Cinta

-125- Seperti Mencintai Hidup

Friday, September 13, 2013




Bismillahirrohmanirrohim, 

Cuaca hari ini sedang tidak bersahabat. Matahari menghamburkan pelukannya kepada bumi, meluluhkan ranting-ranting kecil pohon akasia, menyisakan sedikit lembaran daun-daun menguning yang melambai dengan pelan. Debu-debu beterbangan, seperti segerombolan semut yang keluar dari sarang. 


Saya melihat arloji, pukul 01 siang, terminal Probolinggo semakin ramai dengan lalu lalang kendaraan masuk-keluar, ditambah padatnya penumpang, puluhan penjaja makanan, membuat kepala saya semakin pening tak beraturan. Seharusnya, Ahnaa sudah datang dua jam lalu, setibanya saya ke terminal ini jam 11 tadi. Hingga satu jam ke depan, dari kejauhan barulah saya dapat melihat seorang perempuan muda, menggunakan abaya merah hati, kerudung yang dibiarkan tergerai sekenanya, berjalan tergopoh. Langkahnya buru-buru. Tak dihiraukannya lagi sapaan debu, apalagi pelukan mentari. Di tangannya, ia membawa sekantung kresek ukuran sedang, bisa saya tebak, itu kantung makanan. Senyumnya mengembang, saat jarak semakin dekat, ah ya! itu Ahnaa.  


Kaki-kaki kami berpacu, menaiki sebuah tangga lipat yang hanya akan terbuka jika kami membuka plapon berwarna merah muda. Loteng atas! Tempat menjemur pakaian, sekaligus tempat favorit kami berbagi rahasia. R-A-H-A-S-I-A.

“Sudah lama nunggunya?”


“Lima menit lagi, aku hampir pingsan, kepanasan”, Ahnaa terkekeh, tertawa puas. 

“Satu sama”, baik, rupanya ia masih mengingat kejadian saat ia harus menunggu saya hampir 4 jam gara-gara saya ketiduran dan benar-benar tidak ingat pada janji temu kami hari itu.

“Di pondok masih banyak yang harus diurus, ba’da dzuhur Abinya Hafeez ada jadwal dengan santri, harap maklum ya…”

“Ada apa sepagi ini mengajakku kemari?”,
Wajah Ahnaa bersemu, genggaman tangannya pagi itu lebih dingin 
dibanding udara jam 6 pagi kala itu.
“Aku mau menikah Rin”
“Yang benar? Kapan? Dengan siapa?”
“Tapi….” Wajahnya tiba-tiba tertekuk.
“Kau pernah mendengar tentang Ghazali?”
Saya terdiam. Siapa yang tidak mengenal Ghazali?
“Aku… aku gak pede Rin…”

Sebuah mobil Kijang merah, lebih mencolok dari abaya Ahnaa, rupanya telah bersiap di pelataran masjid terminal. Melihat kami datang, seorang laki-laki berperawakan sedang, menggunakan koko putih lengan pendek, sarung hitam bermotif kotak-kotak, dan peci putih segera membukakan pintu, juga membantu menyimpan tas jinjing saya yang aduhai lumayan beratnya.

“Kita mampir belanja dulu ya, ke pasar”. He? Apa saya tidak salah dengar? Saya sudah cukup kelelahan melalui perjalanan dua kali naik bis umum dari Kertosono, dan terkantuk-kantuk menunggu jemputan Ahnaa, jadi saya sudah cukup kehilangan selera bepergian, saya ingin segera sampai.

“Mumpung bisa keluar Rin, kesempatan langka…”.

“Iya, aku ikut saja”, terpaksa saya menurut.

“Kamu ini, kalau sekelas kamu bisa gak pede, bagaimana dengan aku?”
Ahnaa, muda, cantik, cerdas, hafidzoh, ukuran perempuan sempurna yang pantas dilirik
 oleh seorang kyai muda.
“tapi…”, kalimatnya tercekat,
“aku ini bukan siapa-siapa. Dari keluarga yang biasa-biasa saja, apa aku pantas?

Di sepanjang perjalanan, -setelah berbelanja ke pasar, mencari beberapa helai kain, membeli kebutuhan bulanan, dan mampir ke penjahit- menyaksikan pemandangan indah sepanjang pinggiran pantai, rasa penat dan lelah saya semakin berkurang. Ahnaa terus mengoceh tentang perkembangan Hafeez yang kini berumur satu tahun. Sementara itu, Abu Hafeez, sang supir, sangat antusias memamerkan panorama keindahan kota ini yang menakjubkan. 

