Quran

-33- Jangan Membuat Al-Quran Menunggu Lebih Lama Lagi

Wednesday, January 25, 2012


         Tabrakan maut yang merenggut sembilan nyawa dan beberapa korban luka-luka di Tugu Tani hari minggu, 22 Januari lalu mengingatkan saya betapa kematian tidaklah dapat disangka-sangka. Bahkan saat sedang berjalan kaki di jalur yang benar pun, siapa yang sangka bisa celaka. Batas usia adalah hal misterius yang memang tidak akan pernah bisa ditembus oleh siapapun. Kita bisa saja tiba-tiba meninggal dunia saat sedang makan, minum, tidur, duduk, berdiri, berjalan, berlari, tertawa atau saat sedang diam. Duhai alangkah ngerinya jika saat kita meregang nyawa kita tidak juga menunaikan janji untuk hidup bersama Al-Quran, untuk melafalkannya di setiap tarikan nafas, untuk menghafalkannya hingga terjaga di luar kepala, untuk mempelajarinya dan mengamalkannya di setiap langkah kehidupan.

“Ana ngerasa berat ukh, ana merasa terpaksa sekali setiap kali masuk kelas untuk menghafal, ana mau berhenti dulu, insyaalloh semester depan ana mau mulai lagi”. Seorang sahabat saya di kelas tahfidz ketika di Jakarta tiba-tiba mengundurkan diri di tengah perjalanan. Saya membujuknya berkali-kali dengan meyakinkan bahwa target dari ustadzah adalah sebagai bentuk motivasi untuk kita, jikapun kita belum cinta seratus persen pada Al-Quran, maka harus memaksakan diri untuk cinta. Walaupun terpaksa, lanjutkan saja dulu, lingkungan yang mendukung, komunitas yang mendukung, semuanya akan memaksa kita untuk cinta. 


I give up, saya menyerah untuk membujuknya agar tetap lanjut. Saya menunggunya, semester depan ternyata tugas-tugas semakin banyak, sahabat saya kini semakin sibuk dan mengatakan mungkin semester depan lagi setelah tidak terlalu sibuk. Sayapun menunggu, ternyata semester berikutnya PKL (Praktek Kerja Lapangan) tiba, kesibukan semakin menjadi, sahabat saya mendapat amanah yang cukup menguras tenaga dan fikiran, ia pun kembali menundanya dan mengatakan mungkin nanti disemester berikutnya setelah PKL usai. Tiba saatnya, ternyata kesibukan kami semakin bertambah seiring tibanya waktu pembuatan tugas akhir/skripsi dan ujian-ujian yang membutuhkan banyak konsentrasi. Akhirnya, sampai kelulusan tiba, sahabat saya benar-benar tidak pernah melanjutkan belajar di kelas Tahfidz.

“Mbak minggu depan aja ya, setelah aku selesai ujian”, ini kalimat dari seorang sahabat saya yang lain. Baiklah, sayapun menunggu sampai ia benar-benar selesai ujian.
“Gimana dek dah selesai ujian, kapan mau hafalan lagi?, saya menghubunginya dan menagih janjinya mirip rentenir dengan sedikit memaksa.
“Yah, ujian mah emang udah selesai, tapi aku masih banyak tugas-tugas nih mbak”
“Al-Quran jangan di buat menunggu, jangan ditunda-tunda. Gak papa kok meski hanya  nambah satu ayat satu minggu, atau murojaah hafalan saja kalau belum nambah, yang penting istiqomah sepekan sekali mengaji.”
“Ya, aku ngerti. Aku juga udah ada rencana setelah semua tugas-tugas selesai, aku mau ngaji lagi. Tenang aja mbak”, nadanya mulai meninggi, ternyata sahabat saya yang satu ini agak marah atau mungkin tersinggung sebab perkataan saya yang cukup memaksa. Saya memang agak berlaku keras padanya, karena mengajak untuk istiqomah pada kebaikan itu tidaklah mudah. Saya telah bertemu banyak orang dengan beragam alasan dan saya terlalu lunak hingga pada akhirnya mereka tidak bisa merealisasikan sesuai azzam semula, istiqomah bersama Al-Quran.

“Mbak, minggu ini izin dulu ya, saya ada pelatihan…”
Saya mendiamkan, tidak memberi jawaban. Pada akhirnya berbulan-bulan tidak pernah muncul kembali.

“Mbak, lagi banyak survei, pulangnya larut malam, disana susah sinyal, trus lagi banyak masalah nih………bla…..bla….bla”. Saya kembali mendiamkan. Saya ingin melihat sampai sejauh mana niatnya untuk belajar. Benar saja, sampai lebih dari 1 tahun tidak pernah menghubungi saya lagi.

