Karya

-281- LGBT dan Keresahan Kita

Friday, February 16, 2018

sumber foto: ayolebihbaik.com
Bismillahirrahmanirrahim. 

Tulisan ini sebelumnya saya kirimkan ke koran, dan lebih dari 2 pekan tiada kabar, kemudian saya posting di blog untuk diikutsertakan pada postingan tematik dengan tema "Mewaspadai Berbagai Perilaku Menyimpang" oleh Blogger Muslimah Indonesia. Saya posting pada tanggal 18 Februari 2018.

Pada hari ini saya mendapati tulisan ini telah diterbitkan di Tribun Kaltim edisi Sabtu, 24 Februari 2018. 🙏

Mohon maaf, di lain kesempatan saya akan lebih berhati-hati agar tidak terulangi. Besar harapan saya agar media lokal dapat berbenah dengan memberi kabar tentang status opini pembaca, apakah akan dimuat atau tidak. Apakah ada penolakan atau diminta bersabar dalam penantian. 🙏
.

LGBT DAN KERESAHAN KITA


“Sekarang ini punya anak perempuan dan laki-laki sama aja khawatirnya, kudu hati-hati,” ucap salah seorang ibu dengan nada resah. 

“Bener banget Bu, sama pelakor juga bukan hanya perempuan Bu yang kita hati-hatiin, sama laki-laki juga.” Obrolan khas ibu-ibu di penjaja sayuran cukup menyentak batin saya. LGBT, ini bahasan yang sedang ramai dalam kurun waktu terakhir. Seperti fenomena gunung es, apa yang sebenarnya nampak di permukaan, jauh lebih sedikit dibandingkan yang sebenarnya terjadi.

Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Rudi Agung, seorang jurnalis, pada news online merangkum dari berbagai literatur bahwa LGBT di Indonesia, setidaknya sudah ada sejak era 1960-an, kemudian berkembang pada dekade 80-90 an dan meledak pada era milenium 2.000 hingga sekarang.

Kaum LGBT sendiri di Indonesia, berkumpul dalam banyak wadah organisasi yang menyebar di hampir seluruh Provinsi. Diperkirakan, pada tahun 2013 terdapat 119 organisasi LGBT yang tersebar di 28 Provinsi di Indonesia. Dan pada tahun 2015 jumlahnya bertambah, sedikitnya menjadi 200 organisasi.

Melalui organisasi tersebut, kampanye terhadap penerimaan perbedaan orientasi seksual ini terus disuarakan. Kampanye mereka terorganisir tidak hanya pada ruang publik tetapi juga merambah secara masif melalui dunia maya (internet). Pada pertemuan Dialog Nasional di Nusa Bali pada Juni 2013 yang dihadiri oleh wakil organisasi LGBT dari 15 diantara 34 Provinsi di Indonesia, dalam laporan yang bertajuk “Laporan LGBT Nasional Indonesia” yang terdapat pada situs www.id.undp.org berisi rekomendasi agar setiap organisasi LGBT menggunakan media sosial sebagai sarana kampanye.

Tidak heran, jika  melihat perkembangan social media yang membawa isu LGBT beberapa tahun terakhir, tampak secara jelas bahwa upaya pengarahan opini terus dilakukan dengan gencar. Masyarakat digiring untuk menerima, bahwa LGBT bukanlah penyakit sosial yang mesti dijauhi, bahwa  LGBT tidak meresahkan, bahwa pelaku LGBT ialah juga manusia yang mesti diberi ruang gerak dan kebebasan. Masyarakat digiring untuk memahami konteks LGBT sebagai upaya untuk memanusiakan manusia. Dengan slogan yang sangat manis memikat hati, “biarkan dirimu menjadi dirimu sendiri”.

Inilah klaim yang sering didengungkan oleh pelaku LGBT yakni upaya menuntut persamaan Hak Asasi Manusia (HAM) di masyarakat. Ironisnya, banyak pendukung dari kaum ini bahkan berani dengan lugas menyitir ayat suci untuk menguatkan pemahaman dan menyebarluaskan pandangan kepada masyarakat bahwa LGBT itu fitrah suci dari diri manusia.

Argumen yang dikemas secara menarik, dan sudut pikir yang dibalut logika ‘cacat’ mengaburkan esensi sejati dari maraknya LGBT ini yakni; rusaknya tataran norma masyarakat. LGBT bukan hanya sesuatu hal yang menyimpang, tetapi juga menciptakan banyak permasalahan sosial. Yang sudah jelas dan pasti adalah, munculnya berbagai macam kasus pelecehan seksual, sex bebas, dan wabah penyakit berbahaya.

Kasus pencabulan anak misalnya, pada tahun 2016, seperti yang diungkapkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise tercatat telah mencapai lebih dari 5.000 kasus. Ironisnya, beberapa kasus diantaranya tercatat sebagai kasus pencabulan terhadap sesama jenis. Kasus Babeh  yang diduga melakukan praktik sodomi kepada 41 anak laki-laki usia 7-15 tahun di Tangerang adalah satu dari sekian kasus itu.

