ODOP Blogger Muslimah Indonesia OKT 2017

-250- Api Sejarah: Mencoba Meluruskan Sejarah Bangsa

Monday, October 02, 2017


API SEJARAH
MAHA KARYA PERJUANGAN
ULAMA DAN SANTRI
DALAM MENEGAKKAN
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 


Bismillahirrahmanirrahim.

Jas Merah. Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Demikian ungkap Soekarno. Kita semua punya sejarah. Bangsa ini punya sejarah.

Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghod. (perhatikan sejarahmu untuk hari esok). Q.S 59:18. 

Sejarah sebagai salah satu cabang ilmu sosial perlu mendapat perhatian serius dari Ulama dan Santri serta umat islam Indonesia. Banyak karya Sejarah Islam Indonesia dan Dunia Islam umumnya, yang beredar di sekitar kita. Namun banyak pula isinya sangat bertentangan dengan apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah Saw, sahabat, khalifah, wirausahawan, ulama, waliyullah dan Santri serta umat islam. Apalagi dengan adanya upaya deislamisasi Sejarah Indonesia, peranan Ulama dan Santri serta umat Islam di dalamnya ditiadakan. Atau tetap ada, tetapi dimaknai dengan pengertian lain. (Api Sejarah 1: Pengantar).

Generasi Muda Islam dewasa ini terhinggapi rasa herolessness merasa tiada memiliki pahlawannya. Dampak dari sistim penulisan Sejarah Indonesia ataupun Museum dan Monumen Nasional, dituliskan atau disajikan bertolak dari dasar pemikiran deislamisasi. Peran Ulama dan Santri dalam bela negara bangsa dan agama dipinggirkan dan ditiadakan. Digantikan pelaku sejarahnya oleh yang lain yang realitas sejarahnya di zamannya menolak bersama Ulama dan Santri membangun kesatuan dan persatuan nasional melawan penjajah. (Api Sejarah 1: pengantar).

Selain deislamisasi sistim penulisan Sejarah Indonesia di zaman Orde Lama dan Orde Baru yang lebih mengutamakan hindunisasi dan Buddhanisasi berdampak buku Sejarah Indonesia untuk SD, SMP dan SMA hampir 95 persen berisikan Sejarah Hindu dan Buddha walaupun realitas penganut hanya 2,5 persen dari penduduk Indonesia. Apalagi penyajian Museum Sejarah, tidak terlihat lagi sebagai Museum Sejarah Indonesia dari Bangsa Indonesia di mana Islam sebagai mayoritasnya.

Realitas penulisan Sejarah Indonesia yang dengan sengaja meminggirkan Islam dengan Ulama dan Santrinya sebagai Pelaku Sejarah, cukup lama terbiarkan. Hal ini sebagai dampak dari para Ulama dan Santri lebih mengutamakan tarikh Rasulullah Saw dan para sahabat atau sejarah Timur Tengah. Sebaliknya, sejarah Ulama Indonesia sebagai Warasatul Anbiya di Indonesia tidak dijadikan objek pembelajaran seluruhnya. 

Lebih lanjut di dalam pengantar buku ini, Bung Karno mengingatkan bahwa Ulama kurang feelingnya terhadap sejarah. Ulama kurang perhatiannya terhadap sejarah sebagai tulisan. Tidak paham bahwa dengan sejarah akan dapat mengubah alam pikiran manusia pembacanya. Ketidakpengertiannya terhadap sejarah sebagai tulisan ini dinyatakan Bung Karno, disebutkan ulama hanya menangkap abu sejarahnya. Bukan api sejarahnya yang sebenarnya. 

(Api Sejarah 1: Pengantar).

Baru pengantarnya saja, sudah demikian apik mengkobarkan semangat. Sedikit tersimpan rasa penyesalan mengapa saya baru tahu bahwa umat memiliki buku sejarah Karya Ahmad Mansur Suryanegara sebaik ini.


Buku ini tergolong buku yang cukup tebal terdiri dari dua jilid. Tetapi sangat ringan untuk dibaca. Setiap paragraf sangat berbobot dan membuka cakrawala pemikiran kita tentang sejarah Nusantara dan bagaimana peran Ulama dan Santri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ada banyak hal baru yang saya ketahui misalnya mengenai sejarah masuknya islam ke Indonesia yang ternyata telah masuk jauh sebelum penyebaran ajaran Hindu dan Budha. Tentu ini agak bertentangan dengan pelajaran sejarah yang sebelumnya telah tertanam dengan kuat sejak sekolah.

Hal lain yang lebih sederhana adalah misalnya tentang penggunaan kata 'Indonesia' mulanya dipelopori oleh Dr. Soekiman Wirjosabdjojo. Hanya karena beliau aktif di dalam Pimpinan Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Islam Indonesia dan Partai Masyumi ia tidak dituliskan sebagai pelopor pengguna pertama istilah Indonesia.

Begitupun adanya Boedi Oetomo yang sangat tidak asing untuk saya karena hari lahirnya menjadi hari Kebangkitan Nasional. Padahal, sampai 1928 M, Boedi Oetomo tetap menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia dan tetap mempertahankan Djawanisme atau ajaran kejawen.

Kemudian selanjutnya meskipun Boedi Oetomo dengan media cetaknya menghina Rasulullah, sampai sekarang umat islam sebagai mayoritas bangsa Indonesia tetap menaati keputusan, bersedia menghormati 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Tak jauh beda, Hari Pendidikan Nasional-Hardiknas pun diperingati setiap 2 Mei, diambil dari hari lahirnya ki Hajar Dewantara, Pendiri Taman Siswo, 1922 M, yang pada awalnya merupakan perkumpulan kebatinan Seloso Kliwon. Kalau ini benar, mengapa bukan hari lahir KH Ahmad Dahlan pendiri Perserikatan Muhammadiyah, 18 November 1922 M dan pengaruhnya jauh lebih meluas di seluruh kota Nusantara. Akibat deislamisasi penentuan Hardiknas, menjadikan KH. Achmad Dahlan dan Muhammadiyah tidak terpilih sebagai pelopor pendidikan nasional.

Begitupun penulisan sejarah Wali Sanga sebagai tokoh penyebar ajaran islam, didistorsikan sejarahnya dengan penuturan dongeng seolah mereka jauh dari syariat islam. Digambarkan masih bertapa, berpuasa patigeni, tanpa makan sahur dan berbuka. Bertapa di gunung atau hutan berbulan-bulan atau tahunan hingga tidak sempat shalat lima waktu. Di dongengkan bahwa Wali Sanga sebagai tokoh islam yang sudah ma'rifat sehingga tidak perlu menjalankan syariat islam.

Masih banyak lagi fakta-fakta sejarah yang baru saya ketahui dari membaca buku ini. Di mana darinya saya menjadi tahu betapa besar peran Ulama dan Santri dalam menegakkan Kesatuan Republik Indonesia. Kesemuanya tentu tidak dapat saya rangkumkan satu persatu di dalam review singkat kali ini.

Benarlah bahwa, generasi penerus ini haruslah banyak membaca dan mengasah kemampuan menulis. Di tangan para penulis, sejarah akan abadi dan mampu berbicara hingga kepada generasi selanjutnya.

Boleh baca: Menjadi Generasi Penerus Ulama dengan Aktif Membaca dan Menulis. 

Bulan Oktober ini, hangat kita bincangkan tentang TNI yang sangat aktif mengajak masyarakat menonton film G30S/PKI.

Dari membaca Api Sejarah ini. Saya menjadi tahu bahwa Indonesia hampir saja tidak memiliki TNI pada sejarahnya. Mengapa? hanya karena TNI dibangun dari mantan Tentara Pembela Tanah Air (Peta), sementara mayoritas Komandan Batalyon Tentara Peta adalah Ulama'. Tetapi berkat perjuangan Ulama' lahirlah TNI. Dan selanjutnya, diangkatlah Soedirman mantan Komandan Batalyon Tentara Peta Purwokerto yang juga guru Muhammadiyah sebagai Panglima Besarnya.

Kita tidak sedang membangga-banggakan masa silam. Tetapi dari peristiwa masa silam, kita akan tahu bahwa demikian besar peran umat islam dalam sejarah pembentukan Bangsa. Darinya, kita mestilah belajar banyak, meneruskan, meluruskan pemahaman, dan bercita-cita untuk menjadi pelanjut estafet dakwah dari generasi Ulama dan santri-santri terdahulu untuk kejayaaan dan Kesatuan Negara Republik Indonesia ini.

Buku ini saya beli atas rekomendasi dari Ustad Adi Hidayat, tokoh ulama dengan ilmunya yang sangat bermanfaat untuk umat (mudah-mudahan Allah senantiasa merahmatinya).

Penulisnya, Ahmad Mansur Suryanegara adalah tokoh sejarawan Muslim yang juga merupakan aktivis Muhammadiyah dan Pelajar Islam Indonesia.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca, agar kita semua (umat muslim terutama) dapat tercerahkan dan belajar dari sejarah masa lalunya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam program ODOP (One Day One Post) Blogger Muslimah Indonesia selama Bulan Oktober 2017.

#ODOPOKT1



You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



26 komentar

  1. mba... aku pengen banget punya buku ini, tapi nyarinya agak susah. dimana ya belinya?

    ReplyDelete
  2. Bener banget..herolessness..Sampai miris! Padahal kita seperti ini berkat para pahlawan bukan tiba-tiba saja jaya atau merdeka.

    Ulasan menarik Mbak. Btw, saya follow blognya ya,,Trims:)

    ReplyDelete
  3. Kita tidak sedang membangga-banggakan masa silam. Tetapi dari peristiwa masa silam, kita akan tahu bahwa demikian besar peran umat islam dalam sejarah pembentukan Bangsa.

    _____

    Masyaa Allaah, bukunya berisi sekali nih, Mba Nurin.

    Kalau bukan karena mempelajari sejarah, kita ga akan pernah tau yah perjuangan dan peran para ulama dari jaman dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak, ini recomended book bangeet, ayooo dikoleksi. :)

      Delete
  4. Sejarah akan mengubah alam pemikiran pembacanya.

    _____

    Betul. Memahami sejarah akan membuat manusia merenung dan belajar tentang hal-hal yang telah lalu, untuk merencanakan kehidupan di masa datang, agar menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  5. Bacanya baca geretan aku Mbak.. segitunya bencinya sama Islam..

    Well, aku jadi penasaran dengan bukunya.. toko buku dekat rumah jual sih, tapi terlalu banyak buku yang belum terbaca 😧

    ReplyDelete
  6. Wah sama dengan cerita suamiku, ulama berperan banyak selama kemerdekaan. Suamiku suka mengajak aku berdiskusi tetnang issu yang sedang terjadi. Kadang ya, jadi membahas sejarah

    ReplyDelete
  7. thank mbak infonya, ulama dan santri bnyak berpran pada masa kemerdekaan

    ReplyDelete
  8. Ulasan yang menarik mbak...jadi penasaran pengen adopsi juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak usah adopsi Mbak. Langsung beli bukunya saja. :)

      Delete
  9. Mba, aq jadi pengen baca bukunya. ��
    Sedih ya dari dulu sudah ada deislamisasi. :(

    ReplyDelete
  10. salam kenal isti,
    saya juga punya buku ini, tapi yang versi cetak perdana. hihi

    ReplyDelete
  11. Sepertinya buku itu keren sekali dan perlu dicari di toko buku hehehe. Makasih infonya Nurin.

    ReplyDelete
  12. Pernah dengar sih mbak, banyak sejarah islam khususnya mengenai perjuangan umat islam - para ulama dan santri yang diputarbalikkan faktanya. Ah, saya masih buta banget dengan sejarah, ternyata dibalik hari kebangkitan nasional dan hari pendidikan itu ada yang bertentangan dengan umat islam. Jadi pengen baca bukunya, buat nambah wawasan tentang sejarah khususnya sejarah Islam di Indonesia.

    ReplyDelete
  13. Terima kasih informasinya mbak. Salam kenal ;)

    ReplyDelete