“Apa kita akan segera sampai?”, saya tersadar saat melihat kembali arloji, sudah hampir senja.

“Sebentar lagi…”, Abu Hafeez menimpali. Itu adalah jawaban ke enam yang diberikannya kepada saya.

Rasanya belum lama, saya turut menghadiri haflah, hari kelulusan Ahnaa dari salah satu pesantren terbesar di Jawa Timur. Satu bulan setelah itu, di pagi hari itu, Ahnaa nampak gugup dengan keputusannya, bersanding dengan seseorang besar -menurut pandangannya-, ia dilamar oleh Kyainya, untuk kemudian dinikahkan dengan keponakan Kyainya itu. Menjadi bagian dari keluarga besar pesantren, bagaimana itu tidak merisaukan hati Ahnaa?  

Satu jam berlalu, mobil merah yang kami kendarai, berbelok. Jalanan lebih sempit dibanding jalan utama yang kami lalui sebelumnya. Abu Hafeez, lagi-lagi dengan sangat bangga memamerkan panorama sungai yang membelah jalanan.

“Ya, kita sampai”, Ahnaa bersahut gembira. Mobil perlahan memasuki sebuah gerbang besar, bercat putih dengan tiang penyangga berwarna hijau muda, tertulis dengan sangat besar, Pondok Pesantren Salafi Nahdhatut Thalibin, dan ucapan selamat datang, yang ditulis dengan dwi bahasa, Indonesia-Arab. Saat mobil kami melewati segerombolan santriwan yang sedang berlalu lalang, tiba-tiba mereka berhenti, menundukkan pandangan, hormat takzim, menunggui mobil kami berjalan agak jauh. Setelah sampaipun, beberapa santriwan berebut menyalami Abu Hafeez. Dan dengan segera, membantu membawa barang belanjaan yang hampir-hampir memenuhi bagasi mobil.

“Jadi kamu, ngapain aja kerjanya?”, pertanyaan saya meluncur begitu saja, melihat beberapa santriwati sibuk bekerja di dapur Ahnaa menyiapkan makan, membereskan rumah dan bersih-bersih. 

“Hemm… sementara ini, aku belum dapat jatah mengajar, jadi ya,,, di rumah saja, mengurus Hafeez”

“Seharian, di rumah?”,

“Yah, begitulah…”

“Apa ini?” pandangan saya tertuju pada sebuah lemari yang setengah terbuka.

“Ssst… jangan keras-keras, Abu Hafeez baru saja membelikanku tivi”

“Memangnya boleh?”

“Kalau Abah (mertua Ahnaa) tahu, bisa bahaya. Rencananya itu mau dipasang nanti saat kami pindah ke rumah baru.

“Kurasa, kau telah memengaruhi Abu Hafeez dengan sempurna, Jang Geum!”, Ahnaa dulu yang juga sukses memengaruhi saya untuk menonton beberapa drama korea, salah satunya drama Jang Geum, Jewel In The Palace.

“Aku sering dihinggapi rasa bosan, apalagi aku kan jarang keluar. Karena itulah, Abu Hafeez akhirnya mengizinkan, hehe… dengan satu syarat, tidak ketahuan, dan tidak boleh ajak-ajak Hafeez”.

“Ohya, jalan-jalan yuk!, masih ada satu jam sebelum maghrib, besok aku mau kembali pagi-pagi sekali, aku trauma dengan jauhnya perjalanan tadi”

“Ehm… jalan-jalan ya… gimana nih Bah?”, Ahnaa melirik ke arah Abu Hafeez, kebingungan.

“Ya sudah, disini saja, kalau memang gak boleh”, saya sedikit merajuk. 

“Boleh-boleh, ajak jalan-jalan ke rumah Neng Sisi saja...”, Abu Hafeez menimpali.

***

"Jadi, jalan-jalannya sampai sini saja?", saya menyeringai, tertawa. Kalau ini sih bukan jalan-jalan namanya, ini hanya seperti mengitari rumah, Ahnaa hanya mengajak saya berkeliling pondok putri.