Kasus HIV/AIDS di Indonesia juga mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Data dari Kementerian Sosial menyebutkan, diperkirakan penderita HIV/AIDS di Indonesia telah mencapai lebih dari 276.000 di awal tahun ini. Sebagian bahkan menyebutkan estimasi yang tidak terdata, diperkirakan 10 kali atau 99 kali lebih banyak dari data yang ada. Sangat mencengangkan!.

LGBT di Sekitar Kita

Tidak hanya di daerah perkotaan, LGBT juga sudah merambah masuk di pedesaan, dan mewarnai seluruh jenjang profesi. Seperti di lansir Radar Tarakan pada 2017 lalu (8/11), LGBT juga tumbuh subur di Kota Tarakan. Di Kota ini, diperkirakan sebanyak 793 orang teridentifikasi dalam komunitas Gay. Yang lebih menyedihkan, anggota komunitas ini hampir menyebar di lima Kabupaten/Kota di Kalimantan Utara.

Data dari Radar Tarakan juga menyebutkan bahwa sebanyak 6,6 persen teridentifikasi sebagai Gay, 10,6 persen lelaki seks lelaki, 3 persen lesbi, 4,4 persen waria, 33 persen WPSL (Wanita Pekerja Seks Langsung), dan 36 persen sebagai WPSTL (Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung).

Keadaan ini tentu sangat meresahkan, ditambah lagi data dan fakta yang menyebutkan bahwa LGBT semakin tumbuh subur dan merambah anak usia sekolah. Kekhawatiran sebagai seorang perempuan, isteri sekaligus ibu bertambah menjadi-jadi sebab ternyata LGBT ada di sekitar kita. Penjagaan dan pengawasan terhadap anak-anak dan keluarga harus sedemikian keras diupayakan. Tidak hanya anak perempuan saja yang rawan pelecehan dan pemerkosaan, anak laki-laki juga saat ini punya peluang yang sama-sama mengkhawatirkan.

Salah satu upaya mendasar yang dapat dilakukan adalah dengan membentengi anggota keluarga terutama anak-anak. Memberikan pemahaman yang benar dan mendasar kepada mereka tentang fitrah alamiah penciptaan manusia, yang sejatinya hanya ada dua, laki-laki dan perempuan. Membekali anak-anak dengan nilai agama dan spiritual tentang bagaimana perbedaan antara laki-laki dan perempuan, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Mengenalkan pendidikan seks, anak-anak harus tahu mana bagian tubuh yang rawan tindak pelecehan dan bagaimana cara menjaga diri.

Satu hal yang lebih penting lagi yakni menciptakan hubungan yang positif dan lingkungan yang baik untuk anak. Mengawasi pergaulan mereka, mencukupkannya dengan limpahan kasih sayang dan cinta. Dan tidak lupa, banyak berdoa dan berserah kepada Allah sebagai sebaik-baiknya penjaga.


Ayo! Kawal dan lindungi anak-anak kita!. *


"Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia

 #PostinganTematik #BloggerMuslimahIndonesia
#PerempuanBPSMenulis #15HariBercerita #HariKe7

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



17 komentar

  1. Huff.. Miris ya. Semoga kita mampu membentengi anak2 kita dr bahaya LGBT

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbak, harus niat dan kuat membentengi anak-anak. Banyak-banyak berdoa.

      Delete
  2. Data yang mencengangkan. Saya juga terkejut pernah mendapati FP komunitas mereka di kota kecil saya. Hal yang tidak pernah saya bayangkan, ternyata sangat dekat dengan kita. Semoga kita bisa menjaga anak2 kita.

    ReplyDelete
  3. 2013 aja sudah sampai 200 oraganisasi apalagi 2018 yang sudah dilegalkan uud tentang lgbt, Nauzubilahi min zalik

    ReplyDelete
  4. Betul itu mba, banyak berdoa pada Allah karena DIA lah sebaik-baik pelundung kita dari segala ujian dunia

    ReplyDelete
  5. Kalau orang statistika yang nulis pasti ada data..keren mba tulisannya :D

    ReplyDelete
  6. banyak banget ya mereka yang lgbt, sampe 793 di satu kota itu? :(

    ReplyDelete
  7. kok aku baru denger istilah WPSTL yak.. *gagal fokus

    ReplyDelete
  8. Ngeri ya Nurin, harus lebih protektif sama anak-anak.....

    ReplyDelete
  9. Bener mbak, benteng agama dan kenyamanan di rumah yang harus dijaga sama kita ya

    ReplyDelete
  10. Pada akhirnya memang harus banyak-banyak berdoa ya Mba. Mendoa anak-anak kita khususnya.

    ReplyDelete
  11. Lihat facebook aja ngeri banget dengan banyaknya member grup-grup yang menyimpang itu.
    rupanya by data real juga terbukti ya Mba,, sedih... :(

    ReplyDelete
  12. saya tak habis pikir, kok bisa sampai segininya ya mbak, LGBT ini mulai menyebar.

    ReplyDelete
  13. pengaruhnya makin besar saatnya keep family

    ReplyDelete
  14. Suka sama tulisannya. Datanya lengkap. Harus waspada lagi sama LGBT ini :(

    ReplyDelete