Celoteh

-130- It's Called Home

Thursday, November 07, 2013

Milha dan Jauhar. Kira-kira seumuran ini saya dan Nihlah ketika itu





Suatu siang, menjelang sore, saya dan Nihlah, yang kebetulan sedang duduk-duduk bermain di teras rumah, melihat segerombolan orang, tentu saja mereka dari penduduk di bawah gunung. Ah ya, kami tinggal di atas gunung, di perumahan guru, di dekat sekolahan, di sini hanya ada dua perumahan guru, di belakang rumah kami masih hutan, (kenapa jadi banyak di- ya?) hutan tersebut sekaligus berfungsi sebagai kuburan. Konon katanya, di hutan belakang rumah ada pekuburan tentara Belanda dan Jepang yang dulu menjajah tempat ini. Nah, karena itu, setiap ada yang meninggal, rombongan yang akan menguburkan pasti akan melewati rumah kami. Tepat di rombongan belakang, saya mendapati satu-dua kawan main kami. Mereka dengan senyum yang mengembang –seolah hendak berangkat tamasya- melambai lambai, 

“Ikut yuk,, kita ke kuburan”, masih dengan tawa yang sumringah. Heran! yang jelas waktu itu saya yakin tidak satupun dari mereka yang mengerti apa itu kuburan. 

Saya lantas melirik ke arah Nihlah, antara hasrat ingin ikut dan takut, akhirnya kami hanya mengulur-ngulur kesempatan untuk ikut, sampai rombongan pelayat benar-benar habis tidak bersisa. Ibu? tak perlu ditanya, Ibu sudah pasti mengijinkan. Malahan, sejak tadi Ibu sudah membujuki kami agar segera ikut. Kan ada teman-teman, begitu kata Ibu. Maklum, Untuk ukuran anak-anak seumur kami, kami sudah puas bermain di berbagai tempat, bersama teman-teman. Turun gunung bermain ke pantai, mencari karamunting di semak-semak, main di kawasan sekolahan, sampai bermain di kebun belakang rumah. Pernah, suatu ketika Nihlah, yang sekecil itu, hilang. Gara-gara saya juga, waktu itu tepat waktu jumatan, Bapak sedang jumatan di masjid, Ibu (saya lupa Ibu sedang kemana), di rumah hanya ada saya dan Nihlah. Tiba-tiba, hal yang tidak kami inginkan terjadi, saya kebelet BAB. Haduh,,, mana waktu itu saya belum bisa ambil air untuk bersih-bersih sendiri. Di jaman itu, air begitu sulit, jadi kalau mau ke wc, harus menimba air dulu dari sumur belakang. Dan kebetulan waktu itu air di wc sedang kosong. Jadilah, saya menyuruh Nihlah untuk turun gunung, ke masjid (ada kali ya jaraknya, setengah kiloan) mencari Bapak, untuk segera pulang. Ya ampun, beneran deh! waktu itu saya gak kepikiran untuk anak sekecil Nihlah, permintaan tolong saya itu sangatlah berat, apalagi, mencari Bapak diantara sekumpulan jamaah masjid yang bejibun, tapi kok ya si adek ini nurut-nurut aja, mau-mau aja gitu. Hingga akhirnya, setelah lama duduk dalam penderitaan, hehe, pulanglah Pak Puh (Kakak Ibu) yang kebetulan silaturohim ke rumah, menolong saya bersih-bersih. 

“Lho, Nihlah mana?”

“Tadi aku suruh ke masjid, cari Bapak, memangnya Pak Puh gak ketemu Nihlah?”, belagak bloon.

Nah… ternyata Nihlah gak pulang-pulang, gak tahu kemana, entah nyasar kemana dia. Waktu itu saya khawatir juga, tapi karena saya masih kecil, jadi saya tidak ikut dalam pencarian. Menjelang maghrib, barulah seorang tetangga –di dekat masjid- memulangkan Nihlah, entah apa yang telah menimpanya, tapi Nihlah nampaknya senang-senang saja sambil memamerkan serangga dalam botol yang baru di dapatnya. Ealah, ternyata tetangga kami itu sengaja menyembunyikan Nihlah, untuk memberikan semacam ‘teguran halus’ kepada Bapak dan Ibu yang dengan sembrono membiarkan anak sekecil itu keliaran siang-siang. Hadeh, itu kan gara-gara saya. 


