Karya

-273- Narkoba dan Keinginan Manusia Hidup Bahagia

Sunday, December 31, 2017


*KEBAHAGIAAN*

Tribun Kaltim, edisi 28 Desember 2017.

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya menulis ini karena saya baru tahu kalau sebagian besar efek narkoba adalah membuat penggunanya merasa nyaman dan bahagia.

Ini hampir sama dengan apa yang saya rasakan saat selesai menulis. Saya merasa bahagia, saya merasa punya dunia sendiri. Saya merasa semua beban, penat, lelah, marah, jengah sirna saat menulis. Perasaan sesak, mungkin juga muak lenyap seketika.

Dalam istilah psikologi, ini dinamakan kondisi FLOW. Suatu keadaan di mana seseorang seolah melupakan waktu dan tempat karena ia begitu fokus dan antusias mengerjakan sesuatu.

FLOW ini memungkinkan seseorang mendapatkan efek kebahagiaan di level ekstasi, sangat tinggi.

Saya mencintai dunia menulis dan sangat antusias. Karena itu, kegiatan menulis yang saya lakukan berpengaruh terhadap sistem di otak lalu memicu hormon dopamine (hormon pembuat bahagia). Hormon ini akan mengalir ke dalam seluruh aliran darah. Kemudian ini yang membuat saya bahagia.

Begini, ringkasnya cara alamiah secara ilmiah untuk memicu perasaan bahagia.
Selain hal tersebut, perasaan bahagia dapat dipicu oleh zat kimiawi lainnya, baik ekstraksi maupun buatan.

Pada pengguna penyalahgunaan obat-obatan,  zat di dalam barang haram tersebut yang bekerja untuk menyabotase dopamine, sehingga narkobalah yang langsung bekerja membuat efek fly, nyaman, tenang, bahagia.

Karena sering digunakan, hingga dosis tinggi, otak akan mengingat pemicu ini untuk datang kembali, sementara dopamine lama kelamaan menjadi hilang fungsi.

Ini seperti halnya pemicu alamiah semisal, saya suka menulis. Dengan menulis, saya bahagia. Otak merekam memori itu, kemudian mengingatnya, sehingga ini membuat saya terpanggil untuk menulis lagi, menulis lagi. Ini efek 'ketagihan' menulis.

Sama halnya, dengan pemicu obat. Sekali menggunakan, berpeluang untuk ketagihan. Parahnya, penggunaan berulang akan mematikan fungsi hormon dopamine.
Sehingga mau tidak mau, ketergantungan pengguna menjadi sangat tinggi berikut efek kesehatan dan mental pada jangka panjang.

Saya menulis ini, karena saya menyadari bahwa, pada dasarnya kita semua, manusia, senantiasa mencari kebahagiaan.
Ketenangan, kenyamanan, perasaan damai.

Karena itu, pencapaian keberhasilan pembangunan suatu bangsa saat ini tidak lagi hanya diukur dari ekonomi dan pembangunan manusia saja.

Tetapi juga melihat bagaimana sisi perasaan manusia terhadap apa yang telah dia rasakan yang terangkum dalam pengukuran Indeks kebahagiaan. *
~~~
Maaph, nampaknya prolog kepanjangan 😅.

FYI, cuap-cuap saya di atas ini bukan isi/paragraf dari artikel yang saya tulis. 🙏.

Eng, anuu, itu baru latar belakang.. muahaaha 😆.

Ya maaph, namanya juga lagi FLOW. 😄

Semoga berkenan.


#MenulisAsyikBPS
#MenulisAsyikDanBahagia
#BadanPusatStatistik
#GerakanCintaData
-----

Narkoba dan Keinginan Manusia Hidup Bahagia

Terbit di Tribun Kaltim, 28 Desember 2017

Jumlah masyarakat ketergantungan narkoba di Indonesia saat ini diprediksi mencapai 6 juta orang, jika disatukan, setara hampir dua kali lipat jumlah penduduk Kalimantan Timur. Diantara yang kesekian itu, jamak kita ketahui sebagian penggunanya adalah kalangan berkecukupan yang bergelimang kekayaan dan popularitas.

Ada banyak alasan mengemuka mengapa mereka menjadi pengguna barang haram ini. Satu yang menarik, adalah alasan untuk mendapatkan rasa nyaman, relaksasi dan perasaan bahagia. Andika “The Titans” salah satu artis yang terjerat narkoba, mengatakan dengan gamblang bahwa ia menggunakan obat-obatan terlarang untuk mencapai ketenangan. Senada dengan Andika, beberapa artis lain menjelaskan latar belakang terjerumus obat-obatan terlarang untuk kehidupan yang lebih tenang dan bahagia.

Sebagai awam, kita lantas tergelitik untuk bertanya, “kebahagiaan apa yang hendak di cari?”, “tidakkah cukup status selebritis, terkenal, punya banyak harta, bisa dengan mudah berkeliling dunia, bisa membeli semua barang yang diimpikan, adalah kebahagiaan yang selama ini mayoritas penduduk negeri ini inginkan?”. Faktanya, semua hal yang manusia idamkan tersebut, pada akhirnya tidak lantas membuat pelakunya hidup bahagia.

Berdasarkan penelitian sosial psikologi yang dilakukan oleh Dr Martin Selignman, ia menemukan bahwa tingkat kesenangan dalam hidup tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan. Pencapaian kesenangan tidak selalu memberikan kepuasan hidup bagi manusia. Kesimpulan ini bisa dimaknai bahwa manusia yang hidup dalam kekurangan dan tak mampu memenuhi kebutuhan hidup dasar, sangat rentan terhadap perasaan derita dan sengsara, tetapi, kelimpahan harta tidak lantas menjadikannya selalu bergelimang gembira. Kekayaan itu perlu, tetapi bukan penjamin rasa bahagia.

Selignman juga menemukan bahwa kesenangan hidup memiliki batas, titik jenuh dan berbeda-beda untuk tiap manusia. Kesenangan kita akan ketenaran misalnya, pada awalnya akan memberikan efek kebahagiaan, tetapi lama-kelamaan, semua akan terasa sebagai rutinitas semata. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan serta pencapaian yang didapatkan dari menjadi tenar tersebut pada akhirnya membawa pada satu titik jenuh, bosan. Dan kemudian, manusia kembali menjadi hampa, kembali mencari kesenangan baru, untuk mendapatkan kebahagiaan.

Para ahli kedokteran dan psikologi yang mengadakan riset pada otak manusia, menemukan secara neurokimia, bahwa pada saat manusia mendapatkan kesenangan, terdapat bagian tertentu pada otak yang meningkatkan hormon bahagia. Melalui kerja sejumlah hormon pada sistem saraf otak, bahan-bahan kimiawi yang berfungsi membuat manusia merasa bahagia, bersemangat, nyaman, tenang dan bebas dari rasa sakit diproduksi oleh tubuh.  

Sebagai contoh, saat kita mendapatkan prestasi dan mendapatkan banyak pujian, otak akan memproduksi suatu bahan kimia yang disebut dopamine. Aliran dopamine dalam darah akan membuat orang merasa bahagia. Saat manusia berinteraksi antar manusia, otak akan menghasilkan hormon oxytocin yang memiliki efek memperkuat rasa percaya diri, menghilangkan rasa kesepian, kenyamanan, ketenangan dan sebagainya.

Berbagai macam hormon pemicu rasa bahagia tersebut selain dapat diproduksi oleh tubuh secara alamiah, juga dapat diproduksi oleh penggunaan bahan kimia –hasil ekstraksi bahan alami maupun sintesis-. Bahan kimia ini biasanya digunakan dalam rangka pengobatan, dalam dunia kedokteran. Penyalahgunaan obat-obatan ini yang pada hari ini kita sebut sebagai narkoba.

Sistem kerja narkoba sebagian besar mengambil alih neurotransmitter dalam otak, terutama dopamine, dan membuatnya tidak lagi berfungsi secara normal. Akibatnya, otak akan mengingat zat kimia ini –narkoba- sebagai pengganti dopamine.  Sehingga saat efek barang haram ini hilang, otak otomatis akan memanggil kembali, dan inilah efek ketagihan yang melanda penggunanya. Kokain misalnya, langsung berefek pada dopamine, memicu rasa nyaman dan bahagia. Sabu, mampu menciptakan efek perasaan euforia  sampai ekstase (senang yang sangat berlebihan). Dan, hampir sebagian besar narkoba mampu menciptakan efek bahagia secara instan. Inilah yang dinamakan oleh cendekiawan Hasanudin Abdurrakhman sebagai “Jalan Pintas Kebahagiaan.”

Manusia mencari kebahagiaan dan senantiasa menjadikannya sebagai tujuan. Pemberantasan terhadap pengguna narkoba tidak dapat dilakukan sekedar memberinya hukuman, mendapat sanksi sosial, dan dipandang sebagai sampah masyarakat. Tanpa berpikir lebih jauh pada akar permasalahan utama dari sisi humanisme dan kejiwaannya yakni; kebutuhan dasar manusia akan  hakikat kebahagiaan. Mengembalikan dan merehabilitasi kebiasaan mereka yang menggantungkan kebahagiaan pada narkoba serta menghidupkan kembali sistem kerja hormon pemicu rasa bahagia secara alamiah, inilah yang semestinya menjadi peer bersama yang harus dilakukan.

Satu hal setidaknya, yang dapat kita perbuat adalah, membentengi diri sendiri, dengan cara belajar memaknai hidup serta menemukan cara yang benar dalam meraih kebahagiaan. Riset yang dilakukan German Socio-Economic Panel Survey (SOEP) terhadap 60.000 responden selama lebih dari 25 tahun menghasilkan penemuan bahwa mayoritas responden menyatakan, tujuan sosial bagi orang lain lebih penting ketimbang uang. Fokus pada keluarga, melakukan aktifitas sosial, berolahraga, taat beragama dan melakukan hal-hal yang dianggap benar, merupakan pilihan baik untuk meraih kebahagiaan.

Temuan ini sejalan dengan hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) masyarakat Indonesia yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Agustus lalu. BPS melaporkan bahwa Indeks Kebahagiaan masyarakat Indonesia yang diukur melalui 19 indikator yang mewakili tiga dimensi kebahagiaan (kepuasan hidup, perasaan dan makna hidup) mencapai 70,69 pada skala 0-100. Secara umum, masyarakat Indonesia tergolong bahagia.

Menariknya, indikator yang merepresentasikan kualitas hubungan sosial dengan keluarga dan lingkungan sekitar ternyata merupakan kontributor utama Indeks Kebahagiaan tersebut.  Dari 19 indikator yang ada, keharmonisan keluarga, keadaan lingkungan, kondisi keamanan, hubungan sosial, tujuan hidup, penerimaan diri, ketersediaan waktu luang, hubungan positif dengan orang lain menjadi penyumbang dominan terhadap Indeks Kebahagiaan. Sementara indikator lain seperti pekerjaan/usaha, pendapatan rumah tangga, kondisi rumah, fasilitas rumah serta pendidikan yang masuk ke dalam sub dimensi kepuasan hidup personal memiliki indeks yang lebih rendah dibandingkan unsur relasi sosial.

Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak bergantung kepada pencapaian materi atau kesenangan hidup semata. Lebih jauh, kebahagiaan adalah saat kita mampu memberi makna pada hidup. Hidup untuk berbagi, hidup untuk memberi, dan inilah capaian kebahagiaan hakiki yang akan didapatkan. Dengan memberi, akan muncul perasaan bahagia di dalam diri. Untuk itu, kebahagian pada dasarnya adalah hal yang dapat dipelajari, ditumbuhkan dan diupayakan.

Kebahagiaan juga merupakan proses panjang yang diraih dengan perjuangan. Manusia yang sampai pada tujuan menjadikan hidupnya bermakna (meaningful life) akan memandang derita, tekanan, ujian, deraan sebagai hal yang akan membawa pada kebermaknaan hidup. Ia akan berjuang, menghadapi, tidak lantas menghindari, apalagi mencari sebuah pelarian sesaat yang justru sesat. Lebih-lebih menisbatkannya pada kebahagiaan semu yang berpangkal sengsara, seperti halnya narkoba!. *





You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar