Statistisi

-283- Notulen Seminar #InspirasiMenulis2 Bersama Mbak Tasmilah

Tuesday, February 20, 2018




Bismillahirrahmanirrahim.

Tasmilah, SST, perempuan kelahiran 10 September 1983 ini merupakan lulusan D-IV Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) jurusan Ekonomi yang sehari-hari merupakan Pejabat Fungsional Statistisi Muda BPS Kota Serang. Saat ini beliau menduduki jabatan sebagai staf Seksi Produksi.

Jamak diketahui, beban pekerjaan kota tentu jauh lebih padat dibanding wilayah non kota. Faktanya, Mbak Tasmilah menjadi salah satu perempuan yang sangat produktif dalam menulis, terutama Opini sebagai salah satu cara untuk memasyarakatkan data. Pekerjaan yang tidak ada hentinya, membuatnya berpikir sebuah perubahan bagi dirinya sendiri. "Saya harus berubah dengan menulis," demikian ucapnya suatu hari.

Pagi sampai sore Mbak Tasmilah bekerja sebagai pegawai BPS, beliau selalu berusaha menyelesaikan semua pekerjaan di kantor dan tidak membawa pulang peer ke rumah. Ini tips pertama.

Sampai di rumah, fokus ke anak-anak dan keluarga. Mbak Tasmilah adalah ibu dari lima anak. Di rumah, saat hari kerja, Senin-Jumat, Mbak Tasmilah dibantu oleh seorang asisten rumah tangga yang datang pagi pulang sore untuk menjaga anak-anak. Sementara urusan masak tetap dilakukan oleh beliau. Anak keempatnya memiliki riwayat mudah alergi dan kejang demam. Sementara bayi kelimanya prematur dengan kondisi hipoplasia. Dan alhamdulillah, kondisi sang bungsu semakin membaik, sehat dan normal.

Pada hari Sabtu, sejak pukul 08.30 Mbak Tasmilah memiliki jadwal mengajar tahsin di komplek perumahannya, berlanjut sampai pukul 16.00 sore. Ahad pagi, adalah waktu kebersamaan bersama suami dan anak-anak. Ahad sore berlanjut dengan kegiatan pengajian komplek dan arisan rutin RT, kegiatan ini sekaligus sebagai kegiatan semrawung dengan tetangga sekitar.

Lalu, kapan Mbak Tasmilah menulisnya? :). Ini tentu menjadi pertanyaan setiap perempuan, terutama saya, ketika mendengar kisah dan melihat jadwal padatnya. :)

Mbak Tasmilah memaksa membaca atau menulis di Sabtu/Ahad pagi sebelum aktivitas lain. Itupun dengan catatan kondisi anak-anak sehat.

Dengan rutinitas beliau di kantor, mengurus keluarga dan lima anak, punya waktu untuk bersosialisasi dan berkontribusi untuk masyarakat, dan sedikitnya waktu menulis yang hanya menyiasati waktu akhir pekan, beliau telah berhasil menulis 69 artikel opini di 14 media (lokal maupun nasional). Terakhir, tulisan Mbak Tasmilah nangkring dengan cantiknya di Kompas, menunjukkan bahwa menulis telah menjadi bagian dari diri Mbak Tas, passion sekaligus hobi yang menyenangkan.

"Saya menulis untuk menjaga kewarasan" ujar Mbak Tas kepada kami semua.

Malu dan kerdil rasanya, jika masih punya banyak alasan klise untuk tidak menulis jika membaca penuturan Mbak Tasmilah.

Alhamdulillah, saya merasa seminar kedua kali ini sangat tepat menghadirkan sosok Mbak Tasmilah yang menginspirasi kami semua, sebagai sesama perempuan.

Sebelumnya, saya sudah sedikit bercerita, latar belakang dan dibalik layar seminar kedua kali ini di sini: 🔽🔽 (silahkan di klik) 😊

Seminar #InspirasiMenulis2 

Produktif Membunyikan Data Melalui Opini Bersama Mbak Tasmilah



Sebelum bertugas di Kota Serang, sebelumnya Mbak Tasmilah bertugas di BPS Mimika, Papua. Sempat menjabat sebagai Kasi Distribusi dan Kasi Neraca.

Mbak Tasmilah juga aktif didaulat untuk mengisi beberapa seminar seperti Perempuan Mimika dalam Angka (Dinas Pemberdayaan Perempuan Mimika), Kajian Petani dan Nelayan Kota Serang (Bappeda Kota Serang) dan Industri Rumahan Provinsi Banten (Dinas Pemberdayaan Perempuan BPS Kota Serang).

Kesukaannya untuk berorganisasi terlihat sejak menjadi mahasiswi STIS. Rohis STIS, KOPMA, dan KAMMI adalah sebagian organisasi yang digeluti, saat ini beliau aktif di Organisasi Perempuan, Salimah Kota Serang.

Berikut ini, adalah materi yang disampaikan Mbak Tasmilah saat seminar: 

TAHAPAN MENULIS OPINI


A. Proses Menulis Opini
  1. Menentukan tema yang aktual
  2. Menentukan sudut pandang (angle) atau perspektif  
  3. Mencari dan menggunakan referensi/rujukan, pendapat para ahli
  4. Memulai menulis, memetakan dan mengidentifikasi masalah, membahas permasalahan yang sudah diidentifikasi, sampai membuat konklusi.
B. Menentukan tema Aktual dapat dilakukan dengan cara:
  1. Amati berita headline koran-koran utama yang memiliki reputasi baik setiap hari selama 4 hari
  2. Amati berita TV berita selama seminggu. 
  3. Baca situs-situs berita mainstream, seperti kompas.com, detik.com, vivanews.com dll. 
  4. Ikuti berita yang dimuat berulang selama 3-4 hari.
C. Struktur Tulisan Opini
  1. Judul
  2. Pendahuluan
  3. Pembahasan
  4. Kesimpulan
atau 
  1. Judul : Singkat, padat, jelas (3-5 kata)
  2. Pembuka (lead) : merupakan kalimat atau paragraf pembuka yang mengajak, menggoda, mengusik pembaca agar terus membaca sampai tuntas.
  3. Penjelas (Batang Tubuh)
  4. Penutup (ending)
D. Menyusun Alinea
  1. Satu alinea biasa mengandung satu pokok pikiran
  2. Uraikan inti masalah dengan singkat (3-5 kalimat)
  3. Sifatnya, apakah menanggapi opini orang lain atau mengajukan opini tersendiri?
  4. Uraikan pokok pikiran utama (main idea) menjadi beberapa pokok pikiran penunjang/turunan
  5. Hubungkan satu alinea dengan alinea selanjutnya dengan jembatan pikiran (bridging) yang kuat
  6. Hubungan antar alinea bisa bersifat: kronologis (waktu), spasiologis (ruang), dan kausalitas (sebab-akibat)
E. Pentingnya Data
  1. Data penting untuk memperkuat pendapat yang diajukan, apalagi BPS merupakan gudangnya data. Penulis dari BPS diuntungkan dengan ini. tiap bulan BPS selalu merilis data. ini bisa menjadi ide untuk menulis tiap bulan.
  2. Referensi penting untuk menunjukkan bahwa semua pendapat yang sama/berbeda sudah dipertimbangkan.
D. Edit
  1. Selesaikan draf, apapun bentuknya, tulis aja apa yang ada di kepala sampai bener-bener mentok.
  2. Endapkan tulisan awal selama beberapa waktu, cari inspirasi/kesibukan, perhatikan deadline.
  3. Tinjau ulang draf awal dan periksa dari segi substansi, struktur argumentai, atau gaya penulisannya.
  4. Bisa meminta pendapat atau masukan dari teman sebelum dikirim ke redaksi. 
E. Buatlah Profil menarik
  1. Biodata yang memuat pendidikan dan pekerjaan kita, ini untuk menunjukkan kompetensi kita sebagai penulis. Contoh Tasmilah. ASN di BPS, Pendidikan DIV statistik Ekonomi. kalo perlu tulis juga penulis opini di Kompas, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Radar Banten, dst.
  2. Alamat yang mudah dihubungi, scan KTP, foto, dan norek NPWP (jika koran nasional)
F. Mengirim Ke Redaksi. 

G. Praktik Menulis Opini (Mengajukan Opini Sendiri). 

Saat praktik, sifatnya sangat teknis, mohon maaf tidak saya jelaskan secara detail di sini. 


SESI TANYA JAWAB
  • Eko Hermawati (Magelang) 
"Mbak Tasmilah dulu pas SMA 1-2 bukan? Bagaimana menjadi pribadi yang pas SMA biasa saja, sekarang luar biasa?"
  • Mbak Eko, ini kakak kelas saya di SMA 3 Magelang, jadi tahu betul bagaimana kendesoan saya. Mungkin dulu karena saya merasa orang desa jadi mau ngapa-ngapin udah minder duluan, merasa tidak bisa, yang lain saja. Rasa percaya diri agak muncul waktu kuliah.
  • Menulis ini juga karena merasa jenuh dengan kerjaan yang sama tapi terus menerus, ibaratnya mengulang kerjaan setiap tahun. Saya harus mengubahnya, kenapa tidak mencoba menulis ya? kalo menulis kan otomatis harus membaca dulu. Mau kuliah lagi juga masih repot dengan lima bocils, apalagi prinsip keluarga kami harus selalu bersama kemana-mana. Belum luar biasa juga mbak, masih harus banyak belajar. Kemarin itu tembus Kompas karena sedang pas dengan momentumnya saja.
  • Rahayu (BPS Kaltim)

"Bagaimana agar percaya diri dalam membunyikan data? mohon bagi tipsnya"


  • Tadinya saya juga tidak pede Mbak, bahkan takut kalau opini saya ini salah, jangan-jangan pendapat dari bps bukan begitu, apalagi saya nyantumin nama besar BPS. Tapi saya pikir lagi, udahlah tulis saja nanti kalau ada yang salah atau komplain, tolong saya dikasih tahu yang benar bagaimana. Saya masih belajar. Dan saya rasakan memang benar, dengan menulis ini jadi merangsang saya untuk membaca BRS atau publikasi lain diluar kerjaan rutin saya.
  • Idealnya sih memang sebelum kita kirim ke media, kita minta tolong ke temen yang paham akan data tersebut untuk membacanya dulu, kali-kali ada koreksi atau masukan. Tapi juga kita paham, teman-teman kita juga tidak kalah sibuk dengan pekerjaan rutinnya. Dan uji nyali yang pertama mungkin bisa dimulai dari koran lokal.
  • Nur Laila (BPS Kab.Brebes)
1. "Mba Tas, apakah menjadwalkan setiap harinya untuk selalu membaca koran atau bacaan lainnya untuk bahan opini? Apakah hal ini harus dijadwalkan untuk bisa memulai menulis opini?"


2. "Bagaimana menentukan opini kita masih cukup aktual untuk diajukan ke media? Karena kita kan menulis topik opini berdasarkan berita yang sedang inn dan kita butuh waktu menulis dan mengumpulkan data penunjang. Sehingga mungkin ada jeda waktu antara masanya berita tersebut sudah tidak tayang lagi di media."

  • 1. Saya tidak menjadwalkan membaca Mbak, motong kuku anak-anak aja kadang lupa, tahu2 udah panjang aja 😂. tapi saya lebih suka baca berita daripada buka FB, lebih suka baca twitter atau berita onlen. apa yang lagi jadi topik kekinian. inipun bukan waktu khusus, seringnya sambil ngeloni yang kecil. kalo ada yang penting atau menarik saya skrinsut dulu. sambil buka2 data yang berhubungan dengan topik tadi.
  • 2. Aktual masih dibicarakan di media. nah inilah perlu kecepatan kita juga untuk menuliskannya. waktu sy nulis tentang beras dan kemiskinan, sy buka2 dulu opini di beberapa koran nasional. kalo udah ada yang nulis di kolom opini, pantang sy kirim ke redaksi tsb. sy pilih koran yang belum memuat opini tentang beras.


  • Nurin anistikmalia BPS Kab Tana Tidung
1. "Mbak, apa yang melatarbelakangi Mbak Tasmilah menulis opini, boleh diceritakan?"
2. "Bagaimana cara membagi waktu antara kantor, anak, keluarga dan menulis? Adakah tips untuk buibu? Kadang seharian kita sudah disibukkan oleh pekerjaan di kantor, lelah dalam perjalanan, sampai rumah ada anak dan suami yg menunggu. (pertanyaan yg sama diajukan juga oleh Mba Risma dari  BPS Prov Jambi dan Mbak Kunti dari Humas BPS) *pertanyaan yang highly demanded* 😁


