Statistisi

-66- Resign, Rotasi dan Ramadhan (Apa Hubungannya?)

Friday, July 20, 2012



Jalanan lengang sekali, warung-warung makan juga sudah banyak yang tutup. Hari ini hari Jumat, hari pertama berpuasa bagi yang sudah memulainya. Sebagai seorang birokrat yang baik, saya ikut manut dengan hasil sidang isbath pemerintah, berpuasa esok hari (lah, apa hubungannya?). Jarum jam telah menunjukkan pukul 13.00 siang, saat yang sama di saat senin lalu, saya bersama beberapa kawan usai mengisi beberapa pertanyaan dalam angket. Diantara puluhan pertanyaan, ada satu pertanyaan menggelitik yang jika kalimatnya saya bahasakan kembali berbunyi: apakah anda berambisi untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil?. Sontak saya langsung protes ketika melihat jawaban seorang kawan yang melingkari jawaban bahwa ia sangat tidak berambisi. 
“Lah, kamu kan sekarang sudah jadi PNS, pilihannya kok itu”
“Iya, tapi kan guwe kagak pernah berambisi, beneran deh”,
entah ada apa dibalik definisi ambisi, menurut saya ambisi itukan kemauan. Jika tidak ada kemauan sangat tidak mungkin jika saat ini bisa nangkring dengan enjoy di belakang meja dengan status PNS. Kalau tidak percaya, baiklah mari kita buka definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ambisi dimaknai sebagai keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Jadi, ambisi itu memang ada, kalau karena permintaan orang lain, itukan motivasi.
“Sssst… aku kan jadi PNS cuma karena menuruti permintaan ibu”, seorang kawan lain setengah merendahkan suara turut membela diri. Ini tipe anak sholehah yang berbakti pada orangtua.
“Terus jawabannya apa nih, aku kan jadi PNS karena ikut suami”, ini tipikal istri sholehah yang berbakti pada suami. Kalau kata seorang teman blogger saya, ‘Ke Europe manut, ke Amrik katut’, he he.
“Iya nih, sebenarnya sih ana juga karena permintaan bapak, lah anti sendiri gimana?”


Di todong pertanyaan balik, saya kan gengsi juga kalau jawabannya sama,
“Kalau aku memang berambisi, lah sekolahnya saja di kedinasan”, sok banget saya, padahal sebenarnya saya juga punya jawaban yang tidak jauh berbeda, dan tentunya enggan dicap sebagai muslimah ambisius pengejar ke PNS-an.
Percayalah, seperti pada iklan hasil survey ditelevisi itu, bahwa ‘sembilan dari 10 muslimah PNS tidak pernah berambisi menjadi PNS’. Tanya saja pada anak-anak ingusan itu ketika mereka ditanya mau jadi apa kelak jika dewasa? rata-rata pasti akan menjawab, "saya ingin jadi dokter", "saya ingin jadi guru", "saya ingin jadi polisi", tidak ada kan anak-anak yang menjawab "saya ingin jadi guru PNS yang bersertifikasi", atau "saya ingin menjadi PNS di Dinas Pertanian". Karena memang PNS tidak pernah dibayangkan oleh seorang anak-anak ingusan sampai ia kemudian dewasa. Orang-orang dewasalah yang turut andil memperkenalkan istilah 'PNS' itu, dan barangkali lembaga pendidikan pencetak para sarjana itu yang telah demikian membentuk pemikiran bahwa lulusan sarjana itu paling keren jika menjadi pekerja kantoran, apalagi kalau sudah masuk PNS. 

Jadi kesimpulannya, jikapun kini, banyak muslimah yang berkiprah di pemerintahan, sebagian dari mereka punya alasan dan kepentingan tertentu untuk menggelutinya. 

Seperti halnya kami, bisa jadi salah satu alasan sebagian besar yang lain juga karena permintaan orangtua. Yah, barangkali karena orangtuanya dulu pernah punya cita-cita menjadi PNS yang tak kesampaian, atau mungkin gelar ‘prestise’ yang nampaknya sudah melekat di kalangan masyarakat telah menghijaukan mata kedua orangtua hingga begitu bangga melihat anaknya menjadi pegawai. Atau barangkali iming-iming ‘uang pensiun’ begitu menggiurkan batin mereka dan berharap kelak anaknya tidak kekurangan suatu apapun di hari tuanya.

Dan lagi, tidak semua anak terlahir dari orangtua bangsawan, yang meninggalkan segunung emas dan sedanau berlian untuk ditinggalkan. Tidak semua anak terlahir dari mantan CEO perusahaan batubara yang akan menyerahkan trah pimpinan kepadanya. Tidak semua anak terlahir dari pengusaha dengan ribuan toko yang siap diwariskan begitu ia dewasa. Tidak semua anak terlahir dari kalangan kyai yang memiliki ribuan santri dan lembaga pendidikan untuk diteruskan pengelolaannya.  

