Cinta

-24- Menganalogikan Cinta Versi Al-Iman

Monday, December 05, 2011



Saat saya hendak memasuki rumah, seorang perempuan dengan sepeda santai meluncur sampai tepat dihadapan saya. Mbak Nira (sebut saja demikian), dengan sedikit gugup bertanya apa saya punya waktu untuk menerimanya. Saya pun mempersilahkannya masuk dan berbincang di dalam. Setelah cukup lama berbasa-basi, saya melihat ada kegelisahan luarbiasa dari matanya. Benar saja, mata memang tidak bisa berdusta.

“Iya Mbak, saya memang lagi banyak pikiran, saya bingung juga bimbang,” Mbak Nira, sahabat baru saya yang usianya terpaut tiga tahun di atas saya, tampak tersenyum malu-malu dengan gamang.

“Ada apa Mbak, Mbak mau nikah ya?”

“Iya Mbak, saya memang sudah mau cepat-cepat nikah, sudah berumur juga, itulah masalahnya….. idiih…Mbak kok tahu aja….”, Mbak Nira menertawakan tebakan saya. 



“Jadi gimana sudah mantap pilihannya…”, saya asal menebak saja, sebab beberapa hari lalu Mbak Nira sempat bercerita pada saya tentang seorang lelaki siap menikah yang datang ingin melamarnya.

“Saya memang ingin segera menikah, tapi gimana ya Mbak……. Saya bingung harus gimana ya….”, Mbak Nira sedikit lebih serius dari sebelumnya, pandangannya kosong ke depan, dengan menarik napas dalam-dalam, Mbak Nira terlihat seperti memendam sesuatu yang teramat dalam.

“Mbak nggak suka dengan lelaki itu? Atau ternyata dia belum sesuai seperti yang Mbak harapkan?”

“Bukan…. Bukan itu Mbak… dia laki-laki yang baik, gimana ya Mbak… gimana nyeritainnya ya, saya juga bingung…”

“Ada laki-laki lain yang Mbak suka ya?”

Mbak Nira terdiam, lama…lama sekali… suasana hening sejenak, Mbak Nira seolah membutuhkan lebih banyak waktu untuk merangkai susunan kata. 

“Iya Mbak, itu masalahnya…”

“Mas Aan ya?”Mbak Nira terbelalak mendengar saya menyebut nama Mas Aan.

“Kok mbak bisa tahu?”

“Ndak tahu juga ya. Habis kayak-kayaknya auranya begitu. Ha..ha… tapi benarkan?”
Mbak Nira mengangguk malu, 

“Jadi sekarang saya sederhanakan permasalahan mbak ya. Mbak ingin segera menikah, sudah ada beberapa lelaki yang datang ingin melamar. Tapi di hati Mbak, Mbak inginnya menikah dengan Mas Aan. Cuma Mas Aan sampai sekarang belum datang-datang melamar ke Mbak, begitu kan?”

“Iya Mbak…”
“Mas Aan suka gak sama Mbak?”

“Ya itulah, saya juga gak tahu Mbak….”. Saat itu Mbak Nira bercerita yang pada intinya seperti menangkap sinyal dari Mas Aan kalau Mas Aan punya ‘rasa’ juga ke Mbak Nira. Saya mengatakan padanya bahwa menurut saya ada beberapa hal yang terkadang membuat laki-laki menunda melamar wanita yang disukainya:

  1.  Lelaki tersebut memang tidak pernah menyukai sang wanita, sinyal yang dianggap sebagai tanda ia menyukai sang wanita itu hanya perasaan dari sang wanita itu saja.
  2. Lelaki tersebut menyukai sang wanita namun ia masih belum merasa mapan dan siap ke jenjang pernikahan. Mapan disini bisa dalam artian ilmu, keuangan ataupun pekerjaan.
  3. Lelaki tersebut menyukai sang wanita namun tidak memiliki keberanian yang cukup untuk datang melamar karena merasa status dirinya lebih rendah dari wanita yang disukainya atau dengan alasan lain. Misalnya saja: keluarga sang wanita terlalu kaya, sang wanita berpendidikan lebih tinggi, takut ditolak, belum terlalu berfikir tentang pernikahan, masih ingin kuliah dulu, masih ingin kerja dulu atau yang lainnya.
“Untuk tahu Mas Aan masuk dalam lelaki kriteria yang mana, Mbak bilang aja ke Mas Aan….”

“Ihh…saya? Saya kan perempuan… malulah saya….”

