Celoteh

-187- Mensyukuri Nikmat Hidup Bertetangga

Wednesday, February 10, 2016




Bismillahirrohmanirrohim.

Pada bulan November 2014, saat ada kesempatan berbicara santai dengan Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur, saya bertanya kepada beliau,
“Pak, saya sudah dua tahun nih Pak di KTT (Kab Tana Tidung), kapan saya dipindah atau dirolling?”, hihi, kepedean ya saya waktu itu, :). 

“Saya gak pernah dengar keluhan kamu, kayaknya kamu bahagia-bahagia aja di sana”, jawab beliau sambil tertawa. 

Jadi kalau mau dapat giliran rolling, harus ada laporan keluhan dulu, #cateeeet, :p.

Saya bingung kalau ditanya tentang keluhan, karena bagi saya mengeluh itu sudah terlalu mainstream. Selain #sakit hati itu mainstream, #mengeluh juga mainstream, :).

“Berat ya memang penempatan di tempat jauh begini”, ucap teman seperjalanan saya saat kami di dalam speed boat dari Tarakan menuju Tana Tidung. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Waktu itu sore hari, musim gelombang. Perut rasanya seperti teraduk-teraduk, tidak enak sekali.   
“Mestinya yang begini ini ada pesawat nih”, lanjutnya lagi.

Lantas saya jawab, “penempatan di mana saja sama. Sama-sama berat, kalau kita tidak pandai bersyukur”.

Mau tugas di daerah pedalaman atau di kota, sama beratnya. Di pedalaman, seperti tempat saya, mungkin orang akan mengeluhkan mengenai fasilitas. Jarak tempuh yang jauh, barang-barang yang langka, tidak ada tempat berbelanja, tidak ada tempat hiburan, kota yang sepi, tidak ada fasilitas pendidikan untuk meng-upgrade diri, mahalnya biaya hidup dan banyak lagi.

Sementara yang di kota, mereka akan mengeluh dengan kesemrawutan, macet, polusi, kriminal, tata kota yang buruk, orang-orang yang menjengkelkan, sikap-sikap yang menyebalkan,  dan banyak lagi. Sama-sama tidak enak, kalau melihatnya dari sisi tidak enaknya.

Padahal dari sisi enaknya, bisa jadi jauh lebih banyak, hanya kadang tidak terlihat saja, tertutup oleh segudang keluhan. Karena itu, saya belajar, melihat apapun dari sisi baiknya. Namanya belajar, ya kadang masih timbul tenggelam, :p.

Selama di Tana Tidung, saya bersyukur, saya jadi lebih hemat dari segi pengeluaran bulanan, jarang belanja yang aneh-aneh, pakaian, sepatu, tas, perabotan rumah, ya itu-itu saja. Mau beli di mana? Di tempat saya tidak banyak pilihan, mahal-mahal pula. -Belakangan, sejak ada Matahari Mall yang menawarkan belanja free ongkir, belanja barang-barang kota, jadi lebih mudah, qiqiqi-

Di sini, saya jadi lebih sering ke pasar dan memasak. Yah, mau beli makanan jadi, tidak banyak pilihan, sekali makan untuk keluarga bisa habis seratus ribu, kemahalan. Meskipun, masakan sederhana, tapi rasanya lebih enak, karena jauh lebih hemat, #Emak-emak pengiritan, :).  Memasak juga tidak bisa masak yang aneh-aneh. Bahan makanan sering tidak ada di pasar. Hari ini tidak ada wortel, besok cabe merah kosong, lusa jagung manis kosong, besoknya lagi, udang yang kosong. Saya pernah ke pasar, tahu dan tempe kosong, cari di kios-kios sayur selain di pasar, kosong sekosongnya, tidak ada yang jual, katanya barang sedang tidak ada. Huhuhu… sudah kebayang belum tempat saya seperti apa? Hihi.

Dulu, pertama kali ke Tana Tidung, saya agak heran juga, daging sapi hanya di jual saat hari-hari besar saja, hari-hari biasa tidak ada. Sekarang alhamdulillah sudah lumayan, bulan-bulan tertentu daging sapi tersedia di pasar, meskipun tidak setiap hari ada. Jadi begitulah, barang-barang kebutuhan pokok seringkali tidak tersedia. Karena itu, untuk belanja kebutuhan yang lain seperti sandang misalnya, saya biasanya menunggu saat ada tugas ke kota. Nah, saat ke kota itulah, kadang belanja jadi tidak terkontrol, terlalu banyak pilihan, terlalu banyak diskonan, aduhai. Saat itulah, saya jadi lebih bisa mensyukuri nikmat hidup di pedalaman. Ho ho ho... :D. 

