Wisata

-60- Dari Kaltara Ku Menuju Kaltim Mu

Sunday, June 17, 2012

     Bismillahirrohmanirrohim,
Semenjak dikabarkan akan berpisah dari Kalimantan Timur (Kaltim) dan menjadi Kalimantan Utara (Kaltara), perjalanan menuju ibu kota Kaltim dari calon ibu kota Kaltara (Tanjung Selor, Bulungan) serasa semakin jauh saja. Seperti perjalanan saya menuju Samarinda 12 Juni lalu, yang pada akhirnya memakan waktu 10 jam perjalanan dengan berpayah-payah. Sebenarnya ada beberapa alternatif transportasi yang bisa kita pilih untuk dapat sampai ke Samarinda :
  1. Jalan darat menggunakan travel, biayanya sekitar Rp 250.000; dengan waktu tempuh kurang lebih 20-24 jam. Untuk alternatif yang ini saya belum pernah mencobanya.
  2. Pesawat langsung Tanjung Selor-Samarinda dari Bandar Udara Tanjung Harapan menggunakan Susi Air berpenumpang 12 orang biayanya  Rp 900.000-an dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam. Pesawat langsung ini hanya ada 3 kali dalam satu minggu. Dan sayangnya, hari saat saya berangkat selasa lalu bukan termasuk jadwal pesawat langsung. 
  3. Pesawat langsung Tarakan-Samarinda atau Berau-Samarinda menggunakan Kalstar berpenumpang 50 orang biayanya kurang lebih sekitar Rp 900.000-an dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam. Sayang, saya kehabisan tiket Kalstar saat itu karena tiket sudah diborong oleh rombongan gubernur yang sedang bertugas. 
Dari ketiga alternatif yang tidak dapat terpenuhi, akhirnya saya memilih menggunakan pesawat Tarakan-Balikpapan menggunakan Sriwijaya Air dengan biaya Rp 420.000. Alternatif jalur melalui Balikpapan biasanya dipilih sebagian orang karena bisa menghemat biaya, kalau dihitung-hitung biasanya ada selisih sekitar Rp. 100.000; - Rp. 200.000;, lumayan buat makan-makan.

Sebenarnya jalur Balikpapan juga bisa ditempuh dari Kabupaten Berau. Dari Tanjung Selor kita bisa menggunakan Travel darat dengan biaya Rp. 75.000 kurang lebih memakan waktu 2-2,5 jam untuk sampai di Bandar Udara Berau. Tapi saya, lebih suka berangkat dari Tarakan menggunakan Speed Boat, ada juga yang menyebutnya Long Boat, biayanya Rp 81.000 dengan waktu tempuh 1-1,5 jam.
Suasana Pelabuhan Speed Boat Pukul 07.00 pagi.
Pagi itu, saya menggunakan Speed Boat pukul 07.00 pagi, dan berangkat pada pukul 07.15. Agak sedikit terlambat dari jadwal karena ada beberapa penumpang yang ditunggu. Yang paling menyenangkan dari perjalanan menggunakan Speed Boat adalah menikmati pemandangan saat menyusuri sungai Kayan. Melihat kumpulan pepohonan di kanan-kiri, apalagi pada saat melewati sekumpulan rumbia, indah sekali. Dan yang lebih eksotik adalah saat keluar dari hamparan muara sungai Kayan menuju lautan. Coba pikirkan, bagaimana sungai dan laut bisa bertemu, dan keduanya sama sekali tidak bercampur. Saya sendiri heran, kok bisa begitu ya? maha suci Allah yang telah menciptakan keduanya.

Tiba di Pelabuhan Tengkayu I, Tarakan.
Tepat pukul 08.34, saya tiba di Tarakan. Untuk sampai di Bandar Udara Internasional Juwata Kota Tarakan, kita bisa menggunakan Taxi dengan biaya Rp 50.000;, atau menggunakan ojek dengan biaya Rp 20.000;. Kota Tarakan lebih ramai dibanding Tanjung Selor, meski kota ini hanya sebuah pulau dan bisa dikelilingi dalam waktu kurang dari satu hari. Kota yang sering disebut sebagai Bumi Paguntaka ini memiliki bandar udara dan pelabuhan kapal besar antar pulau sehingga secara otomatis menunjang pertumbuhan ekonomi secara baik setiap tahunnya. Tarakan menurut cerita rakyat berasal dari bahasa tidung “Tarak” (bertemu) dan “Ngakan” (makan) yang secara harfiah dapat diartikan “Tempat para nelayan untuk istirahat makan, bertemu serta melakukan barter hasil tangkapan dengan nelayan lain. Dahulu, Tarakan  merupakan tempat bertemu para nelayan.

Kota yang sempat  memanas akibat perseteruan antar suku di tahun lalu ini memang saat ini tidak hanya didiami oleh suku bangsa asli saja yakni suku Tidung,  namun juga telah bercampur dengan penduduk pendatang diantaranya yakni suku Banjar, Jawa, Bugis, Batak, Toraja, Tionghwa dan lainnya. Selain Kesultanan Bulungan yang berkedudukan di Kec. Tanjung Palas, Bulungan, dahulu, di kota ini pernah berdiri Kerajaan Tidung atau dikenal pula dengan nama Kerajaan Tarakan (Kalkan/Kalka) yang memerintah suku Tidung di utara Kalimantan Timur. 

Setengah jam kemudian sampailah saya di Bandara, pesawat saya yang seharusnya berangkat pukul 11.00 molor satu jam hingga jam 12.00. Maka, sampailah saya di Bandar Udara Internasional Sepinggan, Balikpapan pukul 13.31.
Bandar Udara Sepinggan, Balikpapan
Berada di kota kelahiran, sudah pasti bahagia. Jika Bulungan memiliki semboyan kalimat “Merudung Pebatun de Benuanta" diambil dari bahasa Bulungan yang mempunyai makna saling bahu-membahu antar seluruh lapisan masyarakat dalam membawa Kabupaten Bulungan ke arah yang lebih baik maka semboyan kota Balikpapan adalah "Gawi Manuntung Waja Sampai Kaputing" yang berasal dari bahasa banjar yang artinya adalah apabila memulai suatu pekerjaan harus sampai selesai pelaksanaannya. Kota yang sering dijuluki kota minyak (Banua Patra) ini juga terkenal akan kebersihannya. Pembuktian kebersihan ini memang langsung akan terasa kasat mata saat berkeliling ke kota ini. Selain itu, di tahun 2011 lalu, Balikpapan dinobatkan sebagai salah satu kota terbersih dalam Pertemuan ke-9 ASEAN Working Group on Environmentally Sustainable Cities (AWGESC) di Yangon, Myanmar mengalahkan perwakilan kota yang berasal dari Vietnam, Malaysia dan Kamboja. 

Pukul 02.00 siang, saya pun melanjutkan perjalanan ke Samarinda  menggunakan travel dengan biaya Rp. 75.000;. Sebenarnya bisa juga menggunakan pesawat Susi atau Kalstar dengan biaya sekitar Rp 350.000; atau menggunakan taxi bandara Rp 250.000;. Namun, kala itu, mengingat saya bepergian sendiri dan jadwal pesawat masih cukup lama, saya pun memilih menggunakan travel. Dan seperti yang saya katakan diawal, saya benar-benar harus berpayah-payah untuk sampai di Samarinda, karena selain macet ternyata saya mengalami mabuk berat selama diperjalanan. Saya pun, tiba di tempat tepat saat adzan berkumandang.

Setibanya di hotel Diamond, tempat saya menginap. Tidak disangka, saya satu kamar dengan Nana, lengkapnya Khumairotus Sa'adah Juriana, adik kelas sekaligus teman sesama penghuni Puri Al-Hanan saat kuliah dulu. Ohya, saya lupa, perjalanan kali ini adalah perjalanan dinas dalam rangka mengikuti pelatihan Peningkatan Kapasitas Penanggung Jawab Statistik Ketahanan Sosial BPS Kab/Kota Se Kalimantan Timur. Saya masih bersyukur, sebab secara administratif belum sepenuhnya berpindah ke Kaltara sehingga masih bisa berkunjung ke Samarinda.

Setibanya dikamar, Nana pun langsung menyahut: "Mbak, kok gak ada berubahnya. Tetep sama seperti dulu". Entah itu pujian atau sindiran, yang pasti itu pertanda jika saya masih awet muda, he..he.. Terus terang saja, ini adalah pertemuan kami setelah empat tahun lamanya tidak bertemu. Saya pun sedikit terkejut saat bertanya pada Nana:
"Naik apa Na dari Kubar?"
"Naik kapal mbak."
"Berapa jam?"
"16 jam mbak.. ". He? 16 jam? masih ada yang lebih jauh dari perjalanan 10 jam saya ini ternyata. Kebetulan Nana bertugas di Kabupaten Kutai Barat. Dan, saya belum pernah tahu jika perjalanan Kubar-Samarinda ternyata cukup jauh juga.

Pelabuhan Klotok, Kampung Baru, Balikpapan.

Hal menyenangkan lainnya saat dapat pergi ke Balikpapan adalah singgah untuk pulang ke rumah orang tua. Dari Balikpapan menuju Kab. Penajam Paser Utara dapat ditempuh 30 menit menggunakan kapal Klotok dengan biaya Rp 7.000; saja, jika ingin cepat bisa menggunakan Speed Boat biayanya Rp 15.000; dan jika sedang membawa motor atau mobil bisa menyeberang menggunakan Fery, biayanya berkisar Rp 26.000 - Rp 75.000 tergantung jenis kendaraan yang dibawa, hanya saja waktu tempuhnya cukup lama, sekitar dua jam. Sebagian orang juga lebih senang membawa motor mereka lewat Klotok. Saya lebih sering menggunakan Klotok, selain hemat juga bisa lebih santai menikmati pemandangan laut. Jika ingin menikmati sensasi gelombang, naiklah pada jam-jam sore hari menjelang maghrib. Pada jam seperti itu, biasanya gelombang mulai tinggi, dan naik Klotok serasa sedang bermain di wahana air, bisa sampai membasahi pakaian. Jika ingin sensasi yang lebih menegangkan, coba saja dengan menaiki Speed Boat, hantaman gelombangnya lebih keras dan mengaduk-ngaduk jantung.