Maka, di awal-awal pernikahan Ahnaa, saat saya sudah tidak sebebas dulu lagi bertemu dengannya -selain karena jarak yang memisahkan-, kami masih sering saling melempar iri. Ahnaa iri dengan kehidupan saya yang bebas, saya bebas pergi kemana saja, bertemu dengan banyak orang, mengunjungi banyak tempat, beraktivitas di luar, mengerjakan apapun yang saya sukai. Sementara saya, saya iri dengan kesempatan luar biasanya untuk terus mereguk ilmu, tinggal di lingkungan yang terjaga, tidak perlu repot mengerjakan banyak pekerjaan rumah, dan tentu saja, memberikan lingkungan yang baik untuk anak-anaknya.

Tetapi, semakin kesini, dengan semakin matangnya pemikiran dan juga pengalaman hidup -kami masih berkomunikasi via telepon sepekan sekali-, pembicaraan kami tentang 'curhatan keseharian' mulai berkurang, bahkan tak jarang tidak ada curhat sama sekali. Saya fikir, saya mungkin tidak 'cocok' dengan kehidupan seperti Ahnaa, sebaliknya, Ahnaa pun memiliki fikiran yang sama dengan saya. Setiap orang memiliki kehidupannya, dan juga perannya masing-masing. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Semuanya tergantung bagaimana sudut pandang dan cara menyikapinya. Pembicaraan kami, selama kurang lebih setengah jam setiap pekannya, khusus hanya untuk Al-Quran.

"Manusia itu selalu merasa kurang...", kalimat ini terdengar dalam sekali buat saya. Entah mengapa, seringkali 'rumput tetangga' terlihat jauh lebih hijau. Dulu, dalam beberapa kurun waktu yang cukup lama, saya pernah merasa salah jurusan. Meskipun sahabat kamar saya dengan berapi-api berujar,

"Kalau matematika itu diibaratkan sebuah pohon. Kalkulus ini ibaratnya akar. Kerenkan, kita belajar matematika dari akarnya! kita harus sabar Rin, sampe waktunya kita bisa sama-sama memetik buahnya", oh yeaaaah! keren... keren banget, :). 

Tetapi, hari ini, saya fikir, perbuatan saya waktu itu tidak bisa dibenarkan!. Masa-masa di Jakarta saya akui sebagai masa yang cukup sulit, karena saya merasa menjalani sesuatu yang tidak pernah saya inginkan, jangankan diinginkan, dibayangkan saja tidak pernah. Jangankan dibayangkan, melintas saja belum pernah. Tapi, suratan takdir menginginkan cerita yang lain. Saya merasa, semua jalan yang ingin saya tempuh saat itu, tiba-tiba ‘seolah’ ditutup secara pelan-pelan, saya tidak punya kesempatan memilih yang lain, sebab ‘takdir’ –sesuatu yang sangat abstrak- seolah menggiring saya menuju satu pilihan, satu pintu baru yang kemudian saya masuki.

Tetapi, diwaktu yang bersamaan, mungkin saya tidak memikirkan, diluar sana, betapa banyak orang-orang yang bahkan tidak sempat memikirkan jurusan karena tidak ada biaya, atau mereka yang bahkan tidak punya kesempatan untuk mencicipi bangku sekolah atau mereka yang berkali-kali mengikuti ujian masuk dan berkali-kali pula gagal. Sementara saya, saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya ikut ujian berkali-kali dan gagal karena belum pernah ikut ujian SMPTN, saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya pusing memikirkan biaya kuliah, karena kuliah saya gratis, justru saya dibayar, setiap bulan menerima uang saku.

Ini seperti cerita sahabat saya yang mengeluh,
“Capek jadi isteri anggota dewan, ditinggal-tinggal terus, jarang di rumah. Pengennya periode ke depan gak lagi deh, pengen balik kayak dulu lagi, jualan aja, jadi wiraswasta”. 
Padahal bayangan saya, enak banget jadi dia. Punya suami rupawan, punya jabatan prestise, pendapatan lumayan, dikenal orang, pemegang kebijakan, bisa berbuat banyak untuk rakyat.



Ceritanya jadi lain lagi saat saya bertemu Lili,
“Bapaknya itu cuma buka toko aja Mbak, penghasilan gak tetap, syukur-syukur lagi banyak pembeli, enak kali ya kalau aku jadi isteri anggota dewan..”,. lucu ya jadinya. Yang sana pengen jualan, yang sini pengen jadi isteri dewan.

