Statistisi

-243- Teknik Menulis Opini di Surat Kabar (by Iswadi)

Tuesday, August 22, 2017

Pak Iswadi (pakaian batik). Foto kredit: Mbak Yusniar 😊 

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." 
(Pramoedya Ananta Toer)


Menulis adalah bekerja untuk keabadian. 

Satu quotes dari Pramoedya ini saya dapatkan kembali pada senin kemarin, saat mengikuti Pelatihan Penulisan Analisis di BPS Provinsi Kalimantan Timur dengan materi menarik sekali "Teknik Menulis Opini di Surat Kabar" dari Pak Iswadi, S.Si, MNat Res Econ, Kepala Sub Direktorat Analisis Statistik BPS RI

Tulisan bukan hanya sekedar tulisan. Ia akan menjadi sebuah tabungan yang kekal. Kita tidak akan pernah tahu, manfaat apa yang dirasakan oleh orang lain saat membaca tulisan kita. 

Luar biasa! ini juga yang baru saja saya rasakan. Saat saya dihubungi oleh seorang Owner Salon Muslimah yang berterimakasih atas artikel yang saya tulis tentang pengalaman saya satu tahun lalu. Bayangkan saja, SATU TAHUN. Saya tidak menyangka bahwa artikel tersebut bermanfaat sekali, dan apa yang saya tuliskan di sana, menjadi masukan yang sangat berarti untuk mereka. Sesekali saya memang menulis review di blog ini, hanya karena seringkali saya membutuhkan review serupa dari blog orang lain saat akan menuju ke suatu tempat atau memilih produk. Kita memang tidak pernah tahu, seabadi apa dan seluas apa manfaat dari tulisan yang kita buat di hari ini. Yang perlu kita lakukan adalah menulis, menulis dan menulis saja. Bekerja untuk keabadian.

Nah, sebelum masuk ke materi, semua peserta sempat diminta menuliskan lima impian yang paling diinginkan. Ini cara terbaik untuk mengetahui passion dan visi hidup, kata beliau. 😊. Tentu saja, menulis menjadi salah satu dari lima impian yang paling ingin saya wujudkan. Tapi apalah karir kepenulisan saya dibandingkan beliau (Pak Iswadi), saya mah apa atuh, hanya remahan intan berlian di kotak perhiasan. 😀😂 Eh tapi ya, pesan Pak Iswadi 'sejelek apapun tulisan kita' (tanda kutip :D), jangan remehkan. Karena sejelek-jeleknya pasti bakal ada yang suka. Begitu, katanya. Bapak mah menghibur sekali ini kata-katanya. 😆

Bagi saya, menulis ialah kebutuhan. Saya akan merasakan sakit -seperti orang yang terlambat makan- saat lama tidak menulis. Menulis menjadi aktivitas kebutuhan yang tidak bisa saya tinggalkan. Sebagaimana saya membutuhkan makan, minum dan tidur agar dapat terus hidup dalam keadaan sehat walafiat. 😊 Selebihnya adalah untuk hiburan. Saya memerlukan satu aktivitas yang membuat saya bahagia ketika saya melakukannya. Di luar aktivitas rutin dan pekerjaan sehari-hari. Karena itulah, saya membuat blog ini untuk berbagi. Bedanya, selama ini saya menulis hal-hal ringan saja di blog atau status, apalah sehari-hari sudah berkutat dengan data dan analisis, masak mau nulis itu lagi-itu lagi 😜 di blog. Daaan, sekarang BPS sedang gencar-gencarnya memberikan semangat literasi untuk insan BPS, agar terbiasa menulis dan memasyarakatkan data, salah satunya adalah melalui budaya menulis opini di surat kabar. 

Keringat dan Darah Demi Data

"Orang-orang yang punya banyak harta, mereka berbagi dengan cara bersedekah. Sedekah harta. Tetapi, menurut saya, kekayaan itu tidak hanya finansial. Sadarkah kita? kalau kita ini kaya. Kita punya banyak data. Kita kaya dengan data. Kenapa kita tidak berfikir untuk berbagi? sedekah data. Bagilah pengetahuan kita. Sampaikan informasi yang kita ketahui. Tidakkah kita ingat keringat dan darah yang telah kita keluarkan demi data?," demikian Pak Iswadi membuka sesi ini. 