Syariat memperbolehkan seorang wanita melamar pria, tentunya dengan adab-adab dan tuntunan islami. Saya tidak ingin menjelaskan bagaimana proses adab secara syar’i itu disini, karena kali ini saya ingin mengkhususkan pembahasan tentang ‘cinta’ dengan analogi versi Al-Iman. 



Tahapan Pertama: Taqriru bil Lisan (diikrarkan dengan lisan)

Sebagaimana makna Al-Iman yang pertama, yang berbunyi: Taqrirru bil Lisan (diikrarkan dengan lisan), maka cinta pun demikian. Cinta itu perlu diikrarkan, diucapkan, diungkapkan. Agar cinta itu sampai pada tujuannya. 

            Di dalam Ash-shohih  disebutkan dari Al-Musayyab, bahwa tatkala ajal menghampiri Abu Thalib, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menemuinya, yang saat itu di sisinya ada Abu Jahal.

            “Wahai paman, ucapkanlah la ilaha illallah, satu kalimat yang dapat engkau jadikan hujjah di sisi Allah,” sabda beliau.

            Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah menyela, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak menyukai agama Abdul-Muthalib?” keduanya tak pernah berhenti mengucapkan kata-kata ini, hingga pernyataan terakhir yang diucapkan Abu Thalib, “tetap berada pada agama Abdul-Muthalib.”

       Beliau bersabda, “Aku benar-benar akan memohon ampunan bagimu wahai paman selagi aku tidak dilarang melakukannya.”

        Lalu turunlah ayat: “Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam.” (QS. At-Taubah: 113).

Sebesar apapun, perjuangan, perlindungan, benteng dan bantuan Abu Thalib terhadap dakwah Islam yang dilakukan Rasulullah S.A.W pada masa itu, ketika Al-Iman itu belum  diikrarkan, maka sia-sia saja. Syahadat sebagai ucapan yang bermakna ikrar, sumpah dan perjanjian adalah pintu gerbang menuju islam. Siapapun yang mengimani adanya Alloh, berbuat kebaikan di muka bumi namun tidak pernah mengikrarkan keimanannya maka ia tetap saja golongan orang-orang musyrik.

Cinta yang juga merupakan sesuatu hal yang diagungkan dalam islam membutuhkan pengucapan oleh lisan. Seberapapun besarnya rasa cinta antara dua insan, seberapapun banyaknya jalinan asmara yang terajut semua itu tidak akan ada nilainya dihadapan Alloh sebelum adanya akad yang juga bermakna sebagai ikrar. Jika berduaannya dua insan sebelum adanya ikrar disebut sebagai zina, maka berduaannya dua insan setelah adanya ikrar mendatangkan pahala. Maka, cinta itu perlu bicara!

Seperti yang juga dialami Mbak Nira, diluaran sana, berapa banyak perempuan sholihah yang memendam keinginan untuk menyempurnakan Ad-diin menunggu keberanian ungkapan seorang lelaki sholih pujaan hatinya untuk datang meminangnya dan berapa banyak lelaki sholih yang ingin menikah, namun tidak kunjung berani menyatakan cintanya, didahului oleh lelaki lain yang biasa-biasa saja tapi lebih berani untuk datang melamar dan menyatakan kesiapannya. Maka cinta itu perlu bicara!.

Ketika banyak pasangan yang setelah menikah terjebak dalam rutinitas keseharian yang menyibukkan sehingga ‘cinta’ terasa hambar seperti sayur tanpa garam, maka cinta itu perlu bicara!.
            Kau seperti lautan
            Sebab kau benar-benar telah menenggelamkan aku dalam cintamu

Secarik kertas berisi rayuan yang disiapkan seorang suami di meja makan istri menjadi pelipur yang berarti bagi cinta yang dahaga. Sepiring makanan yang dihidangkan seorang istri dengan bumbu kata ‘I love you mas’  menjadi penyedap rasa ditengah beribu masalah yang menghimpit. Maka cinta itu perlu bicara!

Ketika seorang adik perempuan saya yang kini mulai belajar mencintai ayat-ayat Alloh dengan sedikit demi sedikit menghafalkannya memprotes saya karena menurutnya saya tidak pernah mengajaknya secara lisan. Padahal selama ini saya sudah cukup sering membawanya ikut serta saat saya mengikuti halaqoh-halaqoh Quran, juga mengajaknya melihat aktivitas santri-santri penghafal Al-Quran. Adik saya tetap memprotes saya,

“iya, tapi Mbak ndak pernah ngajak pake ngomong langsung…”

“Loh ngapain Mbak ngomong, kan kamu sudah tahu. Lagian kenapa gak bilang kalau pengen ikut. Mbak emang gak mau maksain, biar muncul sendiri dari hati…”

“Iya, tapi harusnya Mbak ngajak pake ngomong juga lah…”. Maka cinta itu perlu bicara!


Tahapan Kedua: Tashdiqu bil Qolbi (Dibenarkan dengan Hati)


Ketika fatkhul Makkah (pembebasan kota Makkah) kaum muslimin memasuki Makkah dengan dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok melewati jalan yang berbeda. Kepada mereka Rasululloh berpesan agar mengutamakan keselamatan dan jalan damai. Pada saat itu nyaris tidak ada perlawanan, kecuali beberapa orang yang kelihatan mencurigakan.

Adalah Khalid bin Walid yang mendapati orang yang bersikap mencurigakan tersebut. Setelah diintrogasi secukupnya orang tersebut dibunuh. Mendengar berita tersebut Rasululloh sangat marah, apalagi menurut pengakuan para saksi, orang tersebut telah menyatakan dua kalimat syahadat. Kemarahan Rasululloh semakin membuncah ketika Khalid membela diri dengan menyatakan bahwa orang yang dibunuhnya itu hanya berpura-pura bersyahadat agar ia selamat. Atas jawaban itu, Rasululloh bersabda, “apakah kamu sudah membuka dadanya sehingga kamu mengetahui isi hatinya?”.

Dalam Al-Iman, pengucapan dengan lisan lebih didahulukan dan utama daripada pembenaran dalam hati. Sebab tidak ada yang dapat mengetahui isi hati kecuali Alloh sang pemilik hati. Seperti kisah Khalid di atas, perbuatannya membunuh seseorang setelah ia mengucapkan dua kalimat syahadat tidak dibenarkan oleh Rasululloh. Dengan pengucapan ikrar lewat lisan, apalagi jika ucapan tersebut diucapkan berulang-ulang dan berkali-kali seperti syahadat yang kita baca berulang-ulang dalam shalat, akan merangsang otak untuk merespon kalimat tersebut untuk dibenarkan dalam hati, sehingga tujuan yang diinginkan iman akan tercapai, namun tidak selalu sebaliknya. Seperti ketika adik saya telah membenarkan dalam hatinya sejak lama bahwa ia membutuhkan Al-Quran, saya baru menyadarinya beberapa hari yang lalu ketika ia mengutarakannya pada saya, “Mbak, aku setoran hafalan sama Mbak ya…”. Andaikan saja adik saya mengutarakannya sejak dua tahun yang lalu, dan saya pun mengajaknya secara lisan sejak dulu secara bersamaan, mungkin akan lebih baik, sehingga kehausannya untuk mencintai Al-Quran dapat lebih cepat terealisasi.

Banyak kisah cinta ‘Based On True Story’ yang dibukukan dalam novel dan karya sastra yang berakhir sedih seperti kisah Hamid dan Zainab dalam Novel Hamka ‘Di Bawah Lindungan Kakbah’ yang telah sama-sama membenarkan dalam hatinya tentang ‘cinta’ mereka satu sama lain, namun tidak ada yang berani mengungkapkannya. Dikisahkan bagaimana Hamid merantau hingga sampai Makkah untuk melupakan Zainab, namun ternyata pelariannya dari apa yang telah dibenarkan oleh hatinya tidak dapat menyembuhkannya dari bayang-bayang cintanya pada Zainab.

“Sekarang barulah saya tahu bahwa diri saya ada harganya buat hidup, sebab ada orang yang mencintai saya, yaitu orang yang saya cintai!”, begitu ucapan Hamid di penghujung ending kisah mereka ketika akhirnya cinta itu terungkapkan, meskipun agak terlambat.
___
            Cinta adalah Anugerah dari yang Maha di atas Maha
            Tidak seorangpun yang berencana
            Ketika kuncup-kuncup rasa itu datang secara tiba-tiba
            Baik itu di pandang pertama
            Pandang kedua atau hanya karena terbiasa
            Ah, betapa indahnya
            Dunia dengan kedua bola matanya
            Duhai alangkah syahdunya  
            Masuk ke pintu Jannah lalu bersanding dengannya
            (ini adalah sebagian catatan yang saya ambil dari buku diary saya ketika saya merasakan jatuh cinta)

Ya, tidak ada dari kita yang tahu mengapa perasaan ‘suka’ itu bisa hadir secara tiba-tiba, bahkan hanya lewat pandang pertama, pandang kedua atau hanya karena terbiasa. Kita tidak pernah berencana, tidak pernah memilih akan jatuh cinta dengan siapa, kapan dan dimana. Bagaimana mungkin kita bisa mencintai satu orang diantara jutaan pilihan atau bahkan lebih yang bisa jadi jauh lebih baik, lebih sholih, lebih cantik, lebih tampan, lebih kaya dan lebih segalanya. Lalu kemudian kita memilihnya, kita menetapkannya untuk memasuki relung hati kita yang terdalam, mengikatnya dengan perasaan, membawanya serta untuk turut mengalahkan logika. Cinta memang tidak berlogika, sebab jika berlogika itu bukan cinta. Hanya cinta yang bisa membuat debar saat bertatap, cintalah yang melahirkan rindu ketika lama tak bertemu, cinta yang menguatkan saat jauh. Cinta memberikan dorongan kuat bagi sang pecinta untuk memperjuangkan cintanya, menerobos perintang, halangan, ujian, cobaan. Cinta pula yang menciptakan keinginan untuk hidup bersama.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Ayat di atas turun kepada Rasululloh masih berkaitan dengan Abu Thalib, pamannya. Dalam ayat ini Alloh menjelaskan bahwasanya Rasululloh tidak dapat memberi petunjuk bahkan kepada orang yang sangat ia kasihi. Bahwasanya hanya Allohlah yang dapat memberi petunjuk kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Ketika seorang yang telah beriman dengan lisanpun, tidak serta merta otomatis akan membenarkan dalam hati. Betapa sulit bagi pendakwah untuk menyadarkan muslim yang telah bersyahadat untuk hanya percaya kepada Allah saja dan menampik segala Illah selain Alloh. Bukankah masih banyak dari golongan umat ini yang berikrar ‘La ilahaillalloh’ namun masih mempercayai kekuatan jimat, memohon kesembuhan dengan berbagai macam ritual atau bahkan meminta bantuan pada jin. Jika saja setiap orang dapat dengan mudah memberi petunjuk, maka tidak perlu banyak da’i/daiyah, ustadz/ustadzah, tapi sekali-kali tidak, petunjuk hanya dari Alloh sedang manusia hanyalah perantara.

Saat Alloh telah memberikan petunjuk pada orang yang dikehendaki-Nya, maka petunjuk tersebut merupakan isyarat dan tanda baginya untuk segera beriman dan kembali kepada Alloh. Begitupun cinta, ketika rasa cinta itu telah Alloh turunkan kepada seseorang yang dikehendaki-Nya, maka itu merupakan isyarat dan tanda baginya untuk segera memperjuangkan cintanya ke dalam bentuk cinta yang lebih agung, yakni pernikahan.  Namun, tidak ada yang dapat memaksakan cintanya, sebab cinta itu sebuah perasaan yang bersumber dari Alloh sebagaimana juga kita tidak dapat memaksakan memberikan petunjuk kepada orang yang kita kasihi. Maka setelah cinta itu bicara,  tidak perlu terlalu larut ketika akhirnya ‘Cinta bertepuk sebelah tangan’, insyaalloh itu adalah tanda jika Alloh akan menggantikannya dengan ‘Cinta yang lebih’ lagi.  Tetapi bersedihlah ketika kita belum pernah sama sekali memperjuangkan ‘cinta’ yang sejatinya adalah Anugerah terbesar yang telah Alloh turunkan di hati kita. Bersedihlah, ketika kita baru menyadari bahwa hidayah/petunjuk yang seharusnya menjadi milik kita, tidak lagi mampu kita gapai, sebab kita terlambat memperjuangkannya.

Tahapan Ketiga: Amalu bil Arkan (Diwujudkan dalam bentuk Perbuatan)

Pengejawantahan dari iman adalah mewujudkannya dalam perbuatan atau amal yang termotivasi dari hati yang ikhlas dan paham akan maksud syariat Alloh SWT. Setelah diikrarkan dengan lisan, diyakini dalam hati maka cinta itu perlu dibuktikan dengan perbuatan. Seseorang yang hanya mengikrarkan iman dalam lisan namun meragukan keesaan Alloh di hatinya berpotensi menyekutukan Alloh dengan zat yang lain (syirik), seperti halnya cinta yang diumbar dalam lisan saja  dan bukan bersumber dari hati sering kita namakan ‘cinta gombal’. Seseorang yang biasa mengumbar cintanya dengan ‘cinta gombal’ berpotensi menjadi ‘peselingkuh cinta’.