Jadi bagi saya, menjadi PNS dengan apapun alasannya adalah pilihan hidup yang mulia.  Mau karena orangtua, suami, anak, beban tanggungan atau terpaksa sekalipun. Dan sebagaimana pilihan, tentu ada tebusan yang harus dibayar dengan sangat mahal sebagai gantinya. Sebagaimana kisah seorang sahabat saya di salah satu sosial media, yang beberapa minggu terakhir diwarnai kegamangan, kegalauan, penuh curhat ala ABG labil. 
"Oke, saya putuskan untuk tidak jadi resign. Bismillah", kira-kira begitu tulisan update statusnya suatu hari. 
"Bingung dan bimbang. Kasihan sama si kecil. Bagaimana ya? kerja gak konsen, ngurus baby juga gak fokus. Serba salah. Apa aku resign aja ya?" ganti status lagi, beberapa hari kemudian.
Bisa ditebak edisi statusnya setelah itu. Penuh pemikiran antara jadi resign-tidak jadi-resign-tidak jadi. 

Resign Itu Harus!

Ya, resign atau dalam bahasa Indonesia berarti 'Berhenti' adalah sebuah keharusan, jika kita merasa kehidupan kita akan lebih baik di tempat yang baru nanti. Bukan karena kita menyerah pada keadaan yang adakalanya tidak sesuai dengan harapan. Atau hanya tergiur 'rumput tetangga' yang terlihat lebih hijau dan subur. Resignlah karena alasan berharga yang harus diperjuangkan di tempat yang baru, bukan hanya karena terkesima melihat betapa nikmatnya menjadi ibu rumah tangga yang setia setiap saat mengurusi keluarga. Sebab jika hanya itu alasannya, saya khawatir setelah menjadi ibu rumah tangga, akan dengan mudah resign lagi karena tergiur dengan kondisi di luar yang dianggap lebih menyenangkan. Resignlah karena kita memang memantaskan diri untuk berada di tempat yang baru, dengan segala resiko hidupnya.

Dilema menjadi perempuan kantoran mungkin tidak hanya dirasakan oleh sahabat saya saja, bahkan saya jika mampu, mungkin saya akan memikirkan resign ini lebih dari seribu kali dalam sehari dengan sempurna. Masih lekat dalam ingatan, saat saya pertama kali melihat gedung perkantoran, mendadak saya mual dan muntah. Membayangkan saya akan duduk di belakang meja, seharian. Juga membayangkan bahwa saya akan menjadi bawahan, pesuruh, pembantu, kacung atau apapun namanya itu yang dipoles dengan nama yang agaknya terlihat keren, -staf, asisten, pegawai-. Apa yang saya jalani saat ini, jauh … jauh … jauh sekali dari impian dan bayangan saya akan masa depan.

Namun, hidup adalah pilihan. Kita telah dengan sadar memilih, maka kita harus berani bertanggung jawab atas pilihan, apapun motivasinya di awal mula. Keberanian akan menjalani pilihan menurut saya, harus dibuktikan dengan kesungguhan, kerja keras, dan melakukan hal yang terbaik untuk belajar mencintainya. Sehingga saat kita pada suatu ketika benar-benar memutuskan resign dari hal yang dijalani saat ini, kita telah berhenti dengan elegan, sebagai pahlawan yang layak dihadiahi lencana bukan sebagai pecundang yang terbuang. Mereka yang kita tinggalkan akan mengingat kita sebagai sosok dengan penuh kenangan baik bukan kenangan buruk seperti label orang yang mudah patah semangat, banyak berkeluh kesah, tidak disiplin, tidak profesional atau semacamnya.

Resign adalah sebuah keharusan, seperti saat Allah menentukan bulan Ramadhan sebagai bulan Resign dari semua hal duniawi yang menyibukkan. Resign adalah sebuah keharusan, seperti saat Allah menentukan bulan Ramadhan sebagai bulan untuk berhenti mencela, berhenti mengumpat, berhenti mencaci, berhenti membenci, berhenti berbuat maksiat dan menggantinya dengan memperbanyak dzikir, memperbanyak amalan, memperbanyak memberi, memperbanyak perkataan baik, memperbanyak muhasabah. Ada waktu dimana kita harus berhenti, untuk menyambut hari berikutnya dengan lebih baik. Ada waktu dimana kita harus berhenti dari tempat berpijak saat ini, menuju tempat pijakan baru yang lebih akan membesarkan jiwa.