"Mendapatkan data itu tidak mudah. Pergi mendata ke lapangan bisa jadi hal yang 'menjengkelkan' buat kita. Buat perempuan nih, sudah mahal-mahal perawatan, sebulan berapa kali ke N*t*sha, bisa hilang tuh dipake sekali pendataan lapangan, melayang perawatan yang nilainya jutaan", haha... indeed Pak!, 😝. 

Iya, saya ingat nih pengalaman paling 'horor' sepanjang tugas ke lapangan. Bukan dikejar anjing, ditolak responden, jalan berkilo-kilo panas-panasan. Pengalaman 'terhoror' yang saya alami adalah dikejar oleh warga yang sedang mabuk, dengan motornya yang melaju kencang. Kejadiannya cepat sekali, saya hanya ingat, suara warga sekitar yang berteriak, "Ibu...lari bu...lari...", kemudian mitra saya yang dengan sigap menarik lengan saya, "Mbak lari Mbak, ke rumah warga..lari Mbak cepat..."

Ya Allah, itu horor sekali, lambat lari sedikit saja, saya tidak tahu bagaimana akhirnya. 😭 Waktu itu, saya sedang ada penugasan Forum Komunikasi Publik (FKP) di balai desa, mengumpulkan seluruh perangkat desa dan warga. Saat absensi, saya mencari salah satu undangan yang wajib hadir, 
"Loh Bapak xxx mana? kenapa belum hadir?"
"Lagi gila dia Bu"
"Gila bagaimana?"
"Itu Bapak yang tadi mau nabrak Ibu," ruangan penuh dengan gelak tawa. 

Mitra saya menyikut saya dan berkata, "maaf ya Mbak. Kita datang di waktu yang tidak tepat. Semalam ada pesta. Di sini memang biasa seperti ini, kalau ada pesta. Tuh, Mbak lihat aja, mata-mata yang masih merah, dan yang ngomongnya ngaco, itu pasti masih pada mabuk. Di sini biasa kayak gitu Mbak, mau laki, perempuan, dewasa dan anak-anak, biasa saja."

Jantung saya berdebar kencang. 'Horor sekali', saya hampir celaka, melayang nyawa, tapi hal seperti ini ternyata dianggap biasa saja oleh masyarakat setempat. Mana desa ini jauh dari pusat kota. Medannya juga tidak biasa.
"Tapi Mbak gak kan? Mbak baik-baik aja kan?," tanya saya kepada mitra saya. 
"Ya gaklah Mbak, tenang aja. Lain kali kalau ada tugas lagi, saya pastikan tidak ada pesta atau acara Mbak." Dan sepanjang perjalanan pulang, saya mendapatkan banyak cerita dari petugas mitra yang menemani saya. Inilah salah satu fungsi menggandeng Mitra BPS dari penduduk setempat, agar mengetahui adat-istiadat dan lebih mudah melakukan pendekatan saat ada tugas ke lapangan. 

"Jadi, dengan cerita perjuangan, peluh, keringat dan darah demi data yang sudah kita lalui selama ini. Sayang sekali jikalau hasilnya hanya tersimpan di buku-buku publikasi Perpustakaan. Yang jangkauannya mungkin tidak meluas dan hanya dibaca oleh orang tertentu saja," demikian Pak Iswadi menyampaikan. 

Bagikan dan tuliskan. Inilah yang dapat dijadikan penyemangat untuk insan BPS agar bersemangat belajar menulis dan berbagi.


Menerima kenang-kenangan dari Kepala BPS Prov Kaltim. Foto kredit: Mbak Yusniar

Niat Mulia Modal Utama

Usaha yang dilakukan tanpa didasari visi yang jelas dan mulia tidak akan berhasil. Termasuk juga dalam usaha menulis sebuah artikel. Jadi tanamkan dulu tujuan yang besar dan mulia di dalam benak kita. 

Yang perlu kita fikirkan adalah bagaimana kita dapat menuangkan apa yang ada di benak kita ke dalam tulisan sehingga apa yang ada di pikiran kita dapat diketahui oleh orang lain dan niat kita menulis dapat terwujud. 

"Niat yang baik tentu akan membawa dampak dan hasil yang baik. Orang-orang yang sukses biasanya di awalnya tidak berniat menjadikan menulis sebagai sebuah 'usaha cari untung', tetapi mereka membawa niatan mulia dan visi yang jelas, untuk berbagi dan memberi kemanfaatan. Jadi sebelum jauh, tentukan dulu niat, niat yang lurus. Niat yang baik dan visi kita dalam menulis."

Apa yang harus dilakukan Penulis Opini Pemula?

Apa yang harus dilakukan oleh penulis pemula yang bahkan belum pernah mencoba menulis? Jawaban Pak Iswadi sederhana, "Ya, coba menulis saja", katanya. 😊 Ini terdengar klise dan terlalu umum ya jawabannya. Tapi memang tidak ada jawaban lain yang lebih baik dari itu. Coba saja. 

"Seorang ahli tidak bisa memberi tips dan trik yang benar-benar tepat, sebab menulis ini adalah sebuah keahlian. Seperti binaragawan, makin dilatih makin baik. Dan setiap orang pasti punya cara tersendiri dalam menulis. Jadi kalau saya ditanya, bagaimana cara menulis opini dan membunyikan data? saya tidak punya jawaban lain kecuali, 'ya coba saja, menulis saja dulu'." Ujar Pak Iswadi. 

Berikut ini akan saya tuliskan poin-poin penting yang beliau sampaikan mengenai apa saja yang harus dilakukan oleh penulis opini pemula: 

  1. Window Shoping 
Hal pertama bagi penulis opini pemula yang belum pernah mencoba menulis artikel opini adalah membaca sekaligus memperhatikan artikel-artikel opini yang berhasil diterbitkan di media massa. Ketika membaca koran, perhatikan artikel yang menurut kita enak dibaca dan mudah dimengerti. Usahakan untuk membaca opini dari berbagai koran yang ada di daerah anda. 
Aktivitas membaca adalah sahabat karib dari menulis. Biasakan untuk rajin membaca dan memperluas pengetahuan. Untuk belajar menulis opini di surat kabar, maka mulailah dari membiasakan diri membaca berbagai macam surat kabar. Dan pelajari bagaimana wujud tulisan opini itu dapat dimuat di surat kabar. 

Masing-masing surat kabar memiliki ciri khasnya sendiri. Selama membaca, pelajari gaya 'khas' dari tiap-tiap surat kabar tersebut. 

       2. Menulis Apa Ya?

Nah, mungkin ini hal pertama yang akan terbersit ketika hendak menulis. Menulis apa ya? 
Hayo, udah ngaku aja. 😕😆. Yes, saya juga gitu sih. Tiap mau posting tulisan di blog. Kebanyakan mikir, mau nulis apa ya? apa ya? apa? 😱 eh lama-lama saking kebanyakan mikir, akhirnya malah gak jadi nulis. 😜.

Ini dia tipsnya: 
  • Menulislah hal yang menjadi keahlian atau bidang keseharian. Seorang yang ahli dalam bidang tertentu akan lebih mudah berargumen dengan logis dan relevan. Kalian ahli dalam hal apa? menguasai di bidang Statistik Sosial? tulislah masalah-masalah sosial. Ahli dan mengerti sekali tentang pertanian? tulis tentang pertanian. Ahli dengan ekonomi dan PDRB? ya sudah, nulis tentang PDRB saja. Tulis hal-hal yang dekat dan memang telah menjadi keahlian kita. 
  • Perbanyak membaca berita. Nah ini! terutama yang tengah hangat diperbincangkan di koran dan social media.  
  • Coba cari dan fikirkan. Adakah sesuatu yang sedang terbersit di fikiran? adakah sesuatu yang mengganjal berupa ketidaksetujuan, saran atau kritikan. Contoh: daya beli masyarakat turun? ah yang benar? datanya tidak begitu? -misalnya-. 
  • Ini yang paling penting di antara semua, SEGERA TULISKAN IDE. Segera tuliskan ide yang muncul. Catat, simpan dan kembangkan. 

       3. Thesis Sentence
Thesis Sentence sebaiknya dituliskan terlebih dahulu agar arah penulisan lebih fokus dan terarah. Thesis Sentence akan memperkuat pemikiran kita dan tentu saja akan menjadikan proses penulisan lebih efektif, fokus dan terhindar dari kalimat dan pemikiran yang tidak relevan. Ini semacam kalimat yang kita buat agar tulisan memiliki panduan dan arah untuk berargumen. 
Misalnya: - Impor beras harus segera dikurangi. 