Ibu semasa muda

Pernah juga, saat kami hanya berdua di rumah, waktu itu Ibu katanya ada perlu sebentar di rumah tetangga sebelah –dan satu-satunya- yang ada di gunung. Saya mengajak Nihlah bermain pantai-pantaian di bibir sumur. Kami punya sumur yang dalamnya mungkin dua atau tiga meteran, cukup lebar dan berbentuk persegi, untuk menampung air hujan

“Dek, main pantai-pantaian yok!”

“Ayok”

Mulanya saya hanya bermaksud mengajaknya duduk di bibir sumur, lantas bermain kecipak air dengan kaki bergelantung. Tapi, adek saya yang cukup cerdas ini, tiba-tiba mengajak saya turun lebih ke bawah lagi. 

“Mbak-mbak, bisa nih kita turun dikit lagi…”

“Dek, jangan Dek …” belum selesai saya melarangnya, adek sudah terpeleset dan jatuh.

Haduh, itu pengalaman yang sangat menegangkan, saya langsung berlari memanggil Ibu, saya masih bisa mengingat bagaimana wajah pias Ibu, wajah khawatir dan bingungnya, mana waktu itu Bapak sedang ada tugas ke Samarinda, butuh beberapa waktu sampai kemudian seorang laki-laki datang menolong adik. Tubuhnya sudah membiru, perutnya kembung karena kebanyakan meminum air. Yang saya ingat, tubuh adik diguncang-guncang, di balik, kaki di atas-kepala di bawah, air yang keluar banyak sekali. Malamnya, badan adik panas. Dia hanya tertidur, seperti tidak sadarkan diri. Hiks, sedihnya, Kakak macam apa pula saya ini?

Nah, kembali ke cerita tadi, ulur punya ulur, akhirnya kami memutuskan untuk menyusul. Jujur, waktu itu saya agak takut. Maklum saja, ini kali pertama bagi kami menyusuri hutan di belakang rumah. Suasana waktu itu sunyi, sepi, yang ada hanya pepohonan (ya iyalah, kan hutan!). Baru masuk beberapa langkah, kami mendapati kuburan. Tetapi, di sana tidak ada siapa-siapa. 

“Mungkin itu kuburan Belanda, Dek”, kata saya menunjuk bentuk pekuburan yang agak aneh.

Kami berjalan masuk agak jauh lagi. Aneh, saya baru tahu kalau di dalam hutan ini rupanya ada satu-dua rumah kayu yang masih agak bagus –tetapi sepertinya sudah lama tidak berpenghuni-. Tidak lama, kami menemukan beberapa lelaki, mungkin sekitar 5 atau 6 orang yang sedang menggali kuburan. Tapi, mana rombongan pelayat yang panjang mengular tadi? 

“Nah, mungkin itu yang mau dikubur tadi, ayuk kita kesana Dek”.

Saya menggamit lengan Nihlah, berjalan mengendap-ngendap pelan ke arah gerombolan lelaki yang sedang sibuk mengayunkan cangkul, membuat lubang. Anehnya, ke enam lelaki tadi tidak bersuara, mereka diam saja, wajahnya juga bengis, tidak bersahabat. Lalu, tiba-tiba salah satu dari mereka dengan lantang menghardik. 

“Ngapain anak-anak ke sini? pulang sana! anak-anak gak boleh ada di sini!”. Lho bukannya tadi juga banyak anak-anak yang ikut? dengan terpaksa, kami pun menurut, memutar arah untuk kembali, pulang ke rumah. Saat masih bertanya-tanya, kemana perginya rombongan pelayat tadi, Nihlah yang berjalan di depan tiba-tiba berteriak, 

“Mbak, lari Mbak … lari… ayo cepat lari, pulang ke rumah Mbak…”

