Wisata

-185- Upacara Adat Kematian Suku Dayak Berusu

Thursday, January 28, 2016


Seluruh foto dokumentasi BPS Tana Tidung. 
Bismillahirrohmanirrohim.

Di bumi Allah yang sangat luas ini, kita bisa mendapatkan banyak pelajaran, mulai dari pelajaran bersosialisasi hingga mengenali adat-istiadat, budaya dan kebiasaan dari satu daerah ke daerah yang lain. :)

Ditakdirkan menjalankan tugas berpindah-pindah, mengajarkan satu hal pada saya, bahwasanya di dunia ini, manusia sangatlah beragam, tiap individu itu unik, dan kita harus mampu membaur sesuai bahasa kaumnya. Padahal jika Allah mau, umat ini diciptakan ummatan wahidatan (ummat yang satu saja), tetapi Allah telah membuat perbedaan dan keragaman sebagai rahmat untuk saling kenal-mengenal. Dan dari rahmat itu, ummat diminta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, subhanallah. 

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.". Q.S Al-Hujurat: 13. 

Dan, salah satu pelajaran yang bisa saya petik di tempat ini, Kabupaten Tana Tidung Provinsi Kalimantan Utara ialah mengenali keragaman dari suku-suku asli yang mendiaminya. 

Salah satu suku tersebut adalah Suku Dayak Berusu, atau biasa juga ditulis menjadi Dayak Belusu. Masyarakat Berusu ini termasuk penduduk mayoritas selain suku Tidung sendiri. Mayoritas suku ini beragama non muslim, sebagiannya lagi beragama  muslim. Para mualaf yang bisa saya temui dari suku ini sebagian besarnya adalah karena faktor pernikahan, tetapi sebagian lagi adalah penemuan hidayah atas pencarian makna hidup.

Jangan tanya soal bahasa pada saya, saya paling sulit menyerap bahasa daerah. Beberapa tahun lalu, ketika saya tinggal bersama suku Bulungan selama empat tahun lamanya, tidak menjadikan saya fasih dengan bahasa mereka, meski sedikit. Begitupun selama di sini, selama membersamai suku Tidung dan Berusu, rasa-rasanya tak banyak kosakata yang dapat saya ingat. Padahal, sesekali, ketika bertemu dan mendengar percakapan mereka, saya suka iseng mencatat kata-kata yang baru saya dengar sambil sibuk bertanya,

"apa tadi artinya Bu?",
"kalau makan bahasanya apa Bu?", tapi setelah itu, saya lupa lagi. Tidak ada yang menyangkut di luar kepala, tapi saya mulai bisa sedikit logatnya. :)


Upacara adat kematian suku Dayak Berusu ini biasanya dilangsungkan selama tujuh hari lamanya, sampai dikebumikan. Acara di gelar di Lamin Adat (rumah adat) di Desa setempat, masyarakat setempat biasanya menamainya dengan 'Upacara Buang Pantang' atau 'Upacara Pelepasan Arwah'. 


Ritual Pelepasan Arwah suku Dayak Brusu intinya mereka menceritakan kembali dalam bentuk peragaan bagaimana kebiasaan-kebiasaan kerabat yang sudah meninggal ketika dia masih hidup. Acara diawali dengan mengadu ayam. 
Dalam acara ini, dua sesepuh adat berdiri di tengah arena adu ayam yang sudah disiapkan. Sementara yang lain berdiri mengelilingi mereka sambil bernyanyi dan bersorak. Adu ayam atau sabung ayam tanpa pisau taji ini tidak berlangsung lama. 
Setelah adu ayam, para hadirin diiringi bunyi gong kembali ke tenda. Dalam tenda, tanpa di komando, bergantian mereka menyanyi, berbalas pantun yang intinya masih menceritakan setiap sikap dan perilaku orang yang meninggal. Bersamaan dengan itu, makanan khas  selalu tersedia untuk menemani upacara itu. Misalnya tamba (ikan atau daging babi yang sudah di awetkan) serta pengasi (sejenis tuak). 
Dalam upacara ini kerabat yang hadir bukan saja orang Berusu, suku-suku lain yang memiliki hubungan kawin mengawin juga ikut hadir. Mereka tidak saja datang sendirian melainkan dengan anggota keluarga besar dan disambut secara adat, di antaranya dengan tarian dan nyanyian yang khusus untuk penyambutan tamu. Setelah tamu-tamu itu masuk dan bergabung dalam tenda, mereka disuguhkan pengasi dan tamba sebagai makanan dan minuman pembukaan (secara adat). Mereka juga terus bernyanyi bergantian sambil berbalas pantun. (dimuat dalam Statistik Daerah Kabupaten Tana Tidung 2015 Bab Pariwisata


