemuan di reuni itu menjadi penyentik perasaan, seakan kembali pada masa muda. Ada sesuatu yang terasa lain dan berbeda, di hati Perempuan Ketiga ini. 

Dengan senyum mengembang, ia meminta saya memata-matai sosok lelaki ini. Melihat akunnya, membaca sekilas tentang profilnya, dan berpendapat tentang fotonya. 

"Bagaimana menurutmu?", tanyanya berbunga-bunga. 

Baiklah, laki-laki ini memang sosok berbingkai sempurna. Berparas menawan, dewasa, berpengetahuan, berpenghasilan, dan jangan lupa, paham agama, serta berpenampilan mirip seorang kyai lulusan Sudan. 

"Menurutmu bagaimana?", saya membalik tanya. 

"Dia laki-laki baik, penyayang, perhatian, dan sosok calon suami ideal yang kuimpikan". Tentu saja, ditambah ketenarannya menjadi narasumber di mana-mana, seleb facebook karena petuah-petuah bijak yang ditumpahkannya, dan wajah tampannya yang menyihir, mudah saja, bagi perempuan mana saja untuk luluh dan tertawan. 

"Oh ya? Tahu darimana?"

"Dari chat dan grup"

Saya hanya mendiamkan, mendengarkan cerita-ceritanya. Sebab, perasaan Perempuan Ketiga ini sedang berada di atas awan. Tapi, jauh di lubuk hati saya yang terdalam, saya tidak mengaminkan hubungan keduanya. Saya tidak begitu suka dengan sosok semacam ini. 

"Lalu, kapan, ia datang melamar?"

"Katanya, nanti, menunggu kesiapan keluarga"

"Kapan?"

Hening. Tidak ada jawaban. 

"Dan, emmm...bagaimana dengan istrinya?" Pelan-pelan saya bertanya tentang ini. 

"Katanya akan dikondisikan"

"Katanya? Kapan?". 

Hening. Tidak ada jawaban.

"Menurutmu bagaimana?", canggung, ia mulai bertanya. 

Saya hanya tersenyum, tak menyuguhkan penyelesaian. 

Poligami dan perselingkuhan adalah dua hal yang jauh berbeda. Poligami diperbolehkan, sementara perselingkuhan -dalam bentuk paling halus sekalipun, sekedar smsan, sayang-sayangan- tetap tak mengubahnya menjadi mubah, apalagi halal. Saya ingin mengatakan, kepada jomblowati-jomblowati mulia, untuk tak merendahkan martabat dengan cara sedemikian hina. Sebaik apa pun bingkai lelakinya, jika ia berani memberikan janji pernikahan dengan cara demikian -perselingkuhan- sungguh, percayalah, ia bukan calon suami yang baik, lagi membaikkan. 

Tetapi, untuk ukuran Perempuan Ketiga, berempati dengan cara yang paling halus dan sopan pada akhirnya yang saya gunakan. Ini rumusan sederhana, saat kalian menjadi pendengar, terlebih untuk sesama perempuan, jangan pernah menyalahkan, menyudutkan, sok memberi jalan keluar, dengan mengabaikan perasaan. 

Untuk Perempuan Ketiga, yang telah lama menantikan pasangan, harap-harap cemas untuk sebuah hubungan, dan sedang melambung ini, saya hanya mengatakan, 

"Bagaimana jika engkau mencoba menempatkan perasaan sebagai isteri pertama"

Karena saya percaya, ia perempuan baik, dan tidak akan sampai pada tindakan yang lebih membahayakan, maka ocehan kami selanjutnya adalah tentang rencana pernikahan. 

"Kurangi intensitas percakapan"

"Minta ia segera datang melamar"

"Putuskan atau halalkan"

Tanpa sadar, logikanya mulai tergiring. Saat seseorang yang dibutakan oleh cinta mulai bisa berlogika, maka semua nasihat kebaikan akan masuk dengan mudah. 

"Aku putuskan semua jalur komunikasi. Dia marah, tapi aku biarkan. Aku telah menunggu satu tahun dalam kesia-siaan, tanpa kejelasan. Ia menginginkan hubungan seperti sedia kala, tapi ia tak pernah berani datang melamar". 