Au ah, kata adek, waktu melewati pohon bambu, dia melihat seorang kakek berbaju putih-putih, tiba-tiba berubah menjadi nenek-nenek. Itu salah satu pengalaman yang juga cukup menegangkan, dan anehnya tidak lama berselang setelah kami kembali ke rumah, rombongan panjang mengular itu kembali. Sedang kawan-kawan main kami itu, tetap dengan senyum mengembang, melambai-lambaikan tangan -bagai peragawati di atas catwalk-, setengah berteriak, “Oi, kenapa gak mau ikut tadi? haha…”

Apa jadinya ya, kalau saya menjadi ibu di masa itu? menikah, lalu diboyong ke tempat nun sepi, jauh dari peradaban, tidak ada listrik, susah air, tidak ada pasar, tidak ada keramaian. Tinggal di hutan, di atas gunung, jauh dari tetangga, sering ditinggal Bapak dinas luar lagi. Tidak ada tempat untuk bersenang-senang –setidaknya seperti toko, mol atau tempat leha-leha melampiaskan hasrat berbelanja-. :). Satu-satunya rekreasi belanja kami, adalah pada saat tanggal muda, tiap tanggal satu, sehabis gajian. Sorenya penduduk kampung –termasuk kami sekeluarga- beramai-ramai menumpang kapal perusahaan Inne Dong Hwa (perusahaan penghasil plywood yang cukup besar kala itu), mendatangi pasar malam dadakan yang memang ramai di tiap tanggal muda, menghibur orang-orang kampung macam kami yang jarang melihat pasar. Saya senang sekali menanti tiap tanggal muda, karena itu berarti saatnya kami makan bakso!. Yeah, bakso kala itu adalah ‘barang mewah’ buat saya, terlebih lagi kalau belinya di pasar malam Dong Hwa. Uwoo… kalau tidak segera memesan, antriannya yang sangat panjang bisa membuat kami ketinggalan kapal tumpangan untuk pulang. Ya, kami cuma punya waktu hingga sampai sholat maghrib, jam 7 teng, kapal akan segera memuat karyawan perusahaan yang hendak pulang. Suatu waktu, di tanggal muda yang dinanti-nanti, Bapak sudah jauh-jauh hari mempersiapkan rekreasi malam kami. Jadi, ceritanya sore itu, kami tidak menumpang kapal perusahaan, Bapak sudah menyewa sebuah perahu ketinting untuk kami sekeluarga, tujuannya sudah pasti supaya bisa lebih leluasa, dan lebih lama jalan-jalannya. 

Gelombang sedang pasang-pasangnya sore itu, air laut hampir menyamai tinggi jembatan. Warna air laut juga seingat saya, lebih gelap dari biasanya. Bapak, Ibu dan Nihlah sudah naik di atas perahu yang terombang-ambing keras, sedang saya masih duduk di tangga jembatan, menunggu untuk diturunkan sambil bersenandung ceria, saya selalu bersemangat saat bepergian seperti ini. Tiba-tiba gelombang cukup besar datang, kapal bergoyang, oleng, lalu tiba-tiba terbalik. Saya tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelahnya, karena saat kapal oleng, kapal menghantam tangga jembatan dengan sangat keras, saya terpelanting, jatuh tenggelam di lautan. Tenggelam di laut yang dalam, gelap, asin, dan tidak bisa berenang, adalah pengalaman menegangkan kedua, setelah menyaksikan adek jatuh di sumur rumah. Yang saya ingat, sang pemilik kapal kesulitan mencari saya, karena gelapnya lautan sore itu. Saya berharap bisa menyentuhnya yang berenang ke dalam mencari saya, tapi sulit sekali. Saat kejadian itu, yang saya fikirkan hanyalah bagaimana agar saya tidak terseret lebih jauh ke tengah, saya berusaha keras memegang kayu jembatan. Alhamdulillah, tidak lama, saya yang memegang kayu jembatan dengan erat, akhirnya ditemukan. Di atas jembatan, sudah penuh sekali orang, berita seheboh ini, sudah pasti telah menyebar ke seluruh penjuru kampung. Saya menangis, menangis dengan kencang. Tidak tahu bagaimana keadaan Bapak, Ibu dan Nihlah. Yang saya ingat, saya dibawa ke rumah, dihibur agar sedikit tenang, dan dibuatkan segelas susu hangat.


Jembatan kenangan. Tempat saya pernah tenggelam. Ibu yang sedang menggendong bayi.


Setelah peristiwa itu, saya baru tahu, ternyata Bapak sedang sibuk menolong adik dan ibu. Tidak lama seusai kejadian itu, mungkin karena trauma atau juga khawatir, akhirnya saya diungsikan dikirim ke Jawa, ikut Mbah, supaya bisa sekalian ikut sekolah TK. Di kampung saya nan elok itu, belum ada TK, tapi itu pun tidak bertahan lama, kira-kira tak cukup setengah tahun saya dijemput kembali. Rupanya ibu tak tahan berpisah dengan saya lama-lama, apalagi mengingat usia saya yang masih amat belia. 

Semenjak itu, saya jadi suka mengekor Bapak ke sekolah, hampir tiap hari. Saya pun dibuatkan baju sekolah –dijahit sendiri oleh Bapak-, diberikan meja-kursi sendiri, lalu lama-lama, akhirnya saya pun jadi sekolah betulan. Maka, saya pun resmi menjadi murid SD di usia TK. 

Bicara soal kampung saya, namanya Pantai Lango. Kampung ini tidaklah cukup luas, untuk ukuran saya, di waktu itu, saya bahkan bisa bolak-balik keliling desa, yang mungkin waktu itu tidak cukup satu kilo. Saya sering disuruh Ibu ke hulu, sore hari untuk membeli ikan, ibu saya berjualan nasi kuning tiap pagi. Pagi hari, untuk membeli es batu. Setiap hari, saya menyaksikan Bapak dan Ibu bangun pagi-pagi sekali, kira-kira jam 2 pagi. Di pagi itu, Bapak sudah sibuk mengisi bak mandi, ikut mengantri air dari sumur kampung di bawah gunung, yang kalau terlambat sedikit, bisa-bisa tidak kebagian air karena hampir seluruh penduduk kampung mengandalkan air dari sumur itu. Kalau mengingat itu, saya bisa bergidik, membayangkan Bapak dulu seolah ringan saja naik turun gunung yang cukup terjal, bolak-balik mengisi air. Ibu, sudah sibuk memasak, menyiapkan jualan di warung. Suatu malam, saya pernah terbangun, kemudian menyaksikan Bapak dan Ibu sedang sholat, saya pun bertanya, “Ibu sama Bapak sholat apa malam-malam begini?”, Ibu hanya menjawab, “Bapak dan Ibu sholat untuk minta adek laki-laki”. Benar saja, tidak lama, lahirlah adik kedua saya, laki-laki, namanya Jauhar Kaanna Putera yang berarti “Puteraku bagaikan permata”. Ah, dari namanya sudah pasti dia adalah anak yang benar-benar dirindukan dan tentunya amatlah berharga. Semoga ia kelak bisa terus menjadi permata, buat Bapak dan Ibu. Amin. 

Apa jadinya ya, kalau saya menjadi ibu di masa itu? mungkin saya sudah meraung-raung minta dipulangkan ke kota, ehehehe. Urusan pindah, itu juga yang difikirkan oleh Bapak dan Ibu. Apalagi ibu, bayangan tentang masa depan untuk anak-anaknya, akhirnya membuahkan keputusan untuk segera pindah ke Jawa. Selepas saya kelas dua SD, saya bersama Ibu dan adik-adik, di boyong ke Jawa. Sementara kami di Jawa, rencananya Bapak akan mengurus kepindahan mengajar. Jadi ya, itu LDR pertama buat kedua orang tua saya. Eh-eh, ternyata, sampai berbulan-bulan, urusan pindah-memindah itu rupanya rumit sekali, kampung kami masih membutuhkan guru –waktu itu saja, guru pengajar yang ada di sana hanya dua, ditambah satu Kepala Sekolah-, bertahun-tahun tidak mendapatkan tambahan guru, manalah mungkin mau melepas satu guru?. Yah, say good bye, dadah-dadah untuk pulau Jawa nan permai, padahal waktu itu, sudah ada calon rumah untuk kami tempati, ditambah perabotan serta perkakas yang sudah mulai dicicil oleh Ibu, akhirnya semua harus rela untuk kembali lagi ke kampung –kecuali saya-. Untuk kedua kalinya, saya sekolah lagi di Jawa, kata Ibu, demi masa depan saya yang lebih baik. Kali ini tidak main-main, kondisi membuat Ibu menguatkan diri dan merelakan saya, hingga saya lulus kelas enam. Karena itulah, ingatan saya tentang masa kecil, lebih banyak diwarnai kenangan-kenangan bersama Nihlah dibanding dua adik lainnya, karena di masa kecil saya cukup lama membersamainya. 