“Kalau di kota nih, pengeluaran jadi tidak terkendali,  ngikut fashion yang gampang sekali ganti, belum lagi godaan kulinernya, wisatanya, buku-bukunya, belum lagi godaan perabotan rumah yang cantik-cantik itu, yang bentuknya aneh-aneh, baju-baju anak yang lucu-lucu, kebayang godaan untuk belanja mulu, :p”.

Nah, selain urusan belanja-belenji. Satu hal penting yang sangat saya syukuri adalah bertemu dengan orang-orang yang baik. Di kantor, suasana kekeluargaan sangat erat, kompak, damai, kesulitan pekerjaan ditanggung sama-sama, tidak ada teman menyebalkan yang  bikin eneq, musuh dalam selimut yang kelihatannya baik di depan, menusuk di belakang. Hal-hal semacam itulah, yang seringkali kita temui. Semacam ada rumus pasti yang berbunyi, “sesama orang susah, dilarang saling menyusahkan”. :)

Di lingkungan rumah, alhamdulillah, bertemu dengan tetangga-tetangga yang baik dan ramah. Hari minggu kemarin, di pertemuan ‘Ngobrol-ngobrol Cantik Minggu Sore’. Kami semua saling mensyukuri satu sama lain.

“Alhamdulillah ya Bu, dengan begini kita bisa ketemu, bisa saling tahu kabar masing-masing, bisa ada kesempatan ngobrol, bisa saling mengisi dan sama-sama bahagia”.

Kemarin sore Alhamdulillah, sakit perut rasanya karena saking banyaknya tertawa. Bu Sassy (samaran) Alhamdulillah terlihat lebih bahagia dan sumringah. Banyak lelucon yang pantas kami tertawai, setelah bulan-bulan sebelumnya, bawaannya murung dan menangis saja. Dua bulan lalu, masalah berat tengah menimpanya. Beberapa kali silaturahim ke rumah Bu Sassy, hanya untuk mendengar tangis curhat Bu Sassy, di bulan berat itu, tak jarang suara keributan terdengar keras dari rumahnya. Alhamdulillah, semua berlalu dengan baik.

“Alhamdulillah, hari ini aku bahagia”, begitu kata Bu Sassy dengan senyuman tersyantiek yang pernah ada setelah bulan-bulan sulit lalu. :)

Rasanya jadi ikut tertular bahagia, beban-beban pikiran rasanya juga langsung berkurang, Alhamdulillah.

“Bu, kita buat lagi yuk Bu, dari rumah ke rumah, tapi khusus baca Quran, kan Alhamdulillah lumayan, rumah kita adalah sebulan sekali bisa dibacain Quran rame-rame”, usul Bu Sassy yang sedang bersemangat sekali hari itu.

“Ya Bu, bagaimana kalau kita adain infaq juga Bu, jadi kalau ada yang sakit atau dapat musibah kita bisa ikut menyumbang”, usul dari seorang ibu yang lain.

Alhamdulillah, adem rasanya. Seneng mendengarnya. Berasa punya geng seperti jaman SMA dulu, tapi ini gengnya emak-emak ketjceh :). Ho ho ho…:D

Bisa saling curhat-curhatan, saling membantu, saling belajar, saling menguatkan, dan yang paling penting, saling mengingatkan, dalam kebenaran, dalam kesabaran. Alhamdulillah.

Bu Mahda (samaran) juga sudah mesam-mesem saja, setelah sebelumnya sempat minggat dari rumah lantaran ada permasalahan dengan suaminya yang terindikasi punya WIL.

“Bu Mahda di mana ini?”

“Saya di Tarakan Mbak, saya bawa anak-anak”

“Ada acara apa Bu?”

“Saya pergi dari rumah Mbak,  marah sama ayahnya anak-anak…bla…bla…”

Kemarin lusa malah sempat cerita pada saya,
“Lucunya suami saya tuh Mbak, kadang bikin jengkel, bikin sebel, bikin marah, tapi kadang bikin seneng juga”,

“Emang kenapa Bu?”

“Iya, dia bilang sama saya, bersyukurnya Dek punya isteri seperti kamu. Sudah salehah, nurut sama suami, di suruh apa-apa mau lagi”. Hihi… Bu Mahda, biasalah perempuan ya, di puji dikit mah udah klepek-klepek. :D.

“Tapi manjanya itu na Mbak, ngejengkelin”, tuh kan, perempuan suka majas nih. Mau-mau gak mau, seneng-seneng ngambek, haha.

