Blogging

-224- Satu Tahun Menggunakan Top Level Domain, 1 Tahun Berbagi Inspirasi Dan Impian

Saturday, December 10, 2016


Bismillahirrahmanirrahim.

Langit hampir-hampir berwarna hitam. Angin berhembus cukup kencang. Malam sepertinya akan lebih cepat datang, sebab senja di hari itu tidak lagi merah saga. Tetapi saya harus menepati janji untuk membawa seorang balita yang didiagnosa patah tulang kepada ahlinya untuk diperiksa. Bukan dokter spesialis, sebab di sini belum ada, tetapi seorang Ustad yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki letak tulang.

Berangkatlah kami sehabis maghrib, saya, Fifi, sang balita dan ibunya. Setibanya di sana, setelah selesai dipijat, balita ini butuh diberi perban. Saat itu, perban sedang habis. Maka saya pun berinisiatif untuk ke luar mencarinya di apotek terdekat. Sebenarnya, ada tempat praktik dokter terdekat, tapi saat itu, pikiran saya agak ragu kalau di tempat Bu Dokter ada. Pikiran saya hanya tertuju pada satu tempat. APOTEK.

Sayang sekali, dugaan saya melesat. Dari satu apotek menuju apotek yang lain yang sebenarnya bisa dihitung dengan jari, hasilnya nol besar. Ada yang kehabisan, ada yang memang tidak menjual. Sementara, desiran angin semakin kencang, dan langit mulai bergemuruh, pertanda hujan. Dalam perjalanan kembali, gerimis mulai jatuh, satu-satu. Semakin mendekati tempat yang saya tuju, hujan semakin menderas. "Tanggung", begitu pikir saya. "Sudah terlanjur basah pula".

Lalu saya pun pergi menuju tempat praktik Bu Dokter. Menanti peluang siapa tahu yang saya cari tersedia di sana. Ini benar-benar di luar kebiasaan saya. Mengendarai motor, malam-malam, hujan deras, jalanan berlubang, gelap, tidak bawa jas hujan, tidak bawa hp untuk menghubungi suami, lengkaplah sudah (((KEBAHAGIAAN))). 😂

Sesampainya di sana, pasiennya masih ada satu-dua. Barangkali karena hujan, antriannya tidak panjang mengular. Karena saya tidak punya kepentingan mendesak, saya menunggu hingga semua pasien pulang. Lagi pula, entah mengapa, di luar, hujan bertambah deras, petir menyala-menyala, guntur kian ramai bergemuruh.

"Ibu, alhamdulillah, mungkin ini jawaban dari Allah".

"Oh ya?". Saya cukup terheran tidak paham. Syukurlah, barang yang saya cari ada. Kenapa tidak dari tadi saja saya ke sini? Batin saya dalam hati. Karena mungkin saya tidak akan kehujanan dan sekuyup ini.

"Oleh sebab hujan kita jadi ada waktu untuk ngobrol Bu".

"Ada apa Bu?" lalu mengalirlah obrolan-obrolan panjang.

Subhanallah, masyaAllah. Ini pasti skenario Allah nih. Kalau tadi saya datangi tempat Bu Dokter dulu, itu pas saat rame-ramenya pasien, pasti saya hanya datang lalu beli barang. Tapi saya ke sini saat sudah hujan, bukannya semakin reda, sesaat saya sampai, hujan semakin deras. Saya tidak mungkin langsung pulang. Pasien pun tertutup kemungkinan untuk bertambah. Ucapan dari Bu Dokter juga semakin meyakinkan. "Alhamdulillah, mungkin ini jawaban dari Allah".

"Ibu, kita harus berbuat sesuatu". Begitu kata Bu Dokter pelan, dengan berapi-api.

Saya mendengarkan. Dan merekam semua pembicaraan di dalam ingatan saya.

Ada kasus anak SD yang dilecehkan oleh teman sekolahnya. Anak yang 'digarap' oleh ayah kandungnya. Perselingkuhan, dan terakhir, percobaan pengguguran kehamilan.

"Coba ibu bayangkan, berani lho dia ke sini Bu. Minta sama saya. Untuk digugurin. Berani sekali dia. Kota ini seberapa luas sih Bu, tahu sendiri kan. Dia pasti juga tahu lah siapa saya. Kok ya bisa seberani itu?".

"Honorer di salah satu instansi pemerintahan lho Bu. Berjilbab rapi...", Bu Dokter menegaskan nada bicaranya, lalu mendesah panjang.

