Haji 2018

-308- Dari Pulau Mauritius Hingga Skuter Tawaf di Lantai Mezzanine

Saturday, December 01, 2018


Bismillahirrahmanirrahim. 

"What? Spritus?" :D, negara apa itu? pikir saya.  😆. 

Setelah hari sebelumnya, saya berkenalan dengan muslimah dari Afrika Timur, dan salah mendengar -lantaran perbedaan aksen pengucapan- nama negara Senegal, yang sampai di telinga saya adalah "Sinegar" 😀, brb saya cek di google, yang muncul itu bukan nama negara, tapi nama marga. Gusti, pendengaran saya, *mang cocoklah hasil listening toeflnya pas-pasan* 😅

Boleh baca: Pengalaman Mengikuti Tes Toefl Beasiswa Pusbindiklatren Bappenas 2018

Kali ini saya minta kenalan salat Subuh saya ini untuk mengetikkan sendiri nama negaranya,
"let i show you the world map Indian Ocean, its a small country," katanya sambil membukakan peta dunia untuk saya.

"This is you, Indonesia. And this, Mauritius."

"Oh Masyaallah, this is the first time i hear about your country," kata saya padanya.

Ternyata, ada ya, negara kecil yang hanya berupa senoktah titik di peta, dan saya baru tahu. Apa itu tadi? MAURITIUS.

*Dan saya baru tahu sodara-sodaraaaa, kalau Mauritius termasuk pulau pesisir cantik, temennya Maldives dan Seychelles yang biasa dijadikan destinasi pilihan liburan pelancong dunia* 

Tahu dari mana? dari gugling dan baca-baca blog orang lain. :)

Peta Mauritius, senoktah kecil di Samudera Hindia.
Jadi itu, pekerjaan tambahan saya saat senggang dan luang. Membuka Peta Dunia. 😆. Buka blog dan baca-baca kisah traveling teman-teman bloger lain, sampaaaai akhirnya, saya nyasar ke blog Teh Novi (baru keinget mestinya manggilnya Teteh 😉) dengan kisahnya yang bercita-cita pergi haji dari Jepang. Lalu? lalu dimulailah collaborative blogging ini akhirnya. :)

Cerita Teh Novi

Satu Kisah di Masjidil Haram: Masmuki


--Dari baca-baca itu, saya baru tahu kalau Mauritius adalah sebuah negara kepulauan di barat daya Samudera Hindia, sekitar 900 km sebelah timur Madagaskar yang menawarkan keindahan alam laut dan pantai yang rupawan.--

Selain menunjukkan peta, kami juga sedikit berbincang tentang bagaimana Muslim di Mauritius, dan sekadar basa-basi sambil menanti waktu azan salat Subuh tiba. 

Hari sebelumnya lagi, seorang muslimah asal Mesir, mengajak saya berbincang dengan bersemangat sembari menunjuk Al-Quran yang dibawanya, "lil arabi? lil arabi... quran?," dan saya hanya menggeleng, mencoba memberitahu padanya bahwa saya tidak begitu fasih berbahasa arab. Lantas saya pun menjawab, "in english?," gantian, kenalan baru saya itu yang menggeleng. Namanya Fahmi. Saya mengerti apa yang disampaikannya, namun saya tidak pandai memilah kalimat apa yang harusnya saya keluarkan. Kemampuan berbahasa saya sangat pasif,  dan saya sedih dengan kondisi ini. 😐

Tidak lama, seorang muslimah Palestine datang menuju saf kami, sehingga berbincanglah Fahmi dan muslimah Palestine ini tentang isu terkini, politik dan kondisi negara masing-masing. Saya? cukup menjadi penyimak saja. 😆

Harusnya sejak lama saya sudah mempersiapkan soalan ini, Penguasaan Bahasa. Harusnya juga saya cepat sadar, bahwa mayoritas jazirah arab menggunakan bahasa arab sebagai bahasa negaranya sehingga bahasa ini menjadi cukup penting untuk dikuasai.

*Kek gini kok katanya, pengin keliling dunia, aish malu saiyah 🙈*.

Suasana pertokoan di depan Masjidil Haram
Di lain kesempatan, seorang muslimah Pakistan yang terkenal dengan bahasa urdunya, memeluk saya dengan erat, menandai sebuah salam perpisahan. Kami sempat berbincang, tentang daerah asal, keluarga, anak dan beberapa hal. Beberapa hari di Mekah, rasanya setiap hari seperti sebuah petualangan. Saya menjelajah dari kota ke kota, negara ke negara. Selalu ada tempat baru, kenalan baru dan saya bersemangat sekali, menulis setiap pengalaman tersebut di buku catatan kecil saya.

Sampai akhirnya, buku catatan tersebut tidak pernah saya isi lagi. Nyaris tidak ada catatan apapun sebakda Wada' (tawaf perpisahan yang harus dilakukan saat akan meninggalkan Mekah). Subuh itu, sakit saya rasanya semakin menjadi. Memang sudah beberapa hari jelang Arafah, kondisi fisik saya terganggu.

Subuh itu, saya usaikan dengan duduk, kepala saya pusing tak tertahankan, perut rasanya mual sekali, badan meriang, demam. Pagi itu, semua jemaah kloter harus menyelesaikan tawaf Wada dan pulang ke hotel sebelum pukul 10.00 karena harus bersiap menuju Madinah setelah Zuhur.

Suami yang merupakan ketua regu harus membawa anggota jemaah menyelesaikan tawaf Wada setelah Subuh. Suasana sedang ramai dan padat sekali Subuh itu. "Rasanya saya gak kuat Kak," kata saya kepada beliau yang akhirnya menyarankan saya untuk beristirahat saja dulu di tempat saya salat, menunggu beliau selesai menemani jemaah tawaf Wada di lantai dasar. Jadi beliau berniat dengan tawaf Sunnah, setelahnya, baru kembali menemui saya dan menemani saya Tawaf. 

"Nanti aku temani ke Lantai Mezzanine," pesan beliau lagi.

Menuju lantai Mezzanine melalui pintu Ajyad
Dengan menguatkan tenaga, dan menahan haru karena ini akan menjadi tawaf terakhir di Masjidil Haram, akhirnya suami menemani saya menyelesaikan tawaf di lantai Mezzanine, menggunakan fasilitas skuter. 😭 Saya sedih sekali sebenarnya, karena kondisi saya seperti ini, di detik-detik perpisahan. 😭😭 Di sisi lain, saya sangat bersyukur ada fasilitas penyewaan skuter untuk tawaf dan sai di Majidil Haram. 😭

Suasana jemaah yang tawaf menggunakan fasilitas skuter
Fasilitas ini dibuka untuk umum. Tidak hanya untuk jemaah yang sakit, semua jemaah diperbolehkan menggunakannya. Letaknya di Lantai Mezzanine pintu Ajyad. Silakan bertanya ke askar atau petugas kebersihan di mana letak skuter, karena tempat menuju ke sana agak tersembunyi.
Tempat pembelian karcis skuter untuk jemaah laki-laki
Saya sendiri, sudah mencobanya tiga kali. Satu kali dengan niat sebagai pengalaman, merasai tawaf menggunakan skuter. Kedua, menemani teman sekamar yang juga penasaran ingin mencoba. Dan yang ketiga, saat melaksanakan tawaf Wada. 

Tidak banyak jemaah Indonesia yang datang ke sini, paling banyak yang saya temui adalah jemaah Malaysia dan jemaah penduduk asli yang membawa banyak anak.

"Ya Allah Mbak, coba kalau saya tahu ada ini, dari kemarin-kemarin saya ajak Ibu saya ke sini Mbak," ujar seorang ibu dari Surabaya yang sedang menemani ibunya -yang sudah sangat sepuh- tawaf di Lantai Mezzanine ini.