“Masak sih, mau bikin kopi aja harus nunggu saya yang ngebikinin. Tengah malem tuh Mbak, saya dibangunin, ngantuk-ngantuk, cuma untuk bikin kopi, jengkel juga jadinya”, masih sambil mesam-mesem. #makin tahu kan kalau perempuan itu kadang suka gak nyambung, antara di bibir sama kenyataan.  :p

“Itu tandanya cinta Bu. Suami Ibu gak bisa ngerasain kopi lain kecuali bikinan Ibu”, Bu Mahda tambah mesem. :)

Alhamdulillah, damai rasanya hidup di lingkungan dengan tetangga-tetangga yang baik, yang tidak pernah mengganggu ataupun menyakiti. 

Benarlah sabda Rasulullah yang berbunyi:
“Diantara kebahagiaan seorang muslim di dunia adalah tetangga yang baik, rumah yang luas dan kendaraan yang menyenangkan.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Memiliki tetangga yang baik termasuk ke dalam salah satu kebahagiaan seorang muslim, sebab tetangga yang baik akan memberikan ketenangan hati, keamanan dan kesejukan pandangan. Pernah punya pengalaman tetangga yang bikin kesel bin jengkel?

Saya pernah, waktu itu tetangga saya, hobi minum-minuman keras di siang bolong, lalu tidak lama kemudian bertengkar, mecah-mecahin kaca, menyeramkan. Dan itu, sering sekali terjadi, diingatkan Pak RT juga tidak mempan. Aduh, agak horor juga waktu itu, hidup menjadi tidak tenang, sering was-was, apalagi selain kebiasaan buruk, tetangga juga sering main ambil saja hak milik orang, serasa itu miliknya sendiri. Jadi saya berusaha bagaimana caranya mencari tempat tinggal yang baru.

Baca juga kisah tetangga: Teror Dua Tangan Penengadah

Tidak jauh dari lingkungan saya tinggal, keresahan yang sama juga dirasakan oleh Bu Rani, dia tinggal di lingkungan pemuda yang terkenal rusuh, suka minum dan terindikasi pengguna narkoba. Pemuda-pemuda yang hobi nongkrong-nongkrong ini mengkhawatirkan Bu Rani, sebab ia punya dua anak, dan si Kakak sudah bersekolah di jenjang Sekolah Dasar, khawatir terbawa pergaulan, khawatir di ajak main yang tidak-tidak, khawatir tindak kejahatan seperti yang sedang marak di televisi. Jadi, sepulang sekolah, anak-anaknya, diisolasi saja di rumah, bermain di rumah seharian, daripada di luar bertemu anak-anak yang tidak baik pergaulannya. Bagaimana rasanya itu? hidup jadi penuh kekhawatiran dan tidak ada kebebasan. Pilihannya hanya ada dua, bersabar atau hijrah mencari tempat tinggal yang baru.

Rasulullah SAW bersabda, “ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah…-disebutkan diantaranya- seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian.” (HR Ahmad).

Jadi, memiliki tetangga yang baik adalah salah satu nikmat hidup yang tidak terkira yang pantas untuk disyukuri. Alhamdulillah.

Agar kita senantiasa merasakan kenikmatan ini, maka kita juga harus belajar menjadi tetangga yang baik dan menentramkan untuk orang lain. 


Menjadi tetangga yang baik  adalah salah satu penyempurna iman

Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Nabi Saw bersabda:
“Demi Allah, seseorang itu tidaklah sempurna imannya. Demi Allah, seseorang itu tidaklah sempurna imannya. Demi Allah, seseorang itu tidaklah sempurna imannya.” Ada seseorang yang bertanya: “Siapakah seseorang yang tidak sempurna imannya itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman karena gangguannya.” (H.R Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Tidaklah masuk surga orang yang tetangganya tidak aman karena gangguannya”.

Menjadi tetangga yang baik adalah merupakan salah satu penyempurna iman, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah dalam hadits di atas. Membuat tetangga merasa aman dengan kehadiran kita adalah juga salah satu wasilah untuk masuk ke dalam surga. Tidak membuat gaduh, tidak mengganggu tetangga dengan suara musik yang keras pada jam-jam istirahatnya, tidak menyakiti tetangga dengan mengatai-ngatainya, membuat adu domba dengan tetangga yang lain, mengumbar aibnya ataupun juga hal lain yang membuatnya merasa tidak aman seperti mengambil hak milik tetangga tanpa seizinnya meskipun bagi kita itu adalah hal sepele. 