Sejenak, kami terdiam, menerawang, sembari menghabiskan segelas air yang ada di hadapan.

Saya jadi ingat, ucapan Bu Sita (nama samaran), tadi siang,

"Bu, lakukan sesuatu untuk Bu Manda (samaran)"

"Ada apa dengan Bu Manda Bu?"

"Bu Manda terlibat perselingkuhan Bu, dengan suami orang"

Yang benar saja. Bu Manda? tiga bulan lalu, Bu Manda masih sibuk curhat tentang persiapannya mengajukan perceraian. Belum habis masa iddah, sudah sedemikian kelakuan? :(.

Lalu, cerita dari sahabat-sahabat saya tentang anak-anak yang tinggal di perbatasan. Semua pasti tahu, daerah saya tinggal ini, Kalimantan Utara, beberapa Kabupaten berbatasan langsung dengan negara luar. Trafficing, pelacuran, pelecehan seksual pada anak, narkoba dan sederet permasalahan yang lain lagi.

Salah satu yang pernah kami lakukan sebagai sumbangsih untuk permasalahan perselingkuhan, pernah saya tuliskan di sini: Ketika Perselingkuhan Mendera 

Bersama Salimah, memberikan pencerahan kepada ratusan ibu-ibu tentang perselingkuhan dan penanggulangannya

Ini bukan lagi masalah satu daerah saja. Semua tahu, permasalahan ini telah menjadi permasalahan bangsa, Indonesia.  Perceraian misalnya, pada tahun 2013, BKKBN pernah merilis angka perceraian di Indonesia yang telah menduduki peringkat tertinggi se Asia Pasifik. Dengan angka perceraian sebesar 324.247 kasus. Angka ini bukannya menurun, semakin meningkat di tahun berikutnya, sebesar 344.237 kasus. Dan terus meningkat sebesar 16-20 persen tiap tahunnya. Setali tiga uang dengan perceraian, Komnas Perempuan juga mencatatkan angka kekerasan terhadap perempuan sebesar 321.752 kasus pada tahun 2015. Angka yang cukup memprihatinkan.

Kenapa?

Karena perempuan adalah salah satu pilar dalam pembangunan sebuah bangsa. Dari mereka kelak, anak-anak penerus bangsa ini akan terlahir, dari mereka nanti, akan tercetak calon-calon pemimpin dan pewaris negara. Al-ummu madrasatul ula. Ibu adalah sekolah pertama untuk anak.



Kita tidak hanya butuh perempuan-perempuan cantik, kita juga butuh perempuan-perempuan cerdas, yang peduli, yang baik dalam menata dirinya sendiri, yang baik dalam menata keluarganya, yang kokoh pernikahannya, yang sibuk memberi sumbangsih kepada yang lainnya.

Kita tidak menginginkan calon-calon ibu pencetak anak-anak ini dirudung banyak masalah, kita menginginkan sosok-sosok ibu dan ayah yang baik dan mampu membina keluarga, kita tidak menginginkan keluarga-keluarga Indonesia rapuh berantakan.

Karena apa? 

Karena kita sedang membangun sebuah peradaban, sebuah kehidupan. Apapun yang terjadi pada sebuah rumah tangga, selalu akan ada dampaknya pada yang lainnya. Dan korban pertama yang akan merasakannya, adalah anak-anak.

Akibat perceraian tidak hanya akan dirasakan oleh pasangan yang memutuskan untuk bercerai, tetapi juga berdampak pada psikologis dan tumbuh kembang anak. Sosiolog USU, Harmona mengatakan bahwa sedamai apapun proses perceraian kedua orang tua, anak akan tetap merasakan broken home dan tertekan. Jikapun ada yang berhasil melaluinya, jumlahnya sedikit sekali.

Itu baru satu titik perceraian, belum lagi tentang permasalahan lainnya yang menimpa perempuan, ibu dan anak.

Maka, selanjutnya, permasalahan perempuan-anak-keluarga tidak dapat di pisahkan dan akan selalu menjadi satu mata rantai yang saling berhubungan.

Dalam lingkup lebih luas, kenyataannya kita juga masih memiliki sederet permasalahan lain yang jauh lebih pelik. Dekadensi moral, maraknya korupsi, penjarahan alam, krisis kepemimpinan, ekonomi, politik dan banyak lagi.

