Celoteh

-168- California?

Monday, June 29, 2015

          Hawa dingin menusuk, salju yang turun sejak semalam telah menutupi jalan-jalan kota. Saya membuka mata dengan malas, penghangat ruangan serta selimut tebal yang sengaja kami tumpuk-tumpuk untuk menghangatkan badan rasanya tak begitu membantu. California? Rasanya masih belum percaya. Sekarang kami berada di California? Di musim dingin yang sangat menggigil ini? padahal sebelumnya, saya tengah sibuk menggalau ria memilih sekolah yang terbaik untuk Fifi. Setidaknya masih ada pilihan, daripada tidak sama sekali. Dua SD Negeri, dan satu sekolah Madrasah. Kami sudah bersepakat untuk tidak memasukkannya ke sekolah Madrasah yang ada. Satu-satunya alasan adalah karena sekolah swasta tersebut sekolah baru yang masih belajar, guru-gurunya tidak banyak, dan berdasarkan informasi yang kami peroleh, anak-anak belum terurus secara baik di sana. Dua sekolah negeri lagi, yang satu SDN 001, sudah pasti ini adalah cikal-bakal sekolah favorit, dengar-dengar, sekolah ini ke depannya akan menjadi sekolah unggulan. Suami saya sejak awal tidak setuju memasukkan Fifi ke sekolah ini, dengan berbagai pertimbangan dan pilihan, akhirnya saya mengikuti pilihan suami untuk memasukkan Fifi ke sekolah satu lagi, SDN 009, meskipun secara jarak, lebih jauh dibanding ke SDN 001. Tapi sudahlah, sekarang saya harus fokus mencarikan sekolah yang terbaik untuk Fifi di California. Beberapa referensi sudah di dapatkan, tetapi masalah baru muncul. Fifi yang periang dan mudah bergaul, tiba-tiba menjadi sangat pemalu di sini. Kendala bahasa, terlebih culture shock berdampak pada perubahan sikap dan psikologinya. Mengingat usianya yang belum lagi genap enam tahun, telah saya putuskan untuk tidak terburu-buru memasukkannya sekolah. Setidaknya, membuatnya beradaptasi dan mengenal kota ini dengan baik lebih ia butuhkan saat ini. Pagi ini, ia sudah siap dengan sepatu boot barunya, rencananya hari ini saya ingin mengajaknya bermain salju sekaligus mengunjungi seorang kenalan dari Indonesia yang telah lama tinggal di sini, jaraknya hanya beberapa mil dari apartemen tempat kami tinggal. Kami berkenalan secara tidak sengaja, tetapi kehadiran mereka sangat membantu kami beradaptasi di lingkungan baru seperti ini. Saya sudah beberapa kali mengunjungi mereka, sekedar mencari tempat berbincang yang nyambung, dan sedikit mengobati kekagetan berada di tempat yang baru.



            Fifi tampak sangat ceria hari ini, saya mengajaknya berkeliling ke beberapa tempat. Termasuk arena bermain indoor dengan beragam permainan yang ia sukai. Saya jadi turut senang membersamainya. Sampai tiba-tiba mata saya mendadak silau, ada sekilas cahaya yang mengenai mata saya. Ma-ta-ha-ri? Sontak saya segera mengambil handphone dan melihat angka yang tertera di sana. Pukul 7? Oh Allah!, saya bermimpi. Beautiful dream..so beautiful… saya segera mencuci muka, sambil menghibur diri, setidaknya mimpi saya mimpi yang mendunia, meskipun kenyataannya saya tinggal di belantara, hahaha…
"harusnya tadi tirainya jangan di buka, saya masih belum selesai mimpinya, masih seru!, lagi asyik jalan-jalan juga...", kata saya pada Kak. Coba, tadi lamaan dikit ya, saya masih ingin mengenali nama-nama jalan dan tempat yang tadi dikunjungi, :). Seusai sholat subuh tadi saya memang rada ngantuk berat, sadar-sadar sudah jam 7 saja, hihi... bagaimana jika setelah ini, saya bersegera menyapa Paman Google, untuk mengetahui kondisi California sebenarnya, benarkah tempat-tempat yang saya datangi itu, nyata? :)

            Mimpi yang aneh, sedikit konyol, tapi sangat menghibur. Semua ini pasti  karena saya terlalu berfikir keras tentang sekolah Fifi. Mengetahui ada beragam pilihan sekolah luar biasa di belahan tempat yang lain, membuat saya memang cukup bimbang. Di sisi lain, saya belum berencana menyekolahkan Fifi tanpa tinggal serumah. Untuk anak seumuran dia, kami merasa bahwa pendidikan terbaik adalah di rumah, bersama keluarga. Sebulan terakhir, saya juga sudah berupaya, memperbanyak doa agar ada jalan keluar untuk ini. Pindah tempat tugas? Itu satu-satunya pilihan yang terfikirkan oleh saya. Tapi, sampai hari pendaftaran sekolah sudah di buka. Tanda-tanda menuju ke sana belum terlihat. Lalu saya, tiba-tiba… menjadi… panik… sepanik-paniknya. Serius..:). Antara keinginan, impian, harapan dan kenyataan ternyata tak berbanding lurus, haha… meski ibu saya meyakinkan, bahwa bukan masalah sekolahnya yang harus bagus, tapi bagaimana pendidikan di rumahnya yang harus di mantapin. Tapi tetap saja gimana gitu ya, barangkali saya saja yang berlebihan. :) kagok tiba-tiba Fifi sudah masuk SD aja. Alhamdulillah, mimpi di pagi hari ini membuat saya bergembira, suasana hati saya mendadak menjadi riang, dan langkah kaki saya menjadi ringan. Mimpi yang baik benar-benar membawa berkah. Hari ini adalah hari pertama pendaftaran sekolah. Pendaftaran di buka selama satu minggu. Untuk memenuhi persyaratan, pagi ini kami membawa Fifi ke toko baju untuk membelikannya seragam sekolah, memakaikannya dengan lengkap dan bersegera membawanya ke studio foto. Harga seragam lengkap dengan dasi dan topi, semuanya Rp 170.000; dengan sekuat tenaga menawar, tapi tidak bisa turun harga juga. Ya sudah, untuk sementara punya satu seragam dulu cukup, selebihnya nanti dibeli kalau ada kesempatan ke kota. Takjub juga, hari ini studio foto sekaligus toko alat tulis dan fotocopy penuh dengan anak-anak berseragam, untuk foto saja, kami harus antri. Kata suami saya, "berkah Ramadhan tuh buat pemilik toko". Ya, bagaimana lagi, ini satu-satunya studio foto yang tersedia di sini. Semua biaya foto dan cetak 3x4 sebanyak 6 lembar seharga Rp 35.000, Rp 25.000 jika tidak minta salinan foto dalam bentuk CD. Bismillah, semoga semuanya lancar, dan Allah memberikan petunjuk, kekuatan, kesabaran dan kelapangan hati agar kami dapat menjadi pendidik yang baik untuk anak-anak kami kelak. Amin..




You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar