Review

-220- Rich: Menemukan Kekayaan Yang Sesungguhnya

Friday, October 21, 2016

Bismillahirrahmanirahim.

"Saya mah kerja ini ibadah"

Lah di saat yang sama, paginya shalat subuh kesiangan. Ini namanya bukan ibadah. Dzuhur gak tepat waktu, maghrib malah di jalanan dan tidak mengenal ibadah-ibadah sunnah, inshaAllah kata-kata pekerjaan sebagai ibadah gak laku di mata Allah. (Rich: 47)

Rich: Menemukan Kekayaan Yang Sesungguhnya 

 


Melanjutkan review dari buku Trilogi Yusuf Mansur. Tiga buku yang sebenarnya bisa dibaca tanpa mengikuti urutan, dibaca acak juga masih nyambung. Saya mereviewnya urutan saja, agar bisa mendapatkan sebuah kepahaman menyeluruh tentang maksud Trilogi Feel-Rich-Believe ini yang pada bagian mukaddimah ini selalu ditekankan bahwa benang merah dari tiga buku ini adalah tentang ketauhidan. 

Boleh baca review trilogi pertama yang sudah saya tulis di sini: 

"Inilah kisah perjalanan menjadi kaya melalui metodologi yang istimewa. Metodologi yang dibangun melalui ibadah dan perbaikan diri."  

Demikianlah Ustad Yusuf Mansur memberi kalimat pembuka pada buku ini. 

Di mukaddimah Rich ini saya ingin mengemukakan betapa bila seseorang sudah punya Allah, maka itu sudah sangat-sangat cukup, dan bener-bener cukup, hingga bener-bener dia gak butuh yang lain. Hanya Allah. Cukuplah Allah. Hasbiyallah. (Yusuf Mansur dalam Mukaddimahnya).

Punya Allah, bersama Allah, ada Allah, itulah sebener-benernya kekayaan. Apalagi yang dibutuhkan oleh manusia bila sudah ada Allah?

Baru sampe sini, orang-orang yang gak terbiasa dengan iman, buru-buru tetap akan menyangkal. Dia masih butuh yang lain. Masih butuh duit. Masih butuh ikhtiar. Ga cukup. Sebab apa? sebab emang terbiasa begitu. Belum terbiasa dengan imannya, dengan keyakinannya. (Mukaddimah)

Seseorang berdoa kepada Allah, "Ya Allah, berilah saya rezeki. Agar saya bisa beli membeli kontrakan ini" atau "berilah saya rumah, sehingga saya tidak lagi ngontrak."

Doanya udah cakep.

Tapi manakala dia berpikir, harus cari duit nih, harus tambah kerja keras, harus tambah giat bekerja. Nah, ini yang membuat dia stres, hehe. Seringkali kemudian yang membuat ibadah yang asas malahan jadi berantakan.

Cari duit mah ya cari aja. Kerja keras mah ya kerja aja. Giat bekerja ya giat aja. Tapi jangan sampai jadi satu keyakinan yang salah. Di mana di satu sisi kita berdoa, tanda menggantungkan harapan, ketakutan, kekhawatiran hanya kepada Allah, tapi di sisi lain ada bersama Allah, tuhan yang lain. Kalo ga kumpul duit ga bisa nih beli rumah. Kalo ga kerja keras, ga bakalan bisa punya rumah.

Segala rupa ikhtiar, jangan lalu dikendorkan, sebab saudara belajar tentang iman dan tauhid. Belajar tentang iman dan tauhid, jangan sampe menjadikan saudara lalu berdiam diri dan menunggu semuanya turun dari langit. Yang diberi catatan adalah: Jangan menjadikan semua ikhtiarnya itu sebagai Tuhan. Ga ada Tuhan selain Allah yang bisa begini dan begitu.  

Salah memposisikan, akan menyebabkan berantakan ibadah yang asas. Sebab saudara mikirnya duit, duit, duit, kerja, kerja, kerja, keluar, keluar, keluar,, maka bertambah-tambah pula, bukan hanya berantakan ibadah yang asas, tapi juga bakalan tidak sehat, stres... (Rich: Mukaddimah).

Pada bagian mukaddimah, Ustad Yusuf Mansur memberikan ilustrasi mengenai kekayaan. Kekayaan yang sifatnya materi, kekayaan yang dicari-cari, didemenin -bahasanya Ustad- oleh setiap manusia, rumah, jabatan, kendaraan dan harta benda lainnya. Manusia berusaha sekuat tenaga, sekeras-kerasnya  usaha agar hidupnya enak, sejahtera, kaya raya, melimpah, tetapi lebih sering pada akhirnya jalannya salah. Pada akhirnya kekayaan justru membuat manusia semakin bertambah-tambah jauhnya dari Allah, tidak ada kebahagiaan, tidak ada ketenangan.

Misalnya, saya ilustrasikan diri sendiri ya, sebab saya pekerja kantoran dan pernah merasakan di posisi ini.

Ada masa di mana saya merasa beban pekerjaan terlampau berat, banyak, tidak ada habis-habisnya, meskipun sudah dibantu dengan lembur. Saat disibukkan dengan pekerjaan itulah, energi saya fokus dan fokus terhadap pekerjaan, yang ada dipikiran hanya kerja-kerja-kerja, selesaikan-selesaikan-selesaikan sehingga saya pun abai, melalaikan yang asas. Panggilan adzan, nanti dulu, tunggu pekerjaan kelar. Salat sunnah sudah tidak sempat, dhuha kelewatan, tilawah apalagi, tidak punya kesempatan.

"Kasihan sekali saudara. Semakin saudara lalai dari yang asas, semakin Allah sibukkan dengan pekerjaan. Semakin kecil dunia saudara, sempit, padahal dunia ini betapa luasnya, tidak hanya terkungkung pada kantor saja." demikian kira-kira penggambaran Ustad.

Dan, iya, capek memang. Capek batin. Rasanya semua energi terkuras, habis. Rasanya dunia ini menjadi tidak nikmat lagi, stres, memikirkan deadline, memikirkan tumpukan dokumen, suasana hati juga menjadi suram, tidak menentu, mudah emosi, tidak sabaran, bawaannya marah-marah saja ya di kantor kepada rekan sekantor, ya di rumah dengan suami dan anak, masalah baru muncul lagi, belum lagi kalau ternyata sudah capek-capek dikerjain error, diulang lagi, seakan-akan ada saja masalah di kantor, tidak kelar-kelar, dan banyak lagi.

Lantas, tulis Ustad Yusuf  lagi, -saya ilustrasikan dengan kondisi saya ya, biar lebih pas dan mengena-

Dalam hal pekerjaan, duniawi ini, dunia, kita ini disiplin pol-polan, datang tepat waktu, pakai seragam sesuai hari, takut sekali kalau terlambat dan kena potongan, mengerjakan pekerjaan sebaik-baiknya, usaha bagaimana caranya supaya sesuai deadline, jangan ada kata terlambat, biar penilaian pimpinan bagus, agar nanti ketika dievaluasi hasilnya memuaskan, tidak ada cacat. Semangat sekali kita, bahkan sampai dibantu lembur-lembur sampai malam. Kita berusaha bagaimana caranya agar selalu bekerja profesional, berintegritas, dan amanah. Kerja yang keras, yang bagus, tidak banyak mengeluh, berusaha menyenangkan pimpinan, berusaha menjadi pegawai yang cakep penilaiannya di mata pimpinan, berusaha bisa naik jabatan, cekatan, semangat empat lima.

Tapi begitu sama yang punya dunia
sama yang Maha, yang punya rezeki kita
yang bisa dan hanya Ia yang mampu memberi kita kaya,
kok kita malas-malasan?
kok kita malah abaikan?
kok malah sembarangan dan gak disiplinkan?
kayak gak ada takut-takutnya gitu?
seperti biasa-biasa saja gitu, 
padahal ini berhadapan dengan yang PUNYA DUNIA
yang PUNYA BOS KITA, 
yang PUNYA BOS KITA, sekaligus KANTOR-KANTORNYA
bukan hanya KANTOR. Tapi yang punya tanahnya, yang punya segala apa yang ada disekitaran kantor. 
yang punya DUNIA ini SEISI-ISINYA. 
kok usahanya cuma seada-adanya?
cuma sekedar saja?
salat ya sekedar menggugurkan kewajiban
itu pun kadang terpaksa
terpaksa ninggalin kerjaan sebentar, 
terpaksa ninggalin klien sebentar,
terpaksa ninggalin semuanya sebentar, 
sebab waktu salat sudah mau habis,
sudah terlanjur kita akhirkan,
itu pun keburu-buru, gak ada khusyuk-khusyuknya,
sambil salat masih sempet-sempetnya pula mikirin kerjaan
ibadah yang lain?
ibadah sunnah, tilawah, sedekah, ya kalau waktunya ada, 
kalau waktunya sempat,
Ya Allah, astaghfirullah...

