Parenting

-55- Kak, Kapan Kakak Mulai Suka Sama Cowok?

Saturday, May 19, 2012

Bismillahirrohmanirrohim
Jumat sore yang lalu, beberapa jam sebelum kelas dimulai. Seperti biasa, anak-anak datang setengah sampai satu jam lebih awal. Saya menyempatkan berbincang dengan anak-anak perempuan yang sebentar lagi naik kelas enam. 

“Kak, kapan Kakak mulai suka sama cowok?”

“Emm kapan ya? kayaknya mulai esde deh”

“Wah, berarti wajar dong kalau kita udah mulai suka sama cowok”

“Ya wajar. Tapi kalau Yuli suka sama Vira itu baru gak wajar”

“Iya itu namanya lesbi kan Kak? Vira tuh sudah ada cowok yang disukanya…”

“Ema juga Kak, Ema juga sudah ada tuh cowok yang disukanya…”

“Cowoknya gimana sih. Ganteng ya?”

“Iya Kak, ganteng banget. Terus..terus… kapan Kakak dibolehin pacaran?”






Obrolan pun berlanjut tentang ‘cowok’. Maklum deh, anak-anak di depan saya ini sudah mulai masuk masa pubertas. Dan maklum lagi, di zaman Lady Gaga[L] ini, anak-anak TK pun sudah berani bilang suka-sukaan.

“Cowoknya yang mana sih? Wah, Kakak tahu. Cowok yang itu ya?” saya asal menyebut saja, karena di kelas, cowok yang saya sebutkan tadi lumayan ganteng.

“Ih, bukan… gak mungkin lah kami mau sama dia. Itu teman sebangku Yuli Kak di sekolahan”

“Loh, kok Yuli bisa sebangku sama dia sih?”

“Gak tahu tuh bu guru. Disuruh sama bu guru…”

“Maksudnya?”

“Iya Kak, jadi disekolahan. Kita tuh udah dipasang-pasangin. Kata bu guru, kalau cewek duduk sama cewek nanti banyak ngobrolnya. Kalau cowok sama cowok ntar berkelahi. Jadi cewek duduknya sama cowok, gitu Kak”.

Yah… saya hanya bisa menghela nafas sendiri mengetahui kenyataan ini. Meskipun telah mendapatkan masukan bahwa Bintang Kelas fokus saja membantu anak-anak agar dapat menyelesaikan soal-soal karena memang itu tugas utama sebuah bimbingan belajar. Namun karena saat membangun ini, kami berdua (saya dan suami) sepakat menjadikan Bintang Kelas ini sebagai wadah untuk belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang pendidik, maka memberikan pemahaman dan meng-upgrade kemampuan menyelesaikan soal difokuskan di dalam kelas. Selebihnya, kami bersama tim pengajar yang lain banyak berlatih tentang bagaimana membangun sikap dan adab.

Hal yang utama bagi kami adalah bagaimana membangun sikap dan adab mereka terhadap guru. Sedih rasanya, saat saya mendengar obrolan anak-anak tentang bagaimana guru mereka di sekolah.

“Eh, tau kan pak guru xxx yang di sekolah kita?”
“Iya, itu guru paling gak nyambung deh”
“Betul. Betul… pasti deh, apa yang kita omongin apa, bapaknya nanggepinnya apa, selalu gak nyambung”
“Aku juga gak senang diajar sama bu yyy. Pasti deh, kalau dia ngajar. Biarpun waktunya sudah selesai HP kita tetap disita.”

Bayangkan, itu disekolahan. Bagaimana di Bintang Kelas bisa ditebak. Anak-anak sepertinya ringan saja membentak guru, berbicara keras, melawan, tidak menurut dan banyak lagi. Tapi disisi lain, kami juga belajar menjadi sahabat dekat buat mereka. Saya senang ketika ada anak-anak yang berani terbuka dan bercerita tentang masalah mereka seperti yang dilakukan Vira dan teman-temannya. Saya belajar bagaimana nanti jika saya memiliki anak seumuran mereka, saya tidak ingin kehilangan banyak informasi tentang mereka seperti kebanyakan orangtua yang tiba-tiba mendapati anaknya pecandu narkoba atau bergaul kelewat batas.  