Saya masih bisa memaklumi saat ada tetangga yang nyerobot parkir motor di garasi saya tanpa izin, meski sesekali gerundel juga -perasaan normal manusia ^^- giliran motor saya keluar susahnya minta ampun :). Rumah saya tidak di pagar, jadi parkiran motor serasa milik umum. Bagi saya itu masih tidak masalah, ya wajarlah, sudah merasa seperti keluarga, yang penting gak ketemu tetangga yang hobinya maki-maki atau marah-marah, atau yang ngomongnya nyelekit bikin sakit :). Tetapi, saya rasa tidak semua orang bisa bersikap sama. Jadi, usahakan apapun itu, lebih baik minta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya, agar tidak ada 'gerundelan' di antara kita, hehe.. Apalagi kalau sudah menyangkut urusan ambil buah-buahan, dedaunan atau bunga-bungaan yang letaknya jelas-jelas di pekarangan orang lain, wajib a'in untuk mohon izin. Didik anak-anak sedini mungkin untuk memiliki adab meminta izin. Kasihan juga tetangga saya di sebelah rumah, buah mangganya seringkali keduluan dicuri anak-anak sebelum sebelum di panen. Akhirnya, pekarangan yang mulanya terbuka, jadi di pagar rapat untuk menghindari pencuri kecil. Eh, sudah dipagari, masih juga bisa dipanjatin sama anak-anak. Hal-hal seperti ini juga termasuk hal yang perlu mendapatkan perhatian. Jangan sampai tetangga kita nyaman dengan kita, tapi begitu melihat kelakuan anak-anak, jadi mulai terganggu.

Tetangga yang baik adalah tetangga yang senantiasa peduli

Menjadi tetangga yang baik adalah berarti menjadi tetangga yang senantiasa peduli pada keadaan tetangganya. Tetangga yang baik adalah ia yang senantiasa memperhatikan, mengetahui kondisi, dan saling membantu apabila ada kesulitan ataupun kesusahan.

"Bu, saya mau pergi takziah",

"Loh, siapa yang meninggal Bu?", waktu itu saya langsung jadi sedikit panik, iya saya memang kudet, tapi jangan kudet-kudet amat lah ya, :p ada yang meninggal kok saya tidak tahu? dalam hati saya membatin. 

"Vansh Bu, yang meninggal", Vansh siapa? haduh, susah sudah ini kalau urusannya dengan nama. Saya sering tidak ingat. Mimik muka saya langsung berubah. 

"Ibu serius amat, itu lho Vansh yang di Uttaran", hashtagaaaaah, Bu Dedew (samaran) serius sekali waktu pamitan takziah, saya sampai sudah keringat dingin, hihi. 

Iya, jangan hanya sibuk sendiri, jadi seleb di dunia maya tapi tidak tahu tetangga di sebelah namanya siapa, hobinya nonton apa, makanan kesukaannya apa, jarang bertegur sapa, datang ke tetangga kalau butuh hutangan saja, :p. 

Peduli pada tetangga tidak berarti harus ikut nongkrong tiga kali sehari di rumah tetangga, bukan, bukan itu loh ya!. :). Gak perlu tiga kali sehari kalau isinya cuma gosip-gosip tetangga saja. 

Peduli pada tetangga, bisa diwujudkan dengan meluangkan waktu untuk saling silaturrahim, jika terlampau sibuk, ikut aktif  dalam wadah perkumpulan tetangga semisal pengajian rutinan, rapat RT atau semisalnya bisa sangat membantu, dan terbukti sangat efektif. Jalan-jalan pagi, merumput di sore hari juga termasuk aktifitas yang memungkinkan kita bisa bertemu beberapa tetangga dan mulai mengobrol dengan mereka. Atau bisa dalam bentuk saling memberi hadiah. Menjenguk tetangga saat sedang sakit, ikut membantu tetangga yang sedang mendapat musibah atau kesulitan. 

Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah: “Tidaklah beriman kepadaku seorang yang kenyang sedang tetangga di sampingnya menderita kelaparan, sementara dia mengetahui.” (HR Ath-Thabrani dan Al-Bazzar).

Dari Abu Dzarr ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Dzarr, bila kamu memasak makanan yang berkuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (Riwayat Muslim). Dalam riwayat lain; dari Abu Dzarr, ia berkata, “Sesungguhnya kekasih saya Rasulullah saw berpesan kepada saya: “Bila kamu memasak masakan yang berkuah maka perbanyaklah airnya kemudian lihatlah tetangga-tetanggamu dan berilah mereka dengan cara yang baik.”.

Mengantarkan makanan termasuk salah satu sunnah Rasulullah yang sangat efektif dan efisien untuk saling mengenal antar tetangga. Pulang-pulang dari mengantar makanan, biasanya piring kosong akan kembali terisi makanan dengan menu berbeda, :), nah ini bonusnya. Tapi jangan hanya diniatkan untuk dapetin balasan makanan ya!. 

Ingatlah, bahwasanya pada hakikatnya, kita semua bersaudara

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Jangan saling dengki, jangan saling tanajusy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan pula sebagian kalian menjual di atas jual beli sebagian yang lain, serta jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menzaliminya, tidak membiarkannya (tanpa memberikan pertolongan), tidak berbohong kepadanya, dan tidak meremehkannya. Takwa itu ada di sini –seraya menunjuk ke hatinya tiga kali-. Cukuplah bagi seseorang suatu keburukan bila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim itu haram: darah, harta dan kehormatannya.” (HR Muslim).

Ingatlah, bahwasanya, pada hakikatnya, kita semua bersaudara. Sesama muslim adalah bersaudara. Sehingga, hendaknya janganlah saling mengganggu atau menyakiti. Dalam lingkup lebih luas, saat kita tinggal dan hidup dalam lingkungan yang lebih majemuk, tetangga kita bisa saja muslim atau pun non muslim. Tetangga kita bisa saja adalah orang-orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, tidak juga berhubungan sanak saudara. Saat itulah tetangga akan menjadi seakan-akan keluarga dekat yang akan menolong dan membantu kita saat kesulitan, lebih-lebih kalau kita tengah berada di perantauan. Bertetanggalah dengan mereka secara ma'ruf, bermuamalah dengan mereka secara baik. Jadilah sebaik-sebaik tetangga untuk orang lain, dan biarkan mereka merasakan kebahagiaan hidup dekat dengan kita. 

Pernah ditanyakan kepada Nabi shallahu alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seeorang yang senantiasa bangun malam dan berpuasa, berbuat dan bersedekah, tetapi dia senantiasa menyakiti tetangganya melalui ucapan.” Rasulullah pun menjawab, “Tiada kebaikan baginya dan dia termasuk penghuni neraka.” Kemudian para sahabat berkata, “Ada wanita lain yang selalu mengerjakan shalat wajib, bersedekah dengan susu yang dikeringkan dan dia tidak pernah menyakiti satu orang pun dari tetangganya.” Maka Rasulullah menjawab, “Dia itu termasuk penghuni surga.” (HR Bukhari).


_____________________________________

Semoga kita semua bisa terus belajar menjadi tetangga yang baik untuk sekitar, dan bisa terus belajar mensyukuri nikmat hidup bersama tetangga yang baik. Amin. ^^






You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



12 komentar

  1. setuju banget mbak,dimanapun ditempatin sama beratnya..ini saya ikut suami yg ditempatin di Siak Riau,jauh dari perkotaan..tapi seru aja rasanya bisa tahu daerah baru dan dapet saudara baru tentunya^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, seru-serunya aja yang diinget,sama eksplore tempat2 wisatanya yang masih alami, pasti jadi gak inget deh betapa pedalamannya tempat tinggal.kita, :). Yang penting dijalani.dan disyukuri.

      Delete
  2. Hayooolah, Nurin ... kita tetanggaan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jauuuuh, kejauhan kalau harus tetanggaan sama orang Amrik, :)

      Kita bertetangga di dunia maya saja, :)

      Delete
  3. Adub serem amat tetangganya suka minuman keras. Tetanggaku nasrani dan punya anjing, jd males ke rumahnya. Paling ngobrol di depan rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, pernah punya pengalaman serem kayak gitu :(

      Delete
  4. Seru...seribu satu macam cerita bertetangga ya mba.
    Sy nih di komplek jarang bertetangga...krn kerja pergi pagi pulang sore. Paling sapa menyapa pas ketemu/kepergok di jalan.
    Dulu ada arisan bulanan ibu2 di komplek skrg dah ga ada. Mmg satu komplek cuma 20 rumah sih sepi. Ga semua ada orangnya pula

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, saya juga demikian adanya, pergi pagi pulang sore, kadang malem. Makanya, bersyukur sekali bisa ada pertemuan di setiap pekannya dgn para tetangga. :)

      Delete
  5. Memang bener mbak kita semua itu memang bersaudara dan bertetangga :)

    ReplyDelete
  6. Kita ini tetanggaan, lho, Mbak... Bahkan, tanpa sekat. Cuma kalau kuota internet lagi habis saja, tetanggaannya bubaran sebentar. :) #TetanggaMaya

    ReplyDelete