Dengan berkaca-kaca ia menyampaikan ini, dan saya tahu betapa perihnya dipermainkan, dianggap hanya kekasih berbincang, tempat pelampiasan, oleh lelaki berbingkai sempurna, yang seenaknya saja menggunakan ayat sebagai panglima apa yang ia buat. Di muka, terlihat sebagai ustad. Di akhlak, sungguh jauh dari syariat. 

Sungguh, betapa halusnya, syaithan membisik-bisikkan. Apa yang hari ini kita saksikan bahkan dalam wujud yang lebih berani dan terang-terangan, bisa menimpa siapa saja. Itulah mengapa, ada tuntunan menjaga pandangan. Adab untuk tidak hanya sekedar menjaga mata secara kasat, tetapi juga adab-adab dalam pergaulan, agar tidak terlewat batas. Sebab, di dalam cairnya perbincangan dua lawan jenis bukan mahrom, syaithan akan dengan mudah mencari celah dan menunggu kesempatan. Kadang, hal-hal ini terjadi karena sesuatu hal yang sepele, dan remeh. 

Ini pelajaran yang sangat berharga. Perempuan Ketiga ini kembali belajar, dalam penantian, butuh kesabaran, bukan ketergesaan. Dalam pernikahan, butuh cara yang membawa kebarokahan. Pernikahan tidak untuk satu hari. Pernikahan ialah untuk abadi. 

Ia belajar juga tentang satu hal, tentang laki-laki matang dan terlihat sempurna sebagian besarnya ialah laki-laki dengan isteri berhati mulia dan anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Bukan ia menolak perihal poligami, tapi caranya. Ia masih ingin menjadi wanita mulia lagi dimuliakan dengan pinangan yang terhormat. Dan, semua pelajaran yang didapatkannya ini ialah pada usianya yang genap tiga puluh sembilan. Jelang empat puluh. Masa-masa kritisnya. Mengingat umurnya yang kesekian, hatinya bukan lagi teriris atau tertusuk. Rasaya sudah seperti tak punya hati. Perih! Hancur! Sakit! Sungguh!.

Rasanya ia tak berani bermimpi lebih jauh.

Hampir empat puluh tahun. Hampir empat puluh tahun. 

Dan, ini yang membuatnya, kemudian lebih banyak memilih diam. Sibuk dalam banyaknya kegiatan yang menenggalamkan. 

Sambil sesekali, menengok kalender, dan membuka tutup undangan. 

Ini bulan Syawal, 

"Begitu banyak yang memberiku undangan di bulan ini, begitu banyak, hahaha". Katanya pada saya dengan tawa getir yang dipaksakan. 


Untuk kalian yang bertanya-tanya,


"Bagaimana rasanya kesendirian?"

Kesendirian itu sedih! Perih! Sungguh!


Lanjut Membaca seri ini di sini


You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



6 komentar

  1. Selesai jga serinya ya Rin..
    Share cerita ini jadi pengingat buat yang membaca..Jempol!

    Kemarin sempat komen juga di tulisan tentang perempuan kedua tapi kayaknya nyangkut :D

    ReplyDelete
  2. Aku kok biasa aja ya lihat orang-orang pada nikah? Aku gak normal yak? XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih normal En. Itu tanda bahwa Eny memiliki hati yang lapang dan tenang. :)

      Delete
  3. akhirnya selesaai juga bacanya,, :) bagus bgt mak nurin.hmmmm yg jelas standart kebahagian setiap individu berbeda, yang sering terlupakan adalah betapa gampangnya qt menyimpulkan terhadap kehidupan seseorang dan tak berempati.
    dan terkadang betapa qt kurang bersyukur terhadap rizki yg qt miliki,,tetiba baper :( (pengen langsung meluk si kk arkhan ma dedek syifa, dan minta maaf ma suami atas kekurangan dalam berumah tangga selama ini)...

    xoxo
    vivin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum selesaaai Mak Vin. Ini bukan akhirnya. Ayoo baca akhirnya lagi :D

      Delete