“Mbak, afwan ana masih menghitung nilai rapor anak-anak, belum selesai, ana izin dulu ya…”.
“Deadlinenya harus sekarang ya? ngaji dulu satu jam….”. Alhamdulillah, akhirnya tetap jadi belajar.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di bab yang lalu, jika kita menempatkan Al-Quran sedapat-dapatnya, sesempat-sempatnya, maka tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Sementara untuk yang lain, kita memiliki waktu. Sesibuk apapun aktivitas, sebanyak apapun amanah, masih sempat update status facebook sewaktu-waktu, update status twitter sewaktu-waktu, BBM tidak putus-putus. Untuk lagu-lagu terbaru, novel terbaru, berita selebriti kita masih sempat, bahkan kita sengaja meluangkan banyak waktu untuk itu. Andaikan saja, kita mengumpulkan setiap kesibukan kita masing-masing lima menit saja untuk Al-Quran, pasti akan selalu ada waktu untuk Al-Quran. Meskipun hari ini kita sedang menghadapi ujian, menghadapi anak sakit, banyak pekerjaan atau sedang dalam perjalanan. Cobalah, karena saya sudah mencobanya. 
Saya pun, masih amat tertatih belajar istiqomah. Tulisan-tulisan yang saya posting adalah hasil usaha sekaligus pemaksaan berat agar blog ini dapat istiqomah menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk dibaca. Percayalah, dalam hal apapun Istiqomah adalah salah satu penentu menuju kesuksesan. Kuatkan niat dan tekad untuk menghadang segala macam rintangan.

Untuk sahabat-sahabat saya yang sedang merajut cita-cita mulia dan mungkin hampir putus asa. Untuk sahabat saya yang mungkin marah sebab terkadang saya sering memaksa untuk istiqomah menghafal apapun kondisinya, 

“simpanlah segala macam gadget, lupakan sejenak semua pekerjaan, ambillah Al-Quran. Dekap dan telungkupkan Ia dalam dada, jika perlu berdirilah di depan kaca. Nyanyikan lirik ini dengan riang:

 Really-really love you.......never-never leave you....maafkan aku mengecewakanmu, 

ulangi beberapa kali dan resapi, betapa mungkin Al-Quran kita sudah terlanjur kecewa berat dengan janji yang kita ucapkan. Nanti.......nanti......nanti........nanti kalau sudah tidak sibuk, kapan? kapan? kapankah manusia itu tidak berada dalam kesibukan?

Jangan Membuat Al-Quran Menunggu Lebih Lama Lagi





Tanjung Selor Kota Ibadah,
Gambar dipinjam dari internet

You Might Also Like

Terimakasih telah membaca dan meninggalkan jejak komentar sebagai wujud apresiasi. ^_^ Semoga postingan ini dapat memberi manfaat dan mohon maaf komentar berupa spam atau link hidup akan dihapus. Terima kasih.



11 komentar

  1. “Al-Quran jangan di buat menunggu, jangan ditunda-tunda. Gak papa kok meski hanya nambah satu ayat satu minggu, atau murojaah hafalan saja kalau belum nambah, yang penting istiqomah sepekan sekali mengaji.”

    ReplyDelete
  2. Pengen deh punya temen kaya Nurin di sini. Biar ada yang bawel ngingetin buat ngaji..

    ReplyDelete
  3. @Millati Indah Millati ayo ngaji...ngaji...ngaji!, udah ku ingetin tuh...:)

    ReplyDelete
  4. @Nurin Ainistikmalia

    pengennya kan langsung ada makhluknya di depanku dengan pose ngomel2, trus kalo aku males langsung diseret. *sadis amat ya?*

    ReplyDelete
  5. @Millati Indahah, sekarang kan dunia maya mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Kita tetap dekat kok, insyaalloh...semangat Millati Indah Burlian Taufikin (selamatan namanya kapan sih? dah ganti nama aja..)

    ReplyDelete
  6. Subhanalah, mencerahkan dan mengingatkan akan satu hal yang sangat penting yang sudah mulai banyak melupakan...
    DK STIS sekarang membutuhkan orang spt anti, yang mau "bawel" mengingatkan dalam kebaikan...

    ReplyDelete
  7. Izin share buat adek2 ADK STIS ya...

    ReplyDelete
  8. memang kalau ngikutin keinginan sekali aja untuk istirahat, memulainya kembali sangat berat kak... mohon sarannya! doakan selanjutnya akan ada generasi yang akan mengikuti jejak kak nurin, kita punya tujuan untuk kesana...

    ReplyDelete
  9. @Akh Khoir Amin...mudah-mudahan Alloh memudahkan..Insyaalloh yakin saja

    ReplyDelete
  10. Saat saya pertama melihat sosok Mbak Nurin Ainistikmalia, saya sangat salut dengannya menghafalkan Alqura'an di depan kami dalam acara kajian Juma't kampus(pasti saat itu mbak Nurin belum mengenal saya) , saya sangat berkeinginan untuk bisa menjadi seperti mbak Nurin (penghafal Al Qura'an), namun keistiqomahan itu........

    ReplyDelete
  11. Saat saya pertama melihat sosok Mbak Nurin Ainistikmalia, saya sangat salut dengannya menghafalkan Alqura'an di depan kami dalam acara kajian Juma't kampus(pasti saat itu mbak Nurin belum mengenal saya) , saya sangat berkeinginan untuk bisa menjadi seperti mbak Nurin (penghafal Al Qura'an), namun keistiqomahan itu........

    ReplyDelete