Mbak Hani, seorang ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki yang lucu, setiap saya bertandang ke rumahnya, Mbak Hani selalu curhat soal dia ingin bekerja, pengen jadi PNS katanya. Meski, berkali-kali saya bilang,

“Mbak Hani, enak lho Mbak jadi seperti Mbak yang sekarang. Bisa di rumah seharian, ngurus anak-anak, gak repot harus mikirin anak-anak dititip sama siapa, bisa masak untuk keluarga, bisa nentuin waktu sesuka-sukanya, gak terikat jadwal”

“Ya tapi bosan Rin, di rumah terus. Aku juga pengen beraktivitas, sayang kan ijazah gurunya. Pengen gitu, bisa ngajar di SMP atau SMA”.

-----------------------------------
Manusia, memang seperti itu.
Yang belum menikah, galau ngebet pengen nikah, yang sudah nikah pening ngebayangin pengen sebebas waktu single dulu. 

Yang belum punya anak iri lihat yang sudah punya anak. Yang punya anak ngeluh ngerasa berat kebanyakan anak.

Ibu rumah tangga ngidam pengen bekerja. Yang bekerja, mimpi pengen jadi ibu rumah tangga. 

Pengusaha iri lihat pekerja kantoran tiap bulan pendapatannya tetap. Yang kantoran gak bosan-bosan kepikiran pengen jadi pengusaha, katanya supaya cepet kaya. 

Hidup ini selalu begitu. Ini juga yang saya rasakan saat setiap pagi buru-buru berangkat kerja, melihat ibu-ibu tetangga saya, yang terlihat santai, duduk-duduk sambil bawa anak-anak jalan-jalan pagi, ngobrol-ngobrol,


“duh, enaknya ya jadi mereka, gak riweuh pagi-pagi harus buru-buru ke kantor, hidup nikmat bener”. 

Eh, sekalinya dapat kesempatan ngobrol, ternyata para ibu-ibu itu duduk-duduk sambil ngomongin saya,

“duh, enaknya ya jadi orang kantoran, pagi-pagi sudah rapi, punya penghasilan sendiri, bisa belanja ini-itu sendiri”, haha..manusia…manusia…manusiawi sekali.

Manusia, seringkali tidak pernah merasa puas dengan dirinya, dengan apa yang telah dinikmatinya, dimilikinya, "rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau". :)
---------------------------------

Hari ini, jika sesekali terbersit dalam pikiran saya, tentang ‘keiriian’ saya pada kehidupan semacam Ahnaa, atau tentang apapun, berkenaan dengan kehidupan saya, saya mulai kembali berfikir, untuk belajar, mencintai apa yang sudah ada.

Seperti mencintai hidup, saya mulai belajar untuk mensyukuri apa yang sudah ada. Manusia itu memang selalu merasa kurang, itu benar. Karena itu, perlu bersyukur dan bersabar. Bersyukur atas apa yang sudah dimiliki, dan bersabar atas apa-apa yang belum dapat diraih. Belajar untuk bersyukur dan bersabar itu sendiri sama halnya dengan belajar mencintai kehidupan.

Percaya atau tidak, semua hal yang kita nikmati di dunia ini, tidak akan pernah terasa memuaskan, kecuali jika disandingkan, dengan kesyukuran.

Seperti mencintai hidup, 
kita harus belajar mencintai apapun kurnia dari sang Maha, 
jika itu terasa belum memuaskan,
maka bersyukurlah kembali,
resapi, 
lalu bersabar...



Ah ya, sebelum saya lupa, tulisan ini terinspirasi saat saya membaca postingan Mbak Octa,
edisi; Hidup Itu Susah, Katanya, sama yang edisi: At the End of the Day. -waktu saya bersih-bersih blog, dan ganti domain, link artikelnya broken, jadi saya hapus, dan saya udah ubek-ubek, cari di blog ybs gak nemu lagi, :(, maaph, tapi postingan yang lain masih banyak kok yang asyik-asyik untuk dibaca, ^^-


Cerita tentang Ahnaa, nyata, beberapa hal seperti nama tokoh saya samarkan. 


 -saya repost kembali pada Jumat, 08 Januari 2015-


You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



5 komentar

  1. Semoga kita menjadi orang yang senantiasa bersyukur... amin...

    ReplyDelete
  2. ini postingan tahun lalu dan aku baru tahu ada link ke blogku hari ini. .___________.

    Trus akhirnya aku baca postingan sendiri abis baca postingan ini. Yah, ternyata gitu; ini cuma siklus aja. Hepi-sedih-trus hepi lagi-sedih lagi-dan seterusnya. :D

    ReplyDelete
  3. @Catatan Ingatan:yup yup... kalau tidak bersabar ya bersyukur. Kalau tidak bersyukur ya bersabar...:)

    ReplyDelete