Awalnya, saya juga berfikir, bahwa lingkungan akan sangat besar pengaruhnya terhadap anak. Maka saya pun belajar bagaimana menciptakan lingkungan yang baik di Bintang Kelas. Tapi beberapa waktu terakhir, saya mulai mengeluhkan ini pada Kak,

“kok anak-anak gak ada yang semangat dan sadar sendiri ya untuk sholat? Kenapa mereka lebih semangat diajak belajar daripada sholat?”.

Untuk beberapa kelas yang masuk malam menabrak waktu maghrib, sehingga kami membiasakan mengajak mereka sholat maghrib berjamaah. Yang menyedihkan, sebagian dari mereka yang les malam ini adalah anak-anak yang baru saja pulang dari TPA. Sebagian malah langsung membuka kerudungnya, dan berganti pakaian preman. Jadi menurut mereka, kerudung dan gamis itu pakaian mengaji.

Begitupun, saat saya menanyakannya pada Ida (nama samaran) yang bersekolah di madrasah dan tentu saja setiap harinya memakai kerudung. 

"Loh, Ida... jilbabnya kok gak di pakai?"
"Itu kan kalau sekolah bu..."

Lain lagi dengan Kamal (nama samaran), yang kebetulan masuk jam 4 sore ba'da ashar. Saking semangatnya Kamal sudah tiba pukul 03.20.

"Kamal, sudah sholat ashar belum?"
"Belum bu"
"Sholat ashar dulu nak"
"Gak ah bu, saya malas" .  

Jadi, kesimpulannya: sebagian besar hal-hal baik seringkali sedikit kami paksakan untuk mereka dan belum menjadi karakter  yang melekat pada jiwa mereka. Maka sayapun mulai sepakat dengan pernyataan Ustadz Fauzil Adhim, saat saya mengikuti Seminar Parenting dan Pendidikan "10 Prioritas Pendidikan Karakter" hari ini. Ini adalah kali kedua saya mengikuti pelatihan bersama ustadz Fauzil Adhim setelah mengikuti pelatihan serupa tahun lalu. Dan tentu saja, materi hari ini adalah kelanjutan dari apa yang telah dibicarakan tahun lalu. Bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah, pelatihan semacam ini diharapkan dapat memberikan rasa 'Yogyakarta' pada sekolah-sekolah yang ada di Bulungan. Beliau mengatakan lingkungan yang baik memang harus dibangun, tapi itu bukan faktor penentu keberhasilan anak. Bisa jadi, seorang anak menjadi baik sebab lingkungannya tidak memberinya kesempatan untuk berbuat tidak baik.  Maka yang paling penting adalah membentuk sistem imun pada anak. Sehingga dimanapun anak berada, anak tidak akan terpengaruh pada lingkungannya. Meskipun dia dianggap berbeda dengan lingkungannya, dan meskipun ia harus dipojokkan oleh lingkungannya.

Faktanya memang demikian. Anak-anak mau sholat dan berpakaian muslimah ketika belajar mengaji, diluar itu ya terserah. Sehingga seolah-seolah, anak bersikap begini karena lingkungan mengharuskannya begini, jadi pelajaran sholat, akhlaq, hafalan dan lain-lain sama sekali tidak membekas pada anak.

Faktanya lagi, ternyata mengajarkan ilmu pasti masih jauh lebih mudah, sebab setelah berlatih beberapa hari saya pun mulai paham konsep fisika dan matematika. Akan tetapi, mengajarkan sikap dan adab terlebih membentuk ‘sistem imun’ pada anak jauh lebih sulit berlipat-lipat ganda dibandingkan mengajar matematika dan fisika.  Dan tentu saja, hal itu membutuhkan banyak waktu dan kerja keras. 


                                                                            Wallohu a'lam bish showab.  


You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



2 komentar

  1. Tulisannya Bagus-bagus dan insfiratif, dibuat buku aja mbak biar bisa banyak yang mengambil pelajaran dari tulisan-tulisannya mbak.....

    ReplyDelete