Sama yang PUNYA DUNIA INI, 
Sama yang punya dunia kita begini

Lalu kita meratap, menghamba, minta dunia
minta KAYA, minta punya BANYAK HARTA
ini bagaimana ceritanya?

Sudah begitu, kita masih pede-pedenya bicara, "Saya mah kerja ini ibadah"

Lah di saat yang sama, paginya shalat subuh kesiangan. Ini namanya bukan ibadah. Dzuhur gak tepat waktu, maghrib malah di jalanan dan tidak mengenal ibadah-ibadah sunnah, inshaAllah kata-kata pekerjaan sebagai ibadah gak laku di mata Allah. (Rich: 47)
Aneh kan kita? Aneh kan Manusia?

Ya, Kita ini aneh, 
Mau dunia-Nya, tapi gak mau deket sama Yang Punya Dunia.
Dikasih tahu caranya mendekati dunia sama Yang Punya Dunia, malahan gak percaya.
Yang Punya Dunia datang, ke langit dunia-Nya, mendekati para pencari dunia,
lalu menawarkan dunia, juga ampunan dan rahmat-Nya, 
tapi kita gak segera menyambut-Nya.
Setelah datang pagi, 
ketika Pemilik Aslinya balik ke Arsy-Nya,
malah bertebaran sibuk mencari dunia. (Rich:57)
Sudah mulai bisa masuk di logika kan ya? logika berpikir manusia? -inshaAllah- 
Maka kemudian Ustad Yusuf Mansur mengajak pembaca untuk mulai berbenah. Melakukan tahapan-tahapan untuk meraih Rich. Menjadi Kaya. Apa saja yang mesti dilakukan?

Ubah Keyakinan

Hal yang pertama yang mesti di ubah dari diri kita adalah keyakinan. Bahasan yakin ini sebelumnya juga telah banyak disinggung dalam buku Feel, dan lebih mendalam lagi di buku Rich ini. 
Yakin bahwa Allah Maha Besar. Bahwa kita sebagai manusia ini bisa kaya bukan sebab karena usaha kita, bukan karena ikhtiar dan kerja keras kita, bukan sebab bos/pimpinan kita, bukan karena bisnis yang sedang kita jalankan. Tetapi kita kaya karena Allah yang Maha Kaya memberikan kekayaan itu untuk kita.  Kita kaya lantaran Allah yang Maha Besar ridlo atas usaha kita. Allah Maha Pemberi Rizqi, Allah Maha Pemilik Rizqi, semua itu, harta yang kita mau, jabatan yang kita pengenin, semuanya punya Allah, semuanya kepemilikan Allah. Sehingga yang perlu kita lakukan, kalau kita pengen dunia, kalau kita pengen minta apa yang sejatinya adalah kepemilikan Allah, dekatkan diri kita sama Allah, pedekate, pendekatan ke Allah, lakukan semua yang Allah perintahkan, jaga diri dari maksiat, jaga diri dari hal yang tidak disukai Allah. 

Ilustrasinya, ketika kita menginginkan sesuatu dari manusia, misalnya: pinjaman hutang. Kita bakalan datang tuh ke dia, baik-baik, bicara sopan, pedekate, usaha nyenengin yang punya uang -yang bakal kita pengen pinjem-, basa-basi, gak bakal ngomong dan melakukan hal yang tidak disukainya. Begitu kira-kira. 

Tapi kemudian, yang tidak terbiasa bawa iman, lantas bertanya, 
 
Lah yang gak punya Allah saja, yang gak percaya Allah saja bisa kaya, kenapa pula harus apa-apa ke Allah?
"Jika yang tidak punya Allah saja bisa berubah, bisa sukses, apalagi kita, yang memiliki Allah, Sang Pemilik Kekayaan Sejati?" (Rich:3)
Dunia ini sudah benar-benar dirancang sedemikian rupa oleh Allah, dengan kekuatan dari-Nya. Alam ini bekerja juga dengan perintah-Nya. Sudah sunnatullah dari Allah bahwa dengan berbekal keyakinan saja, believe saja, kekuatan pikiran saja, kita yakin nih bahwa kita bakalan sukses, pikiran kita juga yakin bakalan sukses, fokus kita juga kita fokusin sukses, maka sukseslah kita. 
Sampai kalimat ini, tulis Ustad Yusuf Mansur di halaman 7, saya menyeru kepada mereka yang beriman kepada Allah, "Jangan mau kalah dengan mereka yang hanya bermodal yakin!" mereka bisa jadi yakin kepada kekuatan dirinya saja, pada kekuatan berpikir, pada kekuatan percaya. Bukan pada kekuatan Allah. Keberhasilannya, sejak masih berwujud keyakinan dan kepercayaan, selain tidak menjadi ibadah, juga tidak membawa kepada syukur. Sebab syukur sama siapa? sombong malahan bakal iya. Dengan memainkan kendali pikiran, bisa memainkan kendali pasar! kala begitu, menurut teori, sebagian guru, bisa jadi ada syethan yang ikut bermain, sehingga peran Allah menjadi nafi. Menjadi tidak ada. Dan syethan pun, masyallahnya, bekerja dengan kekuatan yang Alah izinkan pula. Dan sungguh, ini kelak akan jadi bahaya. Itu sebabnya, saya bilang, peran agama, peran iman, adalah kontrol. Kontrol untuk membuat seseorang tidak ujub, sombong dan takabbur. Kontrol untuk juga menjadikan seseorang semakin merunduk akan kekuatan Allah, keesaan Allah, kebesaran Allah, sehingga manakala keyakinannya, yang berbalut doa dan ibadah berhasil, dia akan semakin taat, semakin cinta, semakin takjub sama Allah. Bukan sama dirinya sendiri. 

Contoh kasus: seorang pengendara motor, setiap hari melewati jalan raya di mana di sebelah kanan di satu perempatan ada rumah di jual. Suatu saat, finally, ia memiliki rumah tersebut. Dia mengingat, bahwa setiap lewat, ia menengok ke rumah tersebut dan meyakini bahwa rumah itu suatu saat akan jadi miliknya. Bertahun-tahun kemudian, ia benar-benar memiliki rumah tersebut. Saya tidak mengerti apa yang dilakukan oleh orang tersebut ketika ia memberikan energi ke rumah tersebut bahwa rumah tersebut akan menjadi miliknya. Saya tidak paham. Namun yang saya paham, saudara sungguh akan bisa mendapatkan juga rumah tersebut, jika saudara juga punya keyakinan. Apalagi jika ditambah langkah iman. (Rich:9). 

Bedanya, saudara yang punya keyakinan dan membawa keyakinan itu kepada Allah, maka keyakinan saudara, kepercayaan diri saudara, punya nilai tauhid yang tinggi. Saudara punya nilai iman yang tinggi. Dan saudara jadi tidak sendirian sebab bersama Allah. Karenanya ia juga bernilai sedekah. Sedari awal keyakinan saudara sudah dihitung sebagai keyakinan yang tidak liar dan tidak sombong. Keyakinan itu diperdengarkan kepada Allah. Dan saudara mencoba meraih apa yang saudara yakini, dengan doa saudara, ibadah saudara, bersama Allah dan dengan cara-cara Allah. 

Benerin Sikap Kita Ke Allah:

Riyadhoh 40 Hari, 40 Hari Menjadi Kaya

Setelah keyakinannya dibenerin, diresapin dan dipahami, maka langkah perbaikan selanjutnya adalah memperbaiki sikap kita ke Allah, mulai dari benerin ibadah, dimulai dari salatnya. 

"Awal segala perbaikan itu perbaikan salat. Awal segala perubahan
yang diinginkan adalah ngebenerin salatnya"
Rich: 39
Apa yang dinamakan riyadhoh 40 hari ini hanyalah penamaan program latihan saja. Latihan ngebenerin salat, menjaga salat, ibadah sunnah, merutinkan salat dhuha, salat malem, sedekah selama 40 hari. Ibadah lima waktu dijaga benar-benar agar senantiasa tepat waktu, latihan dhuha dan tahajud tanpa putus, jaga diri dari dosa. Riyadhoh 40 hari adalah latihan bagaimana caranya untuk dekat kepada Allah, sang pemilik dunia, sang pemilik kekayaan. Sambil ngebenerin salat dan ibadah asasnya, sembari latihan membawa semua keyakinan -hajat dan segala macamnya- kepada Allah, latihan berdoa. Latih diri menggantungkan segala harapan, keinginan, keresahan dan masalah kepada Allah, hanya kepada Allah. 

