Quran

-138- #BacaQuran.1: Tak Perlu Kirimi Aku Pahala [Doa&Usaha]

Friday, January 24, 2014


  

 
 

38. (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain
39. Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya
40. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)
41. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna
 (Quran Suroh An-Najm: 38-40)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir, bahasan ini dimulai dari ayat 33, dimana Allah berfirman, mencela orang-orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya, “Maka, apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari Al-Quran)? Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi?” Q.S An-Najm 33-34. Ibnu Abbas mengatakan: “Taat sebentar dan kemudian berhenti lagi.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Qatadah, dan lain-lain. Ikrimah dan Said mengemukakan: “Seperti suatu kaum, jika mereka menggali sumur dan ketika penggalian itu mereka menemukan batu besar yang menghalangi untuk menyelesaikan penggalian tersebut, lalu mereka berkata: “Sampai disini saja”, kemudian mereka tidak melanjutkan penggalian.


Mungkin diantara kita pernah mendapatkan sebuah pertanyaan, atau barangkali kita pernah bertanya, kepada orang yang kita anggap cukup sukses di bidangnya, mengenai apa trik, resep dan kiat khusus yang mereka gunakan sehingga mereka menjadi berhasil. Kita seringkali terpukau dengan hasilnya, tetapi pedulikah kita bagaimana ia menjalani prosesnya? Barangkali tidak!, perjuangan yang berat, upaya yang keras, usaha yang tak kenal lelah, acapkali luput dari pandangan kita. Menyaksikan kehidupan artis yang serba wah, glamour dan terkenal, sepertinya cukup menggiurkan, tetapi dibalik itu semua, tak pernah kita bayangkan bagaimana perjuangannya meniti tangga kesuksesan tersebut. Lucunya! Kita seringkali menginginkan sebuah kesuksesan yang instan, nyaris tanpa proses. Bertahun-tahun, hidup dalam resolusi yang berulang. Sebagian kita ada yang menginginkan mendekatkan diri melalui Al-Quran, membacanya, menghafalkannya, mengamalkannya. Tetapi, saat ada sedikit aral, hambatan, ujian, pantangan, keinginan itu surut, menyusut, lalu dilupakan. Betapa sering kita mendengar, suara-suara tanya, bagaimana caranya ini? bagaimana caranya itu? tetapi setelah diberi penjelasan, “lakukan saja”, “coba saja”, “belajar saja dahulu”, keinginan itu tiba-tiba menguap.

Lalu, tiba-tiba kita menginginkan surga?
Tanpa ketaatan?
Kita menginginkan tempat kembali yang baik, karena kita percaya akan adanya hari pembalasan. Kita percaya akan adanya surga dan neraka, tetapi itu hanya dijadikan sebagai bahan lelucon, cerita menjelang tidur, atau hanya bagaikan angin, sesaat berhembus-sesaat pergi.
Cukupkah kepercayaan kita?
Cukup sampai kita percaya, lalu berbuat sekehendaknya. Kita percaya akan adanya ajal, kita percaya akan adanya surga, akan adanya neraka, tetapi tidak pernah mempersiapkan bekal,
Dan tanpa kita sadari,
Kita hanya hidup dalam buaian mimpi.  

Dan bahwasanya, seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya. Maksudnya, sebagaimana dosa orang lain yang tidak akan dibebankan kepadanya, maka demikian pula ia tidak akan mendapatkan pahala melainkan dari apa yang telah diusahakannya sendiri.

Dari ayat ini pulalah Iman Syafii rohimahulloh dan pengikutnya menyimpulkan bahwa pengiriman pahala bacaan Al-Quran tidak akan sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, karena bacaan itu bukan amal dan usaha mereka. Oleh karena itu, Rasulullah S.A.W tidak pernah mensunnahkan dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal tersebut. Selain itu, beliau juga tidak membimbing umatnya berbuat demikian, baik dalam bentuk nash maupun melalui isyarat. Dan perbuatan itu juga tidak pernah dinukil dari para sahabat. Sekiranya hal itu merupakan suatu hal yang baik, niscaya mereka akan mendahului kita semua dalam mengamalkannya. Dan cara-cara mendekatkan diri kepada Allah harus didasarkan pada nash-nash, tidak boleh didasarkan pada berbagai qiyas dan pendapat semata. Sedangkan doa dan amal jariyah sudah menjadi kesepakatan para ulama dan ketetapan nash syariat bahwa hal itu akan sampai kepada si mayit.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rosululloh SAW bersabda:
“Jika seseorang wafat, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara, yakni: anak sholih yang mendoakannya, shodaqoh jariyah setelahnya, dan ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim).

Ketiga perkara tersebut pada hakikatnya merupakan usaha dan kerja kerasnya semasa hidup, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang (makanan yang) berasal dari hasil usahanya, dan sesungguhnya anaknya itu termasuk dari hasil usahanya” HR. An-Nasa’I di kitab al-Buyuu’, Ahmad dan Ibnu Majah.

Dan cara-cara mendekatkan diri kepada Allah harus didasarkan pada nash-nash, tidak boleh didasarkan pada berbagai qiyas dan pendapat semata.

Membaca satu paragraph tersebut, mengingatkan saya akan beberapa poin penting yang sedang ramai dibicarakan kawan-kawan sesama anggota odoj. Adik saya, bahkan beberapa kali mengirim pesan khusus menanyakan beberapa hal yang agaknya cukup mengganggu. Ini bukan soal odojnya sendiri, tetapi lebih ke mekanisme peraturan odoj, dalam hal ini yang masih menjadi bahan diskusi adalah tentang sistem lelang juz dan adanya anggapan khatam grup. Saya pun agak sedikit ragu dengan kedua hal tersebut, tetapi karena saya pun masih terlalu awam ilmu, dan tidak mendapatkan informasi yang cukup berimbang dari para pendiri odoj, maka cukuplah saya mendengarkan pandangan dari para ahli ilmu bahwa hal demikian tidak syar'i, tidak sesuai kebiasaan ulama dan di luar kaidah. Tidak ada yang namanya khatam grup, mungkin bahasa yang lebih tepat untuk menyatakan itu adalah kholas. Dari membaca tafsir ini, saya menjadi lebih yakin, bahwasanya memang perlu kehati-hatian bagi tiap-tiap kita mengenai perkara cara mendekatkan diri kepada Allah, dan hendaknya memiliki kapasitas ilmu untuk itu.


 “Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”, yakni pada hari Kiamat kelak. Maksudnya, Allah akan memberitahukan (amal) sekaligus memberikan balasan atasnya dengan sepenuhnya. Jika berupa kebaikan, maka akan dibalas dengan kebaikan, dan jika berupa keburukan, maka akan dibalas pula dengan keburukan.

Wallohu a’lam bis showab

Sumber: 
Al-Quranul Karim
Tafsir Ibnu Katsir jilid 9 , 2011, Jakarta: Pustaka Imam Syafii.


Catatan: Tulisan berwarna saya kutip langsung dari tafsir Ibnu Katsir.

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



0 komentar