KITA HARUS BERBUAT SESUATU

Itu adalah kalimat yang saya ingat lekat-lekat. Ya, harus ada sumbangsih kecil yang bisa saya berikan untuk negeri yang saya cintai. Jika tidak bisa dalam gebrakan nasional yang besar, maka saya perlu, setidaknya melakukannya dalam lingkup sederhana, keluarga dan lingkungan sekitar.

Menjadi pendengar. Saya memulainya dengan belajar menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan setiap keluhan dan permasalahan, sesama perempuan. Dari yang saya bisa, dari yang saya mampu, dan biasanya semua berkutat pada permasalahan perempuan, anak dan keluarga. Karena saya perempuan, menjadi lebih mudah masuk pada dunia perempuan. Mulai dari obrolan-obrolan ringan ala perempuan, berlanjut menjadi curhatan panjang berurai air mata kadang-kadang. Karena ya, perempuan paling senang bercerita, sekaligus paling senang jika didengarkan. Sesederhana itu. Saya memulainya dengan mengumpulkan tetangga kanan-kiri, membuat perkumpulan untuk sekedar bincang-bincang, mengisinya dengan obrolan-obrolan cantik penuh manfaat, mengganti waktu saya yang seharian mulai pagi hingga petang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara dan tak sempat menyapa tetangga kiri kanan.

Di sisi lain, untuk berbuat dengan lingkup yang lebih besar, saya sering merasa penuh dengan keterbatasan. 😥. Keinginan dan cita-cita begitu membumbung tinggi, tetapi daya dan pelbagai keterbatasan melingkupi. Adalah benar, sesuatu yang BESAR tidak dapat didapatkan dengan pengorbanan yang KECIL.

Tetapi kemudian, saya berfikir ulang, benarkah sumbangsih dan kepedulian itu mesti diwujudkan dalam hal-hal yang BESAR dan menguras habis tenaga dan fikiran?

Apa yang bisa saya lakukan selain usaha sederhana dalam aksi nyata?

Saya berfikir cukup lama, lalu mendapatkan ilham pada aksi sederhana lain yang lebih mungkin untuk memberi sumbangsih pada lebih banyak orang, lebih banyak mata, lebih banyak telinga, lebih banyak perasaan. Saya tahu, saya dapat memberi, dengan apa yang saya miliki, dengan apa yang saya cintai, saya bisa memberi sumbangsih, mengetuk kepedulian, berbagi, menginspirasi, dengan hal-hal sederhana.

MELALUI TULISAN.

Karena itulah, blog ini kemudian tercipta. Sebab inilah salah satu hal yang saya cintai secara BENAR-BENAR. Menyeluruh dan tidak parsial. Dan inilah tujuan blog ini sedari mula. Berbagi kebaikan, menginspirasi, mengetuk kepedulian. Mengumpulkan remahan-remahan jariyah sebagai bekal untuk saya bawa pulang.

Cerita tentang pembuatan blog ini pernah saya ceritakan di: Impian Istikmalia: Berbagi Cerita, Cinta, Inspirasi
Maka, November 2015, saya lakukan sesuatu yang sangat memberi arti untuk saya. Memberi peran meski setitik, bukankah setetes air lama kelamaan juga bisa melubangi batu yang paling keras sekalipun?

Dan ya, November 2015 kemudian menjadi bulan di mana blog ini mulai menggunakan domain pribadi, Top Level Domain. Sehingga Bulan November lalu, usia blog ini menjadi tepat satu tahun. Dengan embel-embel DotCom di belakangnya.

Agar Terlihat Keren? 

Of course, saya butuh keren, meski keren bukanlah tujuan utama. Tapi saya butuh bungkus yang bisa saya banggakan saat saya ingin berbagi kebaikan. Kebaikan harus dibungkus rapi, cantik dan menarik. Saya butuh sesuatu yang singkat, mudah diingat dan membuat orang yakin semua isi blog yang saya bagi ini adalah tulisan saya. 

TERPERCAYA

Ini satu kata yang harus di bold, ditulis BESAR-BESAR. Saya tidak ingin dikatakan sebagai penulis abal-abal, modal gratisan, berbagi tulisan hoax-an seperti yang marak belakangan. Pengunjung blog ini harus tahu, dengan hanya satu kali melihat blog berdomain DotCom milik saya, ini blog yang diurus, serius, berbayar, dan milik pribadi perseorangan. 

Personal Branding

Dan, inilah tujuan utama. Membangun Personal Branding. Membangun gambaran tentang diri saya sendiri. Tentang apa yang sebenarnya ingin saya bagi, ingin saya berikan, tentang sumbangsih, tentang kebaikan. Blog ini adalah salah satu wadah yang paling baik untuk membangun ini, karena blog seperti rumah. Rumah pribadi yang bebas untuk di isi, diatur dan di jaga sesuka hati pemiliknya. Maka aktivitas blogging menjadi aktivitas pondasi yang paling menyenangkan dalam membangun imej, ditambah dengan dukungan dan kekuatan social media lainnya yang ada.

Maka blog pribadi ini secara resmi menggunakan namanya, www.istikmalia.com.

Ya, itu nama saya. Lebih tepatnya, nama pecahan saya. Nama belakang saya dari Nurin Ainistikmalia.

Alhamdulillah, saya puas sekali bisa mendapatkan nama blog sesuai dengan apa yang saya inginkan, tidak ada yang menyamai. Yess, this is DotComForMe.

Serius Ngeblog

Setelah keren dan puas apa? saya menjadi lebih serius menulis di blog. Ngeblog asyiknya saya selain untuk belajar berbagi dan memberi inspirasi, bersenang-senang, melepas penat, tetap menjadi sesuatu rutinitas yang serius saya jalankan. Untuk apa punya nama dan dikenal, jika blognya lama dibiarkan tanpa pembaharuan tulisan. Lalu saya dengan sangat senang hati belajar banyak tentang dunia perbloggingan. Saya mulai tahu apa itu istilah-istilah yang dahulunya asing buat saya. DA, PA, ALEXA dan banyak istilah indeks lainnya. Saya tentu saja ingin membangun blog ini dengan baik. Saya harus mau belajar banyak. Banyak belajar. Terutama tentang bagaimana membangun sebuah tulisan.

Apa mau dikata, menulis itu mudah-gampang-susah. Mencuri perhatian orang lain untuk mau membaca tulisan kita juga setengah-setengah gampang. Dan lagi, faktor keterbatasan (lagi-lagi ya 😅) membuat ide-ide saya untuk menulis tersimpan begitu saja di draft, atau yang paling menyedihkan, hangus begitu saja tanpa sempat meninggalkan abu. 😀

Tapi, jika mengingat keunggulan menggunakan top level domain seperti yang saya jabarkan sebelumnya, saya jadi kembali serius, minimal satu bulan sekali, satu postingan harus tayang 😂😂😂.

Saya juga harus jujur dan membuat pengakuan bahwa, ya, setelah blog ini berganti url menjadi istikmalia.com saya menjadi lebih serius mengurus blog ini. Tulisan-tulisan pembawa pesan, nyaman dibaca itu tidak ujug-ujug tercipta. Saya mulai memikirkannya. Ada perencanaan konsep di belakangnya, behind the scene-nya. Saya selalu percaya bahwa tulisan yang muncul dari hati yang baik akan sampai dengan baik kepada pembacanya. Pesan yang ingin saya bagi akan sampai, akan mengena. Maka ada malam-malam yang saya ikhlaskan untuk terjaga agar tulisan jenis seperti itu tercipta. Saya butuh menata hati. Saya akan menulis saat hati saya benar-benar tertata. Dan bahkan, tulisan-tulisan ringan yang saya bagi, yang barangkali kesannya hanya recehan, adalah recehan yang mempunyai arti, sesuatu nilai kecil yang ingin saya bagi.

"Ayolah, sesekali ajaklah pasangan makan-makan"

"Ayolah, buat waktu bersama keluarga"

"Ayolah jalan-jalan"

Salah satu cerita tentang Eksotisme Kepulauan Derawan yang pernah saya ceritakan. Berikut juga cerita-cerita rekomendasi kulineran atau pun romantisan.

"Ayolah sesekali masak-masak"

"Ayolah bangun komunikasi yang baik dengan pasangan"

Karena ya, perubahan itu mesti dari diri sendiri, dan benteng pertahanan yang baik adalah dari keluarga. Ini hal yang sangat berarti untuk sebuah perubahan peradaban. Bangun kekuatan hubungan terlebih dahulu dari rumah. Setelahnya, ayo sama-sama berbagi dan memberi arti untuk lingkungan sekitar.

Side Job

Selama satu tahun ini, terjadi banyak perubahan pada blog ini. Yang paling terlihat adalah blog ini semakin ramai pengunjung. Saya menjadi punya banyak kenalan baru. Karena saya semakin bertambah serius, saya mulai aktif di beberapa komunitas blogger. Dan itu, banyak sekali memberi perubahan.

Saya juga tidak percaya, tawaran-tawaran kerja sama penulisan mulai berdatangan dan masuk dalam email saya setahun belakangan ini. Istilah yang sering digunakan ialah Sponsored Post. Tulisan yang kita tulis sendiri, posting sendiri di blog kita, lalu dibayar oleh orang lain.

Domain DotCom ini membawa berkah?

Bisa dikatakan begitu. Tawaran kerja sama yang menguntungkan, blog ini mulai dilirik agency. Pertemanan membuat saya tahu bahwa teman-teman blogger saya baik itu berdomain keren seperti milik saya DotCom maupun yang lainnya seperti DotNet mengalami kemajuan serupa, bahkan mungkin lebih baik dari pencapaian yang saya dapatkan. Sebagian jumlahnya bisa sampai pada jutaan. Plus di ajak jalan-jalan. Jadi brand ambassador atau diundang pada acara-acara yang memberi banyak pengetahuan.

Ngeblog itu ternyata bisa memberikan keuntungan. Secara finansial, pengetahuan dan kualitas seseorang.

Dalam masa satu tahun ini, dari lima keunggulan menggunakan top level domain yang saya sebutkan, keuntungan ini yang paling menguntungkan. 😃. 

Aktivitas blogging ternyata tidak lagi dipandang sebagai sebuah medium dan ajang curhat atau dear diary semata. Ngeblog itu bisa memberikan manfaat buat orang lain. Tulisan-tulisan ringan di blog nyatanya bisa memberi inspirasi.

Blog yang isinya kumpulan resep masakan sekalipun. Itu menginspirasi sekali. Memudahkan orang lain saat kebingungan mencari ide memasak menu makanan. Bagi saya, inspirasi itu tidak muluk-muluk, hal-hal kecil dan sederhana juga bisa memberi inspirasi. Saya berterima kasih sekali pada blogger-blogger yang senang berbagi. Saya selalu 'hampir' membaca review para blogger sebelum melakukan sesuatu semisal rekomendasi tempat makan, rekomendasi hotel, review produk-produk kecantikan, pengalaman parenting dan tempat wisata. Sangat amat membantu.

See? Sharing is caring!. Ngeblog itu berbagi, ngeblog itu peduli, ngeblog itu memberi arti, ngeblog itu menginspirasi. Dan penggunaan top level domain membantu sekali. Blog kalian akan terlihat profesional, keren, terpercaya, dan kalian bisa berkembang dalam banyak hal. 👍👍👍


Bagaimana cara mendapatkan Top Level Domain (TLD) DotCom atau DotNet?

"Blognya tambah rame ya", begitu pesan inbox yang saya terima. "Berapa biaya membuat blog berdomain DotCom? Beli di mana?". Itu pertanyaan lanjutan yang biasa saya terima. 

Saya tahu, masih banyak yang merasa kesulitan mendaftarkan blognya, bingung mau ke mana, bagaimana caranya. Saya juga demikian dulunya, bingung cara dan lain-lainnya. 

Satu keunggulan lain dari menggunakan top level domain DotCom/DotNet adalah ini domain yang meng-internasional, DotCom adalah standar online global yang telah memiliki kredibilitas lebih dari 18 tahun, laris manis, populer, tergolong mudah persyaratan untuk mendapatkannya (tidak perlu npwp dan sebagainya) dan murah biayanya. Satu tahun biayanya di kisaran Rp 150.000, bisa turun harga jika sedang ada promo. 

Dengan kemudahan teknologi saat ini, dan kebiasaan kita yang ingin serba instan, cepat, mudah. Salah satu alternatif pilihan mendapatkan TLD dapat dengan mudah dilakukan dengan hanya klak-klik di www.dotcomforme.com. 

Barangkali salah satu ilustrasi yang saya ambil dari webnya langsung ini bisa membantu:


Jadikan sekecil apa pun usaha, sebagai niatan kebaikan, termasuk aktifitas blogging.

Wujudkan peranmu dalam aktifitas berbagi itu dengan keseriusan.

Jika engkau seorang pelayan, jadilah sebaik-baik pelayan

Jika engkau seorang pemimpin, jadilah sebaik-baik pengayom

Jika engkau seorang blogger, jadilah sebaik-baik blogger

Mulailah dengan menjadi serius dan profesional. Menggunakan domain DotCom atau DotNet bisa menjadi salah satu alternatif awalan.


Hidup untuk menulis. Dan menulis untuk hidup.  Saat hidup ini kita dedikasikan kepada niat kebaikan. Maka kebaikan akan mendatangimu. Saat menulis ini kita dedikasikan untuk berbagi kebaikan, maka kebaikan yang lebih dalam wujud yang lain akan mendatangimu. Rezeki akan datang mengetuk pintumu, tanpa perlu diundang.

Barangkali itu semboyan yang masih saya pegang saat ini. Sehingga jika pun nantinya saya bisa 'hidup' dari menulis di blog, itu adalah hadiah. Hadiah dari sebuah niat untuk berbagi kebaikan.

Satu tahun yang sangat berarti, #dotcomforblogging. Saya tahu, masih banyak yang belum saya lakukan. Masih banyak cerita-cerita yang rencananya ingin saya bagi tetapi belum sempat saya tuliskan. Sungguh, saya penuh dengan keterbatasan, dan kadang tak mampu menyeimbangkan aktifitas di dunia nyata dan niatan berbagi di dunia maya. Blog ini masih butuh banyak saran dan masukan. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi.

Terimakasih untuk yang telah hadir sebagai pembaca, juga nama-nama yang bersedia berbagi kisah dengan saya. Juga kepada, pembagi kisah-kisah yang masih saya simpan. 😊

Mari terus berbagi, memberi arti dan menginspirasi!.

Salam.

😀😀😀




Sumber:

https://www.bps.go.id
http://www.dream.co.id/news/angka-perceraian-meningkat-lima-tahun-terakhir-1601200.html
http://www.gulalives.co/2016/09/26/tingkat-perceraian-di-indonesia-termasuk-yang-tertinggi-di-dunia.html
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160516_indonesia_kekerasan_seksual

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



20 komentar

  1. huwaaa... panjangnya mba, tapi saya baca dengan detil hehehe...
    akan terasa senang dan bangga jika tulisan kita memberi manfaat utk org lain. Dan ngeblog memberi manfaat juga utk si blogger, karena akan terus belajar dan membaca :) Sukses terus buat mba nurin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbak, sama-sama, sukses juga buat Mbak Santi, :)

      Delete
  2. Dan akupun sama mba melalui tulisan terasa sekali bahwa aku bisa bermanfaat :)
    sukse y mba n gudluck lombanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sampai bisa jalan-jalan gratis ya Mbak, enak banget. :)

      Delete
  3. Bagus sekali Mbak. Di dalam tulisan ini saja banyak pesan yang disampaikan. Terlihat sekali perencanaannya sedemikian matang.
    Saya yang belum ikut jadi mlipir duluan.

    SUkses yah, moga menang ... :)

    ReplyDelete
  4. panjang banget artikelnya Miss, ngos ngosan bacanya..hehehe
    ini untuk lomba ya? semoga sukses

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbak, beginilah efek lama gak nulis, :D. Ya Mbak, amiin. :)

      Delete
  5. bagaimanapun top level domain itu punya kelabihan tersendiri, dan setuju sama yang sudah diceritakan di atas. Makin berkah.. Insya Allah.. :)

    ReplyDelete
  6. Tadiny ngblog krna mau eksis nyalurin hobby menulis, tp akhirnya aku juga terpengaruh sm statistik dan lain2.
    Semakin kenal bnyak tulisan semakin belajar bagaimana menulis yg bermanfaat, semangat terus mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. awalnya hanya sekedar nulis, lama-lama nagih ya Mbak. Semangat juga ya Mbak. :)

      Delete
  7. Waw, latar belakangnya menarik. Semoga ngeblog ini benar2 menjadi perwujudan dari tindakan yg mbak impikan. Semoga terus memberi arti. Saya pinjam datanya ya mbak. Sepertinya wajib catat

    ReplyDelete
  8. panajang dan lengkap.... , satu tahun pake udah keren gini...
    aku walau udah dot com masih kurang pede..he2

    ReplyDelete
    Replies
    1. pede saja Mbak. Kalau untuk kebaikan kita harus pede. :)

      Delete
  9. Dengan menggunakan top level domain memang job jadi lebih banyak :)

    ReplyDelete