Fiksi

-117- Prompt #16: Kisah dari Balik Jendela

Saturday, June 15, 2013





Mengenangmu,
Tak habis-habis aku
Tak jua sampai
Tak juga selesai
Seharusnya, kamu, tak ada lagi di fikiranku, sebab keberadaanmu, bagaikan kutu di rambutku, mengganggu. Seharusnya, aku pun tak perlu lagi memikirkanmu, sebab kamu, hanyalah masa lalu, seperti sisa air hujan yang menetes dari balik jendela kamarku, segera pergi, dan tidak pernah abadi.

Apa kau tahu, bayang-bayangmu, yang acapkali hadir tanpa kuminta, begitu menghantuiku. Aku berharap kamu segera tahu, lalu menolongku, agar kemudian aku bisa menghapus jejakmu, atau setidaknya agar aku tak lagi menyusun harap bertemu denganmu, mengulang masa lalu, merekonstruksi pilihanku, membuat keputusan bijak, lalu hidup dengan cita-cita sederhana, -bersamamu-.
***






Perempuan itu masih disana. Duduk terpekur menghadap ke jendela. Menunggui hujan, sebentar tertawa, sebentar menangis.

“Makanlah, sudah hampir senja. Sedari pagi belum ada sebulir nasipun yang masuk ke perutmu”, seorang lelaki muda masuk, tanpa mengetuk, membawakan sepiring makanan.

perempuan itu menatap tajam, menyeringai, prang… piring itu melayang, isinya tumpah, beterbangan, mengenai mata sang lelaki muda. Seperti membangunkan macan tidur, perempuan itu mengamuk, meronta, kedua tangannya mengepal, lantas memukul-mukul perutnya seperti sedang menabuh beduk.


“Ibu… ibu … seharusnya kamu memanggilku ibu…”,


***
Suara pintu berderak. Perempuan itu kini terlelap, di atas dipan. Sementara sang lelaki muda menungguinya, disamping dipan.


“Bagaimana kondisinya?”


”Jauh lebih baik Ma…”


Perempuan paruh baya yang dipanggil mama itu menarik napas, lega.


“Obatnya sedang bekerja. Mungkin ia akan tertidur lama”, timpal sang lelaki muda sambil mengemasi bekas jarum suntik dan botol obat-obatan.


Suasana hening sejenak,


“Sampai kapan Kakak akan terus seperti ini Ma?”


Perempuan yang dipanggil mama itu kembali menarik nafas. Kali ini lebih dalam, lebih panjang. 

“Mungkin ini balasan, setelah perbuatan aborsinya yang nista itu…” mata tuanya berkaca-kaca, menatap sebuah garis patah-patah, berwarna putih, di jendela, gambar seorang bayi, perempuan. 


Jumlah kata: 272. 



You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



10 komentar

  1. Umm... Entah kenapa aku nggak bisa lihat hubungan 2 paragraf pertama dengan paragraf-paragraf selanjutnya. Atau karena aku yang lemot ya? Hmm... Ceritanya bagus sebenernya.

    ReplyDelete
  2. Iya. Idenya bagus. Coba kalimat-kalimatnya lebih pendek :)

    IMO sih...

    ReplyDelete
  3. kurang terasa penderitaan penyesalannya.

    di ending... jangan lah si ibu bilang 'nista'. kesannya ga ada empati sama sekali ke anak sendiri.

    ReplyDelete
  4. @η©Ίγ‚­γ‚»γƒŽ tapi... ada tapinya ya Mbak... dua paragraf itu maksudnya adalah lamunan sang perempuan ...

    ReplyDelete
  5. @Red Carra Iya Mbak, kebiasaan pake bahasa hiperbol... sarannya diterima, perlu banyak berlatih lagi nih...:)

    ReplyDelete
  6. @Latree
    terimakasih masukannya Mbak...:), saya beri 'nista', sebagai tanda bahwa ibunya tidak setuju dengan perbuatan anaknya. Siip... lain kali belajar lagi...:)

    ReplyDelete