Salah satu toko suvenir yang saya kunjungi
Dari Balikpapan, tidak afdhol rasanya jika tidak membeli suvenir. Kebetulan, saya mendapat titipan dari Ummi (ibu mertua) untuk membeli barang khas Kaltim, sebab tahun ini saya tidak sambang kesana, katanya oleh-olehnya saja yang dikirim. Maka pergilah saya, ke Pasar Inpres Kebun Sayur, pusat berbagai macam barang kerajinan khas Kaltim. Ada banyak suvenir khas Kaltim yang bisa dibeli disini. Sarung tenun khas Samarinda, tas rajut dari rotan, topi khas Dayak, baju bermotifkan ukiran Dayak, dan berbagai macam pernak-pernik dari manik dan batu. Pernak-pernik manik dan batu biasanya banyak diincar pembeli, termasuk saya. Meski pembuatannya terlihat rumit, namun harganya cukup murah. Saya membeli dompet manik ukiran Kaltim dengan harga cukup murah, Rp. 15.000 saja. Selain itu, saya juga sempat melihat-lihat berbagai macam bros, cincin dan gelang yang terbuat dari batu. Ada banyak jenis batu yang dijelaskan pada saya oleh penjual toko, tapi saya tidak terlalu ingat. Yang saya ingat, hanya nama jenis batu dari gelang yang saya beli, kata penjual toko gelang  cukup berat dan besar yang akhirnya saya beli ini semuanya dibuat dari batu akik, harganya Rp. 20.000 saja. Untuk manik-manik, disini juga bisa memesan langsung dari pengrajin manik. Misalnya: jika kita menginginkan tas laptop atau gadget lain yang terbuat dari manik, tinggal pesan saja sekaligus ingin motif dan tulisan seperti apa. Pengerjaannya memang memakan waktu, tapi cukup memuaskan dengan harga yang pas.

Akhirnya, usai sudah kisah perjalanan saya kali ini. Saatnya untuk kembali. Berkarya untuk Kaltara!. ^_^.
















You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



11 komentar

  1. Beneran dah resmi pecah jadi Kaltara, ya.. Tapi, BPS Prov Kaltara-nya kayaknya masih lama ya..

    ReplyDelete
  2. @Millati Indah, Sudah, tapi aku gak ngikutin SK pembentukannya udah keluar apa belum, denger2 ada yang bilang sudah. Iya, kayaknya masih lama deh, kantor gubernurnya aja belum ada kok.

    ReplyDelete
  3. hah? beneran mbak ada kaltara? sejak kapan? yaampun, daku kok ktinggalan jaman bgt. bneran udh jd provinsi resmi? jadinya skrg indonesia ada brp provinsi sih?

    mbak.. living cost di sana tinggi bgt yak kayanya. spertinya pengaruh transportasi ya..

    ReplyDelete
  4. hah? beneran mbak ada kaltara? sejak kapan? yaampun, daku kok ktinggalan jaman bgt. bneran udh jd provinsi resmi? jadinya skrg indonesia ada brp provinsi sih?

    mbak.. living cost di sana tinggi bgt yak kayanya. spertinya pengaruh transportasi ya..

    ReplyDelete
  5. Sudah, tapi belum definitif, tinggal menunggu pengesahan definitifnya. Katanya sih kalau gak akhir Juni ya Juli. Kalau jadi, Kaltara jadi prop yang ke-34. Iya, disini memang lebih mahal dibandingkan Jawa. :)

    ReplyDelete
  6. di update ya klo kaltara uda di resmikan n penerimaan cpns kaltara..tulisanx bagus bngt jadi ingat waktu kul di samarinda(asal tarakan)klo aq uda coba perjalanan darat,kapal laut n udara mba hehe..

    ReplyDelete
  7. @www.razakidham.blogspot.com, Insyaalloh ya. Wah, wah, kalau saya kayaknya mikir 100000 kali deh kalau mau naik darat.

    ReplyDelete
  8. ya karena saya cowok harus berani mencoba mba,awalx sih mabuk n muntah mulu,lain lagi melihat pemandangan ada bis masuk jurang,tanah longsor,macet di tengah hutan.serux bisa lihat suku dayak asli yg panjang telinga n cara mereka menanam padi gunung yg cukup unik hehe..

    ReplyDelete
  9. Mudah mudahan KALTARA jadi provinsi yang maju..

    ReplyDelete