Tempat pembelian karcis skuter untuk jemaah perempuan
Informasi mengenai skuter ini memang tidak banyak beredar di jemaah Indonesia. Ini juga dipengaruhi oleh budaya sebagian jemaah yang merasa bahwa melaksanakan tawaf di lantai dasar kakbah ialah yang utama, apalagi jika sehat. Dan itu memang adalah sesuatu yang benar adanya.

Antrian di loket pembayaran
Namun, di kala kondisi Masjid sangat padat dan ramai, kadang saya sendiri, merasa tidak berani jika beribadah, dengan berdesak-desakan di lantai bawah, sehingga pilihan melakukannya di lantai dua, tiga atau paling atas menjadi pilihan. Nah, fasilitas skuter di Mezzanine ini juga dapat menjadi salah satu pilihan diantaranya.

Cara penggunaaan alatnya juga sangat mudah, hampir mipir mengendarai motor matic. Kecepatan maksimalnya hampir menyamai tawaf di lantai dua, tiga, atau paling atas dengan waktu tempuh 30 sampai dengan 40 menit. 

Hal yang pertama kali harus kita lakukan adalah datang ke loket penyewaan. Tempatnya terpisah antara jemaah laki-laki dan perempuan. Petugas akan menanyakan nama, jenis skuter (single atau double), tawaf saja atau sekaligus dengan sai. Biaya yang dikenakan adalah sebesar 100SR per orang untuk tawaf sekaligus sai. (1 SR sekitar 3000-4000 jika dirupiahkan, tergantung kurs). Jika hanya menginginkan tawaf saja atau sai saja, biayanya menjadi 50SR per orang.

Struk penyewaan skuter
Biaya ini termasuk cukup hemat dibanding penyewaan jasa pendorong kursi roda, terutama buat jemaah yang sudah tua atau sedang mengalami sakit. Kelebihannya lagi, dengan skuter, jadi lebih aman karena lantainya khusus dan tidak bercampur dengan jemaah lain. Keluarga juga bisa menemani, sehingga terasa lebih nyaman dan tidak ada kekhawatiran.

Lantai khusus pengguna skuter. Terasa nyaman dan lebih aman.
Dari Pulau Mauritius hingga skuter tawaf di Lantai Mezzanine, rasanya kerinduan terus bersemayam di dalam hati. Sampai sekarang, bayangan Kakbah dan suasananya, belum temaram dari ingatan. Ya Allah mudahkan, setiap kerinduan menemukan jalan pulang. 😊

Suasana dari lantai Mezzanine saat jemaah di lantai tiga sedang sepi.
Saya membuka kembali buku kecil yang berisi kisah pengalaman catatan saya selama di Tanah Suci. Ada banyak pengalaman pertemuan yang saya tuliskan. Ada hal yang sedikit saya sesali, ketika bertemu seorang ibu dari Padang di dalam bus salawat, saat perjalanan menuju Masjidil Haram. 

"Sudah pernah ke Padang?," tanya sang ibu mengawali basa-basi. 

"Wah, saya belum pernah Bu, mudah-mudahan nanti bisa ke Padang Bu, tugas dinas," jawaban saya reflek sekali. Seolah spontan 'default' seperti itu. 😆 Padahal kan, mau keliling Indonesia, mau keliling dunia, gak mesti melulu karena dinas, gak harus ngandelin dinas, emang beneran mau tetap jadi ASN sepanjang hayat? 😁😆🙈. 

----
Saya menyelesaikan tulisan episode 9 ini persis setelah bersua dengan sahabat lama yang kini beranak tiga, sahabat satu kampus saya ini, resign dari Instansi kami, setahun setelah mengabdi. Saya sangat berbahagia, bisa berbincang meski hanya sebentar dengannya :)



You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



2 komentar

  1. Masyaa Allah.. semoga saya juga dimampukan Allah kesabaran.. Amiiin.

    ReplyDelete