"Barangsiapa bertakwa maka Allah akan mencarikan baginya jalan keluar, sesulit apa pun persoalan hidupnya, dan Allah akan beri rizqi dari jalan yang tidak ia duga. Dan barang siapa yang memasrahkan dirinya, bertawakkal, maka Allah akan bereskan segala urusannya. Sesungguhnya kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Sungguh Allah jadikan segala sesuatu itu ada ukurannya." (Q.S At-Talaq: 2-3).

Inilah dalil yang dapat menjadi kalimat motivasi, semangat bagi kita untuk menjadi orang yang bertakwa. Sebab takwa menjadi jalan rezeki. Seseorang yang rajin ibadah, pintu rezeki akan terbuka, masalah-masalah akan dibantu oleh Allah, kesukaran akan dilapangkan oleh Allah. 

***
Demikianlah ulasan mengenai buku Rich pada trilogi bagian kedua ini. Untuk penjelasan lebih lengkap dan mengena tentu saja jauh lengkap jika langsung membacanya. Dari buku ini,  jika saya simpulkan sederhananya adalah sebagai berikut: 

Anda ingin kaya raya? 
ingin punya banyak harta? 

yang punya dunia siapa? 
Allah
yang bisa ngasih rizqi siapa? 
Allah
yang punya hidup mati kita siapa? 
Allah

Maka, deketin dulu Allahnya, sang pemiliknya. Turutin apa yang Allah mau, turutin apa yang pemilik kekayaan -yang kita pengenin- itu. 

Kalau kita ingin kaya, maka datanglah kepada Allah yang Maha Kaya, yang sanggup memberikan kekayaan itu.

Maka, bekerja -termasuk kerja keras dan ikhtiar- itu akan jadi nilai ibadah, sebab kita memulainya dengan doa, dengan bangun salat malam, dengan dhuha, dengan menjaga salat, dengan menjaga mata-telinga-lisan dari maksiat, dengan dzikir, dengan sedekah, dengan semua ibadah asas yang Allah perintah. 

Allah ridlo, Allah senang, maka inshaAllah selalu akan ada jalan, rezeki akan mengalir, melimpah, apa yang kita mau Allah memberikan, dan Allah memberikan keberkahan berupa ketenangan dan kedamaian di hati, berkah, hidupnya berkah. 

Maka dalam riyadhoh, program latihan ibadah, akan banyak ulasan dan penjelasan tentang bagaimana berlatih salat malam tanpa putus, berlatih dhuha, berlatih sedekah pada buku ini. 

Kemudian Ustad Yusuf Mansur menutup buku ini, dengan bahasan tentang jaminan rizqi sebagaimana pada Quran Surah Fussilat: 32-33. 

Kuncinya hanya ada dua, tulis Ustad Yusuf pada halaman 115. Tuhannya Allah bukan yang lain. Kemudian istiqomah. Qolu robbunallah tsummastaqamu. 

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah'  kemudian mereka meneguhkan pendiriannya (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S Fushilaat: 30-32).



Judul buku: Rich
Penulis: Yusuf Mansur
Penerbit: Sekolah Bisnis Wisatahati Nusantara
Cetakan ke 1, Juli 2013
 ***
Oh ya, saya agak mikir lama begitu, apa ya, kok rada ada yang kurang dari buku ini, ada yang serasa mengganjal begitu. :)

Ah ya Ustad, (semoga Ustad nyasar baca blog saya ya), ini kenapa semua buku Ustad sampulnya depan belakang, gambar Ustad full semua ya? kagak ada ilustrasi yang lain apa ya Ustad? :D.  -masalah selera saja ya ini, saya lebih senang kalau cover buku itu bukan gambar orang-. :)

overall, terimakasih Ustad, bahasannya ringan dan sangat menginspirasi! :)

Bagi yang mencari buku ini dan buku-buku bertema tauhid lain, dengan bahasan ringan khas Ustad Yusuf Mansur, bisa membeli online di sini: www.bukuyusufmansur.com

Semoga reviewnya bermanfaat ya.

Salam, :)

 

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



34 komentar

  1. eh bener juga bukunya Ustad Yusuf Mansur yg aku punya juga covernya foto ustad semua, haha. Mungkin masukan buat penerbitnya juga supaya lebih kreatif, xixixi

    ReplyDelete
  2. mungkin sebaiknya ucapan itu sekarang dibalik ya, Mba.