 Seseorang yang beriman dengan lisan dan hati namun tidak dibuktikan dalam perbuatan, tidak pernah melaksanakan sholat/ibadah lain serta tidak menunaikan apa yang Alloh perintahkan adalah tanda-tanda orang munafik. Sehingga dalam iman, ketiganya baik lisan, hati dan tindakan merupakan satu paket yang tidak terpisahkan. Ketika ada satu bagian yang mulai memudar, maka kondisi iman sedang turun. Maka iman perlu penjagaan, perawatan dengan banyak mengkaji Al-Quran, banyak mengingat Alloh dan aktivitas lain yang memompa semangat iman. Begitupun cinta, terkadang meletup-letup namun seringkali pula memudar seiring rasa bosan, jengah, jengkel, kesal ataupun marah. Maka cinta pun perlu di jaga, diupayakan, diciptakan. Untuk itu setiap pasangan suami-istri tetap memerlukan waktu khusus untuk bersama, meski tidak lama. Seorang ayah tetap harus berinteraksi dengan anak-anaknya meski kesibukan kerjanya luar biasa. Seorang ibu tetap harus tersenyum dan ramah meski padatnya pekerjaan rumah membuatnya jengah.

Sehingga, untuk urusan cinta, tidak pernah cukup hanya diucapkan dan dibenarkan hati. Cinta perlu pembuktian, perlu ada perbuatan. Jika di hati telah mencintai, maka buktikan. Datang, sampaikan, ajukan lamaran!, perjuangkan hingga sampai pada jenjang pernikahan. Maka, sempurnalah pengejawantahan cinta sebagaimana sempurnanya iman. 

Wallohu a’lam bish showab.

Dering HP saya berbunyi. Sebuah sms masuk, dari mbak Nira.
 “Mbak, Mas Aan meminta waktu 2 minggu untuk membicarakan dengan keluarganya, karena ini menyangkut urusan dunia akhiroh”.

“Ya Mbak, barokalloh. Saya doakan semoga Alloh memberikan keputusan yang terbaik buat mbak”.

Saya kemudian mengingat obrolan kami di sore hari itu, saat saya menyarankan Mbak Nira untuk bicara saja lewat orangtuanya. Lelaki yang datang padanya kala itu adalah lelaki kesekian dan bukan yang pertama.

“Mbak Nira, sudah banyak yang datang dan Mbak tidak pernah bisa memilih karena hati Mbak terpaut dengan yang lain. Sebaiknya selesaikan saja dengan Mas Aan, Mbak tidak akan menjadi hina hanya karena maju dan bertanya terlebih dahulu, justru sebaliknya, Mbak menjadi lebih mulia. Kalau Mbak memang ingin segera menikah karena Allah, maka jikapun tidak beroleh kesempatan dengan Mas Aan, janganlah pautkan kebahagiaan kita hanya pada sosok, pada Alloh saja kita pantas menggantungkannya..insyaalloh......”

Maka cinta itu perlu bicara, diyakini dengan hati dan dibuktikan!



Tanjung Selor Kota Ibadah,
*tidak percaya bisa jadi sepanjang ini. Saya, yang masih belajar ‘cinta’ hingga detik ini. 



You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



14 komentar

  1. Alhamdulillah mb..dari catatan ini sya lebih mengerti akan "cinta"....hehehe
    inikah tulisan yg mb tanyakan itu?

    ReplyDelete
  2. ya Erma, dirimu turut menginspirasi tulisan ini lho...^^

    ReplyDelete
  3. Ya, betul. Cinta itu memang harus diungkapkan. Tidak semua orang bisa nerjemahkan sinyal-sinyal cinta. Tapi, kok susah ya mengungkapkan cinta, apalagi pada orang-orang yang terdekat yang sudah sangat-sangat amat dicintai... Justru pada orang-orang yang dicintai tapi tidak terlalu, musah sekali bilang "I love you". So strange...

    ReplyDelete
  4. tulisan yang sangat indah. berhujjah, berrasa.

    ReplyDelete
  5. Begitu pula dengan kecintaan kita kepada Allah SWT. Ucapkan dengan lisan, benarkan dengan hati dsn wujudkan dengan perbuatan.

    ReplyDelete
  6. susah kayaknya ya klo perempuan yang harus nanya, minta tolong tanyain lewat perantara yang dipercaya aja. sayang ya klo harus menolak banyak lamaran hanya krna nunggu yang tak pasti.

    ReplyDelete