Dan entah mengapa, jika bersama saya, selalu saja ada kejadian membahayakan yang terjadi padanya. Seperti misalnya, saat kami bermain sepeda di pelataran sekolah, Nihlah terjatuh, kepalanya membentur lantai semen. Dia tidak menangis sama sekali –saya juga heran, kenapa dia begitu-. Saat pulang, saya memberi tahu Ibu, “Bu, kepala adek bocor, jatuh dari sepeda”, waktu saya bilang begitu, saya tidak cukup tahu istilah apa yang tepat selain mengatakan bocor. Waktu ibu memeriksa rambutnya, betapa kagetnya Ibu yang dengan sigap segera membawa Nihlah ke bidan kampung, ternyata kepala Nihlah beneran terluka, sampai harus mendapatkan beberapa jahitan. Pernah juga, waktu sudah agak besaran dikit, waktu itu saya sudah SMP, kami berkelahi –kami sering sekali berkelahi-akur-berkelahi lagi-akur-terus begitu-, jambak-jambakan sampai cubit-cubitan. Tiba-tiba kulit Nihlah lebam, biru-biru, seperti orang yang habis dipukuli, padahal yang saya cubit tidak seberapa, dan tidak terlalu sakit. Ujung-ujungnya, pembuluh darah Nihlah pecah, walhasil, badannya walaupun hanya dipegang sedikit saja, sudah pasti akan membiru. Ampun, ini anak!, lagi-lagi celaka ketika bersama saya,, hehe. 

Dan, tepat seusai kelulusan SD, setelah kurang lebih 13 tahun tinggal disana, akhirnya pengajuan pindah pun di acc. Untuk yang satu ini, sepertinya Bapak agak ngotot, sebab di kampung, belum ada SMP. Kalaupun saya berkumpul bersama keluarga lagi, saya harus mengikut anak-anak yang lain, bersekolah dengan perahu, bolak-balik ke kampung terdekat yang memiliki SMP, itu pun belum tentu bagus kualitas sekolahnya. Singkat cerita, pindahlah kami sekeluarga ke Ibu Kota Kabupaten, Penajam Paser Utara. 

Cerita kepindahan kami, meninggalkan banyak kenangan di rumah lama, rasanya berat juga. Apalagi mengingat memindahkan barang-barang hingga memenuhi kapal besar. Sampai saya dewasa, kadang-kadang saya merindui rumah lama kami. Tempat penghabisan masa kanak-kanak saya. Masa-masa bermain, rasanya itulah masa yang paling membahagiakan, tanpa beban. Dulu, beberapa waktu, kami masih sering berkunjung, lalu melihat-lihat rumah yang sudah hampir rubuh, tak terawat. Tapi, tidak lama, rumah kenangan itu hancurlah sudah. Di atasnya, kemudian dibangun SMP, hingga anak-anak kampung tak lagi perlu berpayah-payah berperahu ke sekolah, hal itu juga sekaligus menurunkan angka putus sekolah dengan drastis. Oh ya, setelah kepindahan kami, tidak ada satupun guru yang kemudian menggantikan Bapak, betah tinggal di perumahan guru itu, satu minggu sekalipun. Konon, katanya, mereka mengalami hal-hal yang cukup ‘menyeramkan’. Dari cerita-cerita yang sempat saya dengar, “kok ya serem amat ya?”, dulu waktu kami di sana, rasanya tidak ada kisah horror yang semenyeramkan itu. 