tua, muda, laki-laki, perempuan ikut dalam tarian. 
Buang Pantang di sini dimaksudkan sebagai membuang semua kesialan, keburukan atau hal-hal yang tidak diinginkan atau hal-hal yang tidak diharapkan dapat terjadi pada keluarga yang ditinggalkan. Setiap keluarga yang datang akan ikut dalam tarian, diiringi musik dan nyanyian. Selain pihak keluarga, para tamu undangan yang hadirpun, diperbolehkan ikut. 

Salah satu jenis minuman yang tidak luput dari hidangan adalah pengasih. Minuman ini bisa memabukkan jika terlalu banyak diminum. Pengasih ini terbuat dari ubi kayu yang direbus kemudian dipotong-potong, dicampur dengan ragi kemudian di simpan di dalam tempayan (wadah yang biasa kita sebut guci). Ragi yang digunakan adalah ragi buatan sendiri, campuran dari bahan-bahan seperti beras, cabe rawit, daun pepaya (dan mungkin campuran bahan lainnya), ditumbuk halus, dijemur , diayak, sampai berjamur, lalu kemudian dicampurkan dengan bahan utama ubi kayu tadi. Setelah itu dimasukkan ke dalam tempayan, di diamkan selama beberapa minggu. 


tempayan-tempayan berisi pengasih

Cara meminumnya, biasanya diminum berpasangan (berdua), setelah tempayan di buka, diisi dengan air, dibersihkan agar isi tempayan mengendap, kemudian diminum menggunakan rotan atau bambu. Setelah diminum dan air di dalamnya habis, tempayan akan diisi oleh air kembali, begitu terus sampai rasanya menjadi tawar.

Untuk kegiatan sebesar ini, tentu biaya yang diperlukan tidak sedikit. Untuk itu, upacara seperti ini biasanya dilakukan secara bergotong-royong, sebelum acara dimulai, biasanya akan diawali dengan pencarian kayu bakar di hutan, masak-masak dan persiapan lainnya yang bisa memakan waktu satu sampai dua minggu lamanya.

Oh ya, undangan pada upacara apapun yang dilakukan suku Dayak Berusu terbilang unik, mereka tidak mengunakan undangan tertulis seperti pada umumnya, tetapi menggunakan rotan yang didalamnya terdapat simpul-simpul sejumlah hari 'H' acara. Jadi misal, acara akan dilangsungkan satu minggu kemudian, rotan-rotan akan diletakkan di tiap rumah yang akan diundang. Didalamnya sudah ada tujuh simpul, nah si pemilik rumah harus membuka satu simpul setiap hari, jika simpulnya habis, maka di hari itulah acara akan dilangsungkan. Jika tidak menggunakan cara ini, undangan biasanya akan disampaikan lewat lisan, dan tentu saja cara ini jauh lebih efektif. 

Meminum pengasih (tuak) dari tempayan.
Pada acara seperti ini, pihak keluarga biasanya akan menggunakan pakaian adat, dan menggunakan kalung yang terbuat dari manik-manik. Kalung ini menjadi simbol tersendiri pada upacara adat ini. Oh ya, karena suku ini mulai membaur, berkembang karena perkawinan dengan suku lainnya atau pendatang seperti yang saya katakan, biasanya mereka akan mempersiapkan makanan tersendiri, dalam bentuk nasi kotak atau bungkusan khusus bagi tamu ataupun keluarga muslim yang turut hadir. 

Upacara adat ini, kemudian menjadi ikon budaya sekaligus wisata bagi pendatang yang hendak mempelajari budaya suku Berusu.

Di masa akan datang, setelah tidak lagi di sini, barangkali, pengalaman-pengalaman seperti ini akan menjadi kenangan yang akan sulit dilupakan. :)








You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



6 komentar

  1. Wah, upacara adat yang unik.
    Beruntung sekali mba Nurin bisa menyaksikan banyak kekayaan budaya Indonesia

    ReplyDelete
  2. Bangga bngt jd orang indonesia yang unik kyk upacara adat ini ya hanya ada di indonesia

    ReplyDelete
  3. Aku jadi ingat budaya kematian orang kaya di tanah toraja yang terkenal itu mba.. Apakah di kalimantan ini juga yang kaya saja atau semua orang bisa di 'rayakan' seperti ini?

    ReplyDelete