        4. Outline dan Data Pendukung

Penulis profesional mungkin saja tidak membutuhkan outline untuk menulis. Mereka sudah terbiasa menuangkan semua pemikiran ke dalam tulisan, tetapi untuk seorang penulis pemula, outline dan data pendukung tentu akan memudahkan sekali. Tidak perlu muluk dan canggih. Cukup tuliskan ide-ide pokok, gunakan bantuan mind map. Catat hal-hal penting dan mendasar apa yang ingin disampaikan. Outline akan sangat bermanfaat membuat proses penulisan terasa seolah kita sedang berbicara atau melakukan presentasi materi yang kita kuasai dan telah disiapkan sebelumnya.

         5. Data adalah Tambang Emas
Kita ini statistisi. Kita kaya. Kita punya banyak harta. Data adalah harta. Data adalah tambang emas yang kita punya. Menulislah dengan data. Apapun tulisannya. Kaitkan dengan fenomena. Elaborasi dengan hasil analisis yang ada. Berbagilah dengan data. Bagi pengetahuan kita kepada orang lain. 

Data yang kita punya tentu juga bisa menjadi sumber inspirasi dalam menulis. Semangat seorang penulis pemula seringkali luluh seketika di saat bertemu dengan keadaan tidak tahu apalagi yang harus ditulis. Tengok lagi harta yang kita punya. Dan carilah inspirasi darinya.


          6. Be a Writer First Not Editor

Penyakit penulis pemula: menulis sambil mengedit. Saya juga gini sih keseringan. 😷🙈

Menulis dan mengedit adalah dua jenis pekerjaan yang berbeda. Menulis dulu, kesampingkan pikiran soal bagus tidaknya tulisan, tentang EYD yang berantakan, tentang nyambung tidaknya pokok bahasan. Menulis saja dulu. Mengedit kemudian. 😆


Suasana peserta.

          7. Time to be a Professional Editor

Setelah selesai menulis. Barulah mengedit. Ingat bahwa tulisan pertama yang kita hasilkan adalah draft kasar, kasar sekali. Sehingga setelah jadi, baca kembali hasil tulisan sekaligus memoles segala hal yang bisa mempercantik, memperindah dan memperkuat argumen, perhatikan etika dan tata bahasa yang benar, perhatikan kesalahan ketik atay typo dan perhatikan koherensi dan kohesi.

Apa itu koherensi?
Suatu paragraf dikatakan koheren apabila kalimat yang menyusun paragraf tersebut memiliki keterpaduan dan kekompakan gagasan yang dikemukakan kalimat yang satu dengan yang lainnya.

Apa itu Kohesi?
Kohesi atau keterpaduan berkaitan dengan penggunaaan kata-kata yang menyusun kalimat dalam paragraf. Identifikasi tujuan kalimat, apakah untuk membandingkan, memberi informasi tambahan, mengemukakan hal yang berlawanan ataukah untuk memperkuat argumen.


          8. Freezing Time

Sudah selesai nulis, bekuin dulu tuh tulisannya. 😊. Menyimpan rapat-rapat tulisan untuk dilihat sekitar dua hingga tiga hari kemudian. Freezing time ini diperlukan untuk menetralisir unsur emosi. Sudut pandang dan taste mungkin sedikit berbeda saat kita menulis dan saat seolah baru membaca artikel. 

Pada waktu freezing time ini usahakan sebisa mungkin lupakan tulisan yang sudah selesai dan pergunakan waktu untuk menulis artikel yang lain. 


          9. What do you think?

Nah, setelah masa freezing time. Saatnya membaca kembali tulisan. Posisikan diri sebagai pembeli surat kabar yang tengah membaca artikel kita. Bayangkan perbedaan antara diri kita dengan pembaca yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan artikel tersebut sebelumnya. 

Sampai pada tahap ini, jangan berfikir untuk tidak jadi mengirim tulisan tersebut ke media massa. Di tahap ini lakukan perbaikan yang diperlukan dan mintalah pendapat orang lain.


          10. Cari Tahu Aturan Main


Pelajari aturan main di tiap-tiap media yang ingin kita kirimkan. Masing-masing punya ciri khas. Surat kabar Kompas dan Tempo, tentu berbeda. Pelajari dan tentukan kira-kira tulisan kita bisa cocok untuk dikirimkan ke surat kabar yang mana.

Sampai di sini, pancinglah editor atau tim redaksi untuk tertarik membaca artikel kita. Caranya adalah dengan memberikan informasi ringkas mengenai isi artikel yang kita kirim pada badan email.

Contoh:

Kepada Yth: Redaksi Harian Kompas
Berikut saya kirimkan artikel opini dengan judul "Pendapatan Petani." Artikel tersebut membahas Nilai Tukar Petani (NTP) yang merupakan indikator kesejahteraan petani yang belum sesuai harapan. Artikel ini juga sekaligus mensosialisasikan hasil Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian 2013 (SPP 2013) yang segera tersedia di bulan Juni 2014. 

Besar harapa saya, artikel tersebut dapat dimuat di harian Kompas sehingga pengamat dan peneliti kesejahteraan petani mendapat informasi tentang ketersediaan data pendapatan petani yang mutakhir. 

Demikian atas perhatian yang diberikan saya ucapkan terima kasih.


Hal yang penting lagi untuk diperhatikan adalah: memperkenalkan dan menjual siapa diri kita. 

Informasikan siapa diri kita sebenarnya, tunjukkan kapasitas dan kompetensi, sesuaikan kelebihan yang dijual dengan bidang atau topik yang ditulis. Tidak perlu menyebutkan kapasitas yang tidak relevan, cantumkan curriculum vitae (CV), title atau designation penulis, latar belakang pendidikan, pengalaman, portfolio dan jabatan.

(sampai di sini, saya juga baru ingat, sepertinya kemarin saat dialog berlangsung, tidak ada paparan mengenai cv Pak Iswadi. Untuk yang penasaran tentang latar belakang beliau dan kiprahnya di dunia kepenulisan, boleh membuka link berikut ini di sini. ).


Pak Iswadi saat menjadi salah satu narasumber Talkshaw Kepenulisan Kreatif di BPS RI

Berlatih di Citizen Media

Ini salah satu pesan yang beliau sampaikan. Menurut beliau, citizen media memiliki kelebihan dibanding blog. Di citizen media seperti Kompasiana, selain pembaca, artikel kita juga dinilai oleh tim admin mereka. Jika artikel kita dianggap bagus, maka nama kita beserta artikel karya kita akan terpampang sebagai headline. Pembaca artikel kita pun akan meningkat berlipat-lipat. Di Citizen Media, kategori rubrik juga telah disediakan dan semua isu bisa tayang kapan saja. (saya masih pikir-pikir nih untuk yang satu ini. Lah, ngurus satu blog saja tayangnya masih belum stabil. Gimana mau ngurus banyak-banyak? 😃)

Pesan berikutnya adalah: agar senantiasa TANGGUH dan belajar dari penolakan. Belajar mengenai kualitas tulisan, momen yang pas, isu yang sedang booming, gaya penulisan, gaya judul dan lainnya.

Terakhir, adalah tentang The Power of Questions, bermain peran sebagai wartawan dan seorang ahli dengan mempersiapkan segudang pertanyaan, jawablah bak seorang ahli, hapus semua pertanyaan, dan poles ulang jawabannya. Jadilah satu artikel yang siap untuk dikirimkan. ~~yeay~~


Sekian, oleh-oleh ilmu yang saya dapatkan dari rangkaian kegiatan Pelatihan Penulisan Analisis Hasil Listing SE 2016. Semoga bermanfaat dan memberi dampak semangat untuk tetap belajar meningkatkan kemampuan menulis, berbagi serta menginspirasi melalui tulisan-tulisan kita. 

Oleh-oleh berikutnya yang sudah pasti dinantikan adalah: rilis Publikasi Analisis Potensi Ekonomi Wilayah yang dijadwalkan Desember 2017. Ini semacam oleh-oleh yang waw ya. (((Waaw))) 😄. 

Semoga bermanfaat.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan One Day One Post (ODOP) hari ke-22 oleh Blogger Muslimah Indonesia

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



10 komentar

  1. Wow... Keren, renyah, gak boring dan inspiratif. Terima kasih sudah mengabadikan sharing saya. Jadi simpanan ilmu juga buat saya di kala lupa.

    ReplyDelete
  2. ga nyangka mb nurin....salut dan respect buat mb nurin yak

    ReplyDelete
  3. Artikelnya lengkap banget mbk, jadi nambah ilmu lgi mengenai dunia kepenulosan. Maksh mbk...

    ReplyDelete
  4. Wow, lengkap sekali Mbak. Bagiku pribadi, menulis kadang curhat, kadang serius. Tapi yang jelas menulis membuatku lega Mbak... entah kenapa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak. Emang lebih enak tsurhaaat sih ya. Haha. 😂

      Delete