Resign Itu Tidak Perlu Bualan  
Ya, resign itu tidak memerlukan bualan. Jadi tidaklah perlu terlalu banyak mengumbar keluh kesah, sesumbar berlebihan pada dunia betapa mengenaskannya kehidupan kita di tempat yang saat ini. Itu sama halnya seperti menyingkapkan pakaian, memalukan. Atau seperti seseorang yang sehabis ramadhan rajin melaksanakan tahajud setiap malam lalu memamerkannya di pagi harinya, hanya demi tujuan agar orang lain memberinya predikat ‘orang alim’, mengenaskan. 

Karena Kehidupan Senantiasa Ber-Rotasi
Seperti roda, jika ingin maju, maka roda itu harus berputar, harus berotasi.

 “Bersyukurlah atas setiap nikmat yang Alloh beri. Setiap peristiwa yang kita jalani, entah itu sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan kita insyaalloh pasti ada hikmahnya. Alloh itu paling tahu apa yang terbaik untuk kita. Yakinlah, pilihan yang alloh beri itulah yang terbaik. Tapi ya itu, kita tidak diberitahu sekarang, kita diberitahunya nanti. Karena itu saya sarankan anda bersyukurlah sejak sekarang, sebelum kita menyesal di kemudian karena keterlambatan kita. Kalau kita bersyukur maka akan melahirkan anak cucu kesyukuran yang melimpah dibelakangnya, begitupun sebaliknya, jika kita banyak mengeluh.”
 “ya  jangan merasa dibuang, dimanapun nanti anda ditempatkan, mau di ujung Papua atau Sumatera, sama saja. Saya ngomong begini bukan sekedarnya saja, faktanya, memang banyak teman-teman kita yang merasa seperti itu. Kembali ke yang tadi, apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk buat kita, siapa tahu itulah yang terbaik untuk kita, dan itu yang saya rasakan sekarang….saya sangat bersyukur….”
Awal Juli ini, seakan mengingatkan saya kembali pada pesan pak Bambang Heru Santosa, saat masih di BPS Pusat kala itu.

“Jangan takut. Anggaplah rotasi pekerjaan ini sebagai pembelajaran. Jangan dianggap beban, tapi anggaplah itu sebagai amanah”,
begitulah pesan pimpinan pada saya di bulan Juli ini, seperti mengetahui jika saya memang benar-benar takut dan merasa belum sepenuhnya mampu ditempatkan dibagian yang baru, sembari meminta saya untuk menunggu keputusan apakah saya akan di pindah tugaskan atau tidak.

Rotasi, berpindah tempat. Kata pepatah, hidup seperti perputaran roda, terkadang di atas, terkadang di bawah. Pimpinan membuat kebijakan merotasikan pegawai demi kepentingan penyegaran, demi kepentingan pembelajaran dan demi kepentingan kemajuan kualitas sumber daya. Allah juga demikian, sang Maha Pangatur sekaligus pemimpin tertinggi kita juga mengajarkan kita akan perputaran di bulan Resign ini, bulan Ramadhan. Dengan berpuasa, kita bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi kaum papa, yang telah terbiasa tidak makan dan tidak minum. Dengan berzakat, kita merasakan bagaimana rasanya menjadi kaum kaya, kaum yang mampu memberi. Allah mengangkat dan menurunkan tempat peraduan manusia juga demi kepentingan penyegaran, demi kepentingan pembelajaran dan demi kepentingan kemajuan kualitas diri. Seorang pemimpin yang pernah merasakan bagaimana hidup miskin di jalanan akan lebih peka terhadap permasalahan kemiskinan yang menjera rakyatnya. Seorang pemimpin yang pernah merasakan sulitnya mendapatkan sebuah pekerjaan akan lebih peduli pada terbukanya kesempatan kerja bagi rakyatnya. 
Seperti kata pak Bambang Heru, semua pasti ada hikmahnya, karena itu lakukanlah kesyukuran sejak dini.

Bulan Ramadhan telah tiba,  jalanan mulai terlihat lebih ramai, saatnya berbenah. Mempersiapkan diri berotasi di bulan resign. Bismillah ...



Tanjung Selor Kota Ibadah.



You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



3 komentar

  1. Aku juga nggak berambisi jadi PNS. Ambisi dalam hal ini maksudnya keinginan yang kuat untuk mendapatkan sesuatu. Ambisiku dulu cuma bisa kuliah gratis dan langsung kerja.

    ReplyDelete
  2. @Millati Indah wah bagus tuh masih ada ambisi kuliah gratis dan langsung kerja. Kalau aku dulu ambisinya cuma pengen kuliah di luar kalimantan (dan satu-satunya cara adalah ikut stis atas dorongan ortu, soale waktu itu aku gak bisa ikut spmb) dan ambisi untuk bertemu Nicholas Saputra (ha ha ha ... kealayan jaman muda... padahal sampe lulus, gak pernah ketemu satu kalipun)

    ReplyDelete