    Saya mah ibadah juga bekerja.

    Kan siapa yang mengejar akhirat, maka dunia pun akan menghampirinya.

    Hihiihii...

    Nice review, Mba. Harus sering2 baca buku tausyiah ya kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, sering baca buku tauhid yang ringan2 seperti ini, :)

      Delete
  3. jleb mbak nurin

    aku bukan buibu kantoran, tapi pernah (ato sering ?) ngalamin 24 jam kerjaan gak berenti2 ... kerjaan domestik dilanjut ngurus anak trus ngerjain orderan ... ibuku yg ngingetin "dulu kakak rajin dhuha + tahajud + puasa sunnah, sekarang gak gitu lagi ya" ... aku lagi pelan2 pedekate lagi sama yg udah ngasih rezeki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, ayuk kita semangat pedekate lagi yuuuk :)

      Delete
  4. Bukunya Yusuf Mansur emang mantep banget ya Mbak. Berasa ditampol saya ini, kadang ibadahnya kok suka bolong-bolong, apalagi siang, kadang sok sibuk :(

    ReplyDelete
  5. Buku ustadz ym, selalu menyadarkan kita tentang arti tauhid yg sebenarnya. namun, menurut saya, keyakinan pada Allah pun harus dibarengi dengan usaha yg gigih.

    Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sampai kaum tersebut merubah dirinya sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Aisyah, keyakinannya yang diubah, ikhtiar jalan terus. :)

      Delete
  6. Enak dibaca dan tidak berat ya. Sehingga lebih mudah diterima oleh hati. Saya blm pernah punya bukunya ustdz yusuf mansyur. paling pinjem punya teman atau saudara hehe

    ReplyDelete
  7. Waah jleb sekali. Mbak .. tapi benar, lho ...

    Ini jadi pengingat buat saya. Terima kasih sharing-nya.

    ReplyDelete
  8. Aku belum membaca buku Yusuf Mansyur yang ini mba. JAdi pengen baca. Bukunya yang lain yang memang ok banget. Inspiring ya :)

    ReplyDelete
  9. Reviewnya Mba Nurin sukses bikin aku pengen beli bukunya :)

    ReplyDelete
  10. Aku tuh nge-fans sama ustad Yusuf Manshur tapi mbaru tau juga soal buku inii.. Ahh, maacii mba, kujadi ingin punya bukunya :D Ulasannya juga baguusss, top:))

    ReplyDelete
  11. Bukunya keren, pengingat untuk aku yang kadang lupa.. :)

    ReplyDelete
  12. mbak istik suka banget sama buku bukunya yusuf masur ya, dan judul ini pas nih sama isu yang lagi hangat, isu penggandaan uang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suka banget gak juga Mbak. Saya suka semua buku yang isinya bermanfaat :)

      Delete
  13. ya Allah isi bukunya ngebuka kau banget tentang sholat dan ibadah asas. padahal cuma baca reviewnya aja, tapi kalo baca bukunya gak yakin selesai juga.
    jadi makasih banyak udah resensi buku ust yusuf mansur. kalo ada lagi nanti colek saya ya :)

    ReplyDelete
  14. Baru baca kalimat pertama yang bold aja sudah berasa ketampar, selanjutnya ditampar bolak-balik :(

    ReplyDelete
  15. Makasih review bukunya... Saya jd ikut dpt ilmunya jg

    ReplyDelete
  16. Tentunya kalau buku buku dari ustadz yusuf mansur mah selalu mengandung banyak artik dan makna yang sangat bermanfaat untuk ditelaah dan tentunya dikerjakan dalam dunia nyata. Jadi pengen juga beli bukunya.

    ReplyDelete
  17. ada seorang kenalan yang mengikuti sarannya ust.
    dia riyadhoh 40hari, bahkan lebih, katanya tahunan...
    tapi kekayaan itu belum nyanthol juga...
    kenapa ya?

    ReplyDelete
  18. ����
    Kenapa pake poto ustadz semua? Biar laku ��

    Pernah nih waktu adzan saya masih getol kerja --jaman masih kerja dulu-- terus diingatkan yg sekarang jd suami saya:: kamu takut manusia (bos) tapi gak takut Allah?
    Jleb

    ReplyDelete