  • Latar belakangnya karena saya jenuh dengan kerjaan kantor yang sama dan terus menerus berulang. saya yang di ibu kota provinsi, banyak banget sampelnya dan hampir dilibatkan di semua seksi untuk kegiatan lapangan. bahkan waktu SE masih mernagkap jadi caretaker KSK. kalo begini-binieg saja saya gak akan maju, maka saya harus berubah, salah satunya dengan menulis, gak hanya di semua seksi namun juga di TU (sebagai operator simak dan persediaan).
  • Saya tidak punya waktu khusus untuk ini itu, ngalir saja. di kantor saya kerjakan pekerjaan kantor. di rumah tidak membawa pulang kerjaan. pokoknya kalo di rumah udah pegang anak. baca-baca beritanya sambil negloni anak itu tadi, karena kalo ngeloni anak kan tidak bisa disambi dengan pekerjaan lainnya. nulisnya di akhir pekan, sabtu atau minggu sampai jam 9. itupun sambil ngawasi anak-anak main juga.kao ga selesai juga ya nanti dilanjut lagi, yang penting ada sedikit yang saya tulis. pernah saya bilang ke suami, enak banget ya bapak2. banyak banget waktu luangnya tidak digondeli anak2, ehh doi bilang tidak semua yang punya waktu luang juga akan menulis. contohnya aku (suami) sendiri.ketika saya nulis, seringnya masaknya siang atau bahkan tidak masak sama sekali. dan alhamdulillah suami tidak keberatan.

  • Susanti_Magang Humas BPS
"Cara bikin opini kita supaya kaya akan opini yang kredibel dan akurat juga biar ga cuma interpretasi kayak publikasi aja gimana ya?"



  • Saya juga masih belajar kalo yang ini Dek San. tapi cara yang paling mudah kita lakukan adalah dengan membaca tulisan opini orang lain. hampir tiap hari saya buka opini kompas, kalo ada tema-tema yang menarik dan ada data BPS nya maka akan saya baca dan simpan. kalo perlu tulis ulang opini tadi, ini untuk melatih kita menulis sesuai alur opini. kenapa opini kompas? karena semua tahulah, redaksi kompas sangat ketat, bahkan kita harus bersaing dengan 90an tulisan tiap hari untuk bisa muncul di hal 6 dan 7.
  • Rini BPS Prov Sumsel

"Bagaimana tetap konsisten menulis ketika lagi gak mood, mbak Tas? kalau kirim ke Koran lokal daerah lain dan Koran nasional, gimana ya mbak taunya tulisan kita dimuat gak, karena kayaknya msh sedikit yg e-papernya gratis? Trs media juga yang saya tahu hampir smuanya gak memberitahu"


  • Kalau lagi ga mood, maka saya akan baca opini2 orang lain yang temanya saya sukai. baca lagi dan baca lagi. pernah saking lamanya saya ga nulis, jadi kaku banget. akhirnya yang saya lakukan adalah merubah data dari opini tsb, sedangkan substansinya sama. contoh: korupsi dan partisipasi publik perempuan, saya tulis krn ada anggota dewan yang korupsi. eh setahun kmdn ada aleg lain yang kena ott, lagi males jadi edit tulisan dengan data terkini.
  • Kompas n koran Sindo memberi balasan jika tidak muat. Untuk koran yang di luar daerah, saya pilih yang ada epapernya jadi bisa ngecek secara online. contoh yang saya pernah dimuat: Analisa Medan, Balipost, Galamedia, Bhirawa.


  • Armelia_Bps Aceh
 "Apa boleh kita membuat opini dengan menggabungkn data  BPS dan data dari pihak luar BPS?"


  • Menurut saya boleh banget, asal mencantumkan sumber datanya terlebih jika variabelnya sama namun datanya berbeda, contoh GK BPS dan GK dari world bank, bahkan data dari luar sangat perlu untuk mendukung dan memperkaya opini kita.
  • Risma_BPS Prov Jambi

"Berapa lama biasanya Mbak Tas menyelesaikan satu tulisan opini?"


  • Kalau untuk koran lokal, paling cepat sehari. tapi mulai tahun 2018 ini salah satu resolusi saya adalah untuk menulis di koran nasional, jadi agak lama prosesnya. ke koran lokal tetep ngirim untuk mempertahankan semangat nulis kita. kalo ga muat di koran nasional, dikirim ke lokal, dibuang sayang 😁tidak banyak target saya di 2018 ini, dalam 1 bulan tembus koran nasional 1 (aamiin) dan koran lokal minimal 2.
  • Tina, BPS Batang

"Apakah sebagai penulis pemula lebih disarankan menulis opini di skop provinsinya sendiri atau tidak masalah membahas provinsi lain?"
  • Menurut saya di provinsinya dulu bu, karena kita lebih mengenal kekhasan dari wilayah kita termasuk fenomena ekonomi maupun kondisi penduduknya. meski tidak ada masalah juga jika ingin membahas daerah lain atau skop nasional. yang sering jadi kendala saya, untuk skop regional terkadang datanya tidak selengkap data nasional.
  • Septie wulandary - Jambi 

"Mbak bagaimana agar opini di koran tidak terlalu panjang tp mengena, baru, ciamik, dan enak dibaca? Mbak, apakah ada keinginan untuk kembali ke struktural?"


  • Ini saya juga masih harus belajar. yang saya lakukan adalah dengan membaca opini-opini orang lain di kompas. Saya sudah tidak ada keinginan untuk kembali ke struktural 😁😌😌. saya sangat menikmati fungsional. apakah fungsional lebih nyantai? tidak, fungsional sama sibuknya dgn struktural, malah lebih banyak lapangannya. mungkin krn sy ada di bps kota.
  • Nur_Aceh

"Terima kasih banyak atas sharing ilmunya. Luar biasa materi yang disampaikan. Pertanyaan saya ada 2:a. Pemahaman substansi data. BPS memiliki data yang beragam dengan konsep-definisi dan metodologi berbeda-beda. Untuk bisa memaknai data tentu perlu pemahaman terhadap substansi data tersebut. Apakah Mba mengumpulkan sekaligus merangkum sendiri data tersebut? Semacam glossary lengkap.b. Bagaimana menghindari agar opini kita bersifat netral tidak menjustifikasi pihak tertentu atau malah berpotensi menimbulkan polemik."


  • Terus terang pengalaman di lapangan itu sangat membantu saya. keterlibatan hampir di semua seksi itu menjadi bekal saya untuk menulis. menjadi inda SE, SP, ST menjadi petugas susenas, menjadi petugas HK, sbg kasi distribusi, dan di neraca itu memperkaya wawasan saya tentang data BPS (belum kaya, masih menuju kaya). saya ga punya catatan khusus, pernah sih nulisin di buku gitu tiap ada BRS yang rilis, tp ga disiplin juga. akhirnya setiap ada rilis data, saya donlod n simpan dalam folder tersendiri. jika perlu mudah untuk membuka n mencarinya.b. yang sy inget pertama adalah bahwa saya menulis dengan mencantumkan nama besar BPS. jadi sebisa mungkin saya tidak akan menjustifikasi pihak atau instansi tertentu. kalopun ada yang tidak sepakat dengan datanya, lebih memilih pemakaian kata yang lebih halus: kurang tepat, kurang lengkap, bisa jadi, dll
  • Alfina_BPS Prov Kalteng dan Lutfi_BPS Kab Sitaroa. 

"Selain koran dan situs berita, apa lg yg mba baca? Katanya kan sering baca twitter drpd fb. Akun apa aja mba tas yg bagus utk di follow, yg menyajikan berita2 up todate?b. Mba ada bikin database opini2 orang lain kah? berhubung saya ga suka baca koran hehe"


  • koran itu bacanya topik yang menarik bagi saya aja. pertama saya buka opini kompas.yang sy follow portal berita mainstream seperti republika, tokoh2 atau pakar seperti chatib basri, yuswohady, stretegi bisnis, faisal basri, dll.b. saya ga bikin database opini orang, kalo ada yang menarik saja saya simpan. dan itu jug masih tercecer kemana2. mungkin setelah ini bagus kalo diarsipkan dalam 1 folder tersendiri ya. makasih masukannya yaa 😊


Demikian, ulasan notulen saat seminar. Mohon maaf, banyak tulisan yang saya salin tempel langsung dari catatan grup.

Lain kali, saya akan menerapkan latihan menulis yang baik meski itu hanya sms, :) *pegel juga euy ngeditnya, rasanya gak kelar-kelar :p. 

Alhamdulillah, terima kasih kepada semua teman-teman Komunitas #PerempuanBPSMenulis. Tetap semangat selalu ya. :)

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe12




You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



5 komentar

  1. Replies
    1. banget Mbak Milda, ini salah satu teladan buat kami. :)

      Delete
  2. salam kenal ya mba, moga makin semangat berbagi ilmu

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh ini blognya Mbak Milda juga? wah baru sekali ini saya berkunjung, :)

      Delete
  3. Mabtap. Tidak banyak notulen seperti ini di internet.

    ReplyDelete