Yah, jujur saja, memang ada satu-dua cerita. Seperti misalnya, saya pernah mendengar suara-suara aneh atau melihat yang aneh. Ya ampun, kalau yang beginian, dulu saya anggap lewat saja, anggap mungkin saya hanya salah lihat atau salah dengar, lagipula saya cuma anak-anak, saya masih senang berfokus pada bermain. Tapi, tidak ada hal yang sampai membuat penghuni rumah ini lari terbirit-birit di tengah malam meminta pertolongan penduduk di bawah gunung saking horornya seperti penghuni rumah setelah kami. Wallohu a’lam. 

Setelah sekian tahun, dan kemudian saya berumah tangga sendiri, saya jadi mengingat apa-apa yang dulu dilakukan Bapak dan Ibu. Ibu memang bukan pekerja kantoran, tapi tetap saja, Ibu saya pekerja, bekerja di warung, rasanya itu jauh lebih melelahkan karena seolah tidak ada habisnya. Ibu saya mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, mengurus anak-anak sendiri –tentu saja saling bahu-membahu bersama Bapak-, saya tidak pernah menyaksikan ada yang bantu-bantu di rumah, kecuali saat kami baru pulang dari liburan jauh, baru Ibu memanggil tukang cuci. Jadi, saat saya suatu ketika pernah satu kali mencoba meminta bantuan seseorang untuk menyetrika pakaian kami di rumah dan beberes, rasanya aneh dan canggung. Saya jadi merasa bersalah sendiri. Rasanya bagaimana ya, mungkin karena tidak terbiasa, dan tidak punya pengalaman seperti itu sebelumnya. Jadi, setelahnya, hingga sampai saat ini, kami masih enjoy saja, bahu-membahu berdua. Itu pun dengan kesepakatan, biarkan saja berantakan kalau memang sedang lelah, istirahat saja. Haha… 





***


“Mbak, fotonya?”, si adek kecil meminta foto struk pengiriman transfer ke saya,

“Gak ada, jaringan internet lagi lemot”

“Kirim atas rekening siapa?”

“Mbak. Disini dah semingguan gangguan, lola banget, makanya gak bisa update status, haha…”

“Gangguan apa sih Mbak?”

“Ah kamu, kayak gak tahu aja Mbak tinggal di kampung, ngirim email aja gak bisa ne, pokoknya gitu deh”

“Hahahaa”

Amboi! hari ini kecambah hilang di pasaran. Lusa lalu, hendak membuat santan, kelapa parut pada kosong, habis katanya, minggu lalu, cari wortel saja susahnya minta ampun, bulan-bulan kemarin harga bawang bisa sampe seratus ribuan lebih. Amazing!

“Ya, Robb!, pindahkan saya ke tempat yang lebih kota, 2014 ya kalau bisa, biar mudah kalau mau ngaji, biar gampang kalau mau menuntut ilmu lagi, biar lancar kalau mau internetan, biar asyik kalau mau nambah wawasan. Amin. 2014 ya Robb, gak usah lama-lama!”. Oalah nduk-nduk, ndungo kok mekso!. hehe… sepertinya tanpa sadar, akhir-akhir ini saya jadi sering mengucap doa ini.

Makanya, saya gak pernah bisa ngebayangin, gimana perasaan Ibu dulu ya, waktu masih jaman susah itu… kalau saya, palingan sudah ribuan kali tuh ngucap,,

“Sudah, pulangkan saja saya ke kota!”,, hehe. 

Tapi, sepertinya Ibu tetaplah seorang wanita lemah lembut nan sederhana. Saya tahu itu dari jawaban Ibu saat saya meminta izin padanya,

“Bu, aku pengen deh keliling dunia, lihat-lihat negeri orang, mumpung masih muda”. Jawaban Ibu mengagetkan saya, 

“Jadi kira-kira kapan kamu pulang dari keliling dunia? pulang ke rumah nemani Ibu?”

Ah, kita selalu punya magnet kuat untuk pulang, 

It’s called home…





Empat bersaudara: 20 tahun kemudian. 2013.





You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar